
Mendengar rahasia terbesar mereka dibeberkan dengan lantang oleh sosok bertopeng itu, kedua kultivator tersebut lantas saling menatap satu sama lain. Mereka berdua tampak sangat resah.
Si mata sipit pun angkat bicara, “Apa kamu bermaksud menghina kami? Menghina kami sama saja menghina organisasi kami. Apa kamu tidak takut jika Trans ingin membalas dendam?”
“Hahahahaha!”
Sosok bertopeng itu pun tertawa keras seakan baru saja mendengar hal yang lucu.
“Kalian masih saja ingin berpura-pura menjadi manusia? Tentu saja, tanpa tubuh fisik itu, kalian tidak ada apa-apanya, wahai iblis dunia lain.”
Sosok bertopeng itu lantas melangkah perlahan, mendekat kepada kedua kultivator itu. Si mata sipit segera melayangkan cakarnya dengan dukungan tembakan kelereng angin dari si rambut jabrik dari jarak jauh. Namun, gerakan mereka kini lebih dapat diprediksi oleh sosok bertopeng perihal kondisi mereka yang berubah panik setelah mendengar ucapan sosok bertopeng.
“Ada 3 hal yang perlu dipenuhi dalam ritual perasukan. Pertama, ketersediaan wadah berupa tubuh manusia yang layak. Kedua, penanda untuk penumbalan. Ketiga, pemberi tanda yang berperan untuk melakukan ritual.” Ucap sosok bertopeng sekali lagi.
“Hiaaakh!”
Si mata sipit tak dapat menahan lagi kesalnya dan menyerang sosok bertopeng dengan brutal, tetapi membabi buta sehingga dengan santai sosok bertopeng dapat menghindari serangannya yang sederhana, sementara si rambut jabrik tak dapat memberikan dukungan optimalnya perihal takut jika sampai peluru kelerengnya malah mengenai rekannya sendiri.
Sosok bertopeng lantas tersenyum bengis sekali lagi seperti layaknya senyum ditopengnya yang telah hilang oleh serangan si rambut jabrik. Dia kemudian mengganti senyum bengis itu dengan tatapan tajam. Mata birunya berkilau oleh matahari senja.
“Mata sipit, mundur!”
Mendengar teriakan rekannya, mata sipit spontan mundur dan mensejajarkan posisinya dengan rambut jabrik.
“Kalian sampai menciptakan ‘bencana pelangi’ yang membuat kami sampai memiliki tubuh yang aneh seperti ini.” Ucap sosok bertopeng itu dengan marah.
Kedua kultivator itu pun tersentak kaget karena mengetahui rahasia mereka telah diekspos oleh sosok bertopeng itu. Melihat itu, sosok bertopeng tersenyum seolah-olah apa yang ditunggu-tunggunya akhirnya tiba.
Dia dengan secepat kilat telah berada tepat di depan mata kedua kultivator itu. Matanya tiba-tiba bersinar biru terang secerah berlian. Kedua kultivator itu pun secara mendadak memiliki pandangan mata yang kosong.
Sosok bertopeng yang tidak lain adalah pembunuh berantai itu kemudian membisikkan sesuatu kepada mereka.
“Bantailah orang-orang yang menyuruh kalian hingga tidak bersisa.”
__ADS_1
Kedua kultivator itupun lantas meninggalkan lokasi tanpa perlawanan lagi, meninggalkan sosok bertopeng yang tersenyum bengis di sana.
Bersamaan dengan perginya kedua kultivator itu, tiba-tiba muncul sesosok aneh yang seluruh tubuhnya tertutupi oleh bayangan hitam. Hal yang dapat dilihat dengan jelas hanyalah rambutnya yang panjang tenjuntai.
Pembunuh berantai itu segera menoleh ke arah sosok misterius itu dan dengan cepat meningkatkan kewaspadaannya.
Kumpulan bayangan hitam pun menggeliat di bawah kaki pembunuh berantai. Dengan sigap pembunuh berantai melompat untuk menghindari cengkeraman tentakel-tentakel dari bayangan hitam itu.
“Siapa kamu? Apa tujuanmu melakukan ini semua?” Ujar sosok misterius itu. Dari suaranya, tampak dia adalah seorang wanita.
“Bukankah tidak sopan untuk bertanya tentang identitas seseorang sebelum memperkenalkan diri terlebih dahulu?” Ujar pembunuh berantai seraya tersenyum bengis di balik topengnya yang kini hanya menutupi wajah bagian atasnya sambil dengan lihai menghindari setiap jeratan tentakel-tentakel dari bayangan hitam.
“Aku takkan pernah membiarkanmu mengganggu Tuan Muda.” Ucap sosok misterius sekali lagi.
“Puaaakh!”
Salah satu tentakel bayangan hitam akhirnya berhasil mendaratkan tinjunya ke perut pembunuh berantai itu.
