DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
52. Senyuman Terakhir Araka


__ADS_3

Pembunuh berantai itu lantas berucap.


“Padahal aku sedikit berharap pada seseorang yang berlatih martial art.  Tetapi yang namanya orang biasa tetap saja orang biasa.  Sama sekali tidak membuatku terhibur sedikit pun.”


Mata biru Sang Pembunuh Berantai lantas bersinar biru dengan terang sambil menatap wajah Araka yang sekarat di balik topeng pierrot putihnya itu.


Araka tersentak kaget karena dia kenal dengan suara itu.  Tetapi tak berapa lama kemudian dia pun tersenyum.


Sang Pembunuh Berantai yang nampak tidak puas dengan ekspresi Araka lantas membuka topengnya dan menatap tajam disertai intimidasi kepada Araka.  Nampak wajah Araka pun semakin puas.  Dia merasa lega bahwa pembunuh berantai itu bukanlah pahlawannya.


“Syukurlah itu bukan kamu Kaiser.  Pahlawanku memang tak akan pernah melakukan hal yang sekeji itu.”


Dia lantas meraba-raba sekeliling kemudian mengambil foto berenam di mana dia dan Kaiser berfoto bersama.  Dia menggenggam erat foto itu seraya menangis.  Lambat laun kesadaran Araka pun memudar.  Tak berapa lama kemudian, dia pun mengembuskan nafas terakhirnya tepat di pukul 00.01 malam.


***


Kaiser yang sedari tadi berada di teras bangunan bekas masjid itu rupanya telah tergeletak pingsan.  Hidungnya mengeluarkan darah.  Dia tak dapat menahan amarahnya akibat kontradiksi di pikirannya yang akhirnya membuat pikirannya tertekan dan dia pun jatuh pingsan.


Di satu sisi, dia sangat membenci Araka karena telah membuat sahabatnya yang paling berharga menderita koma.  Tetapi di sisi yang lain, dia juga memiliki kenangan yang berharga dengan seniornya itu karena Arakalah yang menjadi panitia pengarahnya dalam mengenal lingkungan sekolahnya sewaktu masa orientasi siswa di SMP.  Di awal-awal masuknya dia di SMP Puncak Bakti, Arakalah yang senantiasa memberikannya masukan ketika dia kebingungan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru.


Semarah-marahnya Kaiser pada seniornya itu bahkan dia sering mengutuk seniornya itu untuk mati saja, itu hanyalah sekadar perkataan yang dia tidak ingin itu benar-benar terjadi.  Dia tidak ingin sampai pembunuh berantai itu menghabisi nyawa seniornya itu.  Apalagi yang paling ironis, jika alasannya dikait-kaitkan dengan sahabatnya yang sampai sekarang masih terbujur koma.

__ADS_1


Pukul 00.34 malam, akhirnya Kaiser kembali siuman.  Dia seraya mengambil smartphone yang tergeletak di sampingnya.  Ada 61 panggilan tak terjawab.  Sebanyak 41 dari ayahnya, 14 dari ibunya, dan 6 dari sebuah nomor yang tak dikenal.  Dia lalu mengucek-ucek matanya untuk memperbaiki perasaannya.


Tiba-tiba, jantung Kaiser berdetak dengan perasaan yang tidak enak.  Terasa perasaan mengganjal di hatinya semacam firasat.


“Senior Araka, tidak mungkin kan pembunuh berantai itu mendatangimu sekarang?”


Kaiser yang merasakan firasat tidak enak segera berlari menuju vila milik Araka yang terletak di jalan menanjak dikelilingi pepohonan lebat sejauh 200 – 300 meter dari posisinya sekarang.


“Wuuush!”


“Sreeeek!”


“Siapa kamu?”


Kaiser berusaha mencari tahu siapa sosok misterius itu, tetapi Sang Sosok Misterius sama sekali tidak mengeluarkan kata apapun.  Dia hanya menatap Kaiser dengan mata birunya itu.


Kaiser segera menjaga jarak dari sosok misterius sambil memperhatikannya dengan seksama.  Dilihatnya penampilan yang mengenakan pakaian ketat serba hitam dengan penutup kepala hitam serta topeng pierot putih berwajah bengis.  Matanya biru sebiru matanya, tetapi sosok misterius itu jauh lebih tinggi darinya berkisar 180 – 185 cm.  Namun, dia tidak dapat melihat dengan jelas proporsi tubuh sosok misterius itu karena terhalang oleh gelapnya malam yang hanya diterangi oleh bulan dan bintang sementara sosok misterius itu juga mengenakan pakaian yang serba hitam.  Tapi yang jelas sosok misterius itu bukanlah orang yang gemuk dan bukan pula orang yang kurus kerempeng.


