CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 128


__ADS_3

Bas membalik tubuh Nilam agar menghadap ke arahnya. Menatap dengan tatapan menghujam membuat Nilam salah tingkah, dan hanya bisa menundukkan kepala.


Bas menangkup wajah kekasihnya itu dengan kedua tangan. Menyatukan pandangan mereka lagi, berharap gadisnya bisa membaca kerinduan yang ia pendam, dan mengerti kegelisahan yang ia rasakan.


"Untuk siapa mas bekerja selama ini, sayang?" tanyanya sambil merapatkan tubuhnya pada Nilam.


"Semua yang mas lakukan itu untuk kamu. Berharap bisa menghadirkan kebahagiaan untuk kamu. Mas bukan siapa-siapa, nggak akan bisa menghadirkan cinta yang sempurna tanpa usaha dan perjuangan," ucap Bas, ibu jarinya mengusap lembut pipi Nilam yang memerah.


Sesaat mereka hanya saling menatap tanpa suara. Hingga akhirnya bibir tipis Nilam berkata, "Apa mas sudah berhasil melakukannya?"


Bas diam. Tidak dapat menjawab pertanyaan kekasihnya.


Nilam mendorong tubuh Bas yang sempat mengungkungnya. Gadis itu lalu kembali melanjutkan aktifitas sebelumnya, mengambil nampan lalu membawa dua cangkir teh dan kopi, dan juga piring roti bakar ke karpet seperti biasa.


"Minum kopinya dulu mas," pintanya saat menyadari Baskara masih betah berdiri di area dapur.


Mereka duduk berdua di atas karpet, menikmati kopi dan teh yang Nilam sajikan. Tidak ada diantara keduanya yang membuka percakapan. Nilam bahkan sengaja mengambil ponsel dan memainkannya di samping sang kekasih.


Bas tentu merasa kesal, namun ia mencoba memanjangkan sabar. Ia tahu Nilam sengaja melakukan itu, untuk memancing emosinya. Ia tahu Nilam tengah membalasnya saat ini.


"Sayang,"


"Hmmm,"


"Nanti kerja nggak?"


Nilam melirik Bas, lalu kembali fokus pada layar pipihnya.


"Libur. Kenapa?"


"Kita pulang yuk, ketemu sama para orang tua,"


"Aku sering pulang, mas. Udah sering ketemu sama bapak, sama ibu. Sama orang tua mas Bas juga beberapa kali ketemu," sahut Nilam.


"Ya sekarang kita pulang berdua, ngomongin soal pernikahan kita," sahut Bas hati-hati. Ia tahu ini yang akan meledakkan emosi kekasihnya nanti.


Benar saja, Nilam seakan memang sedang menunggunya mengucap kata keramat itu. Dan saat Bas mengatakannya, Nilam seketika menghentikan gerakan mulutnya mengunyah roti bakar.

__ADS_1


Gadis itu langsung menelannya, lalu meneguk sisa teh di gelasnya.


Ia menatap Bas sejenak lalu membuang muka ke sembarang tempat.


"Kan mas udah mutusin sendiri, ngapain aku ikut lagi? Memangnya masih butuh pendapat aku?" sindir gadis itu.


"Sayang ... Nggak gituuu," Bas memelas.


"Trus apa?!" Suara Nilam naik satu oktaf, membuat Baskara sedikit tercengang. Mata gadis itu pun berkaca-kaca, menciptakan rasa bersalah di hati kekasihnya.


"Kenapa mas? Ini pernikahan kita lho, bukan sesuatu yang main-main. Dan mas putuskan itu sendiri, tanpa minta persetujuan dari aku. Apa kedepannya akan selalu seperti ini? Suaraku nggak akan kamu dengar dalam rumah tangga kita?" cecar Nilam dengan air mata menetes membasahi pipinya.


"Nggak gitu sayang, denger dulu mas ngomong," Bas mendekat, meraih tangan Nilam namun di tepis oleh gadis itu.


"Mas mau obrolin sama kamu, tapi kamu sendiri kan yang matiin ponsel?"


"Itu karena mas nyebelin! Ngapain suruh orang ikutin aku? Mas nggak percaya sama aku?" sahut gadis itu.


"Mas nggak suruh orang, kebetulan aja ada yang liat. Lagian harusnya mas marah sama kamu, karena pergi nggak bilang-bilang. Sama mantan lagi!" Bas menekan kata 'mantan' membuat Nilam melirik sinis. Ia menghapus air matanya kasar.


