DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
70. Aliran Cakra


__ADS_3

Di jam istirahat pertama kala itu yang sebenarnya cukup singkat berkisar 15 menit saja sehingga para siswa biasanya memanfaatkannya hanya untuk bersantai sejenak dengan jalan-jalan di taman sambil bersenda-gurau, Kaiser, Airi, dan Wilda tampak berjalan menuju ke gedung olahraga dan memasuki salah satu ruangannya.


Kaiser pun membuka kunci ruangan.  Airi dan Wilda memasuki ruangan, menyusul Kaiser di belakang.


“Anu, Airi-san, apa benar Wilda telah terbangkitkan?”  Tanya Kaiser penasaran.


“Ya, tetapi jika seperti ini terus, dia bisa dalam bahaya.  Aura cakranya menyebar ke mana-mana sehingga kultivator manapun akan segera mengetahui jika dia orang yang terbangkitkan.  Dan jika sampai dia ditemukan oleh kultivator sesat, dia akan menjadi santapan empuk bagi mereka.”


“Itu sangat berbahaya.”


“Maka dari itu, aku akan mengajarinya cara mengendalikan cakranya agar auranya tidak menyebar ke mana-mana.”


Mereka kemudian berjalan hingga sampai ke tempat yang biasanya digunakan untuk senam lantai.


“Kaiser-kun, tolong berbalik sebentar.  Pastikan jangan mengintip ke belakang.”  Ucap Airi dengan nada nakal kepada Kaiser.


“Baiklah.  Tetapi mengapa kamu melarangku melihat ke belakang?”


Tanya Kaiser penasaran atas instruksi yang diberikan oleh Airi kepadanya.  Namun, daripada menjawab pertanyaan Kaiser, Airi malah berucap,


“Nah, Wilda-san, tolong lepaskan bajumu?”


“Apa?”  Wilda bereaksi keheranan atas permintaan Airi tersebut.


“Untuk menstabilkan cakramu, cakraku harus bersentuhan dengannya.  Cara yang paling efektif untuk melakukannya adalah dengan interaksi antara kulit dan kulit secara langsung.”


“Baiklah kalau begitu, akan kulepaskan.”


“Sreeek.”  Suara pakaian terlepas pun terdengar.


“Wilda-san, kamu tidak perlu sampai melepaskan bra-mu juga.”


Mendengar suara gemerisik serta Airi yang mengatakan sesuatu yang cukup vulgar itu, muka Kaiser menjadi memerah.


“Hei, Airi-san, apa tidak sebaiknya aku keluar saja dari ruangan ini?”


“Kamu tetap harus berada pada jarak 1 meter dariku agar aku bisa melindungimu.  Kita tidak tahu kapan pembunuh-pembunuh bayaran sewaan Lu Tianfeng itu akan menyerang.  Kita bukan berhadapan dengan orang yang normal.  Kamu tidak akan bisa menebak metode apa yang akan mereka gunakan untuk mencelakaimu.”


“Apa?  Tuan Muda diincar oleh pembunuh bayaran?”  Wilda tak dapat menahan rasa khawatirnya dan berujar.


“Tenang saja.  Selama aku ada di sisinya, tidak akan ada satupun yang bisa menyentuhnya.”  Jawab Airi dengan percaya diri.

__ADS_1


“Nah, kita mulai saja prosesinya.”  Ucap Airi seraya turut melepaskan bajunya dan mengarahkan Wilda untuk duduk bersila kemudian turut duduk bersila di belakangnya.


“Cakra pada dasarnya adalah energi luar yang diperoleh kultivator dengan latihan-latihan menembus batas kemampuan fisik manusia selama bertahun-tahun.  Namun, kita sebagai anak sindrom pelangi telah dianugerahi cakra sejak kita dilahirkan.”


“Airi tahu kalau aku juga anak sindrom pelangi?”


“Ya, tentu saja.  Walaupun kamu mengenakan lensa mata untuk menyembunyikannya sekalipun, energi cakramu yang tidak terkontrol, membuat penyamaranmu sia-sia belaka.”


Mendengar itu, Wilda menunduk malu.  Airi tersenyum melihat hal itu.  Diapun berkata,


“Namun, setelah kamu mampu mengendalikan energi cakra di dalam tubuhmu itu, maka kamu akan mampu menyembunyikan kekuatanmu tersebut dengan sempurna.”


Tiba-tiba Kaiser merasakan sesuatu yang tidak benar di luar.  Namun, menyadari Airi yang memiliki insting yang lebih hebat darinya tidak menunjukkan reaksi apapun, Kaiser pun mengabaikannya setelah tahu itu bukanlah ancaman bagi mereka.


Namun, pandangan Kaiser tetap intens mengamati sesuatu dari balik pintu ruangan itu, terutama pada celah berbentuk persegi panjang yang tertutupi plat besi yang dapat dibuka tutup tersebut.


[Entah mengapa ada desain aneh pada pintu untuk ruangan senam itu?  Bukankah itu bisa menjadi spot yang sempurna bagi para tukang intip untuk menjalankan aksinya?]  Pikir Kaiser dalam hati.


