DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
53. Seorang Polisi yang Mendrama di TKP


__ADS_3

Pukul 8.35 pagi, Kaiser yang wajahnya masih tampak basah karena air wudhu, melamun sendirian di teras bangunan bekas masjid itu.  Kondisinya masih belum sadar betul sehingga belum bisa mengingat dengan jelas kejadian yang terjadi tadi malam.


Dia terbangun kembali di teras bangunan bekas masjid itu, padahal seingatnya dia berlari menuju ke vila Araka.


“Eh, kenapa lagi aku ingin pergi ke vila Senior?”  Ucap Kaiser seraya memegang dahinya dengan tangan kanannya yang juga ikut menutupi sebelah matanya.


Mata Kaiser seketika terbelalak.  Dia baru sadar akan kejadian tadi malam.  Sesosok misterius telah menghadangnya dan membuatnya pingsan sewaktu menuju ke vila Araka.


Kaiser lantas berlari sekencang-kencangnya menuju vila Araka karena khawatir pada seniornya itu.  Jalan yang menanjak ke atas membuat nafasnya terangah-engah dengan mudah.  Setelah berlari kurang lebih 250 meter, dia pun sampai ke tempat tujuannya.  Alangkah kagetnya Kaiser, ternyata tempat itu telah ramai.  Dikerumuni oleh warga sekitar, polisi, dan juga wartawan.


Dia berjalan dengan hati yang was-was ke tengah kerumunan.  Di pikirannya telah memikirkan kemungkinan yang terjadi, tetapi dia sangat berharap bahwa apa yang dipikirkannya itu adalah salah.  Dia pun sampai ke tengah kerumunan.  Didapatinya garis polisi dan olah TKP.  Dilihatnya bekas darah berserakan dan garis putih membentuk orang yang tampaknya adalah penanda lokasi mayat yang mayatnya telah diamankan.


Namun Kaiser masih berharap bahwa mayat itu bukanlah orang yang dikenalnya.  Diapun melihat sekeliling tentang bukti-bukti yang tertinggal di TKP.  Tas kecil berwarna krem dan handuk lusuh berwarna biru.  Itu adalah barang-barang yang sama persis yang dibawa oleh seniornya itu kemarin.  Kemudian matanya tertuju kepada suatu barang yang semakin membuat semuanya jelas.  Kartu enam spade yang tercoret salah satu lambang spadenya juga ikut tergeletak dari berbagai jajaran barang-barang bukti di TKP.  Tidak salah lagi, itu adalah perbuatan Sang Pembunuh Berantai dan kali ini yang menjadi korbannya adalah seniornya, Araka.


Kaiser pun terduduk.  Mata birunya berkaca-kaca dan tidak lama setelah itu, dia tidak sanggup lagi menahan air matanya.  Diapun menangis dalam diam.  Salah satu juru kamera TV kemudian memperhatikan Kaiser dan berhasil menangkap wajah Kaiser tersebut di layar.


***


Pagi itu, breaking news secara live dari Queen TV tiba-tiba tayang di televisi.  Bu Nana, Nenek Nafisah, dan Bi Markonah yang tengah mempersiapkan sarapan yang agak telat perihal peristiwa kemarin mendadak was-was karena berita yang dilaporkannya ternyata adalah tentang kematian seorang pemuda akibat korban pembunuhan.  Lebih membuat mereka kaget lagi karena ternyata lokasi pembunuhan tersebut adalah di dekat rumah mereka.


Bu Nana yang tak kuasa menahan perasaan kalutnya akhirnya terkulai lemas dan jatuh.  Untungnya Bi Markonah dengan sigap menggapainya.  Nenek Nafisah yang melihat keadaan putrinya itu pun berteriak histeris tak kuasa pula menahan kepanikannya.


Pak Lucias yang sebenarnya masih jauh dari pintu masuk rumah yang kala itu sedang terbuka, segera berlari kencang meninggalkan beberapa warga yang bersamanya ketika mendengar teriakan histeris dari Nenek Nafisah itu.  Pak Lucias sangat panik memikirkan keselamatan anaknya yang masih hilang dan istrinya yang kalut di rumah.


