CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 48


__ADS_3

Pandu mengajak Nilam ke sebuah pantai yang terkenal dengan pasir putihnya. Menikmati angin segar pagi hari, dengan bias cahaya mentari yang masih malu menampakkan diri.


Tak ada yang membuka percakapan. Hanya tautan tangan dan debaran yang saling bersahutan, menjadi bahasa cinta mereka.


Ombak yang tidak terlalu besar, pasir lembut nihil karang dan kerikil, membuat mereka nyaman berjalan di bibir pantai.


Sesekali air laut menyapa kaki mereka yang tanpa alas, menciptakan sensasi dingin pada pijakan keduanya.


Nilam melirik sekilas, wajah laki-laki yang semakin nampak tampan karena pantulan cahaya matahari.


Ada banyak tanya yang membujuk untuk di ucapkan, namun ragu selalu membungkam, hingga Nilam tak mampu bersuara.


Gadis itu tidak ingin momen kebersamaan yang semakin langka ini, menjadi kacau dan mengakibatkan pertengkaran. Masih belum siap kehilangan romantisme, dan harus berganti dengan perdebatan.


"Kenapa dari tadi curi-curi pandang ke mas?" Tiba-tiba Pandu menghentikan langkah, lalu menatap Nilam yang salah tingkah.


"E eng gak kok ..." Sahut gadis itu salah tingkah. Merasa malu hingga tanpa sadar mengalihkan pandangan liar ke sembarang arah.


Rona merah di pipinya, semakin membuat Pandu semangat untuk menggoda.


"Kamu kalau bohong ketahuan banget lho yank ... Wajah kamu itu bukan tipe yang cocok berbohong." Lanjut Pandu dengan senyum menyebalkan.


"Apaan sih mas ... Orang aku nggak curi pandang ke kamu kok. Udah ah ...." Gadis itu merajuk, melangkah mendahului kekasihnya.


Pandu menggelengkan kepala, menyusul langkah cepat Nilam yang berjalan terburu tanpa tujuan.


"Yank ... Kata orang dulu, biasanya kalau pagi-pagi begini, pantai ini sering di datangi mahluk lain yang mau mandi di sini, katanya lho ...." Pandu menakuti Nilam. Namun gadis itu tidak bergeming. Masih terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


"Kayaknya kita beruntung deh, bisa liat kejadian itu langsung ... Coba liat itu yank ...!" Serunya, berhasil mengalihkan pandangan Nilam menuju ke arahnya.


Deg


Nilam tidak menyangka kalau jarak dirinya dan Pandu sedekat itu. Begitu Nilam menoleh, ia mendapati dada bidang Pandu menyapa di depannya. Seolah merayu untuk dipeluk.


Gadis itu mendongak, mengabaikan pikiran nakalnya barusan, ia masih ingin menunjukkan kekesalan.


Cup


"Jangan suka ngembek yank ... Mas nggak mau momen kebersamaan kita yang singkat, habis dengan hal-hal nggak penting seperti ini." Ucap Pandu serius, mengecup singkat bibir tipis gadis itu.

__ADS_1


Ia juga mengelus lembut puncak kepala Nilam. Membalas tatapan Nilam yang masih terpaku, dengan lembut.


"Kenapa waktu mas semakin sedikit untuk aku?" Tanpa sadar Nilam mengucap keluhan yang dirasanya.


"Mas sibuk yank ... Mengembangkan bisnis kafe, agar kelak kita bisa memberi kehidupan yang layak untuk anak-anak kita."


"Tapi jangan terlalu dipaksakan lah mas ... Sesekali beri waktu untuk diri sendiri. Berlibur, merefresh otak, biar nggak sumpek." Ucap Nilam setengah merengek.


Pandu meraih tangan Nilam.


"Iya sayang ... Makasih ya udah selalu perhatian dan sabar ngadepin mas ... Makasih juga karen udah selalu percaya sama mas. Maaf belum bisa kasih yang terbaik untuk kamu." Ucapnya sembari mengecup punggung tangan gadis itu.


