
Perjalanan dari rumah Nilam menuju kota tempatnya bekerja, hanya ditemani keheningan. Nilam sama sekali tidak berniat membuka obrolan dengan laki-laki yang tengah mengantarnya itu.
Masih ada rasa tidak terima menggerayangi hatinya, tiap kali mengingat tentang perjodohan yang ayahnya tentukan.
Meski bila ia mendengar hati kecilnya, sesungguhnya gadis itu juga merasa tidak enak hati pada Baskara karena sikapnya yang kurang sopan kemarin malam.
"Lam,"
"Ya,"
"Nanti masuk kerja jam berapa?"
"Aku libur hari ini mas, udah bilang sama supervisor tadi. Lagian juga ini udah siang, nggak bakal keburu waktunya." Jawaban Nilam membuat Baskara merasa lega.
Ia kira Nilam benar-benar tidak mau bicara padanya. Sebab sejak tadi gadis itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Seperti biasa, udara dingin menyentuh kulit mereka, ketika sudah melewati dataran tinggi yang merupakan jalan lintas kota di daerah tersebut.
Meski keduanya sudah menggunakan celana jins panjang dan jaket seperti biasa, namun tetap saja rasa dingin masih sangat terasa menembus pori-pori.
__ADS_1
"Lam," kembali Baskara memanggil nama gadis yang diboncengnya itu.
"Iya mas,"
"Kamu keberatan nggak kalau kita mampir beli kopi dulu?" Tanya Baskara yang tidak tahan dengan cuaca dingin tersebut.
Jari tangannya seakan mati rasa akibat kesemutan, akibat cuaca dingin tersebut.
Sepi. Tidak ada reaksi dari gadis itu.
Nilam tidak menjawab pertanyaan Baskara.
Hingga beberapa menit, barulah ia membuka suara.
Laki-laki itu hanya menganggukkan kepala. Menuruti ucapan Nilam dengan mencari tempat yang nyaman untuk mereka berbincang, seperti yang diinginkan gadis itu.
***
Baskara mengajak Nilam ke sebuah kafe. Sengaja memilih tempat yang menyajikan pemandangan alam yang indah. Berharap bisa memberikan rasa nyaman dan ketenangan, saat gadis itu mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
Tempat itu berada di atas ketinggian, di mana mereka bisa melihat lahan pertanian penduduk, berada tepat di bawah mereka.
Para petani yang tengah berkebun, kabut yang perlahan merangkak naik dan menghilang, gumpalan awan-awan tipis yang saling mengejar tertiup angin, dan beberapa burung liar yang bernyanyi tak beraturan, menghadirkan ketenangan bagi Nilam saat ini.
Ia begitu menikmati pemandangan yang tersaji di depan matanya, hingga ia melupakan niatnya berada di tempat itu.
"Suka sama tempatnya?" Tanya Baskara, yang sejak tadi menunggu, namun Nilam tak kunjung membuka suara.
Mereka duduk saling berhadapan.
Pelayan kafe baru saja mengantarkan kopi panas yang masih mengeluarkan asap dengan aroma khas, ke meja mereka.
Pertanyaan Baskara mengalihkan perhatian Nilam dari keindahan yang tengah ia nikmati.
"Iya, di sini tenang sekali. Rasanya penduduk di sini nggak ada yang punya masalah dalam hidup mereka." Ucap Nilam, yang membuat Baskara terkekeh mendengarnya.
"Nggak ada manusia yang masih bernafas, yang tidak punya masalah dalam hidupnya, Lam. Semua orang punya perjuangannya masing-masing. Tergantung orangnya, mau menjadikan masalah itu sebagai beban yang memberatkannya, atau justru menjadikan masalah sebagai motivasinya untuk lebih baik lagi?" Sahut Baskara sembari mengaduk kopinya, menambahkan sedikit gula yang disediakan di sana.
Nilam terdiam. Ikut melakukan hal yang sama, bersiap untuk menikmati minuman panasnya.
__ADS_1
Dalam hati ia membenarkan ucapan Baskara, namun ia enggan menanggapinya.
Gadis itu tengah memikirkan bagaimana merangkai kalimat penolakan, yang tidak membuat orang lain tersinggung.