Sesampainya di rumah, dia segera menghampiri istrinya yang sudah terkulai lemas tak berdaya.  Dia memeluk istrinya itu.  Bu Nana meresponnya dengan ikut memeluk erat suaminya itu.  Bu Nana menangis dengan hati yang sangat teriris.


Tiba-tiba Bi Markonah memecah suasana dengan menunjuk televisi.


“Bukankah orang yang di televisi itu Tuan Kaiser?”  Ucap Bi Markonah.


“Bicara apa kamu Markonah?  Itu pasti bukan cucuku.  Cucuku masih hidup.  Hiks, hiks, hiks.”  Teriak lantang Nenek Nafisah seraya menangis terisak karena mengira bahwa korban pembunuhan itu mungkin adalah cucunya.

__ADS_1


“Bukan itu Bu.  Lihat dulu di TV.  Pemuda bermata biru yang sedang menangis itu yang tertangkap kamera di tengah kerumunan yang menonton di lokasi kejadian.”  Ujar sekali lagi Bi Markonah dengan menunjuk televisi.


Nenek Nafisah, Bu Nana, dan Pak Lucias seraya menatap televisi itu.


“Kaiser?”  Ujar mereka secara bersamaan dengan kaget.


Di televisi itu, di tengah kerumunan, seorang pemuda tampak menjadi sorotan kamera dengan air matanya yang jatuh dengan kilau yang indah karena mata birunya.  Dia adalah Kaiser.


Tanpa pikir panjang, mereka bertiga bergegas menuju ke lokasi kejadian, sementara Bi Markonah ditinggal di rumah untuk menjaga rumah.


***


Seorang pemuda menangis sendu tanpa suara di tengah lokasi kejadian.  Kulitnya yang putih dan rambutnya yang halus tampak membuatnya seperti bukan orang yang berasal dari planet ini.  Keindahan yang tiada tara itu bertambah manis dengan air matanya yang menetes, berkilau indah memantulkan warna biru matanya.  Hal itu membuat mata kerumunan sontak tertuju pada keindahan itu ketimbang TKP itu sendiri.


Selang beberapa waktu, Bu Nana, Pak Lucias, dan Nenek Nafisah pun tiba di lokasi kejadian dan segera berlari memeluk keluarganya yang tercinta itu.  Mereka bertiga pun ikut menangis menemani Kaiser.


Tak lama kemudian, dua sosok polisi menghampiri mereka.


Pak Lucias dan Bu Nana tampak marah.  Polisi itu dengan lugas mengatakan ‘tak segan-segan kembali ke TKP’.  Dengan kata lain, dia menuduh Kaiserlah pelaku pembunuhan itu.  Tak butuh waktu lama bagi Pak Lucias dan Bu Nana memahami situasi dengan kerumunan orang yang bergosip di sekitarnya.  Rupanya kasus ini masih lanjutan dari masalah putranya tentang pembunuhan misterius para pembuli-pembuli yang menjadi musuh Kaiser itu.


Mereka berdua seraya berdiri sementara Nenek Nafisah tetap menenangkan cucunya itu.  Pak Lucias pun menatap tajam ke arah Petugas Dono.  Namun kemudian, ekspresinya berubah menjadi lembut.


“Aku tidak tahu apa maksud Anda.  Namun, jikalau Anda berani mengganggu keluarga kami, maka aku tidak akan segan-segan mengajukan tuntutan balik.  Tentu Anda tidak ingin kehilangan pekerjaan Anda, bukan?”  Ucap Pak Lucias dengan senyum namun terlihat dingin di wajahnya.


“Anda mengancam saya?”  Balas Dono seraya menatap tajam wajah Pak Lucias yang tersenyum.


Diapun lanjut berucap, “Keluarga royal benar-benar menakutkan.  Bahkan setelah melakukan perbuatan sesadis apapun, mereka masih bisa lepas dari jeratan hukum.”


“Paaak!”


Suara tamparan yang keras tiba-tiba terdengar.  Rupanya Bu Nana yang sedari tadi diam, tidak dapat menahan amarahnya, lantas menampar wajah Dono.

__ADS_1


Mono yang sedari tadi bersama Dono pun segera menengahi perselisihan mereka.


