DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
100. Ingatan Samar


__ADS_3

Kembali ke lima belas tahun silam,


Semuanya berawal dari penindasan Tomoko, istri sah kedua Aizen terhadap Kana, selir kesayangannya tersebut.


Kana yang stres, sementara telah hamil besar, memohon kepada suaminya agar bisa pergi ke Indonesia untuk melahirkan dengan tenang, ke tempat di mana dulu dia dan adiknya dilahirkan dan dibesarkan sebelum dia dan Kaori akhirnya dijemput oleh keluarganya kembali ke Jepang saat dia berusia 6 tahun dan Kaori berusia 5 tahun.


Kana sampai nekat untuk mogok makan agar suaminya itu mengizinkannya.  Karena kasihan dengan selir kesayangannya itu ditambah oleh image yang harus dijaganya di masa-masa kritis pemilihan pewaris keluarga Shinomiya kala itu, Aizen pun menyetujui permohonan Kana.


Alhasil, pergilah Kana dengan ditemani oleh adiknya, Kaori, ke Indonesia, tepatnya di Kabupaten Cirona Provinsi Jawa Barat.  Tanggal 9 Juni 2006, dia pun berhasil melahirkan dengan selamat seorang putra di salah satu rumah sakit daerah tersebut.


Namun, apa yang ditakutkannya pun terjadi.  Putranya juga adalah seorang anak sindrom pelangi dengan warna bola mata biru yang cerah.


“Kaori, bagaimana ini?  Jika seperti ini, nyawa anak ini akan terancam oleh Tomoko-san.  Anak-anak Kyoko-san saja yang merupakan istri sah pertama dan dari keluarga berada, berani untuk diganggunya, apalagi diriku ini yang hanya selir terlebih seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh klan ninja bawahan.”  Ujar Kana panik ketika mendapati warna mata anaknya yang spesial itu.


“Kakak, tenanglah.”


Kaori mencoba untuk menenangkan kakaknya, tetapi tidak berhasil.


“Bagaimana jika sampai wanita iblis itu mengetahui bahwa anakku juga memiliki warna mata seperti ini sehingga memiliki kualifikasi bersaing sebagai penerus klan?!  Dia pasti akan membunuhnya.  Tidak salah lagi, wanita iblis itu pasti akan mengirim assassin untuk menghabisi nyawa anakku ini seperti apa yang selama ini berusaha dilakukannya pada Kyoya-kun, bahkan pada Airi yang masih bayi.”


Mendengar ucapan kakaknya itu, Kaori mampu memahami darimana asal kekhawatirannya.  Tomoko adalah istri sah kedua Aizen yang dinikahinya untuk memperluas pengaruhnya di keluarga untuk mendukungnya dalam rangka terpilih menjadi pewaris klan Shinomiya.


Dia adalah wanita yang sangat ambisius dan licik.  Dia sangat berambisi agar anaknya, Mahiro-lah yang satu-satunya diakui berbakat oleh suaminya.  Dia tidak ingin melihat ada anak lain yang mampu berdampingan dengan anaknya itu, terlebih menggeser posisinya.


Di belakang Aizen, Tomoko beberapa kali mengirimkan assassin untuk mencoba menghabisi nyawa Kyoko dan kedua anaknya, Kyoya dan Airi.  Namun, berkat pengaruh keluarga Kyoko dan ditambah perlindungan dari klan Shiratori, hal itu dapat diatasi.


Namun karena kurangnya bukti dan kelihaiannya dalam menyembunyikan sifat aslinya dari Aizen, tidak ada yang dapat dengan gegabah menuduh Tomoko.


Sementara itu, Kyoko adalah wanita yang sangat berhati lembut.  Di saat masa-masa penting perwujudan impian suaminya itu, dia tidak mau gegabah dalam bertindak yang mampu menjatuhkan impian suaminya, terlebih keluarga Tomoko adalah salah satu pendukung kuat suaminya itu dalam mewujudkan mimpinya tersebut.


Jadilah Kyoko memaafkan segala perbuatan Tomoko padanya.  Toh, baik kedua anaknya maupun dirinya sampai saat itu, baik-baik saja.

__ADS_1


Tetapi berbeda dengan Kana.  Kana hanyalah seorang anak yatim-piatu yang selama ini dibesarkan untuk menjadi seorang geisha.  Tidak ada siapa-siapa yang mampu mendukungnya untuk melindungi anaknya tersebut.


