
Nilam sedang membuat nasi goreng, saat ia mendengar pintu kamar kostnya dibuka dari luar.
Amanda datang dengan wajah lelah, dan langsung menghempas tubuhnya ke atas kasur.
"Udah sembuh, Lam?" tanya gadis itu dari atas tempat tidur.
"Udah mendingan," sahut Nilam sambil membawa nasi gorengnya ke atas karpet tempat biasanya mereka makan.
Amanda bangkit, mendekati sang sahabat.
"Kamu baru makan?" tanyanya lagi.
Nilam mengangguk. Sambil terus menyuap nasi di piringnya.
"Pusing banget kepala aku, tadi habis minum obat aku tidur. Trus siangnya makan roti yang ada di kulkas, habis itu ketiduran lagi. Ini bangun gara-gara perut rasanya perih banget."
"Jadi dari tadi pagi kerjaanmu cuman di kasur doang? Nggak ngapa-ngapain, gitu?"
Nilam menggeleng.
"Kenapa? Sesekali bolehkan bermalas-malasan? Masa tiap hari rajin terus?"
"Ya boleh, boleh banget malah. Tapi aneh aja, orang yang biasanya rajin, nggak bisa diem, trus tiba-tiba jadi sosok pemalas."
__ADS_1
Nilam tidak menanggapi ucapan sahabatnya. Ia melanjutkan makan, hingga nasi di piringnya tandas tanpa sisa.
Setelah selesai membereskan bekas makan dan alat memasaknya, Nilam kembali naik ke atas kasur. Rasanya ia malas melakukan apapun saat ini.
Mungkin ini yang dikatakan orang berada di titik jenuh. Titik dimana kita merasa enggan melakukan sesuatu yang rutin kita lakukan. Merasa lelah dan tanpa gairah sepanjang hari.
"Astaga Laaam, kamu mau tidur lagi?" Heran Amanda yang baru keluar dari kamar mandi.
"Memangnya kenapa? Nggak ada larangan, kan?"
"Kamu nggak mau mandi dulu, gitu?"
"Ntaran aja lah, belum pengen." sahut Nilam, sambil menumpuk bantal agar ia nyaman bersandar.
"Eh, kamu belum cerita sama aku, ada kejadian apa kemarin sampe kamu pulang telat?" tanya Amanda yang baru teringat sesuatu.
Nilam menarik nafas dalam, sambil melirik Amanda. Ia merasa ragu untuk memulai cerita, sebab ia tahu pasti seperti apa sahabatnya itu.
"Kalau aku cerita, kamu jangan motong atau marahin aku ya. Aku tau pasti kamu bakalan komen pedas---"
"Udah buruan cerita! Kayak perpisahan aja, pakai acara pembukaan!" seru Amanda tidak sabar.
Nilam melengos mendengar ucapan Amanda.
__ADS_1
"Kemarin tuh, aku habis dari rumah sakit. Nungguin Delvia melahirkan,"
"HAH!!! Ngapain kamu nungguin dia? Emang stok keluarganya habis?" Seperti biasa ucapan asal Amanda membuat Nilam kesal.
"Dengerin dulu mangkanya! Udah dibilang jangan potong cerita aku!" kesal Nilam.
"Ya iya, lanjut lanjut!"
"Jadi kemarin tuh, aku sempet mampir ke minimarket setelah pulang kerja. Perut aku laper banget, jadi aku beli roti langsung makan di sana. Nah tiba-tiba di belakang aku ada orang menjerit, trus rame orang yang ngerumunin. Aku penasaran donk, aku ikutan liat, dan pas udah deket tuh, aku kaget liat dia dan refleks aku nyebut nama dia. Eh didenger sama yang lain, trus aku diminta untuk nemenin dia ke rumah sakit."
"Dan kamu mau? Kamu lupa dia siapa? Dia bukan hanya perebut pacar kamu, Lam. Gara-gara dia jug akhirnya kamu kehilangan kerjaan di kota N, kan?" kesal Amanda.
"Aku ingat semua, Nda. Aku belum pikun. Tapi selain karena dorongan dari orang-orang yang ada di sana, aku juga mikir, di sini aku seorang perantau. Nggak selamanya kita akan baik-baik saja di tempat orang. Jika, amit-amit aku ada di posisi dia kemarin, trus nggak ada orang yang bantuin aku, gimana? Atau seandainya keluarga aku seperti itu, gimana?" sahut Nilam membela diri.
"Antara baik dan bodoh ternyata saru ya, beda tipis ya." kesal Amanda meninggalkan Nilam, dan pergi menuju dapur.
"Kalian tuh nyebelin banget sih? Nggak kamu, nggak mas Bas semua menyebalkan hari ini. Males aku!" Nilam bangkit dari kasur dan melangkah keluar dengan marah.
Pikirannya kacau. Sejak tadi pagi ia merasa semua orang memojokkannya.
Amanda menoleh ke belakang, melihat sang sahabat keluar kamar dengan menghentak kakinya.
"Dasar labil! Perasaan dulu dia nggak gini-gini amat," gerutunya sambil masih melanjutkan kegiatan membuat mie instan.
__ADS_1