CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 78


__ADS_3

"Bu, mba Dian, aku berangkat ya ...." Ucap Nilam setelah menemukan dua wanita itu di dapur.


"Udah selesai ngobrol sama Pandu, Lam?" Nilam mengangguk samar.


Buk Sukma mengelus pundak anaknya, mencoba menyalurkan ketenangan melalui sentuhan tangan keriputnya.


"Ikhlaskan ya nak ... Akan ada saatnya kamu bahagia. Kamu kuat, jalani semua dengan sabar."


"Iya Bu ...." Nilam membenamkan tubuhnya dalam pelukan hangat wanita yang melahirkannya.


Dian yang berdiri di samping ibu dan adiknya, ikut merasa sedih melihat gadis yang biasanya ceria itu, kini berurai air mata.


Ia sangat faham, apa yang dirasakan Nilam saat ini.


"Sabar ya Lam, mungkin takdir kamu.nggak sama dia."


"Iya mba, aku nggak apa-apa kok."


Nilam melebarkan bibirnya, menebar senyum. Berharap ibu dan sang kakak tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


Ketiganya keluar menuju teras depan, dimana para lelaki tengah berbincang.


"Pak," panggil Nilam dari arah belakang.


"Nak ... Mau berangkat sekarang?"


Pak Indra mendekati anaknya, mengusap pelan rambut Nilam yang terikat ekor kuda.


Nilam mengangguk.


"Udah siang pak, takut nanti macet."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya ... Bas, tolong jaga Nilam ya." Pak Indra beralih menatap baskara yang sudah bersiap memasang sarung tangan.


"Iya paman. Aku pasti akan jaga Nilam."


"Mas, titip kakakku yang cerewet ini ya ...." Baskara mencoba mencairkan suasana yang kembali sendu.


Baskara tersenyum.


"Nilam nggak cerewet kok ... Dia hanya terlalu khawatir sama kamu." Sahut Baskara membela Nilam di hadapan keluarga gadis itu.


"Uhuk uhuk,"


"Ehem,"


"Cuiit cuiit"


Damar, Citra, dan Diana kompak mengeluarkan suara meledek ke arah Baskara.


"Bela teruuus," sindir Damar, dengan wajah menyebalkan.


"Sudah ... Jangan dilanjutkan lagi. Nilam, Bas, kalian berangkatlah. Ingat hati-hati di jalan, berdoa dulu sebelum berjalan." Perintah Bu Sukma memutus obrolan yang tidak kunjung usai itu.

__ADS_1


***


Laju motor milik Baskara, memecah jalanan yang sedikit basah karena hujan yang menyapa bumi saat subuh tadi.


Tidak ada percakapan diantara keduanya. Mereka sibuk dengan isi kepala masing-masing.


Pemandangan indah yang tersaji di setiap jalan yang mereka lewati, tidak sedikitpun menggoda mata Nilam untuk memanjakan penglihatannya. Kedatangan Pandu, benar-benar membuat suasana hatinya menjadi kacau.


Setelah melalui perbukitan dengan udara sejuk, mereka masih harus menyusuri hutan lindung yang masih terjaga keasriannya. Udara dingin semakin menusuk, seakan membekukan aliran darah mereka.


"Lam ...."


"Hmm, iya mas?"


"Kamu mau mampir sebentar nggak? Kita ngopi dulu?"


Tawar Baskara, yang merasakan kesemutan di telapak tangannya.


Nilam tahu, kalau Baskara kedinginan. Gadis itu pun menyetujui keinginan Baskara.


"Boleh mas, dimana kita mampir?"


"Nanti liat-liat tempat yang bagus."


"Ok,"


Akhirnya setelah beberapa saat, mereka memutuskan beristirahat di sebuah warung yang tidak hanya menyediakan kopi tapi juga ada makanan lainnya.


Pemandangan di sekitar yang memanjakan matanya, membuat Nilam begitu terpesona.


"Iya jeruk semua," sahut Baskara sembari tersenyum.


"Ayo masuk, dari meja di pojok sana kamu juga bisa liat pemandangan yang nggak kalah bagusnya." Tunjuk Baskara ke arah meja yang terlihat kosong.


"Mau sekalian pesan makanan?"


"Mas mau makan?"


"Mas nanya kamu, kok balik ke mas?"


"Yaa kalau mas mau makan, aku juga mau. Masa aku sendirian yang makan,"


Baskara gemas mendengar jawaban Nilam.


"Nggak mungkinlah mas nggak teman kamu makan ...." Ucapnya sambil terkekeh.


Mereka memesan mujair nyat-nyat dengan nasi bakar sebagai menu makan siang. Selain tentunya kopi hitam yang sudah mereka bayangkan sejak dalam perjalanan.