“Aaaaakh!”
***
“Kaiser! Kaiser! Kamu baik-baik saja?” Ujar Airi dengan panik seraya mengguncang-guncangkan tubuh Kaiser.
“Hei, bodoh! Apa yang kamu lakukan? Jika kamu berbuat seperti itu, Kaiser akan bertambah mual. Ayo segera bawa dia ke salah satu ruangan rumah sakit ini.” Ujar Lu Shou untuk menyadarkan Airi agar lebih tenang.
“Baiklah.” Jawab Airi dengan merasa bersalah.”
“Ayo, bantu aku untuk memapahnya.” Perintah Lu Shou kepada Airi.
“Aaaaakh!”
Sekali lagi Kaiser memuntahkan darah lewat mulutnya dan diapun kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
“Kaiseeeeeer!” Teriak Airi yang semakin panik.
Karena saking kencangnya teriakan Airi, Danial dan perawatnya dapat mendengarkannya dari ujung lorong. Mendengar nama Kaiser disebutkan, Danial lantas berlari kencang dengan panik menuju ke arah sumber suara tersebut.
“Adek? Ada apa dengan adikku?” Ujar Danial yang turut panik.
“Tenanglah, dia sehat. Tempat tidur, baringkan dia. Butuh istirahat.” Lu Shou walaupun dengan terbata-bata mengucapkan bahasa Indonesia, berusaha menenangkan Danial.
Sang perawat pun segera mengambil inisiatif memapah Kaiser. Dengan bantuan Shinomiya Airi yang lantas digantikan oleh Lu Shou secara paksa, Kaiser pun dibawa menuju kamar Danial untuk dibaringkan ke tempat tidur di ruangan tersebut.
***
“Slak, slak, slak!” Dengan sigap, pembunuh berantai menggunakan katana pendeknya untuk memotong tiap tentakel bayangan hitam yang mendekatinya. Tentakel bayangan hitam pun kemudian datang dari tiga arah titik buta pembunuh berantai. Tetapi seolah mampu melihatnya, pembunuh berantai itu mampu menghindari ketiganya dengan lihai.
“Hei, bukankah ini saatnya kamu memperkenalkan dirimu? Dinilai dari perkataanmu, kamu tampak sangat menyayangi Tuan Muda itu. Dari suaramu, kamu tampak seperti seorang gadis muda. Apakah mungkin kamu bagian dari Kaiser Fan’s Club?” Ujar pembunuh berantai itu dengan tetap sigap memotong tiap tentakel bayangan hitam yang datang dari arah depannya dan menghindari tiap tentakel bayangan hitam yang datang dari arah lainnya.
Sosok misterius itu tak menunjukkan perubahan ekspresi yang signifikan, tetapi menambah intensitas gencarnya serangannya yang membuat pembunuh berantai itu semakin kewalahan.
“Mungkin sudah waktunya kita akhiri pertemuan ini dulu. Sampai jumpa lagi.” Ucap si pembunuh berantai seraya menjatuhkan dirinya dari atas gedung tempat mereka bertarung.
Pembunuh berantai itu lantas tersenyum bengis sambil terjatuh ke bawah. Sosok misterius memperhatikan baik-baik tubuh pembunuh berantai yang terjatuh. Namun, begitu hampir sampai di tanah, dia menembakkan sesuatu yang ternyata adalah sejenis tali pengait yang membuatnya tersangkut di dinding gedung.
Pembunuh berantai itupun segera melarikan diri. Tampak ekspresi marah dari balik tirai bayangan hitam dari sosok misterius itu.
***
Dari luar ruangan, tampak suara langkah yang berlari. Rupanya dia adalah Agni, asisten Kaiser.
“Maaf, saya terlambat. Bagaimana dengan kondisi Tuan Muda?” Tanya Agni panik yang segera menuju ke lantai paling atas rumah sakit dengan kelabakan setelah mengetahui kondisi tuan mudanya lewat telepon.
“Duh, Agni. Kamu ke mana saja? Kok setelah 8 kali panggilan, baru teleponmu kamu angkat?” Ujar Ibu Suster yang bertugas merawat Danial di rumah sakit itu dengan sedikit kesal pada Agni yang mengabaikan teleponnya.
“Maaf Bu, tiba-tiba perut Agni sakit pas sampai di rumah sakit. Agni lama di toilet tadi.” Jawab Agni dengan polos terhadap pertanyaan suster itu.
__ADS_1
“Makanya Agni harus ke toilet sebelum keluar rumah.” Ujar Lu Shou dengan nada yang sedikit menyebalkan yang walaupun belum mahir berbahasa Indonesia, tidak melewatkan kesempatan untuk membuat orang lain kesal.
Agni pun menjadi kesal dengan ucapan Lu Shou. Tiba-tiba pandangan Lu Shou berubah sedikit intens kepada Agni. Lu Shou mengamati Agni dengan seksama.