
Dengan langkah yang pasti, Dirga berjalan di antara tumpukan drum yang berisi minyak mentah tersebut. Wajahnya tersenyum dan begitu menunjukkan ekspresi kemenangan. Di tangannya, sebuah korek api siap untuk dinyalakan.
“Dengan begini, aku akhirnya dapat menggapai impianku untuk menjadi kultivator terhebat seantero nusantara. Hahahahaha!” Ujar Dirga disertai pekikan tawanya yang menggema.
“Cash!” Kemudian, dalam sekali jentikan pada korek api tersebut,
“Duarrrr!” Terjadilah ledakan dahsyat itu.
“Hahahahahaha!” Tawa Dirga menggema di antara kobaran api tersebut, setidaknya sampai api tersebut menyentuh kulitnya.
“Akkkh! Sakit! Tapi aku harus menahannya demi memperoleh tubuh kultivator yang kuidam-idamkan selama ini!” Ucap Dirga membulatkan tekadnya.
Namun,
“Akkkkh! Ayah! Ibu! Sakit! Tidak, sakit! Kumohon, ampuni aku! Aku tidak ingin mati! Kanzaki Kazuki sialan, kau menipuku rupanya! Ah…Tidak!”
Dalam kobaran api itu, Dirga tidak henti-hentinya mengumpat, menyesali keputusan bodohnya. Lalu beberapa saat kemudian, dia pun tewas hangus terbakar.
***
“Duarrrr!”
Walaupun berada di tempat yang cukup jauh, Dios dan Jey mampu melihat pemandangan kobaran api dahsyat yang berasal dari kediaman Isnandar tersebut yang sampai memerahkan langit yang kelam tersebut.
“Hoh\, kamu melakukannya dengan mencolok ya\, Kak Jey. Atau haruskah kupanggil kau Kak Zainal? Atau Kak Kazuki? Terima kasih berkatmu\, kerjaanku sedikit berkurang. Terus terang aku sedikit bingung bagaimana menyingkirkan parasit-parasit negara itu tanpa ketahuan ******. Kini justru perhatian mereka hanya akan teralihkan kepadamu.”
Ujar Dios yang sementara merasuki tubuh Loki dengan senyum jahat di wajahnya.
“Kamu, siapa kamu sebenarnya? Jangan mengaku-ngaku sebagai Dios! Dios saat ini sedang terbaring koma di rumah sakit. Mana mungkin dia itu kamu?! Lagipula, anak yang berjiwa keadilan sepertinya, mana mungkin tega tertawa di atas tumpukan mayat orang lain, sekalipun itu musuhnya sendiri!”
“Heh.” Mendengar hal itu, Dios pun tersenyum kecut.
[Number 1, bagaimana keadaanmu di sana? Apakah kamu bisa menghalangi sementara pergerakan para kultivator Amerika itu?] Dalam telepatinya, Dios berbicara kepada Number 1.
[Tenang saja, Number 2. Meski agak sedikit sulit, menahan mereka tidak masalah buatku.] Tampak tidak jauh dari menara Monas tersebut, seseorang yang diselubungi bayangan hitam yang tampak berambut panjang menjawab telepati Dios tersebut dari atas atap gedung.
Di hadapan sosok serbahitam tersebut, telah berdiri dengan waspada Arthur Peirriera alias Beni, Sandra Nolkin alias Nayla, serta Kurtiz Brain dengan senjata mereka masing-masing yang tampak siap menyerang.
[Bagus. Aku serahkan mereka padamu.]
Seraya mengatakan itu, Dios pun menyudahi telepatinya lantas tersenyum jahat ke arah Jey.
__ADS_1
“Kamu sendiri rupanya tahu kalau adikmu itu sangat membenci perbuatanmu itu, namun kamu tetap nekad melakukannya. Lantas pertanyaannya, semua itu apa benar-benar kamu lakukan untuk adikmu atau itu hanya sekadar kepuasan batinmu saja?” Dios pun berujar meledek Jey.
“Kamu, sudah kuduga kamu bukan adikku Dios.” Jawab Jey seraya menggertakkan giginya dengan marah.
