
“Hiks…Hiks…Terima kasih telah menyelamatkanku. Jika bukan karenamu, aku pasti sudah diapa-apakan oleh para preman itu.” Ujarku dengan mata yang berkaca-kaca seraya menjatuhkan tubuhku di pelukan Kaiser.
[Hmm. Bagaimana? Jantungmu pasti deg-degan kan, Kaiser? Tidak ada satupun pria yang bisa selamat dari jurus imutku ini. Ayo, terpesonalah padaku!] Pikirku dalam hati.
Tetapi apa yang aku dapatkan, bocah itu justru segera melepaskan pelukanku dari badannya dengan ekspresi datar di wajahnya.
“Sekarang sudah aman kok, Kak. Lain kali jangan main-main di tempat yang rawan kejahatan mendekati malam hari seperti sekarang ini, apalagi kakak seorang perempuan.”
Dia hanya mengucapkan hal itu seraya tersenyum ramah padaku? Yah\, kuakui sih\, senyumnya menawan. Tetapi itu salah\, bukan? Apa dia tidak sedikit pun terpesona dengan kecantikan wajah dan keelokan tubuhku ini? Atau jangan-jangan dia mengalami kelainan *****al?
Yang tak kalah membuatku kesal adalah karena sidekicknya yang sedari tadi mengamati kami, si Dios itu, menatapku dengan tatapan mata yang tajam seakan ikut menghinaku. Ah, aku benar-benar kesal saat itu.
Setelah gagal di kesempatan pertama, aku mencoba lagi dan lagi untuk menggaet hati Kaiser. Tetapi, dia sama sekali tak tergoyahkan. Terus terang, ini sangat mencoreng harga diriku sebagai primadona sekolah dambaan setiap pria.
Suatu hari, Araka tiba-tiba menegurku untuk tidak mengganggu Kaiser lagi. Lewat Araka-lah akhirnya aku tahu bahwa ternyata Kaiser berasal dari keluarga Dewantara, musuh bebuyutan keluarga kami.
Tetapi bukankah ini menjadi jauh lebih menarik? Jika seandainya kami menjalin hubungan, bukankah akan sama dengan cerita populer Romeo dan Juliet itu? Hubungan percintaan terlarang antara sepasang pria dan wanita dari keluarga yang bermusuhan. Ah, tapi aku tidak ingin mati muda seperti Juliet, maka lupakan hal itu.
Ataukah legenda hubungan antara putri duyung dengan seorang pangeran yang terkenal itu? Ah, itu juga salah, karena pada akhirnya tokoh wanitanya, Ariel, juga meninggal, sementara tokoh prianya hidup bahagia.
Tidak adakah kisah percintaan terlarang antara sepasang kekasih di mana tokoh prianya yang akhirnya meninggal, sementara tokoh wanitanya yang hidup bahagia? Jika ada satu, aku ingin sekali menjadi tokoh wanita di dalam cerita tersebut.
Tentu saja larangan dari Araka, tidak menghentikan niatku untuk semakin dekat dengan Kaiser. Lagian dia siapa sampai-sampai melarang-larang aku berhubungan dengan siapa?! Tanpa sadar, niatku telah berubah dari semula hanya ingin mengganggu Ratih, menjadi betul-betul tertarik untuk menaklukkan Kaiser.
Aku penasaran, charm seperti apa yang dimiliki bocah itu sehingga membuat Ratih yang memiliki harga diri tinggi pun, sampai bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1
Tetapi ancaman Araka semakin menjadi-jadi padaku. Aku bahkan sampai curiga bahwa niat sebenarnya bukanlah untuk menjaga kestabilan kelompok, melainkan karena dia benar-benar peduli pada Kaiser sehingga dia tidak ingin aku untuk mengganggunya.
Yah, tapi itu tidak mungkin. Aku sama sekali tidak pernah melihat Araka yang self-interested itu peduli sama orang lain yang tidak mendatangkan untung baginya.
Aku kesal sekali padanya. Dia sampai mengancamku untuk mengadukan semua ini pada ayahku. Akhirnya, dengan pengawasan ketat Araka, aku pun mau tidak mau hanya bisa menyerah saja.
Walaupun aku menyerah dalam menaklukkan Kaiser, aku masih tetap mengumpulkan informasi tentangnya. Tanpa sadar, dengan aku semakin mengenal Kaiser, semakin aku tertarik padanya. Dia pria yang baik hati dan ringan tangan dalam menolong orang yang kesusahan. Dia juga berbakat dalam segala hal, termasuk olahraga, khususnya olahraga basket. Dia banyak dicintai baik pria maupun wanita karena senyumnya yang menawan nan elegan itu.
Tidak ada satupun cacat, baik pada fisik maupun sifatnya yang sempurna itu. Jika ada cacat, itu adalah karena dia selalu bergaul dengan anak miskin yatim piatu itu, Dios. Aku akui bahwa Dios juga berbakat dalam segala hal, bahkan prestasinya di bidang akademik melebihi Kaiser. Tetapi apa gunanya semua itu? Dia bagaimana juga hanyalah seorang rakyat jelata.
Sekali lagi, aku memuji Kaiser bukan karena aku mencintainya. Tipeku adalah seorang pria tinggi, kekar, dan nakal dan Kaiser jauh dari hal tersebut.
Ketertarikanku padanya hanyalah sebatas penasaran saja karena Kaiser adalah tipe pria yang baru pertama kali kulihat. Wajahnya imut, tetapi cukup tampan sebagai seorang pria. Dia pendek, tetapi bibirnya cukup seksi untuk berciuman. Dia pria baik-baik, tetapi terkadang aku bisa merasakan kebengisan yang entah darimana berasal darinya.
