
Hari berganti. Detik dan menit berjalan tanpa henti. Dua Minggu setelah kedatangan Bas ke kostan Nilam, laki-laki itu akhirnya kembali lagi ke kota tempatnya bekerja, menyelesaikan sedikit lagi tanggung jawab yang sempat tersendat karena masalah pribadinya.
Meski awalnya terselip ragu, dan sempat meminta Nilam untuk berhenti bekerja dan menemaninya ke luar kota, tapi berkat kesabaran Nilam memberi pengertian, serta dukungan sahabat-sahabatnya, akhirnya Baskara berangkat sendiri meski dengan berat hati.
Bahkan Nilam mengancam akan mengajak Bas untuk pergi ke seorang psikolog, karena rasa takut yang berlebih serta sikap posesif Bas yang mulai melebihi batas. Namun semua itu urung dilakukan karena akhirnya Bas mau menuruti ucapan Nilam untuk berangkat menyelesaikan sisa pekerjaannya di kota seberang.
"Mas baik-baik aja, kenapa harus ke psikolog? Kamu merasa sikap mas berlebihan sama kamu? Kamu nggak suka sama mas yang seperti ini?" tanya Bas kala itu. Jelas nampak mendung menggelayut di wajah tampannya.
Nilam yang merasa kasihan dan tidak enak hati, berusaha memanjangkan sabar memberi pengertian dengan perlahan.
"Nggak gitu, mas. Aku senang kalau mas kasih aku perhatian, dan bersikap manja sama aku. Siapa sih, yang nggak seneng dijadikan pusat dunia oleh laki-laki yang dicintainya? Tapi kalau itu berlebihan, kan nggak baik juga. Hidup nggak hanya soal kebersamaan. Cinta kita butuh lebih dari hanya sekadar bersama. Mas perlu ruang untuk diri mas sendiri, untuk teman dan keluarga, juga untuk pekerjaan. Begitu juga aku. Aku perlu berinteraksi dengan orang lain, perlu bekerja, juga bergaul," jelas Nilam penuh kehati-hatian. Ia tidak ingin Bas merasa tersinggung, dan membuat suasana hatinya lebih buruk lagi.
Dari beberapa teman, baik teman Baskara maupun teman Nilam sendiri, banyak yang memberi nasihat pad gadis itu, jika saat ini Baskara mungkin sedang mengalami suatu gangguan psikis. Mereka menyarankan untuk Nilam tetap sabar menghadapi kekasihnya itu, dan berusaha meyakinkan jika semua akan bik-baik saja.
Meski tidak jarang harus menahan rasa kesal karena Bas seringkali merajuk, ketika Nilam tidak langsung menerima panggilannya, tapi gadis itu berusaha untuk terus bersikap manis pada Bas. Mengingat laki-laki itu tengah berada di luar kota saat ini. Nilam tentu tidak ingin, jika tiba-tiba saja Bas memilih bertolak ke kotanya, hanya gara-gara dirinya yang bersikap ketus, sementara pekerjaan Bas yang cukup lama terbengkalai di sana, menunggu diselesaikan.
__ADS_1
Di lain sisi, Nilam masih beraktifitas seperti biasa. Bekerja dan menghabiskan waktu untuk menjahit, sesekali menghabiskan waktu pergi bersama Amanda atau pulang ke kampung halamannya saat libur.
Semua kembali berjalan seperti semula. Yang berbeda hanyalah, hubungan Nilam dengan Bu Rahma dan Utari yang tidak seperti dulu.
Mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
Aneh bukan?
Namun semua itu coba Nilam abaikan, sebab selain dua orang terdekat Baskara itu, keluarga yang lain tetap mendukung hubungan mereka. Termasuk ibu dan adik-adik tiri Baskara.
Amanda sedang pergi bersama Dika. Pasangan yang sudah menjalin hubungan serius, dan berencana segera menyusul Baskara dan Nilam itu, saat ini tengah berkunjung ke kota asal Amanda. Jadilah Nilam seorang diri di kostannya.
Baru saja Nilam keluar dari kamar mandi, ponsel di atas meja rias Nilam berdenting, tanda sebuah pesan masuk.
Di kepala gadis itu, pasti Baskara yang mengiriminya pesan seperti biasa.
__ADS_1
"Siapa ini?" monolog Nilam, memerhatikan nomor yang tertera. Ia mencoba menghubungi, tapi sayangnya meski berhasil terhubung, seseorang di seberang sana tidak berniat menerima panggilan gadis itu.
Nilam membaca kembali isi pesan yang ia terima. Pesan bernada amarah itu datang dari nomor yang tidak dikenal.
"Maksudnya apa coba? Dasar orang aneh!" gumamnya pelan, mematikan layar ponsel miliknya. Niat untuk beristirahat seketika sirna, karena kepalanya terus terpikir kalimat tak mengenakkan yang ia baca beberapa saat lalu.
"Ambil semuanya, simpan untukmu sendiri. Kelak kau akan tau rasanya ketika orang-orang di sekelilingmu tau siapa kamu sebenarnya. Tuhan tidak pernah tidur, catat tiap ketamakan dan keegoisan yang kamu lakukan, agar kamu sadar jika nanti karma berjalan dalam hidupmu!"
Isi chat yang membuat Nilam berpikir keras mencari tahu siapa dan apa maksud orang tersebut mengiriminya pesan.
^_________^^_________^^_________^
intip karya temen othor yang lain yuk,
Kisahnya pasti beda dan seruuu😍😍
__ADS_1