“Salah lho Kak, aku benar-benar adikmu Dios lho. Tapi aku sendiri bingung apakah itu terhitung sebagai saudara tiri atau sepupuan? Soalnya ayah kita sama, tetapi masing-masing ibu kita bersaudara. Lantas disebut apa ya hubungan tersebut?” Dengan menampakkan ekspresi bingungnya, Dios mengembalikan pernyataan Jey tersebut.
“Kamu semakin membuatku bingung. Atau apakah ini hanya perang psikologis untuk mengacaukanku dalam petarungan?” Jey pun membalas senyum jahat Dios itu dengan senyum jahatnya pula.
“Padahal aku berkata benar lho. Aku memang adikmu, tetapi bukan adik seperti yang kamu pikirkan. Soalnya sebelas tahun yang lalu aku mengaktifkan kemampuan Mind Controlku secara global untuk menukar identitasku dengan Tuan Muda Kaiser.” Sekali lagi Dios menjawab.
“Apa maksudmu bertukar identitas dengan bocah sok polos itu?” Tampak Jey sekali lagi bertanya dengan kebingungan.
“Singkatnya, adik yang selama ini kamu cari-cari, adik yang ditebus oleh Pak Saikoji atas perintahku di pelelangan Swiss tersebut tidak lain adalah Tuan Muda Kaiser. Namun, beberapa hari setelah Tuan Muda Kaiser sampai di salah satu kediaman keluarga Dewantara di bagian cabang di mana aku tinggal waktu itu, aku mengaktifkan Mind Control-ku untuk menukar identitas kami.”
“Apa? Kaiser?”
Dalam sekejap, sekat bagai kabut yang selama ini menutupi sebagian ingatan Jey itu pun akhirnya tersingkap.
“Kak Jeinal, Kak Jeinal, ayo coba tangkap aku. Hehehehe. Katanya Kakak jago main petak umpat, kok belum bisa menangkapku?”
“Awas ya kamu, Bocah! Kamu terlalu meremehkanku.”
“Hahahahaha. Maafkan aku, Kak Jeinal. Sudah cukup. Hentikan.”
“Duh, kamu ini. Sampai kapan kamu akan memanggilku seperti itu. Sudah Kakak bilang kan, kalau nama Kakak itu Zainal.”
“Tapi, lidah-ku kan masih pendek Kak, jadi belum bisa bilang Jet.”
*“Baik. Baik. Kakak mengerti. Kalau begitu, cepatlah besar, adikkuKaiser.”*
“Akkkkh! Kenapa, kenapa selama ini aku melupakannya? Aku, aku hampir saja membunuh adikku dengan kedua tanganku sendiri.” Dengan linangan air mata, Jey pun terlarut dalam penyesalannya.
“Wajar saja kamu lupa soalnya aku melakukan Mind Control ke seluruh dunia. Kultivator di bawah level C akan terpengaruh oleh kemampuanku itu.” Jawab Dios dengan datar.
“Kenapa, kenapa kamu sampai melakukan hal itu? Kalau sebelas tahun lalu, bukankah waktu itu kamu masih bocah?! Mana bisa aku percaya kalau kamu sudah punya kekuatan yang dahsyat di usia belia itu?” Jey serta-merta berteriak tidak percaya akan perkataan Dios tersebut.
“Yah, mau percaya atau tidak percaya, itulah kenyataannya. Di usiaku yang kurang dari lima tahun, aku langsung terbangkitkan menjadi kultivator level C tepat di hari yang sama Tuan Muda Kaiser mengalami metamorfosis menjadi anak sindrom pelangi.”
Dios terdiam sejenak sebelum dia kembali melanjutkan.
“Kemudian mengapa aku sampai melakukan Mind Control secara global, tentu saja untuk mengembalikan segala apa yang seharusnya menjadi milik Tuan Muda Kaiser kepadanya. Sewaktu kami dilahirkan, kedua ibu kita telah melakukan hal yang jahat padanya. Dia menukarku dengan Tuan Muda Kaiser lantas memasukkannya ke panti asuhan, bahkan ketika Tuan Muda Kaiser diculik oleh Levovo, mereka sama sekali tak melakukan apa-apa.”
__ADS_1
Dios pun menjawab dengan detail setiap pertanyaan Jey tersebut.
“Apa? Apa-apaan semua ini?” Mendengar jawaban Dios itu, Jey pun mejadi tak berkutik lagi.
