
Araka yang marah karena sikap kepengecutan Danial yang lempar batu sembunyi tangan dan menumpahkan segala kesalahan kepada geng Araka terhadap apa yang terjadi pada Dios pun mendatangi Danial tanpa sepengetahuan Kaiser dan keluarganya.
Namun, kondisi mental Danial sudahlah tidak baik. Dia telah menjadi depresi. Araka yang melihat itu lantas tergoyahkan hatinya.
Araka-lah orang yang paling mengenal apa yang akan terjadi jika sosok yang rapuh seperti itu ditekan lebih jauh lagi. Dia seakan melihat sosok ibunya, Bu Melisa, di dalam diri Danial. Araka telah menyaksikan pemandangan di mana orang yang telah berada dalam keadaan rapuhnya itu terus ditekan hingga akhirnya berada di ujung batasnya.
Setelah Bu Melisa cacat, perhatian Lu Tianfeng kepada istrinya tidak lagi sama. Bu Melisa yang terabaikan oleh suaminya itu perlahan mulai layu dan kehilangan semangat hidupnya. Dia lambat laun pun mulai banyak diam, sering histeris, serta selalu mengurung diri di kamarnya.
Tetapi Araka tidaklah lemah. Dengan kekuatannya sendiri, diapun bangkit dan berhasil menarik perhatian ayahnya kepada mereka berdua sekali lagi. Dengan kembalinya perhatian Lu Tianfeng kepada Bu Melisa, lambat-laun kondisi mental Bu Melisa dapat pulih kembali.
Dan kini, Araka sekali lagi menyaksikan sosok seperti itu untuk kedua kalinya. Dia pun akhirnya memutuskan untuk tidak menekan sosok Danial yang telah rapuh itu lebih jauh lagi dan mengecualikannya dalam list orang yang bertanggung jawab pada pembulian Dios.
Lagipula, hal itu hanya akan membuatnya menjadi bahan cacian para saudara tirinya jika mereka sampai mengetahui bahwa Araka dengan bodohnya memilih pengikut seorang yang mengidap penyakit mental.
Tibalah saat persidangan final tentang hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh para pembuli Dios tersebut. Namun karena kekuasaan Lu Tianfeng dan Sudarmin, mereka akhirnya hanya dijatuhi hukuman tahanan rumah plus larangan bersekolah di sekolah publik sampai jenjang SMA.
Kaiser dengan polosnya tanpa mengetahui kejadian kelam yang terjadi di baliknya terus berkoar-koar akan kekeliruan manajemen beberapa sekolah swasta di Indonesia yang terlalu memperhatikan perbedaan kasta seseorang berdasarkan power and money yang akhirnya berujung pada kasus pembulian seorang yatim piatu yang memiliki bakat, tetapi tanpa power and money tersebut.
Tentu saja apa yang diungkapkan oleh pemuda naif itu adalah benar adanya. Dan betapa sikap pembulian yang dilakukan oleh geng Araka kepada Dios dengan alasan yang seperti itu adalah kekeliruan. Tetapi apa yang membuat Araka marah adalah bahwa Kaiser mampu melihat semut kecil di seberang lautan, tetapi luput untuk melihat gajah di pelupuk matanya.
Kaiser sama sekali tidak menyadari bahwa kakak sepupu yang paling disayanginya itu, adalah dalang utama terhadap kejadian pembulian Dios tersebut. Hal itulah yang akhirnya menjadi pemicu munculnya niat jahat di hati Araka untuk mengguncang jiwa pemuda naif itu.
Pasca persidangan, Araka menghampiri Kaiser dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
__ADS_1
“Kamu dengan percaya dirinya menghujat kami. Tetapi tahukah kamu, siapa dalang utama di balik kejadian ini?”
Mendengar bisikan Araka itu, Kaiser lantas menatap seksama ke wajah Araka dengan ekspresi was-was. Melihat itu, Araka lantas tersenyum jahat. Diapun berkata,
“Mengapa tidak tanyakan langsung kepada kakak sepupumu?”
Kaiser pun menjadi terbayang-bayang oleh ucapan Araka tersebut. Jadilah dia mendatangi kakak sepupunya yang masih dalam kondisi lemah mental. Kaiser akhirnya menginterogasi sepupunya itu.
Karena paksaan dari adik sepupunya, Danial akhirnya mengakui segala perbuatannya di hadapan adik sepupunya tersebut. Kaiser pun marah sejadi-jadinya dan membentak-bentak kakak sepupunya dengan perkataan yang cukup keterlaluan.
Akhirnya, kaca yang telah retak-retak itu, pecah dengan dorongan adik sepupunya sendiri. Seketika Danial berteriak histeris kemudian terjatuh pingsan.