"Apaan sih mas. Jangan ngomong gituu ah, nggak seneng aku dengernya. Lagian aku nggak sesempurna itu mas ... Aku juga masih sering merasa kesal, kalau mas Pandu nggak balas chat atau angkat telepon aku. Masih suka berprasangka buruk, takut mas ada apa-apa di belakang aku." Sahut Nilam polos.


Senyum di bibir Pandu sedikit memudar. Merasa tertampar, sebab selama ini ia mengira Nilam tidak memiliki firasat apapun mengenai kelakuannya di belakang gadis itu.


"Permisi ...." Sepasang suami istri datang dengan membawa seorang anak laki-laki yang masih batita.


Nilam dan Pandu kompak menyingkir.


Wajah Pandu mendadak kesal.


"Udah jangan ngedumel gituuu. Kita cari sarapan yuk ...." Bujuk Nilam.


Gadis itu lupa dengan ungkapan perasaannya yang belum mendapat jawaban.


**


Menikmati bubur Bali yang khas, mereka berdua begitu lahap menyantap hidangan murah meriah tersebut.


Mereka menyantap sarapan pagi, sembari bercerita tentang hal-hal ringan yang mereka alami. Bagaimana pekerjaan Nilam, kegiatan liburan gadis itu beberapa waktu lalu, tidak lupa Pandu juga menanyakan kabar keluarga Nilam di kampung halaman gadis itu.


Hingga masing-masing mangkuk di hadapan mereka bersih tanpa sisa. Mereka berdua kompak tertawa kecil, menyadari porsi makan mereka yang cukup banyak.


"Kita nambah lho barusan yank ... Nggak nyangka ya perut kita muat dua mangkuk bubur urap," ucap Pandu menyebut nama lain bubur Bali tersebut.


"Hihiii iya lho mas. Aku jadi malu," ucap gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Tadi mau, sekarang maluuuu," goda Pandu, membuat wajah Nilam berubahh masam.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, mas senang kok kalau kamu bisa jadi diri sendiri di depan mas ... Nggak ja'im, apalagi berpura-pura." Ucap laki-laki itu.


"Tapi jangan diledekin donk mas ... Aku kan maluuu,"


"Iyaaa, besok-besok nggak lagi deh ledekin kamu, udah yuk ... Jadi beli kado kan?"


Nilam mengangguk.


Setelah membayar, Pandu kembali menggenggam tangan Nilam, menuntun gadis itu menuju mobil yang terparkir.


Mereka hendak membeli hadiah, yang akan mereka berikan untuk kedua orang tua Pandu, yang hari itu merayakan ulang tahun perkawinan mereka.


Pandu mengarahkan mobilnya menuju salah satu mall terkenal di kota itu.


Setelah tiba, mereka segera menuju pintu utama bangunan megah tersebut.


Sejenak Nilam terdiam, menatap sekeliling, bingung hendak melangkahkan kakinya ke mana.


"Ayo sayang, ajak Pandu menarik tangan sang kekasih.


Nilam pun akhirnya mengikuti langkah pria di hadapannya.


Meski masih bingung, ia tidak protes ketika Pandu menyeret langkahnya ke salah satu toko pakaian.


Merasa tidak cocok, merek keluar dan melangkah mencari toko yang lain.


"Mas, bagusnya kasih mereka kado apa ya? Aku bingung. Mereka kan nggak kekurangan apapun," tanya Nilam, sedikit merasa rendah diri menyadari orang yang akan dia belikan hadiah adalah majikannya sendiri.


Pandu menatap lembut kekasihnya itu.


Baru ia sadar, sejak tadi gadis polos di hadapannya tengah kebingungan memilihkan sesuatu untuk kedua orang tuanya.


"Apa aja sayang ... Seikhlas kamu. Aku yakin mama sama papa nggak masalah kamu kasih mereka kado apapun. Kamu kasih ucapan selamat aja mereka pasti udah senang." Ucapnya menenangkan hati nilam.


"Tapiii kalau mau liat mereka bahagia dengan hadiah yang kamu berikan, aku punya idee," Ucap Pandu sembari mengerlingkan mata ke arah gadisnya yang tengah serius menyimak ucapannya.


"Apa mas?" Tanya Nilam antusias.


"Kasih mereka cucu, mereka pasti senang."

__ADS_1



__ADS_2