Mereka menikmati hidangan dalam hening. Nilam sibuk dengan menu yang tersaji dalam piringnya, tidak sekalipun melirik ke arah Baskara, yang sejak tadi mencuri pandang ke arahnya.


"Pelan-pelan Lam ... Kaya nggak makan setahun aja," ledek Baskara melihat Nilam begitu lahapnya.


"Uhuk uhuk," Nilam buru-buru mengambil air hangat yang tersedia dalam gelas kaca besar. Meneguknya sedikit demi sedikit, berharap makanan yang membuatnya tersedak bisa turun ke pencernaannya.

__ADS_1


"Mas iihh," Nilam merasa sangat malu, bersyukur di sekitar tempat mereka duduk tidak ada pengunjung lainnya.


"Mangkanya mas bilang hati-hati. Kamu makannya kaya yang penuh emosi gitu. Jangan bawa masalah hati ke dalam masalah perut ...." Baskara masih terus menggoda Nilam dengan sindiran-sindirannya.


Bersyukur suasana hati Nilam sudah lebih baik. Tempat yang sejuk dan menenangkan, membuat perasaannya nyaman.


Nilam tidak menanggapi ucapan Baskara, ia masih sibuk menyisihkan tulang-tulang mujair dari dagingnya untuk ia nikmati kembali.


Baskara memperhatikannya, namun kali ini Nilam menyadari tatapan laki-laki itu.


"Fokus makan mas, jangan liatin aku kayak gitu ... Nanti jatuh cinta sama aku lho ...." Balik Nilam yang menggoda Baskara.


"Ge eR banget sih ... Lagian kalau mas jatuh cinta sama kamu, ada yang larang?" Pertanyaan Baskara membuat Nilam menghentikan aktivitasnya.


Gadis itu menoleh dengan tatapan menyelidik.


"Mas ... Beneran?"


"Beneran apa?" Tanya Baskara sembari menyuap daging dengan satu tangannya.


Nilam tidak menjawab. Ia mendorong piring yang ada di depannya, mendadak selera makannya menghilang. Mengingat kata cinta dan sebuah hubungan, membuat gadis itu kembali teringat dengan Pandu.


"Lam ...." Baskara menyadari perubahan wajah gadis itu.


"Hei ...." Baskara menyentuh lengan Nilam.


"Jangan jatuh cinta sama aku mas, aku nggak akan bisa memberikan hatiku pada orang lain saat ini."


Nilam bukan tidak tahu, laki-laki itu menaruh rasa tertarik padanya. Candaan dari keluarganya, tidak pernah membuat Baskara merasa terganggu. Begitu juga dengan sikap sang ayah yang selalu mengandalkan Baskara untuk mengantar jemput dirinya, menimbulkan kecurigaan gadis itu. Namun untuk menanyakan kepada orang tuanya, ia merasa segan. Terlebih saat ini ia tengah merasakan patah hati, ia tidak ingin menambah beban untuk hati dan pikirannya.


Baskara diam. Selera makannya pun sama, terbang entah kemana mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nilam.


"Aku masih sakit, hatiku masih terluka, aku takut akan menciptakan luka yang sama di hati orang kain."


Baskara diam beberapa saat. Setelah ia bisa melawan sesak yang mencekik nafasnya, barulah ia berkelakar.


"Aaahh parah, belum juga mengutarakan cinta udah ditolak duluan. Nasibmu Bas ...." Ucapnya tersenyum kocak ke arah Nilam, namun tidak mendapat tanggapan gadis itu.


"Kamu terlalu jauh berpikir Lam ... Diantara kita nggak akan ada hubungan apapun selain pertemanan. Dan lagi, mas nggak mau kamu jadikan pelarian."


Ucap Baskara meyakinkan nilam.


"Kalau pun kita harus ada hubungan, itu pasti karena kamu yang meminta mas untuk jadi pacar kamu." Lanjut laki-laki itu lagi, membuat Nilam melayangkan tatapan protes ke arahnya.


"Idiiih Pe De nya ... Nggak akan ya mas ...."


"Liat aja nanti, pasti kamu yang akan tergila-gila sama mas."


"Preeeet ...." Nilam tidak bisa membalas godaan Baskara, membuat laki-laki itu terbahak.


Usai membayar makanan yang mereka pesan, Baskara menyusul Nilam yang terlebih dahulu keluar dari warung tersebut.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Masih sekitar dua jam lagi, untuk tiba di kota tujuan. Perjalanan mereka hanya berteman deru mesin motor milik Baskara. Tidak ada diantara mereka yang membuka obrolan, hingga mereka sudah memasuki gerbang kost yang Baskara carikan untuk Nilam.

__ADS_1


Tempat yang cukup nyaman untuk dihuni seorang diri. Lebih besar dan mewah dibanding kostan Nilam sebelumnya, saat ia bekerja di keluarga Wijaya.


__ADS_2