
"Sayang, mau kemana?" Dion mengejar Laksmi yang terlihat terburu-buru.
"Aku mau beresin masalah, mas. Mas tunggu di sini aja. Aku pergi sendiri." sahut wanita itu sambil berlalu dari hadapan suaminya.
"Mau ke mana?" tegas Dion lagi, menarik tangan Laksmi agar berhenti melangkah.
"Mau cari masalah sama Nilam lagi? Belum puas kamu buat masalah sama orang lain, demi mengenyangkan ego mu?" tanya Dion dengan tatapan tajam.
"Mas,"
"Aku udah tahu. Kamu yang ada di balik hancurnya hubungan Pandu dan Nilam bukan?. Kamu dan Delvia. Kalian bekerja sama kan? Dan sekarang, kamu mau apa lagi? Bukan kah keinginan kamu memiliki ipar seperti Delvia sudah terwujud?"
"Tapi mereka nggak akan bisa bahagia kalau Nilam selalu menjadi bayang-bayang di antara keduanya, mas."
"Lalu apa itu salah Nilam juga? Mau kamu apa sih? Apa salah gadis itu sama kamu, sehingga kamu merasa sangat terganggu dengan keberadaannya?" tanya Dion jengah.
"Aku nggak mau tau, pokoknya aku nggak kasih ijin kamu untuk pergi menemui Nilam. Biarkan dia tenang dengan kehidupan barunya. Jangan lagi ganggu dia dengan apapun menyangkut Pandu dan Delvia."
__ADS_1
"Nggak bisa, mas. Aku harus pergi. Aku harus bikin perhitungan sama dia, karena dia udah ganggu hubungan Pandu dan istrinya." Laksmi bergegas pergi. Ia menuliskan telinga, tidak mau mendengar teriakan suaminya.
Dion hanya bisa menarik nafas panjang, mencoba menanam kesabaran lebih banyak lagi.
Selalu seperti itu. Laksmi selalu bertindak sesuka hatinya. Tidak pernah mau mendengar apa yang suaminya katakan.
"Mungkin kamu menganggap aku terlalu lemah, terlalu mencintai kamu, sehingga selalu menuruti apa mau mu. Tapi nanti, jangan salahkan aku jika batas sabarku sudah habis." Gumam Dion, menatap mobil yang sudah melaju meninggalkan area rumah sakit.
🌟🌟🌟
Suasana hati Nilam sedang tidak baik-baik saja. Rasa kesal masih menguasai dirinya, bahkan hingga tiba di kostan pun, gadis itu lebih banyak diam.
"Woe, kenapa sih? Bengooong dari tadi? Kangen sama ayang bebnya yaaa?" Amanda menggoda Nilam yang tengah melamun.
"Ck, apaan sih. Jangan sebut-sebut Mas Bas terus, kasihan dia nanti perasaannya nggak tenang." ucapnya mengingatkan sang sahabat.
"Cieeee, segitu bucinnya. Lagian aku nggak ada bilang Baskara, aku kan ...."
__ADS_1
"Nah itu, barusan apa? Ngapain sebut-sebut nama masku?" Nilam menaikkan suaranya sembari mengacungkan telunjuk ke arah Amanda.
"Lagi pada ngapain sih? Kok kayak yang ada manggil nama mas ya?" suara berat dan menenangkan yang Nilam rindukan, terdengar dari ambang pintu, mengejutkan keduanya.
"Mas," gadis itu segera bangkit, mendekat ke arah Baskara yang terlihat tampan, menggunakan jins panjang, dengan paduan kaos abu dan jaket kulit di tubuhnya.
"Sayang," Baskara pun menatap mesra kekasih yang sudah dua Minggu tidak ia jumpai itu.
Mereka berpelukan dengan erat. Lupa jika di kamar itu, masih ada satu makhluk hidup yang bernafas dan bisa melihat.
"Kenapa nggak bilang kalau mau pulang? Tadi pas nelepon berarti udah turun dari kapal ya?" Nilam tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Ia sampai menitikkan air mata haru, melihat laki-laki yang dirindukannya ada di depan mata.
"Kalau mas kasih tau, nggak kejutan donk namanya." sahut Baskara, merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Nilam.
Tatapan mata mereka bertemu, seolah ikut melepas rindu.
"Ehem, ehm. Aduuuh, kok seret banget ini tenggorokan ya?" Amanda Yang sejak tadi diam menyaksikan, akhirnya bertindak setelah melihat gelagat sejoli yang hendak menyatukan bibir masing-masing.
__ADS_1
Nilam terperanjat. Seketika melepas pelukan kekasihnya, dan tersipu malu.
"Memang, dunia milik kalian berdua. Aku cuman ngontrak. Tapi tetep aja, si pengontrak ini juga punya perasaan. Dijaga donk ...." sindir Amanda, Sabil berlalu membawa handuk menuju kamar mandi.