CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
CK 46 - TRAUMATIS


__ADS_3

"Tuan!"


Cristhopan tersentak, Ia memijat tengkuknya dengan kasar, keningnya mengkerut


"Ada apa?" Jawabnya sambil menghela nafas


"Anda harus tetap tenang, Tuan" Billy meletakkan Americano yang disukai oleh Cristhopan


"Aku tak bisa tenang" ia menyandarkan tubuhnya


"Apa kau tahu rencana apa yang sedang di pikirkan oleh Rebecca sekarang?" Cristhopan memejamkan matanya


"Nona Rebecca memang sering bertindak seperti anak kecil, Tuan. Namun, Rencananya tak pernah gagal. Rencana nya selalu penuh dengan kejutan" Jawab Billy dengan serius


"Apa aku harus benar-benar meninggalkan Zenya?" Gumam Cristhopan yang semakin gelisah setelah mendengar jawaban dari Billy


*


*


Beberapa hari berlalu, Zenya sudah kembali dengan kegiatannya, Ia berbaur dengan cepat di tempat baru tersebut.


"Aku harus segera menyelesaikan semuanya" Jemarinya yang gemulai menari dengan lincah diatas papan keyboard, Ia mengerjakan tugas ditemani oleh cemilan kesukaannya.


"Emmmhhh! Kenapa kau selalu terasa enak?" Ucapnya kegirangan kala sepotong makanan ringan itu masuk kedalam mulutnya,


Saat sedang asyik menikmati sepotong biskuit yang baru saja masuk kedalam mulutnya, Fiona datang, Ia sudah menampakkan raut wajah tak suka kala melihat Zenya yang tengah asyik menari kecil dengan mulut yang penuh dengan biskuit.


"Cih, anak kecil!" Decaknya sambil melipat tangan.


"Zenya!" Sentaknya,


Zenya hanya melirik, setelah itu ia kembali fokus pada layar monitor.


"Mana tugas yang harus di selesaikan?" Nada bicara Fiona sama sekali tidak ramah.


Zenya menghela nafasnya kasar, ia segera mengambil map berwarna kuning yang sudah ia siapkan sejak lama, setelah itu ia bangkit dan dengan sengaja memberikan map tersebut dengan sedikit tekanan, seperti sedang melempar.


"Kau!" Mata Fiona membulat, ia tak terima dengan sikap yang Zenya tunjukan,


"Kenapa?" Zenya mengangkat satu alisnya


"Kau tidak terima?" Sambungnya,

__ADS_1


"Kau! Berani.."


"Apa? Kenapa? Kau saja berani melalaikan tugasmu, Sekarang kau mau perhitungan dengan sikapku? Kau ternyata memang tidak tahu malu ya, Fiona!" Zenya sangat kesal, pasalnya semua tugas yang seharusnya dikerjakan oleh kelompok hanya di kerjakan oleh Zenya seorang, Tidak ada yang membantunya bekerja.


"Aku sibuk, kau tahu jurusanku banyak kegiatan!" Fiona mengelak


"Kau sibuk? Lalu apa denganku? Kau pikir aku sangat senggang hingga harus mengerjakan semuanya seorang diri? Kau wara-wiri pergi minum kesana-kemari bersama para senior dan teman baru sejurusanmu, Lalu aku harus mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi tugas mu sendirian? Belum lagi aku harus mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh Devon?!" Fiona terbelalak, Ia tak percaya jika seorang Zenya ternyata bisa marah seperti ini.


"Kenapa kau menyalahkan semuanya kepadaku? Kau melimpahkan amarahmu pada Devon juga kepadaku? Kau memang sengaja ingin memarahiku ya?!" Fiona masih tak terima


"Ck, Kau memang tidak tahu malu" Zenya sudah malas berbicara, Ia menghela nafas lalu berpaling dan duduk kembali di kursinya


"Ck, Singa sudah kehilangan taringnya lagi, ya?" Fiona berlalu tanpa ada rasa bersalah didalam hatinya,


"Astaga, Kenapa aku selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menjengkelkan" Zenya sangat kesal, tangannya ia cengkram sekuat mungkin "Huuuuhhhhh" Ia membuang nafas perlahan, mengatur detak jantungnya agar berdetak normal.


"Astagaa" Semangatnya memudar, ia merasa sangat badmood sekarang,


"Huuuhhhh, Biasanya aku hanya akan marah jika hal itu bersangkutan dengan Cristhopan" Keluhnya,


Zenya tersadar selama ia berada ditempat ini, Cristhopan sudah lama tak menghubunginya,


"Cristhopan, dia kemana?"


