
"Maksud kalian apa bicara seperti itu? Ini sudah menjadi tugas Zenya! Kita semua kan punya tugas masing-masing!" Devon tak terima karena di tuduh hanya berpangku tangan tanpa melibatkan diri.
"Halaaaah, kita, kita! Lo aja kali! Emang sih, Devon tuh terkenal 'gak tahu diri! Sejak awal Zenya yang bekerja sendiri! Mulai dari perancangan kegiatan sampai kontrak, Surat menyurat ke investor dan lain sebagainya, Setiap ada kegiatan yang disuruh untuk jumpa dengan investor juga Zenya, 'kan? Sampai kemarin yang bicara di depan orang agung seperti Tuan Cristhopan pun masih Zenya, Lo kemana? Di bawah meja ya?" Rangga terlihat sudah sangat kesal.
"Itu karena kalian 'gak tahu! Coba kamu tanya Zenya, Siapa yang kasih dia ide! Itu saya!" Devon tak mau kalah.
"Cih, omong kosong!" Decak Rangga.
"Dan lagi, Fiona! Tugas lo disini ngapain?! Jadi beban?!" Rangga menyunggingkan ujung bibirnya.
"Heh Rangga! Jaga ya ucapan kamu! Aku bantu Zenya, kok! Bahkan aku sempat datang ke C.L.A Management untuk bertemu dengan Tuan Muda Cristhopan, Tapi mereka 'gak mau ada jadwal temu!" Fiona nyerocos dengan suara cemprengnya.
"Hahaha, Emang udah bisa dilihat, lo itu sama sekali 'gak ada bakat buat negosiasi. Sekali Zenya yang datang, langsung bawa tiga miliar. Emang ya, kelas kalian jauh!" Zenya terbelalak, Ia menyadari jika ucapan Rangga bisa menyulut Devon, Apalagi tempo hari Devon pernah berkata bahwa ia sudah mengetahui kartu Zenya.
"Sudah, Sudah. Rangga, Radit, 'nggak apa-apa kok, Biar aku yang bawa ini. Dari pada jadi ribut, mending kalian duluan ke mesh" Zenya segera melerai. Devon menyunggingkan ujung bibirnya.
"Cih, Kalian ada benarnya, Tiga miliar! Bagaimana bisa di dapat untuk kegiatan seperti ini jika bukan Zenya yang pergi" Devon menyiratkan makna sindiran di dalam ucapan nya.
"Maksud, 'lo?!" Radit yang hendak pergi dengan barang bawaan yang cukup banyak terhenti kembali akibat ucapan Devon.
"Ya, Bagaimana bisa mendapatkan kesepakatan sebanyak tiga miliar untuk kegiatan kampus seperti ini. Kita harus berterima kasih pada Zenya, Karena kebutuhan kita sudah di cover, dan mana bisa kita menaiki van mewah seperti ini jika tanpa Zenya, Haha entah cara apa yang di lakukan untuk negosiasi, Sepertinya aku harus belajar! Ups!" Zenya terbelalak, Begitupun dengan Rangga dan Radit.
"Dasar 'gak tahu malu!" Radit hendak maju mendatangi Devon, Tapi Zenya buru-buru menariknya.
"Udah dit, Udah! Jangan emosi! Udah biarin dia mau bicara apa, Sekarang kita beres-beres dulu"
"Tapi Ze, Dia udah keterlaluan! Secara 'gak langsung dia udah nuduh kamu yang 'nggak-nggak. Dia emang banci!" Radit sudah tersulut emosi, begitupun dengan Rangga.
"Udah! Kita sekarang jangan dulu mikirin hal yang lain! Tugas kita harus goal, tugas kita cukup sulit! kita harus dapat kepercayaan dari penduduk setempat, kita harus bangun citra yang baik. Disini kita sukarelawan, Kita harus kompak, Agar kita menang!" Amarah Radit masih belum mereda,
"Hhh, Dit! Tujuan kita kesini untuk membangun citra yang baik di bawah nama N State university, Sabar dulu, 'Ya!" Zenya berbicara lembut,
__ADS_1
"Huh! Yaudah deh! Ini demi project kita! Tapi kalau sampe Devon bicara yang nggak-nggak lagi, Jangan halangi aku!" Zenya tersenyum, ia mengangguk.
Setelah perdebatan yang cukup memakan waktu, mereka mulai memasuki halaman, Terdapat bangunan yang ber-infrastruktur layaknya sebuah Villa.