Setelah beberapa saat, Kaiser mulai menyerang.  Dia berlari sambil mengayunkan tinju kirinya yang terlihat lemah.  Sosok misterius itu tampak meremehkan pukulan Kaiser dan membiarkan dirinya terbuka untuk menerima serangan itu.  Di luar dugaannya, pukulan Kaiser itu sangat jauh lebih kuat dari perkiraannya.  Terlihat sosok misterius itu sangat kesakitan dengan memegang perut yang dihajar oleh Kaiser tersebut.


Seolah tidak memberikan kesempatan kepada sosok misterius berpikir, Kaiser melanjutkan serangan keduanya dengan melayangkan kaki kirinya.  Sosok misterius segera menghindari serangan itu, tetapi ternyata itu hanyalah tipuan dari Kaiser.  Kaiser segera bersalto dan melayangkan kaki kanannya untuk mengenai belakang kepala sosok misterius dengan tumit kanannya.

__ADS_1


Sosok misterius tidak sempat menghindarinya dan jadilah serangan cantik itu membuat efek yang besar pada sosok misterius itu.  Sosok misterius itu jatuh berlutut, tetapi dia menggunakan kedua tangannya untuk menopang dirinya agar tak sampai tersungkur di tanah.


Kaiser pun melancarkan serangan ketiganya dengan berlari ke arah sosok misterius itu dengan tampak siap melayangkan tinju kirinya ke arah bawah mengenai sosok misterius itu.  Tetapi apa yang menunggunya adalah dengan liciknya sosok misterius itu mengeluarkan alat semprot berisi obat bius dan menyemprotkannya ke wajah Kaiser.  Kaiser pun kehilangan keseimbangan.  Dia pun sekali lagi jatuh pingsan.


“Tidak kuduga kamu lebih hebat dari penampilanmu Tuan Muda.  Tapi kamu tidak boleh pergi ke tempat itu sekarang.  Aku sudah menyiapkanmu panggung yang lebih mewah untuk menjadi pemeran utama dari tragedi ini wahai jokerku.”  Ucap Sang Sosok Misterius seraya menggendong Kaiser dengan ala putri dalam dongeng dengan mudahnya seolah Kaiser adalah kapas yang sangat ringan.


***


Pukul 01.30 di malam yang sama, tampak Pak Lucias, Bu Nana, Nenek Nafisah, Bi Markonah, dan Halim mencari-cari ke setiap sudut kampung keberadaan Kaiser.


“Sayang, bagaimana ini?  Anak kita belum ketemu.”  Ucap Bu Nana dengan panik sambil menangis di pelukan suaminya.


“Untuk saat ini, aku sudah menguhubungi teman-temanku di SMA dan juga di organisasi pemuda desa dan mengirim foto Kaiser kepada mereka untuk membantu mencarinya.  Kaiser pasti akan segera ditemukan.  Jadi sebaiknya Tante istirahat saja dulu.  Ini sudah malam dan tampaknya Tante tidak bisa lagi banyak jalan dengan kaki Tante yang berdarah itu.”  Ujar Halim berusaha menenangkan Bu Nana.


“Nak Halim benar Sayang.  Apa yang menurutmu putra kita akan pikirkan jika justru kamu sampai sakit karena mencarinya?  Dia pasti akan sangat sedih.  Jadi mari kamu pulang dulu bersama ibumu dan Bi Markonah.  Biarkan aku yang lanjut mencarinya bersama dengan warga sekitar.”  Tambah Pak Lucias berusaha menenangkan istrinya.


“Itu benar Nak.  Mari kembali ke rumah dulu agar pikiranmu lebih jernih.  Siapa tahu dengan itu, akan membantumu untuk mengingat kira-kira tempat mana yang akan dikunjungi Kaiser malam-malam begini sehingga kita bisa lebih mudah menemukannya.”  Tambah Nenek Nafisah untuk menenangkan putrinya yang panik itu.


Akhirnya dengan berbagai bujukan, Bu Nana kembali bersama ibunya dan Bi Markonah ke rumahnya, menyisakan Pak Lucias dan Halim untuk bergabung bersama dengan warga lainnya untuk mencari keberadaan Kaiser.


Namun, sampai bunyi adzan subuh, keberadaan Kaiser belum juga ditemukan.

__ADS_1


__ADS_2