"Mas takut kamu berubah pikiran, mangkanya mas mengambil jalan aman." Akunya dengan nada rendah.


"Ya kamu jelasin donk sayang, biar mas tau,"


"Gimana aku bisa jelasin kalau mas lebih dulu bikin aku emosi?" sahut Nilam tidak mau kalah.


Bas menarik nafas, ia harus mengalah. Meminta maaf kembali, sebelum semua menjadi lebih rumit. Mau sampai kapan mereka berdebat untuk hal yang mereka sama-sama sudah tau itu kesalahpahaman?


"Ya maaf. Mas akui mas cemburu, saat mas nggak ada di dekat kamu, tersiksa menahan rindu, dia dengan mudahnya dekat bahkan menatap kamu sesuka hati," akunya dengan wajah sendu.


"Kan itu bukan aku yang mau, mas. Aku habis temenin istrinya di rumah sakit, jadi dia antar ke minimarket lagi, sebab motor aku tertinggal di sana," Nilam lalu menceritakan apa yang terjadi di malam itu, yang membuat ia diantar Pandu, bahkan kejadian itu juga membuatnya sampai jatuh sakit kemarin.


"Baik banget sih calon istri mas ini," ucap Pandu mengacak rambut Nilam yang dikuncir asal.


"Tapi besok-besok jangan lupa untuk kabarin mas ya, biar nggak ada salah paham kayak gini lagi. Mas bukan nggak percaya sama kamu, tapi yang namanya manusia, pasti sempat terlintas buruk sangka saat melihat hal seperti itu,"


"Iya mas. Aku juga minta maaf udah bikin mas khawatir. Tapi aku masih kesel soal rencana mendadak mas!" Suara yang semula lembut, kembali naik saat Nilam mengingat prihal rencana Bas yang tanpa persetujuannya.

__ADS_1


Bas yang awalnya tersenyum manis pun kembali dibuat meringis, saat wajah Nilam menjadi masam lagi.


"Sayaaang, udah donk ... Kan mas udah minta maaf. Apa mas batalin aja? Minta bapak ke rumah orang tua kamu sekarang?"


"Ya nggak gituu juga, bikin malu orang tua aja," sungut Nilam. Ia sudah tidak lagi menangis, mungkin karena sudah melaporkan kekesalannya.


"Jadi maunya kamu gimana?" tanya Bas jengah.


"Ya sudah, kita pulang hari ini, tapi ingat besok-besok mas nggak boleh gini lagi."


Senyum bas terbit kembali.


"Jadi kamu setuju kan, sayang? Pernikahan kita dipercepat?" Nilam mengangguk. Bas segera menarik tubuh kekasihnya untuk ia peluk dengan erat.


"Makasih sayang, mas janji akan memberikan cinta yang sempurna untuk kamu,"


Nilam menjauhkan tubuhnya.


"Aku nggak mau kesempurnaan mas, cukup lengkapi kekuranganku. Karena aku pun ingin melengkapi kekurangan mas, agar aku merasa kalau mas membutuhkanku."


"Sayang ...." Bas terharu mendengar ucapan tulus Nilam.


Tatapan keduanya beradu menciptakan desiran aneh di hati mereka.


Bas tidak bisa menahan lagi, ia mengecup bibir tipis di depannya yang begitu menggoda iman. Merasa tidak ada penolakan dari kekasihnya, Bas semakin dalam membenamkan ci**man, memainkan lidahnya di rongga Nilam yang juga menikmati pertautan itu.


Cukup lama mereka saling membelit, hingga Bas merasakan reaksi berbeda dari dalam tubuhnya. Takut akan melewati batas, ia segera menghentikan pagutannya. Menatap mesra wajah yang kini sudah semerah tomat itu.


Nilam menunduk malu, sebab ini untuk pertama kalinya mereka berciuman sedalam itu. Bas yang tahu jika kekasihnya tengah menahan malu, kembali membawanya dalam pelukan.


"Mas,"


"Hmm,"


"Kalau kita udah nikah nanti, aku masih boleh kerja, kan?" tanya Nilam.


"Boleh kok, mas nggak akan mengekang keinginan kamu. Asal, ingat atur waktu."

__ADS_1


Nilam mendongak, menatap wajah kekasihnya.


"Makasih mas,"


__ADS_2