
Setelah menghabiskan waktu seharian untuk bekerja, sesuai janji Nilam, ia memberikan oleh-oleh yang dibawanya dari kampung halaman untuk sang sahabat.
Dengan antusias Amanda membawa keluar kardus beserta alat dapur yang bisa digunakan untuk membuka kulit durian.
Mereka duduk di teras depan kamar kost Nilam. Dengan Nilam duduk di atas kursi plastik, sementara Nilam duduk lesehan, agar memudahkannya membuka kulit buah yang cukup keras tersebut.
"Jadi gimana pertemuan kemarin? Gimana kesan mas Pandu soal keluarga kamu?" Amanda membuka obrolan, meski matanya terus fokus dengan buah berduri di hadapannya. Ia baru berhasil membuka satu ruas buah tersebut.
"Nggak tau lah, dia nggak ada ngomong apa-apa kemarin. Dieeem aja, muka nya juga keliatan tegang gitu ... Aku jadi nggak enak nanya macem-macem."
Amanda menghentikan kegiatannya sejenak. Menatap lekat Nilam yang terlihat murung memandang hamparan langit sore berwarna jingga keemasan.
Gadis itu terlihat banyak pikiran. Wajah murungnya jelas menampakkan suasana hati yang tidak baik-baik saja.
"Kamuuu baik-baik aja kan?" Amanda meletakkan sisa durian yang baru dibuka sebagian.
Ia melangkah mendekati Nilam yang duduk di kursi plastik samping pintu.
Nilam membalas kekhawatiran sahabatnya dengan senyum.
Meski hatinya merasa resah sejak siang, namun ia mencoba menutupi dengan berusaha berpikir positif.
"Aku baik kok ... Cuman merasa ada yang aneh aja, tapi mungkin karena mas Pandu berangkat mendadak kali ya, jadi aku khawatir. Mana dari tadi dia nggak ada ngabarin aku lagi,"
Amanda menarik nafas, "jadi karena kekasih tercintamu itu nggak berkabar, mangkanya kamu galau begini?"
Ia yang semula khawatir, merasa sedikit jengah dan melanjutkan lagi kegiatannya yang sempat tertunda.
Gadis itu kembali duduk bersila, membuka kembali durian yang tadi ia letakkan di sudut tembok.
"Nggak usah terlalu dipikirkan ... Mungkin dia lagi ada urusan mendadak di sana. Kerjaan dia kan banyak, jadi mungkin dia belum sempat cerita ke kamu. Nih makan ... Kamu dari tadi nggak tertarik sama makanan ini?"
Nilam menggeleng.
Amanda memang sahabat terbaiknya. Meski sedikit menyebalkan, namun gadis itu selalu tahu apa yang menjadi keresahannya.
"Makan aja, aku lagi nggak pengen makan duren." Sahut Nilam yang kini ikut duduk di samping Amanda.
__ADS_1
"Nda ...."
"Mmm"
"Aku kok gelisah gini ya?"
Amanda kembali menoleh ke arah Nilam yang saat ini duduk di belakangnya. Tangannya yang masih memegang buah dengan aroma khas itu, menggantung di depan bibirnya.
"Aku merasa sedih, tapi nggak tau karena apa. Aku takut, tapi nggak ngerti ketakutan seperti apa yang saat ini aku rasakan." Nilam menceritakan apa yang ia rasa. Sebab perasaan yang sejak tadi mengganjal, sungguh membuat dadanya tiba-tiba terasa sesak. "Aku kenapa ya Nda?"
"Hhuuuuhhh aku juga nggak tau Lam, semua baik-baik aja kata kamu. Lalu masalahnya dimana? Apa mas Pandu ada ngomong yang aneh sama kamu? Atau ada sikap dia yang bikin kamu merasa takut?"
Nilam menggeleng.
"Dia nggak pernah aneh-aneh Nda, dia selalu hangat sama aku. Apalagi sejak kejadian beberapa bulan lalu, dia semakin perhatian sama aku. Apa karena dia begitu kali ya, jadi saat kayak sekarang dia nggak berkabar, aku jadi gelisah."
