CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
CK 24 - PENJILAT


__ADS_3

"Tidak, Malam ini aku banyak tugas yang belum terselesaikan, Sepertinya malam ini aku harus tidur di asrama, Aku tidak punya banyak waktu, Kau bisa pergi sendiri." Zenya malas harus meladeni Angeline, Ia segera menghindar, Ia takut jika Angeline tiba-tiba membocorkan tentang kejadian semalam.


"Cih, berpura-pura lagi. Jika bukan karena ingin mendekati tuan Cristhopan, Aku tak ingin berbaik hati padanya." Angeline menatap sinis pada punggung Zenya yang sudah mulai menjauh,


"Tapi orang seperti dia, Sebentar lagi tuan pasti akan bosan, Sungguh gadis tak tahu diri, menganggap dirinya hebat dan di sayangi oleh tuan, Sungguh membuat geli." Ia berpangku tangan setelah itu melenggang pergi dari sana, Semua tatapan tertuju padanya.


*


*


"Velia, Terimakasih ya kamu sudah menemaniku datang untuk mengganti perban." Sehabis menghidar dari Angeline, Zenya langsung pergi kerumah sakit, Guna menghindar dari amukan Cristhopan, Velia memaksa ingin mengantarnya, Walaupun ia sedikit khawatir bila Cristhopan atau sopir suruhannya tiba-tiba datang, tapi ia tak mungkin akan terus menolak Velia.


"Tidak perlu berterima kasih, kau kan sahabatku.


ngomong-ngomong ada masalah apa pada rapat sebelumnya, Devon mengapa terus melawanmu?" Velia merasa bahwa sikap Zenya sedikit agak berlebihan, Tapi ia tak menghiraukannya, Walaupun sebenarnya Ia ingin bertanya tentang tingkah dan prilaku Zenya yang akhir-akhir ini banyak berubah, Zenya menjadi pendiam dan kurang fokus akhir-akhir ini


"Dia ingin aku menjilat Cristhopan untuk membiarkan Angeline berperan sebagai pemeran utama wanita di pentas seni nanti." Ujar Zenya terus terang.


"Apa? Pemeran utama wanita? Apa mereka berkhayal?


Angeline itu penampilannya saja yang seperti dewi, lemah lembut, sebenarnya dia jahat dan kejam, Aku pernah sekali menabraknya, Alhasil dia mencari segerombolan orang datang menghentikanku dan memarahiku setengah jam.."


Zenya sangat tidak fokus, Ia terus berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa menghindar dari Cristhopan,


"Pulang sekolah sopir akan datang menjemputmu," Ujar Cristhopan tadi sebelum Zenya berangkat.


"Aku sudah mengirim pesan agar sopir tidak perlu datang menjemputku, Dia seharusnya sudah mengetahui dan akan mengerti kan?" Zenya bergumam,


Ia dan Velia terus berjalan menyusuri trotoar, sesekali mereka mengobrol dan membicarakan soal diskusi tadi. Velia masih terus mengoceh tak terima dengan apa yang sudah Devon lakukan.


Saat menoleh ke arah sebrang jalan, Zenya di kejutkan kala melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam terparkir disana. Ia sudah hafal bahwa itu adalah mobil milik Cristhopan.


"Velia, sebenarnya.. Aku ada janji dengan Tuan Randhika, Aku ingin berdiskusi masalah pengambilan dana, Tidak mungkin aku langsung mengambil semuanya, Aku takut nanti kedepannya akan ada masalah, jadi lebih baik aku diskusikan dulu hal ini dengannya." Zenya mencari alasan, Ia sudah kebingungan karna ia tak ingin sahabatnya itu mengetahui yang sebenarnya.


"Aduh, kenapa kau tak bilang dari awal, kalau begitu mau aku antar?" Velia menawarkan diri,


"Tidak perlu, Aku tahu kau sedang ada urusan"

__ADS_1


"Hmm, kau memang yang paling mengerti aku Zenya, Ya sudah kalau begitu aku akan bergegas pulang, kau pun harus berhati-hati ya, jangan sampai terluka lagi, Bye!" Velia memeluk erat dan mengguncang-guncangkan tubuh Zenya, Ia segera berjalan setengah berlari dan mulai menjauh dari Zenya, Zenya tahu kalau keluarga Velia sedang banyak masalah. Tadi pun, ia merasa tak enak hati jika Velia mengantarnya,


"Velia, maafkan aku, Aku masih belum berani untuk memberitahukanmu masalah yang sebenarnya. Aku tahu pikiranmu sedang kacau, tapi kamu masih menawarkan diri untuk mengantarku ke rumah sakit, Setelah semua nya sudah bisa teratasi aku pasti akan memberitahukanmu yang sebenarnya" Gumam Zenya.