Ternyata, insting Kaiser pun benar adanya.  Dari balik tembok, terdapat Andika, Beni, dan Loki yang baru saja mengintip mereka.


“Kaiser-kun, bisakah kamu melewatkan jam pelajaran ke-5?  Aku butuh waktu lebih banyak untuk menstabilkan cakra milik Wilda-san.”  Perkataan Airi tersebut lantas mengalihkan perhatian Kaiser.


“Tidak masalah Airi-san.  Kamu fokus saja membantu Wilda.”


“Ingat, Wilda-san, cakra itu adalah semacam benda abstrak yang tidak berwujud.  Namun, jika kita merasakannya baik-baik melalui mata batin kita, kamu akan dapat memproyeksikannya ke dalam bentuk virtual melalui pikiranmu.  Pejamkan matamu baik-baik.  Rasakan energi panas yang berkumpul di dalam dadamu.”


Airi pun terus memberikan instruksi kepada Wilda dengan mengalirkan energi cakranya kepadanya melalui sentuhan telapak tangannya ke punggungnya.


“Sekarang, apa yang kamu visualisasikan Wilda-san?”


“Sebuah gumpalan cahaya berwarna kuning yang tidak teratur?”


“Bagus.  Itulah yang dimaksud dengan cakra.  Rasakan aliran energi cakraku yang mengalir ke cakramu.  Kamu bisa merasakannya?”


“Iya, Airi, aku bisa merasakannya.  Ada aliran ungu turut bercampur di sekeliling gumpalan kuning itu.”


“Bayangkan bentuk bola sempurna lalu gunakan aliran cakraku sebagai alat pemahat untuk membentuk cakramu yang tidak beraturan itu ke dalam bentuk bola.”


“Baik, Airi…Aaaagh!”  Teriak Wilda kesakitan.


“Wilda, kamu baik-baik saja?”  Ujar Kaiser yang khawatir, namun tetap tak dapat memalingkan wajahnya ke belakang.

__ADS_1


“Tenang saja.  Ini memang terasa agak sakit, tetapi kamu harus bertahan melewatinya Wilda-san.  Bayangkan image bola dan gunakan aliran cakraku untuk mengasah cakramu.”


“Aaaaagh!”


“Wilda!”


“Kaiser-kun, tenanglah!  Kepanikanmu justru bisa membahayakan prosesi ini.”


“Maafkan aku.”


“Wilda, berjuanglah!”


“Aaaaaagh!”


“Baguslah, akhirnya berhasil.  Dengan ini, kamu dapat menyembunyikan kekuatanmu dengan sempurna.”  Ujar Airi seraya tersenyum pada Wilda.


“Terima kasih Airi.  Aku bisa merasakan kalau energi di dalam tubuhku kini lebih terkontrol.”


“Sama-sama, Wilda-san.  Ketika kamu bisa lebih menguasai aliran energi di dalam tubuhmu itu, maka kamu akan bisa segera terpromosikan ke level E.  Namun sayangnya, saat ini kamu tetap berada di level F.”


“Anu, bukankah sebaiknya kalian segera mengenakan kembali pakaian kalian.  Aku sedikit tidak nyaman di posisi ini.”  Ujar Kaiser yang menginterupsi obrolan mereka.


Mereka berdua pun lantas tertawa bersama.


***


“Hah, hah, hah, hah, hah.”  Andika, Beni, dan Loki, tampak terengah-engah setelah berlarian dari gedung olahraga kembali ke kelas mereka.


“Wanita itu, tidak salah lagi, berbahaya bagi Kaiser.”  Ujar Andika dengan penuh keyakinan.


“Apa yang salah?  Mereka kan sudah dewasa?”


“Apa yang kamu katakan, Beni?  Melakukan hal itu sebelum menikah, jelas adalah pelanggaran norma.”  Teriak Andika marah terhadap komentar Beni.


“Lantas, apa yang akan kamu lakukan?  Ingin memarahi Kaiser?”


“Pokoknya, aku akan menyelamatkan sahabatku dari jeratan rubah itu.”


“Kalian berdua tenanglah.  Hal itu tidak seperti yang kalian pikirkan.  Kamu dengar kan obrolan Airi pada Wilda di kelas sebelumnya?”  Ujar Loki seraya mencoba menenangkan Andika.


“Maksudmu obrolan tentang kultivator yang tidak masuk akal itu?  Itu kan cuma legenda.  Mana mungkin hal seperti itu benaran ada?”

__ADS_1


“Kamu salah Andika.  Mereka benar-benar ada.  Kamu tahu kan kalau keluargaku mengelola warisan ilmu silat asli dari leluhur kita?  Dari literatur yang aku baca pada warisan keluargaku itu, disebutkan bahwa untuk menstabilkan kanuragan seseorang dengan kanuragan milik orang lain, dibutuhkan sentuhan fisik secara langsung sehingga prosesi itu cenderung untuk membutuhkan kita bertelanjang dada.”  Loki pun menjelaskan.


__ADS_2