
(Masih flashback)
Amanda merasa sangat marah mendengar semuanya. Namun ia tidak boleh gegabah. Menghadapi orang-orang licik seperti mereka tidak mudah. Salah-salah bisa dirinya yang terpojok.
Gadis itu masih terus mengintip, bahkan saat Laksmi memerintah tukang kebun untuk memanggil para art agar membereskan katering pun, ia tahu.
"Via, mba ke dalam dulu ya. Mastiin semuanya beres." Ucap wanita itu setelah kepergian tukang kebunnya.
Delvia mengangguk, mempersilahkan kakak dari pria yang dicintainya itu pergi, menyelesaikan urusannya.
"Ok mba ... Kayanya kerjaan mereka masih banyak deh ... Tadi aku liat masih riweeeh di dapur."
"Bagus lah, biar si Nilam kerjaannya makin banyak. Kapok dia, beresin semua sendiri." Kekeh Laksmi kemudian berlalu dari tempat itu.
Amanda menempelkan tubuhnya pada tanaman hias yang berhasil menyembunyikan keberadaannya.
Gadis itu menarik nafas panjang. Ia merasa sangat kasihan pada Nilam. Dikerjai, ditipu, dikhianati habis-habisan oleh keluarga Wijaya.
Kalau memang tidak setuju, harusnya katakan baik-baik. Jangan tenaganya dimanfaatkan dengan gratis, namun orangnya tidak disukai. Bahkan tega memperlakukannya dengan tidak baik.
'Semua ada hukum sebab akibat. Ingat aja, suatu saat kamu bakal dapet hukuman dari Tuhan karena udah berbuat jahat sama orang nggak bersalah kayak Nilam. Semoga aja kamu yang menuai hasil perbuatan kamu, jangan sampai anakmu yang dapat karmanya.' Gumam Amanda, menatap tajam pada punggung wanita yang lewat di depan tempat persembunyiannya.
Flashback off
Amanda menjelaskan apa yang didengarnya, kecuali masalah hubungan wanita yang dipanggil Via itu dengan Pandu. Ia tidak ingin Nilam terlihat hancur di sini, bila sampai gadis itu tahu skandal apa yang kekasihnya perbuat di belakangnya.
"Oohh jadi mereka berdua sekongkol pengen ngerjain aku? Dari awal aku lihat cewek itu memang beda sih ... Padahal aku nggak pernah ketemu langsung sama dia. Tapi tatapan matanya itu kaya kesel gitu sama aku." Nilam pun menceritakan apa yang dirasanya pada Delvia.
"Jangan-jangan cewek itu suka lagi sama mas Pandu. Mereka kan deket banget ...." Pancing Amanda
"Kok kamu tahu mereka deket?" Tanya Nilam dengan wajah yang sudah memerah.
__ADS_1
Ia yang sejak awal sudah merasa cemburu pada wanita itu, ditambah lagi Amanda yang memanasi hatinya, membuat hati Nilam tidak karuan.
"Mmm ya kan dari kejadian tadi aku bisa liat, kalau cewek itu dekat sama keluarga ini. Belum lagi dia kasih ide untuk mba Laksmi bermain cantik, biar nggak terlalu kelihatan musuhi kamu. Dari sana aja udah ketahuan kan, ada sesuatu yang dimau wanita itu ...."
Mendengar penjelasan sahabatnya, Nilam hanya diam menyimak.
Satu sisi ia membenarkan ucapan Amanda, meski sisi lain hatinya menolak segala kemungkinan, yang berhubungan dengan hal tidak baik tentang hubungannya dengan Pandu.
***
Acara anniversary itu berjalan dengan lancar. Riuh tepuk tangan dan tawa bahagia orang-orang yang hadir, menggema memenuhi taman belakang rumah keluarga Wijaya.
Bukan hanya makanan dan minuman lezat yang tersaji di sana, namun acara hiburan serta door prize yang diberikan menjadi salah satu hal menarik yang mereka nantikan.
Orang-orang tidak tahu, dibalik kemeriahan acara itu, ada banyak drama yang terjadi, yang dibuat oleh sang tuan rumah.
Doa dan harapan tulus, diucapkan para karyawan untuk kebahagiaan sang majikan.
Ucapan terimakasih tidak henti mereka ucapkan, terlebih semua karyawan memberi mereka kado baik perorangan maupun patungan.