Ketika aku menyentuhnya, aku merasakan bau yang begitu nikmat. Akupun semakin mendekatkan kaos itu ke indera penciumanku dan betapa wanginya yang aku rasakan. Saking wanginya, aku sampai tak ingin melepaskan kaos itu lagi rasanya.
Tetapi aku tak segila itu untuk sampai mencuri kaos milik orang lain hanya karena tertarik dengan bau badan yang terasa wangi semerbak itu. Aku pun memfoto kaos tersebut dan menyuruh desainer langganan keluargaku untuk membuat replikanya.
Kemudian di waktu yang tepat, ketika kelas itu kosong lagi setelah senam rutin tiap pagi di sekolah kami di mana Kaiser segera menuju ke ruang seni untuk mengikuti kelas kesenian dengan meninggalkan pakaian bekas yang dia pakai untuk senam pagi di lokernya, akupun mengambil kesempatan itu untuk menukarnya.
Terus terang, ini pertama kalinya aku berbuat ini pada seorang pria. Tapi apa boleh buat, kan? Bau badan Kaiser terasa sangat semerbak soalnya. Benar-benar tipe bau badan pria idamanku. Tetapi sekali lagi aku pertegas, Kaiser bukanlah tipeku. Tipeku adalah pria yang tinggi, kekar, dan nakal.
Karena dibatasi oleh Araka, akupun jadi jarang lagi berinteraksi dengan Kaiser. Tetapi, aku masih sering berfantasi tiap malam dengan koleksi foto-fotonya serta seragam sekolahnya yang berhasil kutukar, membayangkannya tentang bagaimana dia akan berekspresi imut ketika aku menginjak-injaknya seraya dia menjilati kakiku. Ah, aku sungguh tak tahan membayangkannya.
Tetapi sekali lagi, itu hanyalah fetish belaka. Kaiser sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai pria ideal idaman untuk menjadi pendamping hidupku.
__ADS_1
Dan akhirnya, kasus pembulian Dios itu pun terjadi.
Awalnya, ketika Araka membawa Dios ke hadapan kami untuk dibully, aku semula mengira bahwa ini semua ulah Dirga perihal dia yang masih dendam pada Kaiser yang mengalahkannya secara telak dalam pertandingan basket itu. Tetapi, melihat ekspresinya yang terkejut, aku bisa tahu kalau itu bukan dia. Yah, siapapun yang menaruh nama Dios dalam black list perkumpulan kami, aku berterima kasih akan hal itu.
Dengan demikian, aku bisa melihat bagaimana ekspresi menderita Kaiser ketika mengetahui bahwa sahabatnya telah disiksa habis-habisan. Awalnya aku berpikir seperti itu, tetapi rupanya aku salah. Entah karena alasan apa, Rihana dan Riandra menghasut anak-anak hingga berbuat terlalu kelewatan.
Aku benci melihat mereka berbuat terlalu kelewatan seperti itu, terlebih Dios adalah sahabat Kaiser yang berharga. Tetapi aku juga tidak dapat mencari alasan yang tepat untuk menghentikannya. Bisa-bisa Araka menuduhkuku lagi punya perasaan suka pada Kaiser. Aku paling tidak mau hal itu terjadi.
Yang paling membuatku jengkel, Rihana malah mendapati perasaan tak sukaku pada perbuatan mereka dan malah menyudutkanku. Dia bahkan sampai menyuruh bodyguardku, Kak Jingmi, untuk turut menghajar Dios. Tentu aku tidak dapat menolak melihat Araka yang sedang mengawasiku.
Tidak hanya sampai di situ, Rihana bahkan memberitahukan mereka tentang koleksi tongkat golf Ayah di bagasi mobil yang kebetulan kupinjam dari Ayah perihal mobil yang biasa kukendarai sedang masa perawatan.
Aku tak mungkin untuk mencegahnya, tetapi masih ada satu hal yang dapat kulakukan. Tidak ada satupun dari mereka di sini yang dapat berbahasa Denmark, kecuali aku dan Kak Jingmi.
Aku pun berbisik lirih pada Kak Jingmi dengan menggunakan bahasa Denmark, “Bawa satu tas saja kemari, sembunyikan dua tas paling baru baik-baik di dalam bagasi mobil.”
Aku bahkan sangat berhati-hati agar Araka tidak menotice-ku mengatakan sesuatu, malah Rihana yang kunilai sebagai sahabat baikku sedari kecil yang menusukku dari belakang.
“Apa yang kamu bisikkan ke Kak Jingmi, Silva, sampai-sampai harus berbahasa asing yang tidak kami kenali? Aku mencium bau amis di sini. Jangan-jangan kamu kasihan padanya karena dia sahabat baik Kaiser?” Dengan santainya Rihana mengatakan hal itu.
Akupun segera menyangkalnya dengan mengatakan bahwa aku hanya mengatakan untuk hati-hati mengambilnya karena ada barang berhargaku yang ikut aku taruh di dalam bagasi bersama tas golf itu. Untunglah Araka tidak terlalu menanggapinya sehingga Rihana pun segera tak tertarik dan mengalihkan perhatiannya.
Menimbang dengan sadisnya Aleka, Riandra, Dirga, dan Tirta memukul Dios dengan tongkat golf, aku bisa menebak kalau dia akan dirawat di rumah sakit cukup lama. Namun, aku sama sekali tidak menyangka mengapa dia bisa masih koma setelah dua tahun menjalani masa perawatan. Padahal Araka juga tampaknya mengawasi anak-anak untuk tidak memukul di bagian vitalnya.
Ah, ada! Aku baru ingat. Ada satu pukulan yang terlewat oleh pengawasan Araka. Yakni ketika kami berenam telah pergi, Rihana dan Tirta masih di tempat itu. Dan kudengar dari jauh, satu pukulan lagi melayang setelahnya.
__ADS_1