CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 120


__ADS_3

Pandu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap bisa segera tiba di rumah sakit.


Rasa takut merayap mencengkeram hatinya. Takut sesuatu yang buruk menimpa Delvia, dan juga janin yang kini akan segera diangkat oleh tim medis. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada keduanya.


Ia sudah bertekad akan belajar menerima semua yang terjadi dalam hidupnya. Termasuk Delvia dan buah hati mereka. Meski belum bisa melupakan Nilam sepenuh hati, namun perlahan ia sudah bisa mengikhlaskan segala takdir yang kini ia jalani.


Perjalanan rumah tangganya memang tidak semulus pasangan lain yang memulai hubungan dengan saling mencintai, Ia memang terpaksa menikahi Delvia, namun ia tulus menyayangi anak dalam rahim wanita itu. Dan bertekad akan membesarkan darah dagingnya dengan penuh kasih sayang. Biarlah ia menjalani harinya dengan wanita yang belum ia cintai, asal ia bisa memberikan keluarga yang utuh untuk buah hatinya nanti. Itu tekadnya selama ini.


Apalagi saat melihat rumah tangga sang kakak yang kini juga berada di ujung tanduk, Ia semakin yakin, cinta bukan yang utama dalam sebuah hubungan. Cinta bisa mati terbakar ego pribadi yang terlalu tinggi.


Pandu memarkir mobilnya dengan tergesa saat sudah tiba di rumah sakit. Jam di tangannya sudah menunjuk angka 02.45 dini hari. Pantas saja ia bisa tiba lebih cepat dari perkiraan, perjalanannya sepi bebas hambatan karena memang sudah tengah malam.


Pandu segera menghubungi Nilam, menanyakan keberadaan gadis itu saat ini.


"Aku ada di lantai dua, mas. Di ruang perawatan," ucap Nilam dari seberang.


"Ok. Aku udah di parkiran." sahut Pandu, sambil melangkahkan kakinya menuju tangga lantai dua.


"Baik," hanya itu jawaban dari Nilam sebelum sambungan telepon itu terputus.


"Nilam," sapanya dari anak tangga teratas, saat melihat gadis yang masih mendebarkan jantungnya itu, baru saja keluar dari ruang perawatan Delvia.


"Mas Pandu," Nilam menyebut namanya. Meski lirih, namun karena suasana sepi melingkupi ruangan itu, suara Nilam masih jelas ia dengar.


"Gimana keadaan Via?" tanyanya lagi mendekati mantan kekasihnya itu.


"Masuk aja ke dalam, mas." Nilam menjawab sambil menunjuk pintu yang baru ia tutup menggunakan dagunya.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?" tanyanya lagi, mengabaikan saran Nilam.


"Mas sudah ada di sini, aku mau balik sekarang."


"Sekarang? Ini masih malam, Nilam. Di jalan masih sepi. Bahaya! Tunggulah beberapa jam lagi," pinta Pandu. Ia tentu merasa khawatir akan keselamatan gadis di depannya itu.


"Sebaiknya tunggu di dalam saja sampai agak siangan ya," tawar Pandu.


Nilam berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menjawab.


"Mas masuk aja, aku di sini dulu," tolak Nilam.


Pandu mendesah.


"Aku masuk dulu ya," ucap laki-laki itu akhirnya yang dibalas anggukan oleh Nilam.


Ia melihat Pandu tengah menggenggam tangan istrinya. Mereka seperti tengah berbincang.


"Maaf menganggu, aku mau pamit," ucap Nilam pelan dari ujung pintu.


"Lam," Delvia memanggil dengan suara lemah. Ia melambaikan tangannya yang bebas dari jarum infus.


"Makasih banyak, kamu udah mau bantu aku sampe sejauh ini," ucap wanita itu saat Nilam masuk, mendekati ranjangnya.


"Iya, kamu jaga diri ya. Selamat sudah jadi ibu. Semoga kalian sehat selalu," sahut nilam tulus.


"Aku balik dulu ya, kamu sudah ditemani mas Pandu di sini."

__ADS_1


Delvia mengangguk lemah.


"Pan, kamu anterin Nilam ya," pinta Delvia.


"Nggak usah, aku bisa sendiri kok." Nilam langsung menolak, namun Pandu justru menyetujui ucapan istrinya itu.


"Aku antar. Ini sebagai bentuk tanggung jawab aku. Aku harus mastiin kamu selamat sampai tujuan,"


"Iya Lam, biar Pandu anter kamu. Jam segini belum ada taksi, kamu mau jalan kaki?"


"Tapi kamu?"


"Aku nggak apa-apa kok. Toh belum boleh kemana-mana juga kan. Kamu tenang aja, nanti ada perawat yang bisa aku panggil kalau mau sesuatu."


Nilam terpaksa mengikuti keinginan pasangan suami istri itu. Jarak dari mini market ke rumah sakit memang tidak terlalu jauh, tapi pasti melelahkan jika berjalan kaki. Kalau mencari taksi pun, mana ada taksi yang beroperasi di tengah malam begini?


"Di man kostan kamu sekarang?" Pandu membuka suara memecah keheningan.


"Anter ke minimarket xx aja mas, motor aku di sana."


"Makasih banyak ya, kamu udah bantu Via sampai sejauh ini. Aku nggak tau gimana nasib mereka kalau nggak ketemu kamu di sana."


"Banyak orang kok di sana, mas. Kalau bukan aku, pasti ada orang lain yang bakal bantu. Jadi nggak usah dibesar-besarkan," sahut Nilam mematahkan ucapan Pandu.


"Aku tadi ke kota N, mendadak karena ada masalah keluarga. Via nggak mau ikut, katanya capek. Padahal sebelum berangkat, aku udah tanya sama dia, ada yang mau dibeli dulu atau nggak. Katanya nggak. Tau-taunya dia keluar tengah malem begitu untuk beli camilan." Pandu menjelaskan, tanpa Nilam minta. Gadis itu masih diam saja, sampai di parkiran mobil. Ia tidak ingin terlalu jauh terlibat dalam rumah tangga mantan kekasihnya itu.


Di perjalanan, Pandu kembali meminta maaf atas semua yang pernah ia lakukan, yang pasti menyakiti perasaan Nilam. Nilam hanya mengangguk, dan mengiyakan ucapan Pandu.

__ADS_1


Ia sama sekali tidak tertarik terlibat obrolan panjang dengan laki-laki di sampingnya itu. Bukan karena masih cinta, namun ia menjaga agar tidak ada kesempatan bagi orang lain menyalahkan dan memfitnahnya lagi.


__ADS_2