DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
28. Semakin Tinggi Kau Merangkak Naik ke Tempat yang Tak Seharusnya, Semakin Sakit Ketika Kau Jatuh


__ADS_3

Di suatu sudut kamar, terlihat Vet Tcin sedang duduk melamun memandangi sebuah foto.  Foto itu adalah milik suaminya, Ruhan Zidan.  Pipinya yang telah keriput dibasahi oleh air matanya.


“Sayang, apakah kamu masih membenciku atas perbuatanku?  Maafkan aku sayang, tapi itu kulakukan demi masa depan kita, masa depan putri kita.  Sayang, mengapa kamu begitu tega meninggalkanku sendirian di dunia ini?  Aku ingin segera menyusulmu Sayang.  Jika demikian, akankah Rihana akan baik-baik saja di belakang kita?”


Tiba-tiba dari luar, terdengar suara langkah kaki.  Rupanya dia adalah Rihana yang segera berlari memeluk ibunya.  Dia memeluk ibunya sambil berlinangan air mata.


“Kumohon, jangan katakan itu lagi Bu.  Hanya Ibu yang Rihana miliki di dunia ini.  Tanpa Ibu, Rihana tidak sanggup untuk hidup lagi.”


“Putriku?  Maafkan Ibu Nak.  Ibu bermaksud seperti itu.  Tentu, Ibu harus hidup lebih panjang lagi untuk melihat putri Ibu menikah.”  Vet Tcin seraya mengusap air mata putrinya dan membelai belakang kepalanya yang tidak tertutup topi.  Rihana tersenyum hangat akan jawaban ibunya itu.


***


Beberapa jam berlalu setelah itu dan kini jam dinding menunjukkan pukul 19.54.  Rihana dan ibunya sedang membuat cemilan kue bersama.  Mereka tampak sangat bahagia.  Tiba-tiba sesosok misterius masuk tanpa diundang ke dalam rumah mereka.  Dari perawakannya yang tertutup oleh pakaian ketat serbahitam, nampak jelas bahwa dia seorang pria.  Hanya saja wajahnya tak nampak karena seluruh kepalanya ditutupi oleh penutup wajah berwarna hitam serta topeng putih pierrot yang tersenyum bengis yang hanya memperlihatkan kedua matanya saja.  Pria itu berhasil masuk ke rumah setelah meretas keamanan pintu apartemen mereka.  Kemudian pria itu menyerang dan menyekap mereka berdua.


***


“Lepaskan aku!  Siapa kamu?  Kenapa kamu menyekap kami?”  Rihana berusaha meronta melepaskan tali yang mengekangnya di tangan dan kakinya itu.  Sayangnya, hanya mereka sendiri yang tinggal di lantai paling atas, lantai 15, dari gedung apartemen mereka di mana apartemen-apartemen di gedung itu didesain kedap suara.  Alhasil, tidak ada yang sanggup mendengar jeritan mereka.


“Tolong lepaskan kami.  Aku berjanji akan memberikan apapun yang kamu mau, asal tolong selamatkan nyawa kami.”  Vet Tcin memelas kepada sosok misterius itu untuk dilepaskan.


“Tapi bagaimana ini?  Yang aku inginkan bukan harta kalian, tetapi nyawa kalian.”  Sosok misterius itu tertawa sadis seraya mengatakan hal itu.


“Tetapi baiklah, akan kuberikan kalian perlakuan spesial sebagai bentuk kebaikanku pada kalian.  Aku hanya akan membunuh salah satu dari kalian.  Silakan kalian tentukan sendiri siapa yang akan mati.”  Ucap sosok misterius itu  dengan mengakhiri ucapannya dengan nada jahat seraya menampakkan wajahnya dari balik topeng.

__ADS_1


“Kamu?  Rupanya kamu!  Kenapa kamu melakukan ini kepada kami.”  Rihana berteriak tak kuasa menahan rasa kagetnya di hadapan sosok misterius itu.


“Aku mohon, aku mohon.  Kamu boleh mengambil nyawaku, tetapi setidaknya, lepaskan anakku ini.  Dia baru menginjak 16 tahun.”  Ujar Vet Tcin yang terus berusaha memelas-melas keselamatan nyawa putrinya.


“Apa yang Ibu katakan?  Jika terjadi apa-apa pada Ibu, maka aku juga tidak dapat hidup.  Selamatkan ibuku saja.  Kamu ambil saja nyawaku.”


“Jangan begitu Nak, Ibu sudah tua, tetapi kamu masih muda.  Masa depanmu masih panjang.”


“Tidak mau.  Selama ini, hanya Ibulah yang membuat aku kuat bertahan di dunia busuk ini.  Mana mungkin aku bisa kehilangan Ibu.  Daripada hal itu terjadi, lebih baik Rihana mati saja.”


“Tidak Putriku!  Biar Ibu saja yang mati!”


“Berisik!  Pembuli saja kok sok saling perhatian.”  Ucap sosok misterius itu seraya menendang tempat sampah di dekatnya.