“Oh iya, kita beralih soal itu, ngomong-ngomong, mengapa Mind Control-ku padamu mengalami penyimpangan?” Dengan tampak heran, Dios menatap ke arah Jey dengan ekspresi penasaran.
“Apa maksud kamu?” Jey pun balik bertanya lantas balik menatap Dios dengan tatapan waspada.
“Soalnya ketika aku mengirim surat itu padamu di Filiphina sekitar 7 bulan lalu\, aku menerapkan Mind Control-ku agar kamu mengeliminasi pemilik kunci beserta kedelapan kunci sekaligus mengalihkan perhatian ****** padamu agar aku bisa lebih leluasa bergerak untuk menyusun rencana.”
“Apa-apaan… Jadi kamu yang mengirim surat itu…” Jey tampak bingung dengan perkataan Dios tersebut, namun Dios hanya melanjutkan.
“Sebenarnya, rencana awalku adalah mengeliminasi pemilik kunci dan kedelapan kunci sekitar setengah tahun lagi dari sekarang. Namun, kamu tahu, tiga dari kunci mulai dekat dengan Tuan Muda Kaiser dan jika ini dibiarkan, maka rencanaku itu akan dipastikan gagal. Jadi aku pun mempercpeat rencananya menjadi dua setengah tahun lalu.”
Dios dengan tubuh Loki itu tampak melangkah perlahan mendekati Kaiser yang pingsan dan Andika.
“Aku senang jika Araka dan Silva bisa berubah menjadi baik, tetapi mereka telah terlanjur menjadi kunci, jadi mau tidak mau aku harus menghabisi mereka.”
Sekali lagi Dios menarik dan menghembukan nafasnya sebelum kembali mulai berucap.
“Oleh karena itu, aku pun menerapkan Mind Control-ku kepada Kak Danial untuk menyusun rencana pembulian ini kepada diriku sendiri secara alami. Makanya jangan terlalu salahkan Kak Danial atas apa yang diperbuatnya. Memang begitulah adanya tipe orang yang bermental lemah seperti mereka, sangat mudah untuk dipengaruhi.”
“Kenapa, kenapa kamu sampai melakukan itu? Bukankah dengan kekuatanmu itu, kamu bisa menghabisi mereka sendiri?” Jey semakin penasaran dengan sosok Dios yang merasuki tubuh Loki di hadapannya itu.
“Seperti yang kukatakan barusan\, untuk menghindari perhatian ******. Lagipula\, jika aku salah sedikit saja dalam bertindak\, aku bisa kena lagi Chain of Command milik Tuan Muda Kaiser. Itu kemampuan yang sangat menakutkan lho. Dan yang membuatnya lebih menakutkan\, Tuan Muda Kaiser sendiri tidak sadar dalam mengaktifkannya.”
Tatapan Dios pun berubah menjadi jahat kepada Jey.
“Makanya, aku berencana setelah kamu melakukan tugasmu, aku akan mengeliminasimu dengan memanfaatkan Chain of Command milik Tuan Muda Kaiser. Tapi siapa yang menyangka kamu termasuk orang yang paling berharga baginya sehingga Chain of Command tidak berpengaruh padamu. Terus terang aku iri padamu karena Chain of Command sendiri berpengaruh padaku yang berarti aku bukanlah keberadaan yang cukup penting di sisi Tuan Muda.”
Ujar Dios seraya menampilkan tatapan sendu.
“Mari kita sudahi obrolan ini. Sekarang kita harus kembali ke pekerjaan. Terima kasih atas kerja kerasmu telah mengeliminasi pemilik kunci dan ketujuh kuncinya. Kini biarkan aku mengeliminasi sang kunci terakhir.” Ujar Dios seraya tatapannya berubah menjadi bengis.
“Sreeeeet!” Tanpa diduga-duga, dia mengayunkan pedang yang dibawanya yang telah dialiri cakra es-nya kepada Andika.
Akan tetapi, Jey dengan sigap menarik Andika beserta Kaiser yang pingsan dari tempat tersebut.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Jey dengan waspada.
“Bukankah sudah kukatakan? Tentu saja untuk mengeliminasi sang kunci terakhir.” Ujar Dios dalam tubuh Loki dengan tatapan bengis di matanya.
__ADS_1