
Nilam termenung, menatap ke arah luar jendela kamarnya. Rintik hujan yang saling berebut membasahi bumi, menjadi pemandangan menenangkan bagi matanya.
Ucapan sang kakak ipar beberapa saat lalu, terus terngiang membebani pikiran gadis itu hingga saat ini. Apa yang harus ia lakukan? Hati dan pikirannya berebut memberi pendapat, namun semua bertolak belakang.
Sakit? Pasti. Pandu menorehkan luka yang cukup dalam untuk hatinya. Namun rasa sayang pada laki-laki itu, sedikit menggoyahkan kemarahan Nilam. Hingga ia memutuskan untuk menghindar beberapa saat, dari laki-laki yang sudah memberinya banyak warna dalam hidupnya yang hitam putih.
"Nilam ...." Sentuhan lembut pada pundaknya, menyentak lamunan Nilam. Ia terperanjat kaget ketika melihat wanita yang sudah melahirkannya, berdiri tepat di sampingnya yang tengah duduk memeluk lutut.
"Bu ...." Ucapnya pelan. Meski ia dan sang ibu cukup dekat, namun ada hal-hal yang sangat jarang gadis itu bagi dengan wanita paruh baya itu. Terlebih masalah asmara yang baru pertama ia jalin, dan berakhir menyedihkan seperti saat ini. Nilam masih merasa malu dan segan membahas soal itu.
"Sebesar apa cintamu pada laki-laki itu, hingga ia sanggup membuat anak ibu yang biasanya ceria ini menjadi hobi melamun?"
Untuk pertama kalinya Bu Sukma menanyakan hal itu pada sang putri.
Nilam menunduk. Merasa malu, karena rupanya wanita yang telah melahirkannya itu merasakan perubahan sikapnya. Sejelas itu kah ia memperlihatkan lukanya? Padahal Nilam sudah berusaha sebaik mungkin untuk terus menebar senyum, berusaha bersikap biasa saja dengan orang-orang rumah.
Terlebih saat keponakannya datang, ia tidak segan bermain seharian bersama mereka, tertawa riang selayaknya anak kecil. Menutup serapat mungkin kesedihan yang ia alami, agar tidak muncul ke permukaan.
"Apa saja yang sudah pernah kalian lewati bersama, hingga dia mampu membawa perubahan yang cukup besar dalam hidupmu?" Tuntut wanita itu lagi, dengan suar lembut yang menenangkan.
__ADS_1
Bu Sukma bertanya penuh kehati-hatian. Namun sebagai seorang ibu, ia ingin memastikan kalau anak yang ia besarkan dan ia didik dengan baik, tidak melewati batas dalam pergaulan.
Nilam menggeleng lemah.
"Aku hanya nggak nyangka aja Bu, kenapa ini bisa terjadi? Laki-laki yang aku percaya, begitu baik dan bertanggung jawab, lembut, royal, cemburuan dan posesif, laki-laki yang bahkan tidak pernah melirik wanita lain saat bersamaku, yang menjagaku dengan begitu baik, tidak pernah bersikap kurang ajar padaku, kenapa bisa melakukan semua ini? Kenapa tega membodohiku seperti ini? Kalau saja aku nggak mendengar sendiri apa yang mereka bicarakan di rumah sakit waktu itu, aku nggak akan percaya mas Pandu bisa melakukan semua ini Bu. Rasanya tidak mungkin, pria pendiam seperti dia, menghamili wanita lain," titik air mata muncul perlahan di sela kelopak matanya. Tiap kali Nilam mengingat semua hal yang terjadi, Nilam merasa semua seperti sebuah mimpi buruk.
Bu Sukma meraih sang putri, membawanya ke dalam pelukan. Ada kelegaan yang ia rasakan, mendengar penuturan Nilam, bahwa Pandu menjaganya dengan baik selama ini. Meski pada kenyataannya, laki-laki itu juga telah mematahkan hati sang putri.
Kini ia mengerti, mengapa gadis dalam pelukannya itu begitu sedih dan terluka menerima kenyataan yang ada.
