CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 132


__ADS_3

Nilam segera menguasai rasa terkejutnya.


"Kok hamil, sih? Siapa yang hamil? Sembarangan aja! Nanti kalau bapak sama ibu dengar kan jadi panjang urusannya!" omel gadis itu, setelah menyadari kesalahpahaman yang terjadi.


"Trus masalah apa yang kamu katakan? Kami selama ini menduga-duga lho!" Surya tidak mau kalah, menaikkan volume suara pada sang adik. Sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah di keluarga itu terjadi ketegangan seperti saat ini.


Nilam mendesah. Merasa lucu sekaligus kesal, kakak serta kakak iparnya berpikir sejauh itu tentang dirinya.


"Kok, kalian bisa mikir sejauh itu sih? Berarti selama ini kalian nggak percaya sama aku?" tanya Nilam dengan nada kecewa.


"Yang namanya khilaf itu, bisa terjadi pada siapapun, Lam. Jangankan kamu, ahli agama aja bisa kok, melakukan kesalahan itu," Diana, sang kakak perempuan memberikan alasan.


"Lalu apa alasan kalian mempercepat hari pernikahan?" desak Surya lagi, merasa belum mendapat jawaban atas rasa penasaran yang menggelayut di hatinya.


Mendesah pelan, Nilam akhirnya dengan terpaksa menceritakan masalah yang terjadi selama ini.

__ADS_1


"Deeeh, jadi alasannya karena cemburu?" respon Diana jengah, setelah selesai mendengar cerita Nilam.


"Lagian ngapain kamu bantuin dia segala? Kamu lupa, dia pernah sakiti hati kamu? Kalau mba yang ada di posisi kamu, ketemu sama mantan pacarnya dia, nggak bakal mba mau bantuin!" lanjut wanita itu lagi, sembari matanya melirik sinis sang suami.


"Sadis bener, Mba! Mas kok mau sih punya istri kejam begini?" Reaksi Damar membuat yang lain tertawa. Dia lupa wanita yang dikatainya sadis, adalah kakak kandungnya sendiri.


"Syukurnya mas nggak punya mantan, Mar. Jadi aman," sahut laki-laki pendiam yang bertugas menjadi abdi negara tersebut.


Mereka melanjutkan obrolan tanpa tema. Membahas satu hal, ke hal yang lain secara random. Bermula dari cerita Delvia yang ditolong Nilam, berlanjut ke hubungan Delvia dengan Pandu, lalu reaksi cemburu Bas, dan kini mereka tengah membicarakan soal ke depan, Nilam akan tinggal dimana setelah menikah. Apakah gadis itu masih diijinkan bekerja, atau akan diboyong kemanapun Bas mendapat proyek? Atau akan tinggal di kampung halaman bersama mertua dan adik iparnya?


"Lho, memang kenapa? Apa kamu ada selisih paham sama iparmu itu?" Kini giliran Citra yang bertanya.


"Nggak, sih, tapi aku merasa dia kayak kurang suka sama aku, Mba. Taulah kita ngerasain gimana orang kalau nggak suka sama kita? Raut wajahnya nggak pernah ramah kalau ketemu aku, Mba. Padahal aku selalu berusaha senyum dan bersikap baik sama dia. Dan omongannya dia itu ...."


"Kenapa? Dia suka ngomong nyakitin hati?" tanya Diana.

__ADS_1


Nilam hanya mengangguk, dengan kepala menunduk. Itulah yang selama ini ia rasakan. Gadis itu merasa kurang nyaman dengan sikap Utari, tapi dia tidak bisa mengutarakan langsung pada Bas. Dia tidak ingin dianggap pengadu domba dalam keluarga calon suaminya.


"Itu adalah tantangan untuk kamu, Lam. Bagaimana cara kamu menyesuaikan diri di lingkungan yang baru. Setiap orang punya sifat dan karakter sendiri. Kita nggak bisa merubah sifat mereka agar sesuai dengan yang kita mau. Sama halnya dengan diri kita sendiri, apa kamu mau orang lain merubah karaktermu? Nggak kan? Nah yang bisa kamu lakukan adalah, menerima sifat Utari yang seperti itu ...."


"Nggak bisa gitu juga! Kalau sikapnya baik, tapi kalau buruk dan merugikan Nilam, gimana?" Diana memotong ucapan Surya begitu saja.


Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah, tentu kakak tertua Nilam itu tahu, bagaimana rasanya masuk ke dalam lingkungan keluarga baru. Akan ada rasa canggung dan takut, serta terkejut dengan aturan yang berlaku di keluarga baru tersebut. Namun begitu, kita juga tidak bisa selalu mengalah dan mengikuti arus. Karena bila tidak sesuai dengan hati, itu akan menyakiti diri sendiri.


"Gini aja, Lam. Sebelum menikah, ada baiknya kamu mengutarakan semua yang mengganjal di hati kamu sama Baskara. Bukan apa-apa, biar dia tau aja apa yang membuat kamu nyaman dan tidak nyaman. Sehingga dia bisa mencari jalan keluar yang terbaik untuk semua. Kan nggak lucu kalau baru nikah, tiba-tiba kalian udah ribut karena salah paham? Dan lebih nggak lucu lagi, hanya gara-gara kamu, Bas dan adiknya timbul masalah. Bener nggak?" Citra ikut memberi solusi, sementara Damar dan suami Diana dan hanya menyimak obrolan itu dalam diam. Nilam pun hanya bisa menganggukkan kepala. Entah dia setuju atau tidak, sanggup atau tidak, melakukan saran-saran yang diberikan saudara-saudaranya.


Masing-masing kepala memiliki jalan pikiran sendiri. Masalah yang sama akan berakhir dengan cara seperti apa, tergantung isi kepala masing-masing orang yang menjalaninya. Seberapa bijak dan jeli kita mencari solusi, dalam menghadapi masalah itu sendiri.


"Pada ngobrolin apa, sih? Dari tadi ngumpul, nggak selesai-selesai? Keluarganya Bas sudah datang, tuh. Cepet temui mereka," Bu Sukma datang dari dalam rumah, mendekati anak dan menantunya.


Obrolan seru mereka pun berakhir, dengan masih menyisakan sedikit kegamangan di hati Nilam. Ia belum mampu mencerna semua saran yang diberikan untuknya barusan. Gadis itu masih harus memilah dan memilih mana saran yang harus dilakukan olehnya, kelak.

__ADS_1


Sebenarnya Nilam buka tipe orang yang suka mengadu, dan berprasangka buruk pada orang lain. Namun Masalah Utari ini, harus ia ceritakan sebab ia akan sering berhadapan dengan ibu muda satu anak itu.


__ADS_2