CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 65


__ADS_3

Pandu ingin berteriak rasanya, menyalurkan segala ketidakberdayaan yang ia alami saat ini.


Ditengah euforia dua keluarga yang ada dalam ruangan itu, hanya dirinya yang menatap tajam wajah wanita yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang pasien.


"Pandu, kita ngobrol di kafe?"


Laksmi yang sejak tadi memerhatikan raut wajah tidak bersahabat sang adik, mengambil inisiatif untuk mengajaknya keluar. Meski hubungan mereka sedang tidak baik, namun Laksmi tidak ingin keluarga Delvia menyadari ketidak senangan Pandu akan berita bahagia ini.


Tanpa menjawab, Pandu mengikuti langkah sang kakak di belakang.


Memilih kafe yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit, keduanya saat ini sudah duduk di sudut ruangan salah satu kafe.


"Mba tau kamu marah sama mba, soal perlakuan mba pada Nilam beberapa waktu lalu. Mba minta maaf untuk itu."


Pandu hanya melirik sang kakak dengan menggerakkan bola matanya, tanpa bergeming sedikitpun.


"Dari awal, mba ingin kamu mendapatkan pasangan yang sepadan dengan kita. Yang bisa kita kenalkan pada keluarga besar, yang bisa kita banggakan latar belakangnya. Dan Nilam bukan orang yang tepat."


Tangan Pandu mengepal dengan erat. Matanya nyalang menatap wajah yang begitu mirip dengannya itu.


Ia sudah bisa menerka alur cerita yang dilakukan oleh Laksmi dan Delvia di belakangnya.


Pantas saja wanita itu begitu percaya diri mendekatinya tanpa mengenal waktu, rupanya ia sudah mendapat restu dari orang terdekat Pandu.


"Jadi benar kalian berdua bersekongkol dalam permainan ini?"


"Mba hanya ingin yang terbaik untuk kamu Pandu,"


"Yang terbaik apa?!" Sentaknya sudah tidak dapat lagi menahan emosi.


"Pandu, tenang ...." Laksmi panik, ia mencoba menenangkan Pandu dengan meraih lengan sang adik. Matanya menatap sekeliling, beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah mereka.


Pandu menghempas tangan kakaknya dengan kasar.


"Kamu terlalu jauh ikut campur urusanku mba. Seharusnya kamu tau dimana posisimu saat ini. Kamu sudah melanggar begitu banyak hal, mencampuri begitu banyak urusan yang seharusnya tidak kamu campuri. Ingat batasanmu. Kamu wanita yang sudah menikah, tidak seharusnya bertindak lancang seperti ini."


Tanpa banyak berkata lagi, Pandu meninggalkan sang kakak yang berdiri mematung di tempat semula. Memandang punggung pria yang dijaga dan disayanginya sejak kecil.


Laksmi tersenyum getir.


'Semua yang aku lakukan karena aku tidak ingin kamu menyesal Pan, meski aku sudah menikah, tapi aku tetap kakakmu. Tidakkah aku memiliki hak lagi dalam keluarga kita?'


Laksmi menangis dalam diam. Membiarkan air mata luruh mengalir di pipinya. Berharap sesak dan kesedihan ikut hanyut seiring air mata yang semakin deras mengalir.


Cinta itu murni.


Sebuah rasa yang membuat kita berdebar, dan bahagia saat mengalaminya.

__ADS_1


Namun reaksi perilaku kita akan perasaan itu, semua dikendalikan oleh pikiran.


Menghitung untung dan rugi, baik dan buruk, benar dan salah itu semua milik pikiran.


Cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah langkah yang diambil dalam menyikapinya.


Jangan menjadikan cinta sebagai kambing hitam atas ego, ambisi, hasrat, juga nafsu, karena itu akan menodai kemurniannya.


Pandu ingin berteriak rasanya, menyalurkan segala ketidakberdayaan yang ia alami saat ini.


Adakah penyesalan yang muncul di awal perkara? Pasti tidak.


Sebab sesal pun hanyalah sebuah rasa ketidakberdayaan. Penolakan, atas apa yang terjadi, yang tidak sesuai dengan ekspektasi.


Pandu larut dalam dunianya sendiri. Menyadari keterbatasannya, tidak mungkin mengulang kembali waktu yang telah berlalu.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak perduli akan keselamatannya, keluarganya, bahkan calon anak dalam rahim Delvia.


