
Perpustakaan Sekolah Angkasa Jaya terdiri dari dua gedung. Salah satunya terletak di tenggara di dekat gedung olahraga dan satunya lagi terletak di barat laut dekat gedung kesenian.
Untuk perpustakaan gedung tenggara, lantai satu diperuntukkan untuk buku-buku umum dan tempat akses perpustakaan online, sementara lantai dua diperuntukkan untuk buku-buku sains.
Sedangkan untuk perpustakaan gedung barat laut, lantai satu diperuntukkan untuk buku-buku sosial dan lantai dua diperuntukkan untuk novel fiksi dan non-fiksi.
Berbeda dengan perpustakaan gedung tenggara, perpustakaan gedung barat laut tidak terlalu terkenal bahkan di kalangan anak-anak IPS yang bersebelahan di perpustakaan itu.
Hal ini karena mereka lebih senang untuk datang ke bagian perpustakaan online untuk mengakses buku secara online di perpustakaan gedung tenggara.
Saking langkanya pengunjung di perpustakaan gedung barat laut, anak-anak kelas satu yang baru masuk, jarang yang mengetahui ada dua gedung perpustakaan di sekolah mereka.
Dan di sinilah Kaiser dan Andika berjalan dengan susah payah dari gedung olahraga, melewati gedung perpustakaan tenggara, mengitari area kelas 1, lalu ke area kelas IPS, hingga pada akhirnya sampai di bagian perpustakaan gedung barat laut yang terletak di bagian barat laut sekolahnya.
“Ah letihnya! Akhirnya sampai juga.” Keluh Andika yang tampak kelelahan.
“Maaf, maaf, senin lusa nanti, aku traktir kamu makan di mall sebagai gantinya deh. Hehehehe.” Ujar Kaiser dengan tertawa kecil yang tampak nakal menanggapi keluh Andika itu.
“Hah, minggu depan kita UTS kan? Jadi, aku pas dulu deh jalan-jalannya. Aku mau fokus belajar dulu.” Keluh Andika seraya menegakkan kembali tubuhnya dan berjalan mendahului Kaiser lalu membuka pintu perpustakaan.
“Hehehehe.” Kaiser tertawa nakal menanggapinya dan ikut memasuki perpustakaan di belakang Andika seraya menutup pintu perpustakaannya.
Begitu memasuki pintu perpustakaan, tiba-tiba di hadapan mereka tampak berlari-lari kecil seorang gadis berkacamata yang mengenakan seragam sekolah mereka.
“Permisi Mbak. Mbak, penjaga perpustakaan kan? Kami mau pinjam buku.” Kaiser mencegat penjaga perpustakaan itu yang telah membuka pintu perpustakaan dan hendak pergi.
“Oh Dek Kaiser. Maaf Dek, Mbak hari ini buru-buru pulang lebih awal. Mbak baru saja menerima kabar kalau Adik Mbak kecelakaan.
“Oh, maaf Mbak karena telah mencegat Mbak.” Ucap Kaiser kepada Sang Penjaga perpustakaan seraya menunjukkan ekspresi simpati.
“Semoga Adik Mbak baik-baik saja.” Lanjut Kaiser.
“Terima kasih Dek Kaiser. Oh iya, Adek bisa tulis sendiri nanti buku yang dipinjamnya di buku catatan di laci meja. Laci mejanya tidak dikunci kok. Kemudian setelah itu Adek sisa menulis bon pinjamannya sendiri pada kertas bon yang terletak di atas meja.
__ADS_1
Lalu nanti Adek bawa bon itu bersamaan dengan buku yang Adek pinjam ke perpustakaan tenggara di lantai satu untuk discan. Maaf ya Dek karena Mbak buru-buru. Mbak pergi dulu ya.” Ujar sang Mbak penjaga perpustakaan dengan tergesa-gesa.
“Oh iya Mbak. Hati-hati di jalan.” Ujar Kaiser kepada Mbak penjaga perpustakaan yang tampak telah membelakanginya.
Sang Penjaga perpustakaan lantas pergi dengan buru-buru. Kaiser melambaikan tangan kanannya pada penjaga perpustakaan yang akhirnya menghilang di ujung jalan. Kaiser lantas kembali membuka pintu perpustakaan dan masuk ke dalamnya.
“Kreak.” Suara pintu tertutup.
Kaiser melangkah ke dalam dan menemukan Andika duduk di salah satu kursi panjang di lantai 1 perpustakaan dengan membaringkan kepalanya di meja panjang di depannya.
Andika yang menyadari suara langkah kaki Kaiser seraya bangun.
