
“Hai.” Sapa wanita itu.
Mendengar sapaan wanita itu, Kaiser menyambutnya dengan senyuman hangat. Namun, setelah beberapa saat, ekspresi Kaiser mendadak berubah. Ada ekspresi kecurigaan di balik wajahnya tentang tujuan kunjungan wanita itu kali ini.
“Ah, bukan begitu. Tujuan kedatanganku kali ini bukan untuk meliput Dek Kaiser.” Ucap Aliska seraya menggeleng-gelengkan kedua tangannya di depan dadanya. Seakan tahu pikiran Sang Tuan Muda, Aliska, Sang Wartawan segera menyanggah bahwa perihal kunjungannya kali ini bukanlah untuk meliput berita hangat tentang tuan muda itu.
“Kamu tahu? Mantan anggota DPD yang meminta pensiun dini yang dirawat di sini. Aku datang ke sini untuk meliputnya.” Tambah wanita itu seraya tersenyum canggung sambil mengacungkan jari telunjuknya kanannya dan memalingkan pupil matanya ke arah sebaliknya untuk menghindari kontak langsung dengan mata biru cerah tuan muda itu.
“Oh begitu.” Jawab Kaiser singkat dengan senyum simpul.
“Ngomong-ngomong siapa mereka?” tanya Aliska seraya menatap Danial dan Amanda.
Alicia melangkah maju mencoba mengamati mata biru cerah milik Danial yang identik dengan mata milik Kaiser. Melihat itu, Danial yang xenophobia jadi ketakutan dan segera mundur, bersembunyi di balik punggung Kaiser yang lebih pendek darinya.
“Wah, padahal sindrom pelangi sendiri langka. Aku tak menyangka kalian berdua bisa memilikinya secara bersamaan dengan warna yang sama pula. Siapa Adik ini? Apa dia kakakmu?” Ujar Aliska yang bisa segera tahu bahwa Danial lebih tua dari Kaiser dari penampilan luarnya.
Sekedar selingan, sindrom pelangi adalah kelainan genetik yang menimpa janin yang baru lahir yang ciri-cirinya ditunjukkan oleh iris mata yang berwarna cerah secara tidak lazim seperti merah, hijau, kuning, biru, dan sebagainya. Kelainan genetik pada janin ini dikabarkan pertama kali terjadi bertepatan setelah bencana krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 yang disebabkan oleh ledakan cahaya non destruktif berwarna pelangi yang secara tiba-tiba terjadi di seluruh belahan dunia yang berawal dari reruntuhan Suku Mayan di Amerika Selatan. Cahaya inilah yang diisukan menjadi penyebab munculnya kelainan genetik itu. Oleh karena itu disebut sindrom pelangi.
Cahaya ini, walaupun tidak menyebabkan kerusakan lingkungan yang nampak secara fisik, tetapi juga diisukan sebagai penyebab ketidaksuburan lahan pertanian yang mendadak terjadi pasca ledakan dari tahun 1998 – 2000 yang menyebabkan negara yang menjadikan pertanian dan perkebunan sebagai penghasilan utamanya harus menelan pahit defisit keuangan negara yang besar sehingga harus berutang pada negara kapital. Sebagai akibatnya, terjadilah krisis moneter di berbagai negara terutama pada negara-negara berkembang seperti Indonesia.
“Kakak sepupuku. Ngomong-ngomong soal sindrom pelangi, Dios juga memiliki mata unik dengan warna yang persis seperti kami ini.” Jawab Kaiser dengan sedikit tersirat kesan nostalgia di balik kalimatnya.
__ADS_1
“Oh.” Aliska tersentak kaget dengan informasi yang diberikan oleh Kaiser. Nampak ekspresi wajah yang sangat tertarik untuk mengetahuinya.
Namun, segera diabaikannya ketika melihat lebih dekat lagi ke wajah imut seorang anak perempuan yang berada di samping mereka.
“Lalu siapa gadis cilik imut ini?” Tanya Aliska seraya tersenyum ramah kepada Sang Gadis Cilik yang imut itu.
“Oh, dia Amanda.” Jawab Kaiser singkat disertai dengan ekpresi sedih di wajahnya.
“Adik kamu?” melihat ekspresi Kaiser yang tidak biasa, mau tidak mau Aliska menjadi penasaran.
“Dia adik Kak Syarif, Kak.”