"Zenya, kita nginep disini?!" Fiona menautkan kedua alisnya.
"Ya" Zenya mengangguk.
"Kamu serius?! Uang sebanyak tiga miliar? Dan kita hanya bisa menginap di villa yang udah agak tua ini?!" Decak nya.
"Hhhh, Kita disini pasti berpindah-pindah tempat, Jadi aku memilih fasilitas yang 'agak murah aja. Karena nanti banyak kegiatan yang memakan biaya cukup besar. Apalagi ada pentas seni. Dan lagi, Dekan kampus minta satu request mendadak, Di daerah sini ada satu jembatan yang kurang memadai dan bahaya untuk di lalui, Ada lumayan banyak juga rakyat yang membutuhkan bantuan, Aku berpikir kita bisa dapat nilai tambahan dari situ" Tutur Zenya sangat jelas.
"Zenyaaa! Itu biar jadi tugas mereka! Kita kan disini buat sosialisasi dan hanya membantu! Bukan menanggung semuanya!" Fiona memekik.
"Fiona, Ini malah lebih bagus dong! Kalau ada biaya lebih kenapa kita 'gak sekalian aja bantu mereka di perekonomian! Inikan tujuan kita, Membantu mereka, Bukan hanya numpang lewat!" Zenya sudah mulai geram
"Heh! Terus anggaran buat kita, Mau di kasih gitu aja buat mereka? Tanpa persetujuan kita? Lama-lama kamu jadi se-enaknya ya, Zenya!" Jari telunjuk Fiona mulai aktif menunjuk.
"Kalau kamu masih mau tinggal di hotel mewah, silahkan! Aku akan memberikan dana nya. Tapi untuk kegiatan, Kita catat secara individu!" Zenya berlalu, Ia segera membuka pintu Villa yang kunci nya memang sudah ia pegang.
"Hhhhh, Sudah jatuh tertimpa tangga, Malu kan, 'lo?" Ejek Rangga sambil berlalu.
Fiona mengepalkan tangannya, wajahnya sudah memerah.
"Dasar sialann!!!!"
*
*
Devon dan Fiona belum berulah, Mereka masih kesal sekaligus malu dengan kekalahan telak mereka, tadi.
__ADS_1
Zenya mulai memberi tahu kegiatan mereka secara terperinci, Ia pun mulai memperlihatkan tabel prediksi anggaran yang akan di keluarkan selama kegiatan berlangsung.
"Wah, Cukup besar juga ya, anggarannya!" Rangga memperhatikan total nya dengan serius.
"Ya! Ini hanya prediksi, Mudah-mudahan tidak lebih"
"Kenapa kegiatannya sangat full dan, memakan budget yang besar, Zen? Gimana kalau anggaran nya 'gak cukup"
"Ya, Aku juga sedikit cemas. Tapi, beberapa kegiatan yang memakan biaya cukup tinggi ini, khusus request dari Tuan muda Cristhopan tempo hari" Zenya sedikit membumbui dengan kebohongan.
"Wow! Pantes aja spektakuler!" Radit cengir.
"Ya! Tempo hari, awalnya ia ragu, dan bisa di bilang tidak mau mendanai secara khusus untuk kegiatan ini, Tapi setelah melihat proposal tentang pembangunan jembatan yang di sarankan oleh dekan, Ia mulai tertarik dan bertanya feedback apa yang akan bisa kita berikan pada perusahaan mereka. Aku jawab saja, jika citra perusahaan akan semakin bagus, Akhirnya ia malah ber-ekspektasi terlalu tinggi dan jadilah grafik yang mencakar langit ini" Zenya lagi-lagi berkelit untuk menekan Devon.
"Jadi begitu kejadian yang sebenarnya, Terus kenapa kamu 'gak menghalau rumor tentang kamu kalau kejadiannya begini?" Rangga sedikit penasaran
"Karena percuma, opini publik 'gak bisa di bantah begitu aja, Dari pada buang-buang waktu dan energi, lebih baik gunakan untuk kegiatan yang lebih positif"
"Wah! Makin kagum sama Zenya!"
"Cih! Dasar wanita munafik! Lihat aja, Sebelum bisa menyelesaikan semuanya, Aku pastikan kamu akan menderita, dan aku akan mengambil alih semuanya! Dengan begitu, Tuan muda Cristhopan akan bangga dan melihat ke arahku, Zenya!"
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
Terimakasih~
__ADS_1