Laki-laki yang dikenakannya begitu sempurna, rupanya sungguh berbeda ketika berada jauh dari putrinya.
"Lalu kenapa kami harus saling bertemu dan menjalin hubungan, kalau Tuhan ingin kamu berpisah Bu? Kenapa aku harus merasakan dikhianati seperti ini? Kenapa Tuhan harus temukan aku dengan dia, kalau ingin memilihkan orang lain untuk menjadi teman hidupku nanti?"
Bu Sukma melerai pelukannya, menatap manik sang putri yang sudah basah oleh air mata.
"Sini nak ...." Ia menarik tangan Nilam untuk duduk di atas tempat tidur gadis itu.
Ditatapnya wajah anak ke tiganya itu dalam-dalam.
__ADS_1
"Nilam, kamu tahu nak? Setiap warna dan rasa yang kita lihat dan kita alami dalam hidup, semua itu Tuhan ciptakan agar kita mengerti di bumi ini tidak hanya ada hitam dan putih, agar kita paham di dunia ini tidak hanya ada kata bahagia dan suka cita. Semakin banyak warna hidup yang kamu temukan, semakin kaya kamu akan wawasan, semakin dalam kamu mengerti arti kehidupan. Dengan luka ini, kamu diajarkan untuk semakin berhati-hati. Jangan mudah terperdaya dengan sikap baik seseorang. Dengan luka ini, kamu juga diajarkan bagaimana rasa sakit bila dikhianati. Agar nanti, kamu bisa menghargai perasaan orang lain dengan lebih baik lagi. Kamu juga bisa melihat seberapa banyak orang-orang yang tulus mendukung kamu, menemani kamu disaat kamu bersedih, dan seberapa banyak orang yang tertawa saat kamu sedang terluka. Tuhan tengah menempa kamu menjadi sosok lebih baik lagi di hari yang akan datang. Belajar memaafkan, belajar mengikhlaskan. Percaya sama ibu, saat kamu menerima semua sebagai takdir yang harus kamu jalani, hati dan pikiran kamu akan tenang."
Nilam menatap wanita paruh baya itu dengan perasaan tak menentu.
"Aku kira aku bisa Bu, tapi ternyata sangat sulit untuk aku jalani. Aku pikir aku sanggup melepas mas Pandu dengan kepala tegak tanpa tetesan air mata lagi. Tapi rupanya sulit untuk membujuk mataku agar tidak menangis lagi."
Bu Sukma menarik nafas dalam.
"Kamu terlalu emosi, hingga merasa sanggup melepaskan dengan begitu cepat. kemarahan yang kamu pendam, rasa kecewa yang begitu besar, membuat sejenak kamu menjadi gelap mata. Tapi setelah semua bisa kamu tata kembali, perlahan suara hati terdalam mu terdengar. Rasa sayangmu padanya masih cukup besar, meski kamu telah disakiti."
Nilam begitu takjub mendengar ucapan wanita yang menggenggam tangannya itu. Inikah kekuatan seorang ibu? Ia tahu apa yang dirasakan anaknya, meski tidak secara jelas Nilam mengungkapkan perasaannya.
"Lalu aku harus apa Bu?" Tanya gadis itu akhirnya.
"Kalau menurut ibu, saat nanti Pandu datang kemari lagi, temui dia. Selesaikan semua dengan baik. Tidak apa menangis, wajar itu terjadi. Setelah semua itu, perasaan kamu pasti akan lega." Nasihat wanita itu sembari mengusap lembut rambut putrinya.
Selama dua Minggu Nilam berada di rumah orang tuanya, sudah dua kali Pandu datang berniat menemuinya. Namun Nilam selalu berhasil menghindar.
Bahkan terakhir, Damar sempat melayangkan pukulan ke arah pria bermata sipit itu, karena Pandu memaksa ingin menemui Nilam.
__ADS_1
"Baik Bu, Nilam akan menemui mas Pandu nanti." Sahut gadis itu akhirnya.