Zenya menghampiri mobil Cristhopan,


"Ternyata dia juga datang?" Batinnya kala ia melihat Cristhopan berada dalam mobil.


"Velia ingin menemaniku untuk mengganti perban, Aku.. Aku takut dia akan mengetahui masalah kita.." Zenya menjelaskan alasannya yang sedikit menjauh dari mobil Cristhopan


"Aku dan kau? Memang 'kita' ada masalah apa?" Jawab Cristhopan cuek.


"Ada apa dengannya? Dia marah lagi ya? Atau aku salah bicara?" Gumam Zenya, Ia memperhatikan Cristhopan yang sama sekali tak perduli dengan keberadaannya.


"Aku takut dia tahu bahwa aku akan pergi ke villa keluarga Alexander, jadi aku sengaja berlari agak jauh." Lirih Zenya,


"Sungguh sangat takut kalau dia tahu tentangku?" Cristhopan mulai mengalihkan pandangannya


"Takut, sangat takut." Jawab Zenya sangat bersungguh-sungguh.


"Kau sungguh jujur." Cristhopan tersenyum kecut, ada perasaan kecewa dalam hatinya.


"Kemari" Cristhopan meraih lengan Zenya.


"Tuan Cristhopan, Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu, Ataupun melawanmu, hanya saja kita sudah sepakat, Kau tidak boleh mengumumkan hubungan ku dan mu." Zenya frustasi, Ia sangat ingin menekan kan Cristhopan akan hal ini


"Sejak kapan aku sepakat denganmu?" Cristhopan menatap tajam manik-manik mata Zenya


Zenya terdiam


"Kau sungguh takut padaku, Atau sungguh tidak bersedia untuk tinggal di sisiku?" Ia memcengkram lengan Zenya


"Takut, juga tidak bersedia, Tapi jika aku mengucapkannya seperti ini.." Zenya menggigit bibirnya, ia tah tahu harus menjawab apa,


"Aku.. Kau.. Kau bagaimana bisa tahu kalau aku ada disini? Apa sudah lama sampai disini?" Zenya memalingkan wajahnya, Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Tidak lama, Hanya satu jam." Cristhopan mendekatkan wajahnya,

__ADS_1


"Jangan-jangan dia, Mengikutiku dari kampus hingga kemari? Tapi dia tidak langsung menghadangku di depan gerbang sekolah.." Gumam Zenya


"Jalan." Ia memerintahkan Billy untuk segera melajukan mobilnya.


"Tuan, Semua bukuku masih ada di dalam asrama, Ma.. malam ini boleh tidak aku tidur di asrama saja?" Zenya mulai gelisah, tugasnya masih sangat menumpuk dan sangat banyak yang harus ia kerjakan, Guna menghadapi tour nya nanti, Jika ia kembali dengan Cristhopan ke Villa, Sudah pasti tugas nya yang menumpuk dari kemarin tidak akan pernah selesai.


Cristhopan tak menghiraukan menutup matanya, memangku kedua tangannya, Dan menyandarkan bahu nya pada kursi mobil.


"Hari selasa depan ada ujian bahasa inggris, Aku ingin kembali untuk belajar." Zenya masih belum menyerah,


"Tuan?" Ia melambaikan tangannya didepan wajah Cristhopan,


"Ketiduran? Aku sudah berpikir berlebihan, Bagaimana mungkin dia peduli dengan perasaanku?" Zenya menundukan kepalanya.


"Pergi ke universitas N state"


Zenya mengangkat wajahnya, "Terima kasih tuan," Zenya sangat senang, Ia antusias.


"Aku hanya memberimu waktu lima belas menit, bawa bukumu keluar, jika waktunya tiba dan kau masih belum kembali, Aku akan pergi ke asrama untuk mencarimu."


"Eh?" Zenya terkejut kala mengetahui maksud Cristhopan yang sebenarnya.


"Kau.. kau ingin aku mengambil buku pelajaran.. lalu kembali bersamamu untuk pulang ke Villa?" Ia membelalakkan kedua matanya, Dengan jari telunjuk yang mengarah pada wajahnya,


"Masih ada empat belas menit lima puluh detik." Cristhopan menutup mata.


Zenya keluar mobil


BAM!!


Ia membanting pintu mobil keras.


"Nona Zenya sedang marah secara terang-terangan? Aku mengira seumur hidupnya ia tidak akan pernah berani marah seperti ini di depan tuan! Tuan.. bagaimana reaksinya.." Billy yang berdebar kala menyaksikan aksi perbedatan itu pun di buat melongo


"Heh" Cristhopan menyeringai


○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

__ADS_1


Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih~



__ADS_2