Kaiser sebenarnya punya peluang untuk menangkap kakak sepupunya sebelum terjatuh ke lantai. Dia telah mengulurkan tangannya. Tetapi perihal amarahnya pada kebodohan kakak sepupunya itu, dia menarik kembali uluran tangannya sehingga jatuhlah sepupunya ke lantai dengan belakang kepalanya tepat mendarat ke lantai.
Setelah siuman, jadilah kondisi Danial seperti sekarang ini. Dan Kaiser pun akhirnya menyesali perbuatannya tersebut.
Tetapi di tempat itu, Kaiser tetap tidak mampu menahan frustasinya. Dia tidak punya tempat untuk melampiaskan segala kekesalannya karena kenaifannya tersebut. Bagi Kaiser, hal terbaik untuk melampiaskan segala amarahnya adalah dengan pertarungan terhadap orang-orang kuat yang tak mungkin dapat diperolehnya di tempat terpencil tersebut.
Ya, sungguh ironi bagi pemuda yang sangat membenci melihat kekerasan di depan matanya itu, atau lebih tepatnya tindakan penganiayaan secara sepihak oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah.
Dia pun akhirnya menghubungi kakeknya, Kakek Jun, lewat nenek Nafisah agar membiarkannya bergabung dengan dojonya untuk berlatih bersama murid-murid di dojo tersebut hingga amarah yang meluap-luap di hatinya itu dapat mereda.
Kaiser pun menemukan oasisnya untuk menenangkan diri selama hampir dua tahun di dojo kakeknya dengan tidak melupakan sekolahnya via sekolah online tiap malam melalui bantuan kepala sekolah dan para guru yang baik hati di SMP Mekar Sari tersebut.
__ADS_1
Tetapi, Kaiser tidak bisa lari selamanya. Menjelang tahun ajaran baru 2021/2022, Kaiser akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan siap bertemu kembali dengan kakak sepupunya sekaligus untuk melindungi sahabatnya Dios dari incaran para pembuli yang dendam yang sebentar lagi akan lepas dari pengawasan polisi dan mata publik.
Kembali ke masa sekarang, Kaiser memeluk kakak sepupunya yang rapuh itu. Tanpa sadar, mata Kaiser mengeluarkan air mata. Timbullah pikiran sesat itu. Andaikan Kaiser tidak pernah ada di dunia ini, tentu masalah seperti itu tidak akan pernah terjadi dan kakak sepupunya tidak akan perlu semenderita ini.
Lantas apakah yang diperjuangkannya selama ini mengenai kesetaraan perlakuan tanpa memandang latar belakang keluarga seseorang, sudah merupakan hal yang tepat dan bukannya kekeliruan dari keegoisannya sendiri? Hal itulah yang lantas membayangi pikiran Kaiser. Dia takut bahwa justru keberadaannya hanya akan menambah kesengsaraan orang lain dan bukannya malah menyembuhkannya.
Di tengah kekalutannya itulah, Airi lantas menepuk bahu Kaiser.
“Apa yang kamu pikirkan dengan ekspresi serumit itu?”
“Tidak. Bukan apa-apa, Airi-san.” Lirih Kaiser.
“Mooooooh! Jangan-jangan kamu berpikir bahwa semua ini salah kamu lagi.” Ujar Airi dengan tegas kepada Kaiser.
“Eh?” Kaiser pun terkejut atas maksud ucapan Airi tersebut.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakak sepupumu itu. Tapi pasti kamu berpikir bahwa ini semua karena kesalahanmu lagi. Ya kan?”
Mendengar ucapan Airi itu, Kaiser hanya terdiam. Airi pun menunduk dan lebih mendekatkan wajahnya kepada Kaiser yang berjongkok sambil memeluk kakak sepupunya yang ketakutan itu.
“Kamu ya, terkadang terlalu menilai tinggi dirimu sendiri. Jelaslah kamu tidak dapat menyelesaikan semua masalah yang ada di sekitarmu. Soalnya kamu hanya satu orang. Mengapa tidak mengandalkan kawan-kawanmu juga untuk membantumu? Juga kan ada aku di sini.” Ujar Airi seraya tersenyum lembut.
Kilauan cahaya matahari sore di belakangnya ikut menambah keanggunan ekspresi gadis Kyoto itu.
__ADS_1
Kaiser pun ikut tersenyum lembut seraya menjawab,
“Baik, Airi-san. Walaupun aku tidak dapat mengungkap semuanya kepada kalian. Tetapi aku akan lebih mengandalkan kalian ke depannya.”