"Ah tidak, Aku pasti akan mengganggunya" Urung Zenya sambil meletakkan kembali ponselnya.


"Lebih baik aku segera selesaikan tugas ini dan bersantai di kamar" Ia memaksakan diri untuk tetap fokus, ia menatap semua tulisan dan diagram yang nampak terlihat sangat mempeningkan, "Tidak biasanya aku kehilangan fokus begini" Ujarnya sambil merebahkan tubuh.


"Sebaiknya aku menghirup udara sambil mengisi perut" Ia tersenyum sendiri lalu beranjak, dan segera menuju ke kantin.


Hidangan yang sangat ingin disantap sudah tertata rapi diatas nampan, Ia sengaja duduk dibangku yang berada dibawah pohon rindang.


"Hmm aku harus baik-baik menikmati makanan ini supaya fokusku kembali semua" Raut wajah sumringah siap menyantap burger dengan beef didalamnya.


"Aaaa" ia sudah membuka mulut lebar-lebar dan berniat memakan burger size jumbo itu dengan satu gigitan


"Zenya!" Zenya menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya, Ia menoleh dengan mulut yang sudah hampir menggigit ujung roti.


"Ck, Memang tuhan tidak membiarkan aku hidup tenang, bahkan disaat aku ingin melahap burger montok ini" Keluhnya jengkel kala melihat dua orang perempuan yang sangat tidak ingin ia temui datang menghampirinya.


"Ada apa?" Jawab Zenya dengan nada tak ramah


"Begitu caramu menyapa orang?" Sungut orang itu tak suka.

__ADS_1


"Ada urusan apa anda mencari saya, Nona Safir yang terhormat" Cetus Zenya


"Kau!" Decaknya, Safir hendak melayangkan sebuah tamparan, Namun Rebecca menahannya.


"Sudah, jangan terpancing olehnya" Rebecca nampak cuek


"Aku kemari karena mendengar project yang ingin kalian kerjakan tidak berjalan dengan mulus" Sambung Rebecca tanpa berbasa-basi


"Bagaimana ia bisa mengetahuinya?" Batin Zenya


"Kau pasti berpikir, bagaimana aku bisa mengetahuinya, kan?" Rebecca terlihat berbeda, Zenya sedikit waspada


"Waktu itu aku terpancing emosi, Aku belum sepenuhnya mengenalkan diri padamu.


Namaku Rebecca Alexander, Mungkin kesan pertamaku dalam ingatanmu sangat buruk, Tapi aku bisa dibilang profesional saat menjalankan tugas.


Dikampus ini, Semua kegiatan pasti harus mendapatkan kesepakatan dariku dulu. Ya, walaupun terdengar seperti membual, tapi memang itu kenyataannya.


Dikota ini, mengadakan hal seperti itu bisa dibilang sangat tidak berguna. Kau tahu kenapa sekolah ini sangat baik dimata umum? Itu bukan karena citra nya yang baik, Tapi kami, bisa mendekatkan diri pada orang-orang penting, dan berstatus tinggi disekitar" Rebecca menyeringai


"Seringai yang sama" Batin Zenya, ia buru-buru menggeleng


"Jadi, maksud nona ini sebenarnya apa?" Zenya sedikit tidak mengerti


"Kau bisa ikut denganku jika ingin mengetahui maksudku yang sebenarnya" Ajak Rebecca, Zenya termenung, Ia merasa tidak akan ada hal yang berjalan dengan mulus jika itu bersangkutan dengan gadis ini,


"kenapa? Kau meragukan,'ku?" Rebecca berbalik sambil melihat tangannya di dada


"Kau tenang saja, Aku tak akan berbuat macam-macam padamu, Jika aku ingin melakukan sesuatu akan dengan mudah aku membunuhhmu. Kau tahu cara kerja keluarga Alexander 'kan?" Rebecca menyeringai,


"Baik, Aku akan ikut. Tapi, Aku sangat lapar sekarang, Sepertinya aku harus mengisi perutku dulu" Zenya tersenyum kecil, Ia sukses membuat kedua gadis itu membulatkan mata.


"Dasar gadis siialann" Cibir Safir


••••••••••••••••••••°••••••••••••••••••••


**Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~


Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.


Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~


Terimakasih**~

__ADS_1


__ADS_2