“Hei, apa yang kamu katakan?”  Ujar Mono seraya menimpuk belakang kepala Dono.


“Maafkan kelancangan teman saya ini.  Dia tidak dapat menjaga mulutnya dengan baik.”  Ujar Mono seraya menunduk dengan ikut pula memaksa Dono menunduk untuk meminta maaf kepada Pak Lucias dan Bu Nana.


“Apakah aku salah?  Dia berada di dekat lokasi kejadian, tentu saja jelas-jelas mencurigakan.  Apalagi pada kasus pembunuhan Aleka dan Rihana, alibinya selalu mencurigakan.  Aku sampai heran mengapa sampai sekarang jangankan tersangka, dia bahkan belum ditetapkan sebagai calon tersangka setelah semua ini.”  Teriak Dono dengan marah.


Pak Lucias tampak marah dan hendak mengatakan sesuatu.  Tetapi seseorang menyentuh tangannya dengan lembut seolah menyuruhnya untuk tidak terprovokasi.  Kaiser, anaknya itulah yang telah menggenggam tangan ayahnya.


Diapun berbisik pelan, “Ayah, lihat ke belakang.  Banyak kamera di mana-mana. Apalagi beberapa adalah siaran live.  Tetap tenang, Yah.


Ucapan putranya itu seketika membuat Pak Lucias tersadar dan kembali tenang.


“Pak Polisi.  Aku memang kebetulan ada di dekat lokasi kejadian.  Lantas mengapa?  Apakah itu lantas menjadikanku tersangka.  Aku secara kebetulan bertemu dengan Senior Araka kemarin dan aku berlari ke sini karena mengkhawatirkannya setelah melihat sosok misterius berada di dekat sini.  Dan rupanya, apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi.  Hah, Pak Polisi, sebenarnya apa yang kalian pelajari di akademi?  Kalian secara membabi-buta menuduh seseorang sebagai tersangka tanpa adanya bukti.  Layakkah diri kalian disebut sebagai polisi?”  Ucap Kaiser pada awalnya dengan tenang, tetapi tiba-tiba berteriak menekankan kalimatnya di bagian akhir.


“Seharusnya yang kalian lakukan terlebih dahulu adalah menanyaiku tentang apakah aku mengetahui sesuatu tentang kejadian ini.  Maka aku tidak akan segan-segan membantu kalian mendeskripsikan orang yang mencurigakan yang aku lihat kemarin.”


“Membantu ya.  Tentu saja kamu tahu pelakunya karena itu kamu sendiri.”  Ujar Dono dengan seringai di wajahnya.


“Paaak!”  Sekali lagi tamparan dilayangkan ke wajahnya.  Kali ini di pipi yang satunya, tetapi bukan oleh Bu Nana, tetapi Kapten Danielo yang juga ada di lokasi TKP bersama dengan mereka berdua.


“Kapten!  Apa yang Kapten lakukan?  Jelas-jelas di foto itu…”  Petugas Dono memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat tatapan sadis kaptennya itu.


“Maafkan atas ketidaksopanan anak buahku ini.  Aku akan mendidiknya lebih baik lagi.”  Ujar Kapten Danielo seraya menundukkan kepalanya di depan Kaiser.


“Bapak?!  Tolong angkat kepala Bapak kembali.  Aku tidak apa-apa.  Lagipula bukan Bapak yang berbuat salah, tetapi anak buah Bapak.  Yang jelas polisi bisa kooperatif menemukan pelaku, itu sudah cukup bagiku.”  Ucap Kaiser yang tampak salah tingkah dengan tawa canggungnya karena merasa bersalah telah membuat polisi yang telah mendekati usia renta itu menundukkan kepalanya pada seorang remaja yang bahkan belum berusia 20 tahun.


“Jadi, bisakah Nak Kaiser meluangkan waktu untuk mendeskripsikan orang yang mencurigakan yang Nak Kaiser maksudkan itu?”  Ujar polisi tua seraya mengangkat kembali kepalanya dan menatap wajah Kaiser dengan serius.


“Tentu saja Pak.”  Jawab Kaiser dengan tegas disertai tekad.

__ADS_1


__ADS_2