“Aku tidak ingin ada apa-apa yang terjadi pada anak kesayanganku bersama Tuan Aizen ini.”  Lirih Kana seraya menangis.


Akhirnya, muncullah ide sesat itu.


“Bagaimana kalau untuk sementara, kita tukar bayi Kakak dengan bayi lain yang normal sampai menunggu bayi Kakak tersebut tumbuh besar dan mampu melindungi dirinya sendiri?  Aku bisa dengan mudah menyusup ke rumah sakit manapun untuk melakukannya, Kak.  Jadi masalah eksekusinya, serahkan saja padaku.”  Ujar Kaori.


“Tetapi ini di Indonesia.  Akan sulit untuk menemukan bayi di sekitar sini yang juga berperawakan Jepang.  Ditambah, aku tidak ingin anakku ini dibesarkan di keluarga yang tidak jelas sehingga menjadi salah jalan.”


Mendengar pertimbangan kakaknya itu, Kaori berpikir sejenak.  Diapun mengingat bahwa Bu Nana, Istri Pak Lucias dari keluarga Dewantara juga sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan.  Dan kebetulan yang lebih menguntungkan adalah Bu Nana meminta pulang ke rumah ibunya untuk melahirkan di kampung halamannya.


Dan kampung halaman Bu Nana tersebut, tempat dia merencanakan untuk melahirkan bayinya, tidak lain adalah Kampung Rambutan yang terletak di kabupaten yang sama dengan tempat Kana dan bayinya dirawat pascamelahirkan saat ini.


Kaori pun membisikkan rencana jahatnya.


“Bagaimana dengan calon bayi dari keluarga Dewantara itu?  Aku dengar Nana, anak dari klan Ishizaki itu, juga sebentar lagi akan melahirkan.  Tidak diragukan lagi kalau bayinya juga akan berperawakan Jepang.  Ditambah, jika yang merawat bayi Kakak adalah orang-orang dari keluarga Dewantara, tentu Kakak tidak perlu mengkhawatirkan masalah pendidikannya.  Justru, aku yakin mereka akan memberikan perawatan yang terbaik bagi bayi Kakak.”


Kana bingung.  Dia memeluk erat-erat bayinya itu.


Kana lantas terlihat baru menyadari sesuatu.  Diapun menatap Kaori.


“Lantas bagaimana jika anak yang dilahirkan oleh Nana juga memiliki sindrom pelangi?”


Mendengar hal itu, Kaori hanya tersenyum jahat.


“Apa peduli kita dengan itu?  Kita cukup merawatnya dengan baik saja semampu kita, toh itu bukan lagi darah daging Kakak.  Mau dia selamat atau mati di tangan Tomoko, itu adalah nasib dari anak itu.  Yang jelas, bukan kita yang melakukannya.  Kita hanya ingin melindungi apa yang berarti buat kita saja.”


Dua hari setelah rencana jahat itu disusun oleh mereka berdua, Bu Nana pun melahirkan tepat di tanggal 11 Juni 2006.


Bahkan sebelum Pak Lucias dan Bu Nana sempat melihat bayinya yang baru saja dilahirkan itu yang ternyata juga adalah seorang bayi laki-laki, Kaori telah berhasil mengeksekusi rencana jahatnya dengan menukar bayi laki-laki milik kakaknya, Kana, dengan bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh Bu Nana dengan menyogok salah satu bidan mata duitan di sana untuk membantu mendukung aksi jahatnya tersebut.

__ADS_1


Jadilah putra Bu Nana yang normal berada dalam perawatan Kana, sementara putra Kana sendiri dirawat dengan penuh kasih sayang oleh keluarga Dewantara tanpa mengetahui segala perbuatan licik Kana dan Kaori pada mereka tersebut.  Seminggu kemudian, Kana dan Kaori pun kembali ke Jepang bersama dengan bayi Bu Nana.


Namun, hal yang tidak diprediksikan oleh mereka terjadi.  Ketika Aizen melihat bayi itu dan mendapatinya tidak memiliki ciri sindrom pelangi, Aizen pun langsung khawatir jika bayi itu akan mengancam pencalonannya sebagai pewaris Klan Shinomiya karena bayi yang tidak punya bakat kultivasi itu pasti akan dinilai tidak berguna oleh keluarganya yang lebih lanjut akan menjadi aib bagi Aizen selaku ayahnya.


