CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 131


__ADS_3

"Kenapa diam aja? Apa ada masalah?" tanya Bas saat dalam perjalanan mengantar Nilam pulang. Laki-laki itu melirik lewat kaca spion, tatapan Nilam nampak kosong.


Ia tentu khawatir, ada yang membebani pikiran kekasihnya.


Terlebih ketika pertanyaannya tidak mendapat respon dari Nilam. Ia semakin curiga ada sesuatu yang terjadi saat di rumahnya.


Apa yang terjadi? Apakah ada yang membuat gadisnya sedih?


Bas lalu menepuk lutut Nilam. Tepukan lembut, namun mampu menyentak kesadaran gadis dalam boncengannya itu.


"Kenapa, mas?" tanya Nilam, tidak tahu sejak tadi Bas memerhatikan sikapnya.


"Kamu melamun? Lagi ada masalah?" tanya Bas mengulang pertanyaannya.


"Melamun? Nggak kok, mas." Nilam berkilah. Tidak mungkin ia mengatakan apa yang Utari ucapkan padanya.


"Dari tadi lho, mas ajak kamu ngobrol. Tapi kamunya nggak nanggepin apa-apa," keluh Bas.


"Maaf, aku nggak denger. Mas ngomong apa? Ulang coba. Aku dengerin baik-baik sekarang." Nilam mendekatkan telinga ke arah pipi Bas, membuat laki-laki itu terkejut, namun tak urung membuat senyumnya terkembang.


"Nggak jadi, mas udah lupa juga tadi bilang apa," sahut Bas sedikit mendorong kepala, hingga rambut tebalnya menyentuh hidung mungil Nilam.


Rasa curiganya seketika hilang berganti desir bahagia, saat aroma lembut kekasihnya masuk ke indra penciumannya, ketika angin berhembus dari belakang.


Menghabiskan waktu melakukan hal-hal sederhana namun begitu mengesankan, membuat ia merasa dunia milik mereka berdua saat ini. Bas tak lagi mendesak Nilam, mencari tahu apa yang terjadi di rumahnya.


"Masuk dulu mas, kayanya udah pada dateng deh," ucap Nilam saat mereka sudah tiba di rumah, dan melihat pintu utama terbuka. Motor milik pak Indra dan Damar pun nampak terparkir bersisian.

__ADS_1


Bas mengangguk, ikut turun setelah mematikan mesin kuda besinya.


"Mas, dari mana aja?" Damar yang muncul dari dalam rumah, langsung menyapa calon kakak iparnya.


Mereka melakukan tos, mengabaikan Nilam yang kesal karena tak disapa oleh sang adik.


Mereka masuk menemui kedua orang tua Nilam.


"Paman, Bibi," sapa Bas.


"Eh Bas, duduk dulu, kami baru saja sampai rumah. Kita ngopi-ngopi," tawar pak Indra.


"Nanti aja, paman. Baru habis makan soalnya, masih kenyang. Nanti aku ke sini sama bapak. Sekarang mau langsung pulang dulu," tolaknya halus.


"Kok langsung pulang? Apa nggak duduk dulu?" Suara Bu Sukma yang muncul dari dapur.


"Ya sudah hati-hati, ya," ucap Bu Sukma.


Bas menganggukkan kepala. Lalu memberi kode pada Nilam yang masih berdiri tidak jauh dari sofa.


Nilam yang sejak tadi hanya diam, mengerti dan mengikuti kekasihnya keluar rumah.


"Nanti mas ke sini lagi sama bapak, kamu istirahat dulu ya," ucap Bas sembari mengusap pucuk kepala Nilam dengan lembut.


"Hati-hati mas, nanti kabarin kalau udah mau jalan." Gadis itu menyahut dengan mata menatap lembut kekasihnya.


"Iya, nanti mas chat kamu." Bas mendaratkan ciuman di kening Nilam sebelum berbalik dan meninggalkan rumah kekasih hatinya itu.

__ADS_1


🌟🌟🌟


Mengingat sebentar lagi akan ada pertemuan keluarga, kedua kakak serta kakak ipar Nilam berkumpul semua di rumah orang tuanya.


Nilam dipanggil Surya, untuk duduk di taman belakang, dekat kolam ikan koi. Ia disidang oleh keempat orang yang usianya lebih tuanya darinya itu.


"Jujur sama mas, kenapa si Bas mendadak ingin memajukan acara pernikahan? Apa ada sesuatu yang kamu tutupi dari kami?" Wajah kakak laki-laki Nilam itu nampak serius.


Nilam bingung mendapat pertanyaan dari sang kakak.


"Bukannya kalian udah tau ya masalah kami?" tanya Nilam, mengira berita itu bukan sesuatu yang mengejutkan kakak-kakaknya.


"Jadi kamu beneran udah---" Diana tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia terkejut dengan dugaan yang selama ini coba hatinya bantah.


"Lam, kok bisa?" Citra yang duduk di sebelah Nilam, mengusap lembut lengan sang adik ipar.


Ia tidak menduga, jika Nilam bisa sampai kebablasan seperti itu.


Sementara Surya dan suami Diana hanya bisa menggelengkan kepala.


"Kalian pada kenapa, sih?" Nilam kesal dengan sikap empat orang di depannya. Merasa aneh sebab semua menunjukkan sikap kecewa terhadapnya.


"Sudah berapa bulan bayi dalam kandungan kamu?" tanya Surya.


"Mba Nilam hamil?" Dari arah belakang, Damar berucap dengan nada tinggi mengejutkan semua orang.


Wajah Nilam seketika pias, pucat tanpa darah.

__ADS_1


__ADS_2