CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
112


__ADS_3

Nilam merasa iba mendengar cerita kekasihnya. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana perasaan pria berkulit coklat itu, saat tahu barang pribadi miliknya berpindah tangan tanpa ia setujui. Dan yang lebih miris lagi, sang ibu justru tidak menegur Utari atas sikap perempuan satu anak itu, yang telah lancang mengambil pakaian Bas tanpa ijin.


"Jangan liatin mas seperti itu, mas berasa ngenes banget jadinya," kekeh Bas, menyadari tatapan Nilam yang tidak pernah turun darinya.


"Cepat, bantu mas pilih yang mana cocok untuk mas pakai," pinta Bas lagi, mendekatkan tubuh Nilam pada baju-baju yang didisplay.


Akhirnya Nilam memilih beberapa potong pakaian yang ia rasa cocok untuk kekasihnya gunakan.


Warna-warna netral dan kalem, yang Nilam selalu suka bila Bas memakainya.


Abu, navy, putih, hitam, adalah warna yang selalu nampak pas di tubuh Bas. Nilam memilih masing-masing satu untuk tiap warna. Dan Bas tidak melakukan protes sedikit pun atas pilihan gadis itu.


Setelah selesai membayar, mereka masih berkeliling menyusuri berbagai toko dengan aneka barang yang ditawarkan.


"Bagus yang mana, mas?" Nilam mengangkat dua potong atasan wanita dewasa.


"Apa nggak kebesaran, sayang?" tanya Baskara.

__ADS_1


"Masa sih?" Nilam memindai bergantian baju yang ada di tangannya.


"Kayanya muat deh. Bibi Rahma kan agak gede badannya," Nilam bergumam sendiri, namun Bas masih dapat mendengarnya. Laki-laki itu mendekat, memastikan ucapan Nilam.


"Ini untuk ibu?" tanyanya menatap Nilam. Gadis itu mengangguk.


"Iya, mas. Mangkanya aku nanya, bagusan yang mana? Aku kan belum tau seleranya bibi," tegas Nilam lagi.


"Nggak usah beli begitulah, sayang. Cukup dateng aja ke rumah," ucap Bas merasa tidak enak hati dan takut jika nanti ibunya malah membuat Nilam kecewa.


Baskara sangat mengerti bagaimana karakter wanita yang melahirkannya itu. Bu Rahma adalah tipe wanita yang tidak bisa menyaring ucapan. Bas takut, ibunya akan membuat Nilam tersinggung nanti.


"Kenapa kamu baik banget sih, sayang? Kamu udah tau kan gimana sifat Utari dan ibu di rumah? Mas nggak mau kamu berharap lebih sama mereka. Mas nggak mau kamu kecewa nantinya."


Nilam tersenyum, mengusap pipi Bas dengan lembut.


"Jangan khawatir, mas. Aku akan baik-baik saja. Lagian selama ini kan aku nggak pernah ada masalah sama mereka. Masa tiba-tiba mereka musuhi aku?" sahut Nilam mencoba menenangkan hati Bas.

__ADS_1


Bas semakin kagum pada Nilam, yang meski sudah tahu banyak cerita tentang keluarganya, namun gadis itu tidak pernah merubah pandangan dan sikapnya.


"Makasih ya, kamu mau datang mendekatkan diri di keluarga mas." Dalam hati Bas berharap semoga ibu dan adiknya tidak membuat ia malu dan kehilangan muka di depan Nilam.


"Iya mas, sama-sama." Dengan senyum manis Nilam membalas ucapan kekasihnya.


Seperti yang sudah Baskara duga, kedatangan Nilam ke rumahnya disambut senyum sinis Utari. Anak bungsu di keluarga itu, nampak tidak suka dengan kedatangan kekasih dari kakak sulung, sekaligus sepupu jauhnya itu. Bersyukur Bu Rahma bisa bersikap baik dan tidak menunjukkan wajah ketus terhdap Nilam. Sehingga Bas masih bisa meredam kemarahannya.


Terlebih saat Nilam memberikan beberapa tas belanja untuk Bu Rahma, wanita itu dengan sumringah menerimanya.


"Waah ini bagus sekali, Lam. Bibi dari lama pengen punya baju ini, pas liat istrinya Pak Kades pake." Dengan antusias ibu tiga anak itu mengangkat dan meneliti baju pilihan Nilam.


"Syukurlah kalau bibi suka." sahut Nilam sambil tersenyum canggung.


"Ibu kayak nggak pernah dibeliin baju aja! Gitu doang dibanggain!" Utari yang sejak tadi duduk bersebrangan dengan Nilam berucap ketus dengan lirikan mata tidak suka.


Senyum Nilam seketika sirna. Ia menatap bingung pada wanita muda di depannya.

__ADS_1


Bersyukur Bas tidak ada di sana, laki-laki itu masih ke kamar kecil menyelesaikan urusannya. Jika sampai ia mendengar, Bas pasti akan marah, mengetahui sikap sang adik yang sudah kelewatan.



__ADS_2