
Tidak selamanya luka itu mengurung kita dalam linangan air mata. Ada kalanya rasa sakit yang menyapa, membuat kita sadar seberapa berharganya diri kita, hingga rasanya tidak adil jika harus menenggelamkan jiwa kedalam duka berkepanjangan.
Tidak salah menangis beberapa saat, namun setelah itu bangkit dan tegak berdiri adalah pilihan terbaik untuk menghargai diri sendiri.
Semua tergantung bagaimana kita dan lingkungan menyikapi.
Dikhianati, pasti memberi rasa sakit dan kecewa, tapi air mata tidak akan membuat semua kembali seperti semula.
Pemahaman itu yang selalu Nilam tanamkan pada dirinya. Hingga sesegera mungkin ia ingin melepas belenggu rasa yang sia-sia.
Saat ia, Baskara dan Amanda berendam di sebuah wisata air panas, mereka membicarakan banyak hal.
Dari rencana Nilam ke depan, bagaimana gadis itu akan menyelesaikan masalahnya bersama Pandu, bagaimana Nilam akan memberitahu kedua orang tuanya fakta yang terjadi dengan kisah asmaranya, bagaimana Nilam akan menghadapi tuan dan nyonya Wijaya, kelanjutan pekerjaannya di tempat itu, hingga dukungan mereka berdua untuk Nilam. Semua obrolan itu membuat Nilam benar-benar merasa bersyukur masih ada orang-orang baik yang mengelilingi hidupnya.
Hal pertama yamg gadis itu lakukan adalah keluar dari pekerjaannya. Meski tuan dan nyonya Wijaya sudah menduganya, namun mereka tetap merasa berat melepaskan salah satu karyawan terbaiknya.
"Nilam, saya minta maaf untuk semua yang terjadi. Tapi semua itu di luar kendali saya sebagai orang tua."
"Iya Bu, saya mengerti. Saya tidak pernah menyalahkan ibu, untuk apapun yang terjadi dalam kehidupan pribadi saya."
"Tapi kenapa kamu mengundurkan diri? Bukankah urusan pekerjaan dan masalah pribadi jelas berbeda?"
"Maaf Bu, saya ingin mencari pengalaman hidup di tempat lain."
Nilam tidak pernah menjawab pertanyaan majikannya lebih dari satu kalimat. Sejujurnya ia tidak ingin berlama-lama berada di ruangan yang membuatnya merasa tidak nyaman itu.
"Tapi kan ...."
"Ma ... Nilam masih muda. Biarkan dia mengembangkan dirinya. Jangan halangi dia untuk mencari pengalaman hidup yang lebih baik dan lebih berwarna lagi." Tuan Wijaya menengahi obrolan mereka. Pria paruh baya itu sadar, semua kesalahan ada pada mereka. Tidak seharusnya dia dan sang istri egois, mempertahankan Nilam yang sudah disakiti oleh putra mereka sendiri.
__ADS_1
"Terimakasih pak. Maaf kalau selama saya bekerja di sini, banyak kesalahan yang saya lakukan. Terimakasih sudah memberi saya pengalaman yang luar biasa di sini."
Nilam benar-benar merasa enggan berlama-lama berada di satu ruangan dengan orang-orang yang berhubungan dengan Pandu. Namun ia harus bisa bersikap sopan, harus bisa menahan diri agar tidak lepas kendali.
Akhirnya hari itu ia keluar dari pekerjaan yang sudah memberinya penghidupan selama ini.
Bertemu dengan Amanda di meja kerja untuk terakhir kalinya, tidak terasa air mata keduanya menetes.
Meski keputusan Nilam untuk berhenti bekerja sudah diketahui Amanda, namun tetap saja waktu hampir empat tahun yang mereka jalani, tidak semudah itu akan terlupakan.
Perpisahan adalah hal tersulit yang dilalui bagi setiap orang. Tidak ada kata pisah yang menghadirkan tawa suka cita, semua pasti menciptakan rintik air mata. Entah karena perpisahan itu atau proses penyebab perpisahan itu terjadi, pasti ada kesakitan yang dirasakan.
"Tunggu aku ya Lam ... Nanti kita cari kerjaan bareng di kota B. Aku akan bujuk ibu, agar mengijinkan aku untuk kerja di luar kota." Ucap Amanda di sela isaknya.
