CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 53


__ADS_3

Amanda acap kali mencuri tatap ke arah sahabatnya, dengan sedikit ragu. Ingin menyampaikan sesuatu, namun gadis itu takut salah.


"Ada apa? Ngomong aja ...." Ucap Nilam, menyadari gadis tomboi yang menemaninya di dapur itu, sejak tadi mencuri pandang ke arahnya.


Amanda tersenyum masam, Nilam rupanya tau apa maksudnya mencuri pandang.


"Mmm Lam ... Kamu merasa nggak sih kalau sedang dikerjai sama orang-orang di sini?" Tanya Amanda, memandang ke arah Nilam yang sedang menggoreng ikan nila.


Nilam mengangguk, namun tatapan matanya masih fokus dengan ikan yang baru ia masukkan ke dalam penggorengan besar.


"Terus kenapa kamu nggak marah?" Tanya Amanda.


Nilam menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke arah penggorengan.


Gadis itu menyiapkan kalimat penjelasan yang ingin ia smpaikan pada sang sahabat.


"Menurut kamu, aku harus mengambil sikap seperti apa Nda? Keadaannya kacau barusan. Aku nggak tau kalau mereka udah pesan makanan, sementara di sini menu utama yang mau dihidangkan, sebagian masih mentah. Apa aku haru mendahulukan perdebatan aku sama kakaknya mas Pandu terlebih dahulu? Nggak mungkin kan? Sementara kemarin aku yang dimintai tolong sama ibu, untuk menyiapkan makanan bagi tamunya."


Jelas Nilam sembari membalik ikan besar di dalam penggorengan tersebut dengan hati-hati.


"Niat mereka apa ya sebenarnya?" Gumam Nilam, namun masih terdengar oleh Amanda.


"Yang jelas, niat mereka pengen kamu tersudutkan lah ... Baik dari tamu, dari bos kita, juga dari mas Pandu pastinya." Sahut Amanda mengejutkan Nilam.


"Jangan sembarangan kamu Nda, kalau prasangkamu salah, bisa jadi fitnah lho ...."

__ADS_1


"Yeee siapa yang berprasangka? Orang aku dengar sendiri tadi si mbak Laksmi itu ngomong sama cewek sok kecakepan itu." Sungut Amanda, tidak terima dengan nasihat Nilam.


"Maksud kamu?" Nilam yang penasaran sampai mematikan kompor, ingin mendengar cerita Amanda dengan jelas.


"Tadi, setelah kamu kemari, aku kan sendirian jalan ke taman belakang. Nah aku keliling tuh cari menu enak untuk makanan pembuka, nggak sengaja aku dengar orang sebut nama kamu. Iya aku intip karena penasaran. Di situ aku dengar, mbak Laksmi cerita kalau dia habis kena omel suaminya, gara-gara bentak kamu. Emang bener kamu dibentak sama dia?"


Nilam mengangguk.


"Terus?" Pinta Nilam, ingin mendengar lebih banyak cerita yang terjadi di belakangnya.


"Ya itu, dia bilang kesel banget karena rencananya buat permalukan kamu gagal."


"Maksudnya?" Nilam masih tidak mengerti alur cerita Amanda yang setengah-setengah.


Nilam tidak menjawab, namun wajah dengan raut penasaran itu membuat Amanda akhirnya mengalah. Ia menceritakan apa yang di dengarnya.


Flashback


Amanda yang berjalan seorang diri, memilih tempat yang sepi, setelah mengambil beberapa makanan kecil yang sudah tersedia.


Ia mengambil lumpia dengan saos petis dan taburan cabai hijau, tidak lupa minuman dingin yang juga tersedia di tempat itu.


Sembari menikmati gorengan itu, ia mendengar ada seseorang menyebut nama sahabatnya.


"Rasanya aku pengen bejek-bejek muka si Nilam itu tau! Wajah sok polosnya itu mungkin, yang menjerat Pandu hingga bisa jatuh cinta sama dia. Belum tau aja Pandu itu, kalau cewek yang dia suka adalah singa betina." Dengan emosi yang menggebu Laksmi bercerita pada Delvia.

__ADS_1


"Sabaar mbak ... Jangan emosi begini ... Tarik nafas, terus hembuskan," Ucap Delvia mencoba menenangkan Laksmi.


"Memangnya apa yang terjadi sih? Kok mbak bisa semarah ini sama dia?" Tanya Delvia penasaran.


"Aku sengaja pakai bahan masakan yang udah dia siapkan kemarin, untuk aku bagi-bagi ke tetangga. Terus aku minta katering langganan mama, untuk datang agak sorean. Aku pengen ngerjain dia, pengen puas bentak-bentak dia karena kesalahannya yang fatal. Tapi mas Dion keburu datang, dan marahin aku."


"Suami mbak nggak tau rencana mbak untuk ngerjain dia?"


"Ya nggak lah, tau sendiri suami aku itu lempeng banget. Rencanaku jadi berantakan. Padahal aku pengen liat muka panik dan pucatnya, nanti pas mama sama papa datang, tapi masakan belum beres. Pengen tunjukin sama si Pandu juga, kalau pacar kebanggaannya itu nggak sehebat yang dia kira. Tapi semua malah kacau, mas Dion justru memarahi ku karena sudah berlaku kurang baik sama dia. Dan dia juga memastikan ketering yang aku pesan tiba lebih awal, agar bisa menyiapkan semua dengan baik." Ucap Laksmi


"Oh ya ngomong-ngomong, Pandu kok nggak kelihatan dari tadi? Kalian jadi pergi beli kado kan?" Tanya Laksmi yang baru sadar adiknya tidak nampak sejak siang.


"Dia kelelahan tadi mba, biasa lah ...." Cengir Delvia membuat Laksmi mendelik.


"Kalian begituan? Gimana bisa?" Wanita satu anak itu terkejut dengan pengakuan lawan bicaranya.


"Ya bisa lah mbak ... Gampang bagi aku untuk bikin dia bertekuk lutut di depanku."


"Tapi ...." Laksmi kehabisan kata-kata, ia terkejut dengan kenekatan Delvia.


"Kalau aku nggak bisa dapetin dia pas sadar, aku bisa bikin dia nggak sadar dulu kan ... Jadi apapun itu, yang pasti adik mbak akan tetap bersamaku." Ucap Delvia licik.


"Jadi mbak nggak usah susah-susah bikin masalah sama cewek itu, kalau cuma mau pisahin mereka. Cukup percayakan sama aku aja. Kita nggak bisa lawan orang kayak dia dengan cara kasar, mainnya harus halus biar dia nggak sadar kalau kita menyerangnya." Tutur gadis semampai itu, menatap lurus ke depan, menyiapkan beberapa rencana untuk menghancurkan hubungan antara Pandu dan Nilam.


__ADS_1


__ADS_2