Ia ingin melepaskan semua rasa sesal yang begitu berat bergelayut di hatinya.


Andai waktu dapat diputar, tidak akan pernah ia menyambut kedatangan Delvia kembali dalam hidupnya. Tidak akan pernah ia memanjakan egonya, terus mengulang dosa yang awalnya tanpa sengaja ia lakukan.


Ia merasa buntu.


Takut adalah perasaan yang kini nyaman memeluk hatinya.


Ia takut kehilangan Nilam, takut gadis itu pergi meninggalkannya.


"AAAAAAA ...!"


Pandu memukul setir mobil yang masih melaju dengan cepat tanpa arah tujuan.


Tidak perduli dengan apapun di sekitarnya.


Hingga ia tiba di pinggir pantai dengan pasir putih, aroma air laut yang menyusup masuk ke indra penciumannya menyadarkan Pandu, sudah sejauh apa ia mencoba berlari menghindari kenyataan.


***


Sementara di rumah sakit tempat Delvia dirawat, semua orang panik mencari sosok Pandu.


"Kemana anak itu?!" Geram Tuan Wijaya, merasa marah dan malu secara bersamaan.


"Sabar Pa, mungkin dia lagi ke apartemennya. Sejak pagi kan dia di sini, bahkan ia belum sempat istirahat dari kemarin."


"Tapi, harusnya dia pamitan pada kita Ma, sama calon mertuanya juga!"


Tuan Wijaya melirik pasangan suami istri, yang tengah duduk di sofa kamar VVIP itu. Meski mereka berteman sudah cukup lama, namun tetap saja ia merasa tidak enak pada calon besannya karena kelakuan Pandu yang tidak sopan.

__ADS_1


"Mah, Pah,"


Laksmi masuk ke ruangan Delvia, dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya.


"Gimana? Kamu berhasil hubungi nomor teleponnya?


Tuan Wijaya tidak sabar menunggu kabar keberadaan Pandu saat ini.


Laksmi menggeleng.


"Ponsel Pandu mati, apart nya juga kosong. Tadi Ami udah kesana, tapi nggak ada siapa-siapa di sana." Sendu anak pertama keluarga Wijaya itu.


Kedua paruh baya itu hanya bisa menarik nafas berat.


"Jangan katakan apapun pada mereka. Nanti kalau mereka bertanya, bilang kalau Pandu sedang beristirahat."


Dua wanita itu mengangguk patuh pada apa yang diucapkan tuan Wijaya.


Mereka menemui kedua orang tua Delvia dengan senyum yang dipaksakan.


Benar saja, tuan dan nyonya Atmaja menanyakan keberadaan calon menantunya itu.


Bersyukur mereka sudah membuat kesepakatan untuk menutupi masalah yang dibuat Pandu saat itu.


"Mba, bisa kita bicara berdua saja?" Delvia yang baru saja terjaga, menghentikan obrolan dua keluarga itu.


Laksmi menoleh, lalu menghampiri ranjang pasien.


"Ada apa Via?"


"Pandu mana?"


"Mmm"


"Apa dia pergi?"


"Vi ...."


"Dia kabur dari ...."


"Sssttt jangan kenceng-kenceng ...." Laksmi meletakkan jari telunjuk di depan mulut memberi peringatan pada Delvia.


"Kalau orang tua kamu tau, bisa gawat urusannya ...."


"Jadi benar?" Tanya wanita itu gusar.


"Dengar dulu ... Kamu nggak akan kehilangan Pandu. Percaya sama mba. Hanya saja, kita harus membuat rencana yang lebih baik lagi. Kalau Pandu nggak mau mendekat, sebaiknya kita buat Nilam yang menjauh dari dia."

__ADS_1


"Percuma mba ... Yang kemarin aja gagal kok. Wanita itu nggak merespon apapun, malah Pandu yang marah besar sama aku tadi pagi." Air muka Delvia berubah sendu saat mengingat apa yang terjadi subuh tadi.


"Jangan patah semangat ... Mungkin aja pesan kamu nggak kekirim, mangkanya dia nggak respon. Kita ulangi sekali lagi. Kali ini, lebih banyak lagi foto dan video kamu kirimkan ke dia." Bujuk Laksmi memberi semangat pada Delvia.


__ADS_2