
Sinar matahari pagi, menemani laju kuda besi yang ditunggangi Baskara, membelah jalanan yang masih sepi.
Sebentar lagi ia akan tiba di kampung halaman, bertemu dengan orang-orang terdekatnya.
Tadi, sebelum matahari terbit, ia sudah berpamitan akan pulang kampung, pada Nilam. Sayangnya gadis itu harus bekerja, sehingga tidak bisa ikut bersamanya.
"Lho Bas?" Ibunya yang tengah menyapu halaman, sedikit terkejut melihat anak tertuanya tiba-tiba pulang ke rumah.
"Kapal jam berapa? Jam segini sudah tiba di rumah?" tanyanya menghentikan aktifitas, lalu melangkah mendekati putranya.
"Iya Bu, dapet libur seminggu. Sekalian mau jemput Gilang juga." sahut Bas, melangkah masuk ke dalam rumah.
Sang ibu pun mengekor di belakang, berniat membuatkan putranya minuman hangat.
Semenjak Baskara memiliki penghasilan, ibu tiga anak itu perlahan bersikap lebih layak terhadap Baskara. Tidak pernah lagi wanita itu bersikap ketus dan bicara yang menyakiti hati anaknya.
Bas merebahkan tubuh di sofa ruang tamu. Rasa kantuk masih bergelayut, membuat matanya terasa berat. Lelah baru ia rasakan saat ini, setelah kemarin melakukan perjalanan panjang.
"Minum dulu, Bas." Bu Rahma keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi kopi dan beberapa kue kering.
Sedikit merintih, Bas bangkit dari posisi terlentangnya.
Ia lalu menikmati kopi hitam yang dibuat oleh wanita yang melahirkannya itu. Rasa hangat menyapa tenggorokan hingga lambungnya, membuat Bas merasa sedikit lebih segar.
"Jam berapa berangkatnya?" tanya Bu Rahma lagi, sebab sejak tadi Bas belum menjawab pertanyaannya.
"Jam lima, Bu. Pulang dari pulau L itu kemarin. Cuman karena masih ada sedikit urusan, aku ke kota B dulu." sahut Bas menjelaskan.
Bu Rahma mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Urusan apa? Palingan pacaran sama si Nilam." Tepat sekali tebakan wanita itu. Namun Bas tidak memberikan jawaban pasti. Ia justru sibuk menikmati kopi dan rokok yang baru saja ia nyalakan.
"Yang lain pada ke mana, Bu? Kok sepi rasanya rumah?"
tanya Baskara mengalihkan topik pembicaraan.
"Satria ada acara dari kemarin sama temen-temennya. Utari lagi ke rumah mertuanya, udah tiga hari. Kata mereka kangen sama cucunya."
Baskara tidak menanggapi ucapan sang ibu. Ia enggan berdebat, dan memilih diam agar tidak menimbulkan konflik.
Salahkah jika setan menggodanya untuk berpikir buruk terhadap sang ibu? Utari sudah menikah. Harusnya, sesuai adat di sana, Utari ikut suaminya, tinggal di keluarga pihak laki-laki. Namun sang ibu memaksa agar anaknya tetap tinggal di rumah, seperti saat masih gadis. Mau tidak mau suaminya pun ikut tinggal di rumah. Dan biaya hidup mereka, semua Baskara yang menanggung, sebab suami Utari belum bekerja.
Setelah kopi yang dibuat ibunya habis, Bas memilih beristirahat di kamar. Ia ingin memulihkan tenaga, sebelum nanti sore berkunjung ke rumah calon mertuanya.
🌟🌟🌟
"Sebentaaar," sahut laki-laki itu, saat suara di depan tak kunjung berhenti.
Ia lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.
'udah jam satu' gumamnya, langsung bergegas bangkit.
"Ada apa, Bu?" tanyanya saat mendapati Bu Rahma masih setia berdiri di depan kamar.
"Itu ada bapakmu, nyariin." sahut wanita itu, dan berlalu menuju dapur.
Bas menyeret kakinya menuju ruang tamu, di mana sang ayah sudah menunggu.
"Pak," Pak Brata menoleh, laki-laki yang sudah beruban itu tersenyum ke arah anak sulungnya.
__ADS_1
Semenjak Bas dekat dengan Nilam, hubungannya dengan sang ayah perlahan mulai membaik. Gadis itu selalu mengingatkan agar dia bersikap baik dan mau membuka diri pada orang yang sudah berjasa membawanya ke dunia.
"Mas pernah nanya apa alasan paman jarang berkunjung?" tanya Nilam suatu waktu, saat Bas menolak menjenguk sang ayah yang sedang sakit.
"Kita nggak pernah tau pergulatan batin seperti apa yang mereka, para orang tua hadapi, hingga terjadi hal seperti ini. Aku nggak bilang paman Brata benar dan bibi Rahma salah, sebab aku juga nggak tau masalah mereka apa. Tapi mas sebagai anak tertua yang sudah dewasa, mestinya bisa menjadi jembatan penghubung kedua pikiran yang saling bersebrangan. Maaf kalau aku lancang, tapi di sini kita sebagai anak yang memiliki pikiran lebih terbuka, memang harus bisa memanjangkan sabar, mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin berlarut. Mau sampai kapan hubungan kalian renggang seperti ini?" nasihat Nilam kala itu.
Bas mencerna ucapan kekasihnya, memikirkannya berulang kali, dan mencoba berdiri di luar garis agar mampu melihat dari sudut yang lebih banyak. Ternyata benar, ada banyak kesalahpahaman di antara kedua orang tuanya yang membuat hubungan mereka menjadi semakin jauh. Dan itu berpengaruh buruk bagi dia dan adik-adiknya.
Kini hubungan ayah dan anak itu perlahan mencair. Bas sering menghubungi pak Brata sekadar untuk menanyakan kabar. Ia juga menyisihkan penghasilannya untuk diberikan pada laki-laki itu.
Pak Brata yang menyadari perubahan sikap anaknya karena kedekatan Baskara dengan Nilam, menjadi semakin mendukung hubungan mereka.
"Sudah dapat ketemu dengan paman Indra" tanya pak Brata.
"Belum. Rencananya nanti sore mau ke sana."
"Mau bapak temani?" tawarnya lagi.
"Nggak usah lah pak, nanti saja kalau memang waktunya sudah tepat."
"Baik-baik kamu sama Nilam, dia itu mutiara yang sangat berharga. Tidak semua laki-laki beruntung memiliki pasangan seperti dia."
"Tanpa bapak kasih tau juga, aku udah tau pak. Dia itu bidadari untukku." Bas tanpa malu memuji calon istrinya di depan sang ayah.
Pak Brata tertawa lepas mendengar penuturan Baskara. Anaknya ternyata setergila-gila itu pada sosok sederhana bernama Nilam.
"Kamu harus memastikan dia aman dan nyaman bersamamu, Bas. Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk selamanya. Pastikan tidak ada yang bisa mengganggu dia, dalam bentuk apapun. Kamu sudah harus memikirkan itu sejak awal." nasihat pak Brata sembari menepuk pundak anaknya.
"Maksudnya?"
__ADS_1