
Sebenarnya, apa arti saling menyakiti di antara sesama manusia? Kita dilahirkan setara. Sama-sama keluar dari perut ibu kita dalam keadaan telanjang tanpa sehelai pakaian pun.
Mengapa kerap kali orang-orang saling mengotak-ngotakkan antara satu sama lain? Antara si kaya dan si miskin. Antara si konglomerat dan si rakyat jelata. Antara penguasa dan yang tertindas. Antara yang lemah dan yang kuat. Tak bisakah kita saling memahami satu sama lain walaupun berbeda?
Mengapa perbedaan seringkali menyebabkan konflik? Bahkan terkadang mereka tak segan-segan untuk saling menumpahkan darah karenanya. Dunia yang sungguh aneh. Aku sama sekali tidak bisa memahaminya.
Apakah aku yang salah terlahir di dunia ini? Tidak. Sejak awal dunia adalah tempat yang damai. Konflik di antara manusia-lah yang menyebabkan situasi ini. Jika demikian, mengapa aku tidak berusaha memperbaikinya saja?
Seandainya aku punya kekuatan untuk mengubah dunia yang aneh ini, tentu sahabatku Dios dan juga Senior Araka tidak perlu mengalami nasib yang malang sejak awal.
Di antara pohon-pohon yang kerdil dan bernuansakan merah oleh bunganya itu, Kaiser duduk di tengah-tengah melalui bangku taman yang dicat hitam. Dia tampak memikirkan sesuatu. Ekspresi sendunya yang khas berbalut busananya yang serba putih membuatnya tampak seperti pangeran di dalam dongeng.
“Nak Kaiser.” Panggilan Kapten Danielo seraya membuyarkan Kaiser dari lamunannya.
Kaiser tersenyum menyambut panggilan hangat dari Kapten Danielo itu. Di sisi Kapten Danielo, juga tampak telah siap ayah, ibu, serta neneknya untuk memasuki ruangan setelah memahami dengan seksama instruksi dari Kapten Danielo.
Kaiser pun dengan didampingi oleh ayah, ibu, dan neneknya serta Kapten Danielo memasuki ruangan kepala desa setempat. Di dalam ruangan, telah berkumpul beberapa petugas polisi dengan didampingi oleh Sang Kepala Desa. Petugas polisi yang hadir kala itu ada Dono, Mono, dan Bianca serta tampak 4 wajah asing lagi. Dengan masuknya Kaiser beserta rombongan, total yang hadir di dalam ruangan berjumlah 13 orang. Terdapat banyak wartawan yang berkerumun di luar, tetapi dapat dipastikan bahwa ruangan kedap suara sehingga apapun yang mereka obrolkan di dalam, tidak akan sampai terekspos ke media massa.
Bianca dan Mono-lah yang pertama kali menyambut Kaiser dan rombongan termasuk kaptennya. Di dalam ruangan, juga nampak Dono yang sedang duduk yang berusaha mengalihkan pandangannya dengan kesal dari Kaiser.
“Silakan masuk.” Sang Kepala Desa pun mempersilakan rombongan masuk. Pak Luciaslah yang menyambut ramah-tamah Sang Kepala Desa dan menggiring rombongan ke tempat duduk masing-masing.
__ADS_1
Setelah semuanya duduk di dalam ruangan dan dipastikan pula semuanya memperoleh hidangan, Sang Kepala Desa pun turut undur diri, menyisakan 12 orang di dalam ruangan. Forum pun dimulai dengan beranggotakan 12 orang.
“Sebelumnya, saya selaku kapten tim 3 dari kepolisian pusat divisi penanganan kriminal berat mengucapkan terima kasih atas kesediaan Nak Kaiser bekerja sama dengan pihak kepolisian dalam mengusut kasus ini walaupun tanpa persiapan yang layak.” Ucap Kapten Danielo dengan sangat sopan.
“Kami juga dari tim 2 mengucapkan rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya.” Salah seorang di antara para polisi itu yang tampak tertua kedua setelah Kapten Danielo juga ikut berucap.
“Sama-sama Pak. Sebagai warga yang baik, sudah seharusnya saya membantu polisi sebisa saya.” Ucap Kaiser seraya tersenyum ala pangerannya. Semua polisi tampak ramah dan menyambut baik Kaiser, kecuali satu orang yang terus-terus saja dengan sengaja menunjukkan gelagat tidak sukanya. Siapa lagi kalau bukan Dono.
Kaiser pun mulai menceritakan setiap kronologis kejadian yang dialaminya mulai dari dia ditelepon oleh Araka dan secara kebetulan bertemu dengannya di bangunan bekas masjid, sampai dia disergap oleh sosok misterius kemudian diserang dengan gas bius lalu pingsan.