“Baiklah sudah kuputuskan hukuman buat kalian.”  Mendengar ucapan sosok misterius itu, Rihana dan ibunya menatap dengan was-was wajah sosok misterius itu menanti-nanti tindakan apa yang akan diperbuatnya kepada mereka.


“Kamu?  Kenapa kamu mengetahui hal itu?”  Rihana kaget mendengar ucapan sosok misterius itu karena kalimat itu adalah kalimat yang sama persis diucapkannya kepada Dios yang sekarat sebelum terbaring koma.


***


[Dua tahun lalu]


“Kak Jingmi, apa tongkatnya masih ada?”

__ADS_1


“Maaf Tuan Riandra, tongkatnya sudah tidak ada lagi.”


“Ah sial.  Aku masih belum puas melepaskan stresku.  Apa boleh buat.  Kalau gitu, yuk kita balik saja.”  Dengan mengucapkan itu, Silva, Jingmi, Araka, Aleka, Riandra, dan Dirga meninggalkan lokasi.


Di tempat itu, masih berdiri Rihana dan Tirta.  Rihana mendekati Dios seraya mengucapkan, “Semakin tinggi seseorang merangkak naik ke tempat yang tidak seharusnya, semakin sakit rasanya ketika jatuh.  Makanya sampah seperti kalian tidak sepantasnya bergaul dengan orang-orang berkedudukan tinggi.  Carilah teman bergaul yang selevel denganmu.”  Setelah mengucapkan itu,  Rihana pun ikut pergi menyusul yang lain meninggalkan Dios dan Tirta di sana.


***


Masih di malam yang sama pukul 21.10, seorang ibu-ibu yang juga tinggal di apartemen itu hendak memasuki gedung apartemen tersebut.  Tiba-tiba topi mirip baret berwarna merah jatuh di atasnya.  Seketika dia menengok ke atas.  Dijumpainya sosok kain misterius bergerak-gerak secara mencurigakan dari teras di lantai paling atas gedung itu.  Ibu-ibu itupun segera melaporkannya kepada pihak sekuriti.


Pukul 21.45, dua orang pegawai sekuriti yang telah menerima laporan itu naik ke lantai paling atas gedung di lantai 15.  Mereka langsung pergi ke apartemen di mana terdapat kain bergerak-gerak mencurigakan di terasnya.  Bel pun berkali-kali dibunyikan, tetapi tidak ada jawaban.  Kemudian mereka mulai mengggedor-gedor pintunya, tetapi juga tetap tidak ada jawaban.  Akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan kunci cadangan untuk membuka ruang apartemen yang bersangkutan itu.


Setelah pintu apartemen di buka, tiba-tiba terdengar suara klik aneh.  Suara itu kemudian disusul oleh teriakan histeris dari orang-orang di jalan yang ada di bawah.  Rupanya kain yang jatuh itu adalah Rihana dan ibunya yang tangan dan kakinya terikat serta mulutnya disekap dan wajahnya ditutupi oleh kain kecuali di bagian hidung.  Ironisnya, mereka masih hidup dalam keadaan tersekap beberapa saat lalu sebelum tewas akibat terjatuh dari teras lantai paling atas gedung itu.  Dan yang lebih ironis lagi, karena kecerobohan pihak sekuritilah yang membuka pintu yang terhubung kawat yang menahan tubuh pasangan ibu-anak itu tanpa tahu apa-apa, kawat itupun terputus sehingga Rihana beserta ibunya pun terjatuh dan tewas seketika.


Benar kata sosok misterius itu, “Semakin tinggi seseorang merangkak naik ke tempat yang tidak seharusnya, semakin sakit rasanya ketika jatuh.”  Bukan makna secara konotasi, tetapi makna secara harfiahnya.  Andaikata Rihana dan ibunya hanya jatuh dari lantai 4 atau di bawahnya, mungkin mereka masih ada peluang untuk selamat.  Sayangnya, mereka jatuh dari lantai puncak gedung itu.


***


Kita kembali ke waktu 3 jam sebelum kejadian di sekolah Kaiser.  Teman-teman Kaiser dari tim basket SMA Angkasa Jaya termasuk rival-rivalnya dari SMA Merak Merah sedari tadi khawatir karena mendapati Kaiser dan Andika menghilang dan belum kembali juga.


“Kaiser kok tidak terlihat ya?”  Kata seorang anggota tim lawan.


“Entahlah.  Sudah waktunya, kita mulai saja dulu pertandingannya.  Mungkin sebentar lagi dia akan datang.  Lagipula dia dan Andika juga tidak akan bermain.  Jadi karena itu, mereka memilih untuk datang terlambat”  Ucap Beni menenangkan tim lawan.

__ADS_1


“Begitukah?  Baiklah.”  Ucap anggota tim lawan itu setengah khawatir.


Beni pun lantas memimpin tim cadangan yang baru dibentuk dadakan itu dan pertandingan pun dimulai tanpa Kaiser dan Andika.


__ADS_2