Akhirnya, Aizen pun memutuskan untuk menitipkan sementara putranya yang masih bayi itu ke panti asuhan, sampai Aizen resmi ditunjuk sebagai pemimpin Klan Shinomiya.  Tentu saja, Aizen sangat mencintai anak tersebut, bahkan mungkin akan melebihi cintanya kepada anak-anaknya yang lain perihal anak itu berasal dari hubungannya terhadap wanita yang benar-benar dicintainya.


Ya, bagi Aizen, hanya Kana-lah satu-satunya wanita yang dicintainya, sementara istri-istri lainnya semula dinikahinya hanya untuk meningkatkan pengaruhnya saja di keluarga.  Dia sampai-sampai menyamarkan dirinya dengan sering bermain geisha agar tak satupun dari istri-istri sahnya yang menyadari perasaan murninya itu kepada Kana.


Itu pulalah alasannya memilih Kaori yang dekat dengan Kana sebagai asisten ninja kepercayaannya agar dapat sekaligus selalu memantau perkembangan keadaan Kana tanpa dinotice oleh orang lain.


Semuanya masih berjalan baik-baik saja sampai saat itu, hingga hal yang naas pun terjadi 5 tahun kemudian.  Panti asuhan, tempat Kana menitipkan bayi itu sementara, tiba-tiba saja mengalami kebakaran.  Dan 2 anak menghilang pascakebakaran tersebut.  Seorang anak berusia 10 tahun bernama Zainal, serta seorang anak berusia 5 tahun yang tidak lain adalah bayi yang sebelumnya dititipkan oleh Kana tersebut.


Walaupun akhirnya anak yang hilang itu telah ditemukan kembali oleh Aizen, ada banyak hal yang diherankan oleh Kaori, termasuk mengapa justru Aizen terlihat linglung seolah tidak sengaja menemukannya atau bahkan sama sekali tidak mengingat anak itu sebelum muncul kembali di hadapannya.


Namun, itu bukanlah urusan bagi Kaori.  Karena sejak awal, anak dari kakaknya, Kana, telah aman di bawah perlindungan keluarga Dewantara.


Kembali ke masa sekarang,


Kaori menjadi heran dengan sikap kakaknya itu.  Kakaknya memang mengalami kelainan mental sejak 3 tahun lalu, tetapi bukan berarti dia menderita Alzheimer.


Kana juga ada di sana bersama Kaori dalam menyusun rencana jahat tersebut.  Jadi tentu saja dia harusnya tahu bahwa anak kandungnya itu bukanlah Dios.


Tetapi apa yang digumamkan kakaknya saat ini?  Warna mata anaknya yang indah, Dios?  Kerinduan pada anaknya, Dios?  Apakah penyakit gila juga bisa mengubah ingatan seseorang?


Tidak, bagaimanapun itu tetaplah salah.  Karena Dios yang di ingatan kakaknya seharusnya memiliki warna bola mata hitam yang normal karena Dios baru mengalami transformasi menjadi anak sindrom pelangi pada saat usianya menginjak 5 tahun, tepat sebelum kejadian kebakaran di panti asuhan itu terjadi.


Dan dia tahu betul bahwa kakaknya sama sekali tidak mengetahui Dios yang bertransformasi menjadi anak sindrom pelangi karena dia sendiri baru mengetahuinya setelah melakukan penyelidikan pada identitas Dios yang dirawat di keluarga Dewantara itu berkat suruhan Aizen.


Dia dan kakaknya hanya sekadar mengetahui bahwa panti asuhan tempat dia menitipkan anak dari keluarga Dewantara tersebut kebakaran dan anak itupun menghilang.  Tentu saja setelah mengetahui kejadian itu, mereka berdua tidak peduli, toh anak itu bukanlah siapa-siapa mereka.


Kaori yang malas berdebat panjang lebar dengan kakaknya yang kondisi mentalnya agak terganggu itu pun, hanya mengatakan kepada kakaknya yang melihatnya kebingungan atas pertanyaannya yang dilontarkannya barusan,

__ADS_1


“Iya, iya, danaunya cantik ya, Kak.  Kalau begitu, sudah waktunya Kakak balik ke kamar dan beristirahat.”


Seraya mengatakan hal itu, Kaori pun menuntun Kana kembali ke kamarnya.


__ADS_2