Kaiser juga memberikan deskripsi sebisa dia tentang sosok misterius yang diduga pelaku pembunuhan berantai di mana orang itu juga memiliki warna mata yang biru cerah seperti dirinya, salah satu warna ciri khas sindrom pelangi, memiliki tinggi berkisar 180 – 185 cm, kidal dari cara dia menyemprotkan gas bius, memiliki badan ideal di mana pelaku itu tidak gemuk, tidak kerempeng, dan tidak pula buncit, diduga seorang pria dari bentuk dadanya saat dia memakai pakaian ketat, serta menggunakan kostum pakaian serba hitam ketat dengan penutup kepala hitam serta topeng pierot putih yang tersenyum bengis.
“Maaf menyela Saudara Kaiser. Apakah Anda yakin kalau tinggi sosok misterius itu berkisar 180 – 185 cm?” Mono yang selama penyelidikannya menduga bahwa pelaku adalah orang yang lebih pendek dari korban berdasarkan bekas goresan luka di leher masing-masing korban, mau tidak mau bertanya.
“Apakah Anda sempat bertarung dengan sosok misterius itu?” Salah seorang di antara wajah polisi yang asing itu mengajukan pertanyaan.
“Ya.” Jawab Kaiser singkat. Walaupun singkat, hal itu serta-merta membuat ruangan menjadi riuh.
“Bagaimana cara Anda menghadapinya. Saya lihat Anda sama sekali tidak terluka.” Salah seorang polisi yang asing lainnya ikut mengajukan pertanyaan.
“Kalau diperhatikan, itu mungkin karena kelengahan orang itu. Saya lihat di sabuknya dia membawa sebilah katana [10] yang panjangnya lebih pendek dari katana lazimnya. Di sepatu kirinya juga tampaknya ada senjata rahasia dilihat dari bercak darahnya.”
__ADS_1
Mendengar ucapan ‘katana yang lebih pendek dari lazimnya’ serta ‘senjata rahasia di sepatu’, mata Mono seketika terbelalak. Dia akhirnya memahami misteri mengapa luka korban di Sungsin Security seperti itu walaupun tubuh pelakunya tinggi.
“Tetapi dia hanya menyerangku dengan tangan kosongnya. Dari awal, mungkin tujuannya hanya untuk menghambatku atau membuatku pingsan saja. Tampaknya dia cukup lengah dengan penampilanku sehingga pertahanannya cukup terbuka sehingga aku dengan mudah mengalahkannya.”
Mendengar Kaiser mengalahkan seseorang yang diduga pelaku itu membuat suasana kembali riuh seakan tak percaya atas ucapan Kaiser melihat tubuhnya yang seperti itu. Namun, mereka tidak tahu saja, di balik pakaian yang menutupi tubuh Kaiser yang rupawan dan tidak terlalu tinggi itu, terdapat badan berotot yang ideal walaupun tidak sampai six pack, tetapi cukup untuk mahir dalam melakukan beladiri.
“Seandainya aku tidak lengah di akhir, mungkin saja aku bisa menangkap sosok misterius itu.” Tambah Kaiser seraya menunjukkan ekspresi menyesal.
“Terima kasih Dek Kaiser. Informasimu ini akan sangat berharga dalam menangkap pelaku.” Kali ini giliran satu-satunya perempuan dalam anggota polisi itu yang berbicara sambil tersenyum ramah, dialah Bianca.
Kaiser membalas senyuman itu juga dengan senyum, senyum ala pangerannya. Seketika jantung Bianca sedikit berdetak tidak normal. Diapun segera menunduk untuk menyembunyikan salah tingkahnya itu.
“Yah, itu kalau kamu jujur. Tapi darimana kami bisa yakin bahwa apa yang kamu sampaikan itu benar. Mana buktinya? Jangan-jangan ini semua hanya rekaanmu semata untuk menyembunyikan kebejatan perbuatanmu sebagai pelaku yang sebenarnya.” Ujar Dono dengan nada meremehkan.
Pak Lucias seraya naik pitam. Dia bersiap untuk mengumpat, tetapi segera ditahan oleh putranya sambil Kaiser tetap mempertahankan senyum ramahnya.
Namun, justru Pak Danielo-lah yang segera melayangkan tendangan sadis kepada Dono dan mengusirnya keluar. Ketujuh polisi yang tersisa di dalam ruangan, lantas tertawa dengan canggung untuk menutupi suasana.
Polisi tertua kedua-lah yang kembali membuka suara.
“Mungkin sudah waktunya kita memperlihatkan foto yang digenggam oleh korban di saat terakhirnya.”
__ADS_1
“Baik Pak.” Polisi terakhir yang selama ini tidak mendapatkan giliran membuka suara, akhirnya mampu bersuara juga.
NB: [10] Pedang khas Jepang