"Jangan pindah Nda, kasihan ibu. Kalau kamu kerja di luar kota, ibu kamu kesepian nanti." Nilam tidak ingin sahabatnya juga ikut terseret dalam masalah pribadinya.
Ini masalah pribadinya, tidak ingin orang lain ikut menanggung apa yang sudah ia putuskan.
***
Kini, dua Minggu sudah Nilam berada di rumah orang tuanya.
Hari-harinya ia habiskan dengan bermain bersama keponakan-keponakannya. Telepon dari Pandu selalu ia abaikan. Ia tidak ingin lagi terlibat urusan apapun dengan laki-laki yang sudah mengecewakannya dengan begitu dalam itu.
"Nilam ...." Panggil Citra, sang kakak ipar.
"Iya mba,"
Nilam yang tengah menemani keponakannya bermain lego di ruang tengah rumah sang kakak menoleh, ketika wanita berambut sebahu itu memanggil namanya.
__ADS_1
"Boleh mba tanya sesuatu?" Tanya wanita itu hati-hati, sembari ikut duduk di lantai beralas karpet permadani tersebut.
"Boo leeeh," ucap Nilam menganggukkan kepala dengan sedikit ragu. Ia tahu, pasti istri dari kakaknya itu ingin menanyakan masalah apa yang sedang ia hadapi saat ini.
"Kata ibu, kamu menghindari pandu lagi ya?"
Nilam tidak menjawab. Ia menunduk sembari memainkan Lego warna-warni milik sang keponakan.
"Maaf, bukan mba mau ikut campur terlalu dalam masalah pribadi kamu, tapi mau sampai kapan kamu akan terus menghindar dari dia? Lam ... Masalah itu harus dihadapi bukan dihindari."
"Aku belum siap mba, meski berulang kali aku meyakinkan diriku sendiri kalau aku akan baik-baik saja, tapi tiap kali membayangkan kehadirannya membuat hati aku sakit. Aku nggak ingin terlihat lemah di hadapannya. Aku nggak mau harga diriku terinjak lebih parah lagi."
Iya, diantara semua rencana yang ia sempat bahas bersama Baskara dan Amanda, rupanya bertemu dan menyelesaikan masalahnya dengan Pandu adalah hal tersulit yang bisa ia lakukan.
Ingin menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja setelah pengkhianatan itu, tapi rasanya tidak mungkin air mata kecewa akan mampu ia bendung saat pria yang masih dicintainya sekaligus yang sudah melukainya itu ada di depan mata
"Apa dengan kamu menghindar, dia tidak merasa kalau kamu kalah?" Tanya Citra lagi.
Nilam tidak dapat menjawab pertanyaan wanita itu lagi.
"Tidak apa kamu tunjukkan kesedihanmu, agar dia juga tau sedalam apa luka yang dia torehkan untukmu."
"Aku nggak mau dia mengira aku masih berharap padanya, mba."
"Justru dengan kamu menghindar, dia jadi berpikir banyak hal. Mungkin dia pikir kamu ingin dia berjuang lebih keras lagi untuk kamu memaafkannya. Bisa saja kan, itu yang menjadi isi kepalanya?" Nilam kembali terdiam
"Jangan buru-buru ingin terlihat baik-baik saja Lam ... Kulit luar tidak akan berpengaruh dengan remuk hatimu yang belum sembuh. Nikmati saja sakit yang kamu rasa, biarkan waktu yang akan benar-benar menjadi obatnya. Kalau menurut mba, sebaiknya kamu segera temui dia dalam keadaan kamu yang apa adanya saat ini."
"Liat nanti aja lah mba, aku nggak mau bahas ini dulu." Nilam menutup percakapan itu secara sepihak.
__ADS_1
'Tanpamu, aku baik-baik saja. Itu yang selalu aku katakan pada diriku sendiri mas. Tapi kenapa masih begitu sulit rasanya untuk aku menemuimu saat ini? Apa benar sebaiknya aku membiarkan saja kamu melihat sisi lemah ku mas? Tidakkah kamu akan semakin menjatuhkan harga diriku, saat kamu menyadari aku masih begitu mencintaimu?'