“Oh, begitukah?” Begitu mendengar Kaiser menyebutkan bahwa Amanda adalah adik Syarif Saleh yang meninggal sebagian karena kesalahannya di sudut pandang Aliska, Aliska mau tidak mau menjadi sedih. Dia mendekati anak itu lalu membelai rambutnya dengan lembut.
“Jangan sedih Kak. Setiap persoalan, pasti ada jalan keluarnya jika kita tidak menyerah dalam berikhtiar. Seperti itulah yang diajarkan Kak Syarif pada Amanda.” Ujar Amanda pada wanita yang sedang membelai rambutnya itu seraya menghapus air mata wanita itu di pipinya sambil tersenyum ramah. Aliska membalas senyuman gadis kecil itu dengan senyuman yang tak kalah tulus pula. Mereka pun saling merangkul satu sama lain.
“Dia benar-benar gadis yang imut.” Ujar Aliska yang tetap merangkul Amanda sambil tersenyum cerah.
“Siapa dulu dong. Dia kan adik angkatku.” Balas Kaiser dengan bangga atas pujian untuk Amanda itu.
“Adik angkat kamu?”
__ADS_1
“Yah, kamu tahu Mbak? Amanda sekarang tidak punya siapa-siapa lagi sejak keluarga satu-satunya Kak Syarif meninggal dunia. Oleh karena itu, jika bukan aku yang merawatnya, siapa lagi? Dengan semakin bangsa ini menuju ke era global, perlakuan terhadap anak yatim piatu di negara ini kian menjadi sangat memprihatinkan. Mereka dengan mudah dibuli tanpa ada satupun yang dapat melindungi mereka. Oleh karena itu, aku yang akan mengambil peran untuk melindungi Amanda. Walaupun aku tidak bisa menyelamatkan seluruh anak yatim piatu bangsa ini, setidaknya aku bisa menyelamatkan yang ada di depanku.” Ujar Kaiser tampak dipenuhi oleh kebulatan tekad.
“Tak kusangka, kamu orang yang sangat idealis Dek Kaiser.” Ucap Aliska seraya memandang wajah tampan pria muda yang sedang duduk di sebelahnya itu sambil tersenyum melankolis.
***
Di suatu kamar tidur berukuran kecil, tampak seorang pria paruh baya yang hidup seorang diri terduduk dan bersandar di atas ranjangnya bersiap untuk tidur. Dia adalah Petugas Dono.
[Melupakan tingkah Alicia di sekolah, aku tidak dapat mengabaikan perihal kemudahan akses kunci sekolah oleh Kaiser karena jabatannya yang sebagai koordinator bidang inventaris OSIS di sekolahnya. Ini bisa membenarkan dugaanku tentang trik terkunci di perpustakaan sebagai alibi takkan berlaku lagi. Apalagi dari testimoni Andika, Kaiserlah yang terakhir berinteraksi dengan pintu sebelum Andika mengetahui pintunya dikunci. Yang jadi masalah, ini tidak bisa dijadikan landasan bahwa Kaiserlah pelaku pembunuhan Aleka dan Rihana. Sama sekali tidak ada jejak tertinggal di TKP. Bagaimana kira-kira supaya aku dapat memecahkan misteri kasus ini?] Pikir Dono dalam hati.
***
Malam itu, Araka yang baru keluar lagi untuk menemui Riandra setelah pulang dari rumah, akhirnya sampai cukup larut malam di rumahnya. Betapa kagetnya dia mendapati ibunya dibentak-bentak oleh pengasuhnya.
“Hei Bu, kamu tahu kan aku bekerja begitu letih untuk mengurusmu. Tetapi kamu tidak henti-hentinya menambah-nambah pekerjaanku. Aku tidak mau tahu. Kamu bersihkan sendiri pecahan gelas yang kamu pecahkan!” Kata pengasuh itu membentak Ibu Araka.
Ibu Araka tampak menangis sedih karena perlakuan pengasuh itu. Karena tertelan kemarahan, Araka yang melihat itu tanpa basa-basi segera melayangkan tangannya kepada pengasuh.
“Plaaak.”
“Hei!” Sang Pengasuh berteriak marah dan mencoba melawan.
__ADS_1
Tetapi begitu melihat wajah Araka yang menakutkan, dia segera membatalkan niatnya.
“Rupanya begini kelakuanmu selama ini di belakangku?” Ucap Araka seraya meletuk-letukkan jari-jemarinya, tampak siap memukul pengasuh itu. Wajahnya terlihat bengis dengan senyum menakutkannya di balik mata hitamnya yang seakan mampu menelan orang-orang dalam kehampaannya.