
Sinar matahari tepat berada di atas kepala, ketika kuda besi milik Bas masuk ke halaman rumah orang tua Nilam.
Suasana sepi menyambut kehadiran dua sejoli itu. Pintu utama nampak tertutup rapat, sepeda motor milik Pak Indra pun tak nampak di garasi samping rumah.
"Nggak ada orang di rumah, sayang. Mereka kemana, ya?" tanya Bas pada penumpang di belakang punggungnya.
"Entahlah, mas. Aku telepon Damar dulu ya." Nilam segera turun, lalu merogoh ponsel yang tersimpan di tas selempang andalannya.
Tidak menunggu lama, suara dari seberang menyapa indera pendengarannya.
"Iya, mba. Ada apa?" Suara Damar terdengar diantara riuh suara yang lain.
"Mar, kamu lagi dimana? Kok di rumah sepi? Bapak sama ibu kemana?" tanya Nilam dengan sedikit berteriak.
Ia yakin jika volume suaranya biasa saja, Damar pasti tidak akan mendengarnya dengan baik.
"Chat aja, mba. Aku nggak bisa dengar, di sini berisik banget." Tanpa menunggu jawabannya, Damar sudah memutus panggilan dari seberang.
"Ck, kebiasaan banget anak itu, belum selesai ngomong udah dimatiin," kesal Nilam, menggeser layar ponselnya.
"Kemana mereka sayang?" tanya Bas, setelah Nilam selesai mengetik pesan.
"Belum tau, mas. Di sana berisik banget, ada suara gong sama orang *mekidung," sahut Nilam.
Hening sesaat. Posisi keduanya masih betah berada di halaman yang terik.
Beberapa detik kemudian, balasan pesan dari Damar masuk ke ponsel Nilam. Gadis itu mendesah kecewa saat membaca isi pesan adik bungsunya itu.
"Mereka di desa sebelah, mas. Aku lupa saudara jauhnya ibu anaknya nikah hari ini." ucap Nilam lesu.
__ADS_1
"Oohh, pantesan rumah sepi," gumam Bas.
"Trus sekarang gimana? Tau letak kuncinya di mana?" tanya Bas lagi.
Nilam menggeleng.
"Dibawa sama ibu, mas. Mereka nggak tau soalnya kalau aku pulang," sahut Nilam yang merasa bingung harus kemana sekarang.
"Ya sudah, sambil nunggu mereka datang, gimana kalau ikut mas aja, nanti mas tunjukkan dimana rumah kita mau dibangun. Tapi mas simpan ini dulu di rumah ibu," tawar Bas akhirnya.
Nilam nampak berpikir, sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
Bas kembali melajukan motornya menuju rumah sang ibu, untuk menyimpan ransel miliknya.
Mereka beristirahat sejenak, ditemani teh buatan Utari.
Bu Rahma begitu senang menyambut kedatangan Bas dan Nilam. Tentu saja, sebab setiap kali Nilam datang ke rumahnya, gadis itu tidak pernah datang dengan tangan kosong. Selalu saja ada yang dibawanya sebagai oleh-oleh.
"Ibu ikut liat rumah kamu ya, Bas," pinta Bu Rahma pada anak sulungnya itu.
"Liat apanya, orang belum ada bangunannya kok, Bu. Baru bikin fondasinya aja," tolak Baskara.
"Ajak aja kenapa sih, mas. Biar ibu seneng!"
Utari menyahut dari arah dapur.
Nilam memberi kode agar Bas mengiyakan permintaan Bu Rahma. Ia tidak bisa mendengar perdebatan seperti itu, apalagi melihat wajah Utari yang tidak bersahabat.
Bas menghela nafas, dan akhirnya mengalah.
__ADS_1
"Nanti ibu sama Utari aja kalau gitu boncengan. Aku bonceng Nilam soalnya," ucap Bas.
Tidak sampai lima belas menit berkendara, mereka sudah tiba di lahan seluas 1 hektar milik pak Brata.
Bas memarkirkan motornya di pinggir jalan, diikuti oleh Utari di belakangnya.
"Ck awas Bu, benerin selimutnya adek, kasihan nanti digigit nyamuk," ucap Utari memerintah Bu Rahma, agar ekstra memerhatikan bayi yang digendong wanita paruh baya itu.
Bas dan Nilam hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan langkah.
"Dingin?" tanya Bas mengalihkan perhatian kekasihnya. Udara di tempat itu memang lebih sejuk dibanding rumah mereka, karena tempatnya yang memang di dataran lebih tinggi.
Nilam menggeleng. Ia justru menyukai udara di tempat itu. Lebih sejuk, lebih melegakan pernafasan.
"Jauh ya, mas?" tanya Nilam yang sama sekali belum pernah diajak datang ke tempat itu sebelumnya.
"Nggak kok, itu udah kelihatan," sahut Bas mempercepat langkahnya.
Sekitar seratus meter dari pinggir jalan, nampak sebidang lahan yang sudah dibabat pohonnya. Fondasi pun sudah di pasang, beberapa tukang terlihat sedang memasang tembok pembatas di area tersebut, memisahkan pekarangan dengan lahan pertanian di sekitarnya.
Bas menjelaskan dengan singkat pada Nilam, seperti apa konsep rumah yang ingin ia bangun. Nilam hanya mengangguk setuju, sebab ia memang tidak terlalu faham mengenai desain sebuah rumah.
"Coba liat ke sana, sayang." Tunjuk Bas ke arah selatan. Dari tempat mereka berdiri, pemandangan alamnya begitu indah memanjakan mata. Nampak laut yang luas di kejauhan sana. Bukit di seberang kiri pun begitu indah dengan pohon-pohon pinus yang nampak hijau.
"Bagus, kan? Rencananya mas mau bikin taman kecil di bawah, terus bikin gazebo juga untuk duduk-duduk santai di sini. Menurut kamu, gimana?"
Nilam mengangguk.
"Bagus, sih mas. Tapi biayanya, gimana?" tanya Nilam. Ia memerhatikan sekitar. Tempat itu memang indah, namun masih belum terjamah sedikitpun. Perlu waktu dan biaya yang banyak untuk membuat semua seperti yang Bas angankan.
__ADS_1
"Pelan-pelan aja, bikinnya. Sekarang fokusnya sama pernikahan dulu. Setelah beres, baru kita pikirkan soal rumah. Nggak apa-apa kan, untuk sementara kita sama ibu dulu?"
"Iya, mas. Nggak apa kok," sahut Nilam.