"Mungkin aja Lam, kan kamu terbiasa mendapat perhatian dari dia, lalu tiba-tiba sekarang dia nggak ada kabar, mungkin hati kamu kaya nggak terima gitu jadinya. Kenapa nggak kamu coba hubungi dia sekarang? Masa nggak ada jedanya sih dia kerja?"
Nilam sependapat dengan Amanda, gadis itu pun memutuskan untuk menghubungi kembali Pandu yang sejak tadi tidak ada kabarnya.
Nilam bergegas masuk ke dalam kamarnya, berniat mengambil ponsel yang ia tinggalkan di atas kasur.
Amanda melanjutkan kembali aktifitasnya menikmati durian, yang sudah beberapa kali terganggu.
Seperti halnya pecinta durian pada umumnya, Amanda tentu ingin menikmati tiap gigitan buah tersebut. Menghirup aroma khasnya, serta kelegitan yang disajikan dalam tiap gigitannya.
Durian adalah makanan kesukaan banyak orang termasuk dirinya. Meski banyak juga yang tidak menyukai buah yang berasal dari Asia tenggara itu, namun bagi mereka para pecinta durian, rasanya tidak ingin terpisah dari aroma buah satu itu. Bahkan beberapa orang sengaja tidak ingin mencuci tangannya setelah menikmati buah tersebut, karena masih ingin mencium aroma khasnya (othor dulu begitu, dan sekarang nurun ke anak othor sendiri).
Amanda begitu khusyuk menikmati oleh-oleh dari sang sahabat, hingga tidak menyadari kalau Nilam belum juga keluar kamar, sejak tadi gadis itu berpamitan hendak menghubungi sang kekasih.
Baru setelah semua tandas masuk ke dalam perutnya, gadis itu sadar kalau Nilam belum ada di sampingnya.
Amanda masuk ke dalam berniat untuk mencuci tangan.
Alangkah terkejutnya dia melihat Nilam berurai air mata dengan tubuh sedikit bergetar.
"Lho ... Lam ... Kamu kenapa?" Dengan cepat ya mendekati gadis yang tengah meringkuk di samping kasurnya itu.
__ADS_1
Namun menyadari kalau tangannya masih kotor, ia mengurungkan niatnya lalu segera menuju dapur.
"Sebentar Lam," ucapnya bergegas membersihkan tangannya. Baru setelah itu ia mendekati Nilam dan memeluk gadis itu.
Meski ia belum paham masalahnya apa, namun yang ia tahu, sahabatnya perlu sebuah pelukan untuk menenangkan hatinya.
Amanda meraih tubuh Nilam dan membawanya ke dalam pelukan.
"Lam ... Udaaah ... Sssttt"
Nilam masih menangis, begitu pilu dan terluka di pendengaran Amanda.
Gadis tomboi itu hanya mengelus bahu Nilam. Tidak lagi menanyakan apapun, sebab ia tahu, Nilam sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu perlu media untuk menuangkan rasa sedihnya. Dan menangis adalah salah satu caranya.
Hingga sekitar dua puluh menit Nilam menuangkan emosinya, barulah gadis itu perlahan berhenti menangis.
"Udaaah?" Amanda menatap Nilam dengan lembut.
Gadis itu diam tidak memberi jawaban apapun.
Ia mengulurkan ponselnya ke arah Amanda, membuat sang sahabat mengerutkan kening pertanda bingung.
"Seseorang kirim itu, entah apa maksudnya, aku nggak tau." Kembali mata Nilam berkaca-kaca, dengan air yang sudah mengambang di pelupuk matanya.
Amanda membuka ponsel yang memang sudah ia ketahui kata sandinya.
Ia terbelalak kaget, melihat foto-foto tak pantas yang dikirim seseorang pada Nilam.
"Apa ini arti kegelisahan ku sejak tadi ya Nda? Apa benar semua itu Nda? Apa mas Pandu khianati aku di belakangku? Kenapa rasanya sakiiit sekali?"
"Lam ...." Amanda hanya bisa mengusap punggung sahabatnya. Ia bingung harus menanggapi seperti apa.
"Kamu baiknya hubungi mas Pandu dulu, tanyakan padanya, apa ini semua benar atau hanya editan."
Meski Amanda tau itu semua asli, namun ia mencoba menghibur sang sahabat, dengan memberi pandangan, kemungkinan lain yang terjadi.
__ADS_1