“Kaiser, tampaknya kamu kenal dengan baik ya penjaga perpustakaannya?” Ujar Andika seraya menggosok-gosok kedua matanya.
“Oh, iya benar. Soalnya aku sudah beberapa kali ke sini tuk pinjam novelnya.” Jawab Kaiser dengan penuh percaya diri seraya tersenyum nakal.
Andika yang masih menggosok-gosokkan matanya lantas menguap. Dia kemudian menggerak-gerakkan badannya yang pegal lantas berdiri mendekat ke Kaiser.
“Kamu pasti sangat suka ya dengan novelnya. Aku jadi penasaran juga ingin baca.” Ujar Andika seraya tertawa kecil.
Merekapun menaiki lantai 2 perpustakaan dan segera menghampiri rak buku keenam, tempat novel fantasi berada.
“Ini dia novelnya.” Kaiser memperlihatkan dengan raut wajah senang novel itu kepada Andika.
“'Aku Terdampar di Dunia Paralel dan Tidak Bisa Pulang, Lalu Aku Membangun Kerajaanku Sendiri di Sini dari Nol Volume 16’. Wah, judulnya panjang sekali. Rupanya kamu suka novel yang seperti ini ya Kaiser.”
“Ya. Aku sudah mulai membaca novel ini sejak kelas 2 SMP. Bagiku, novel ini bagai penyemangatku. Sang Tokoh Utama membangun kerajaannya sendiri dari nol dengan mengandalkan pengetahuannya. Menstimulasi orang-orang di sekitarnya untuk mengikutinya. Memimpin mereka ke kehidupan yang lebih baik.
Aku sangat mengaguminya. Kamu tahu, aku punya cita-cita untuk membuat orang-orang di sekitarku untuk memahami idealismeku untuk mewujudkan dunia ideal yang tanpa tindak kekerasan seperti tokoh utama di novel ini.” Ujar Kaiser menceritakan sendiri dirinya dengan senyum cerah di wajahnya.
“Aku harap dengan begitu tidak ada lagi orang-orang yang akan dibuli entah karena faktor ekonomi, status sosial, dan semacamnya. Sehingga tidak ada lagi orang-orang yang akan bernasib malang seperti Dios.” Raut wajah Kaiser yang ceria mendadak menjadi melankolis setelah mengatakan hal itu.
Andika menatap Kaiser dalam-dalam. Dia kemudian menyentuh pundak sahabatnya itu seraya berkata, “Aku harap, aku juga bisa melihat dunia yang kamu inginkan itu, Kaiser.”
__ADS_1
Kaiser tersenyum secara melankolis atas jawaban Andika itu.
Mereka kemudian berjalan menuruni anak tangga, mengisi buku catatan peminjaman di laci meja dan bon di atas meja, kemudian bergegas keluar untuk kembali ke perpustakaan gedung tenggara. Betapa kagetnya mereka ketika mendapati pintu telah terkunci.
“Ada apa Andika?”
“Kaiser, kayaknya pintunya macet. Bisakah kamu ke sini dan mencoba membukanya?”
“Sini, biar kucoba. … Aaaaakh! Tetap tidak bisa terbuka. Jangan bilang pintunya terkunci.”
Wajah Andika mendadak kaget mendengar kata pintu yang terkunci.
“Lantas bagaimana kita bisa keluar?”
“Jangan khawatir. Kita coba berteriak minta tolong dulu.”
“Tolong!”
“Tolong!”
Mereka berdua berteriak sekuat tenaga untuk meminta tolong, tetapi tampaknya usaha mereka sia-sia tidak ada yang mendengarkan mereka.
Andika yang kelelahan tak dapat menahap uap kantuknya.
“Uaaaaph! Maaf Kaiser. Tampaknya aku sedikit lelah. Biarkan aku istirahat sebentar.”
“Tentu saja Andika. Kamu istirahatlah di kursi baca dulu. Biar aku yang menangani di sini.”
Andika lantas duduk di salah satu kursi panjang di perpustakaan tersebut dengan membaringkan kepalanya di meja panjang di depannya. Tanpa disangka-sangkanya, Andika pun tertidur. Sebuah jam dinding tepat berada di atas kepalanya. Waktu menunjukkan pukul 16.45.
“Andika.” Ucap Kaiser pelan yang mendapati keanehan karena mendadak tidak mendengar suara Andika.
Diapun mendapati sahabatnya itu telah tertidur. Dia kemudian menghampirinya dan menepuk-nepuk bahunya, tetapi karena sahabatnya itu tampak kelelahan, Kaiser pun tampak membiarkannya melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Kaiser menatap Andika. Matanya yang biru memancarkan kilau layaknya kilau berlian.