Nilam yang suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, memilih mencari tempat yang agak sepi, guna menenangkan diri, setelah ia menyerahkan kado yang ia siapkan kepada nyonya Wijaya.
Beberapa kali matanya liar mencari sosok yang sejak ia tiba, tidak nampak batang hidungnya.
Chat dan teleponnya pun sia-sia, sebab tidak sekali pun Pandu menjawabnya. Rasanya Nilam ingin berteriak dan menangis saat itu juga.
Apalagi beberapa teman kerja yang tidak terlalu dekat dengannya, jelas-jelas menggosip tentangnya sejak tadi.
"Dari orang biasa, pegawai biasa, naik pangkat jadi menantu keluarga Wijaya. Waaaah khayalan setiap gadis kayanya ya ...." Ucap salah seorang kasir minimarket milik keluarga Pandu.
"Bakal ada orang buta mendadak bisa melihat nih nanti," sinis karyawan lain lagi.
__ADS_1
"Iya kalau beneran dijadiin istri, kalau cuman diisap madunya aja gimana? Kayak tebu, dihisap manisnya, ampasnya dibuang. Liat aja, masa calon mantu, masih disuruh jadi pelayan ... Siapin ini itu sendiri, sama kayak art rumah ini. Kalau aku sih yakin, si Nilam itu cuman dimanfaatin aja sama mas Pandu."
"Nggak mungkinlah ...masa bapak sama ibu begitu sih? Mereka selama ini selalu baik sama kita-kita kan, nggak mungkin tega manfaatin si Nilam yang notabene adalah karyawannya sendiri.
Banyak lagi kalimat miring yang sampai ke telinganya, membuat gadis itu merasa panas.
"Yank ... Maaf ya aku tadi ketiduran. Capek banget soalnya," Pandu yang tiba-tiba duduk di samping Nilam, membuat gadis itu terkejut.
"Mas ...!" Seru Nilam. Ia Samapi mengelus dadanya, sangking tidak menyangka akan kehadiran laki-laki yang sejak tadi ia cari keberadaannya.
Wajah Nilam mendadak suram, mengingat kembali apa yang diceritakan Amanda beberapa saat lalu.
"Kamu kenapa yank ... Kok sendu gitu wajahnya?" Tanya Pandu khawatir.
"Mas dari mana aja? Kenapa baru kelihatan?" Tanya Nilam. Ada rasa sakit yang ia tidak tahu apa sebabnya, namun tiba-tiba membuatnya merasa sangat takut kehilangan Pandu.
Gadis itu sampai meneteskan air mata di hadapan kekasihnya, membuat Pandu merasa takut dan khawatir.
"Yank ... Kenapa ...? Ada apa? Kenapa nangis?"
"Mas ...." Nilam menjatuhkan kepalanya di dada Pandu. Menangis dengan pilu, mencoba melepas rasa sesak dan sakit hati yang ditahannya.
"Kamu kenapa sayang ... Kenapa begini?" Pandu mencoba melerai pelukan Nilam, memastikan gadis itu mendengar pertanyaannya, namun cengkraman kuat Nilam membuat Pandu akhirnya pasrah. Ia hanya bisa mengelus lembut rambut gadis itu, berharap bisa memberi ketenangan dan rasa nyaman pada kekasihnya.
"Yank ... Ssss ... Udah, malu diliat orang ... Dikira mas lagi yang bikin kamu nangis." Bujuknya lagi, setelah menunggu beberapa menit, namun tangis Nilam tidak juga reda.
"Aku takut mas ... Aku takut kamu direbut wanita lain ... Aku nggak sanggup kalau kamu pergi dari hidup aku. Aku sayang kamu mas ...." Ucap Nilam dalam dekapan Pandu, membuat hati laku-laki mencelos.
Rasa bersalah menyergap hatinya. Ia yang sejak berangkat dari kota B sudah bertekad akan mengakhiri drama hidupnya dengan Delvia, beberapa saat lalu kembali melakukan dosa besar dengan wanita itu. Dan kali ini tanpa dirinya sadari.
Bagaimana ia harus menghadapi Nilam, bila sampai wanita itu tahu apa dosa yang telah dilakukan dengan wanita lain di belakang gadis polos itu?
__ADS_1