CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 135


__ADS_3

Bas terjaga saat mendengar ketukan di daun pintu kamarnya. Ia meregangkan otot, sebelum menjawab panggilan seseorang di luar sana.


"Apa!" sahutnya dengan suara berat dan serak.


"Mas bangun, ini sudah siang. Aku mau bawain kainnya ke saudara-saudara, mana daftar yang dibikin mba Nilam?" tanya Utari di luar pintu.


Bas diam beberapa saat. Masih mengumpulkan kesadaran. Daftar apa? Rasanya kemarin Nilam tidak berkata apapun. Apa gadisnya lupa?


"Mas!" seru Utari lagi, sebab Bas tidak kunjung merespon panggilannya.


"Iya sebentar." Bas bangkit lalu melangkah membuka pintu. Ia langsung menuju sofa ruang tamu, mencari apa yang diminta sang adik bungsu.


"Kok nggak ada?" gumamnya setelah membongkar tas belanja tersebut.


"Ambil hp mas di kamar dong, mas tanyain ke Mba Nilam dulu," titahnya pada Utari.


Tidak menunggu lama, Utari datang membawa apa yang diperintahkan sang kakak padanya.


Bas langsung menghubungi kekasihnya, menanyakan daftar yang Utari maksud.


"Lho, katanya dia yang bikin daftarnya. Dia cuman minta jumlah kain aja kemarin, mas. Kan aku juga belum tau siapa aja yang harus di kasih seragam," ucap Nilam dari seberang. Gadis itu terdengar bingung, mendengar pertanyaan Bas.

__ADS_1


"Oh ya udah sayang, nggak pa-pa. Asal kainnya udah pas sesuai permintaan Utari."


"Iya, Mas. Udah kok. Itu plastik yang isi 14 berikan ke Utari. Yang isi 10, tolong bawa ke rumah, biar nanti ibu yang bagiin,"


"Iya sayang. Ya sudah, masi bagi ini dulu, ya,"


"Iya, Mas. Eeh Mas!" Nilam mencegah Bas memutus panggilan terlebih dahulu.


"Kenapa?" tanya Bas lagi.


"Mmm, maafin aku soal yang kemarin, ya," ucap Nilam dengan nada penuh penyesalan.


Bas tersenyum mendengar permintaan maaf kekasihnya. Ia bahagia sekaligus terharu, Nilam tidak berubah. Masih tetap lembut dan mau menurunkan ego saat menyadari kesalahannya.


"Mas! Cepetan! Kok malah lain-lain, sih? Aku kan harus keluar bawa kainnya, nanti keburu siang lho?" Utari yang merasa jengah mendengar romantisme sang kakak dengan Nilam, mencolek bahu kakaknya dari belakang. Mengganggu kesenangan pasangan yang baru saja berbaikan itu.


Senyum di wajah Bas seketika hilang, berganti kesal pada sang adik yang tidak tahu sopan santun.


"Sayang, udah dulu, ya. Nanti mas telepon lagi," ucap Bas akhirnya mengakhiri panggilan telepon.


Matanya beralih menatap Utari dengan tajam. Tidak suka pada sikap ibu satu anak itu.

__ADS_1


"Mana daftarnya?" Utari tanpa rasa bersalah menengadahkan tangan pada sang kakak.


"Kamu kalau nggak ikhlas bantu bagiin kain ini, nggak usah! Mas bisa sendiri," ucap Bas dengan nada tegas.


"Kata Nilam, kamu yang mau buat daftarnya. Kenapa sekarang malah minta sama dia?" tanya laki-laki itu lagi, tidak bisa menutupi rasa kesalnya.


"Lho, kapan aku bilang gitu? Kok dia main tuduh sembarangan sih? Dan mas percaya lagi sama apa yang dia bilang," sahut Utari tanpa rasa takut.


"Mana siniin kainnya!" Dengan wajah tidak sedap dipandang, Utari meminta kain di samping Bas untuk dia bagikan.


Bas memerhatikan sikap adik bungsunya itu. Di hatinya timbul rasa curiga, apa jangan-jangan warna biru adalah pilihan Utari? Mengingat biru adalah warna favorit ibu satu anak itu. Dan ia semakin yakin saat Utari tidak protes apapun ketika melihat tumpukan kain tersebut.


"Kamu yang kasih ide untuk pilih warna biru?" tanya Bas, saat Utari tengah menghitung jumlah kainnya.


"Memangnya kenapa? Bagus kan? Lebih terkesan tegas. Dari pada warna rose," sahutnya.


"Lho ini kok cuman 14, kurang lah! Keluarga kita kan banyak, masa ada yang kebagian ada yang nggak?" ucap wanita itu lagi.


Dari sikap Utari, dapat Bas simpulkan jika Nilam pasti sering berbeda pendapat dengan adik bungsunya itu. Apa mungkin selama ini Nilam menutupi rasa tidak nyamannya pada Utari? Pikiran buruk itu terus berputar di kepala Bas. Terlebih saat mengetahui kalau Utari sudah terlalu mencampuri urusan mereka. Bahkan menentukan warna seragam pun, adik bungsunya itu ikut campur dan memutuskan sendiri.


"Tidak perlu kamu yang bagi. Biar mas sendiri yang kerjakan. Besok-besok, kalau mau bantu, cukup lakukan apa yang diminta saja. Nggak usah kamu ikut campur terlalu jauh urusan pernikahan mas. Mas nggak suka orang lain mengatur semua tanpa persetujuan mas. Paham?" ucap Bas, memasukkan kembali kain yang sudah Utari tumpuk di atas meja. Setelahnya ia kembali masuk ke dalam kamar, untuk bersiap.

__ADS_1


Anak perempuan satu-satunya itu merasa kesal mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sang kakak. Ia kembali menyalahkan Nilam atas apa yang terjadi di rumahnya. Diam-diam dia menghubungi Nilam di dalam kamarnya. Ia ingin membuat perhitungan dengan gadis yang akan kakak sulungnya nikahi itu.


__ADS_2