
Merasakan suasana yang tiba-tiba senyap dari dalam gerbang, Tirta memutuskan untuk tidak mengejar lagi seorang sekuriti yang berhasil kabur tersebut.
Dia pun memasuki gerbang sekolah itu. Di dalam gerbang, seratus orang bodyguard Pak Arkias yang menyamarkan dirinya sebagai polisi lengkap dengan perisai polisi mereka, telah menunggunya di dalam. Tetapi,
“Sraaak!”
Bagaikan selapis kertas, lima buah perisai baja itu terpotong dengan mudahnya oleh pedang mainan Tirta. Tanpa memberikan para polisi gadungan itu kesempatan untuk mempersiapkan senjata mereka,
“Sraaaak! Sraaaak! Seeet!”
Seorang di antara lima dari mereka telah tergorok lehernya dan tewas, sementara satu lagi tewas oleh tusukan langsung ke jantung. Dua orang polisi gadungan yang tidak terluka lantas berlari ke belakang untuk berlindung, sementara seorang sisanya yang tengah terluka parah akibat tebasan di area perutnya hanya bisa terkapar di hadapan pembunuh sadis itu.
“Seeeet!”
Tirta pun menusuk orang itu tepat di kepalanya dan jadilah dia korban pembantaiannya yang ke-enam.
Sementara itu di dalam kelas Kaiser yang sedang melaksanakan ujian matematika, seorang siswa bernama Lenias yang duduk tepat di depan Beni di dekat jendela yang pertama kali merasakan keributan di luar, melirik ke arah jendela dan seketika histeris.
Walaupun tanpa suara, dia menggeliat dan menggoyahkan tidak hanya kursi dan mejanya saja, tetapi juga kursi dan meja sekelilingnya. Suara riuh akibat gemuruh gesekan kursi dan meja, lantas menarik semua perhatian kelas padanya.
Di saat itulah, Kaiser yang mengamati arah tatapan Lenias yang berekspresi sangat panik tersebut, ikut menatap keluar jendela. Betapa kagetnya bocah naif itu. Sepuluh polisi gadungan di halaman sekolahnya, telah tumbang. Tidak, bukan 10, melainkan 11, tidak, 12, 14, 15, nilainya terus bertambah.
“Apa yang terjadi?” Loki serta-merta bangkit dari tempat duduknya dan mendekatkan dirinya ke arah jendela untuk ikut serta mengamati situasi. Apa yang ditemuinya, suatu peristiwa tragis pembantaian sadis di halaman depan sekolahnya tersebut.
Di kala itulah, Tirta berteriak dengan keras dari luar sampai-sampai seisi kelas itu dapat mendengarnya.
“Kaiser keluarlah, aku akan membunuhmu! Akan kuhabisi pula semua orang yang ada di dekatmu!”
__ADS_1
Mendengar suara ancaman itu, para siswa yang duduk di dekat jendela lantas mengerumuni jendela, sementara para siswa lain yang posisinya agak jauh dari jendela sehingga hanya samar-samar mendengar teriakan Tirta menjadi was-was.
Namun, melihat para siswa pria di sekitar jendela dengan ekspresi ketakutan, mengamati kejadian di bawah dari lantai dua kelas mereka tersebut, seisi kelas pun bertambah panik.
Ketiga siswi yakni Anggun yang duduk tepat di sebelah kanan Kaiser, Rima yang merupakan teman sebangku Anggun, serta Rikha yang duduk di depan Rima di samping Nayla, lantas memberanikan diri untuk turut mengintip dari balik jendela tersebut.
“Apa yang…Aaaaaaakh!”
“Aaaaaaakh!”
“Tidaaaaaaak!”
Dan mereka pun berteriak histeris. Teriakan histeris mereka kemudian menarik para siswa dan siswi lain untuk turut berdesak-desakan mengerumuni jendela. Bagaikan suatu harmoni dari neraka, teriakan para siswi dan juga beberapa siswa, menciptakan suasana horor di kelas tersebut.
Bu Salma, sang guru pengawas ujian, sampai-sampai tak dapat berkata apa-apa ketika turut menyaksikan kejadian pembantaian di bawah mereka. Kakinya gemetar dan diapun jatuh terduduk seraya membekap sendiri mulutnya agar tak turut berteriak histeris. Keluar air mata ketakutan yang jatuh menetes ke pipi sang guru paruh baya berstatus perawan tersebut. Saking paniknya, dia tidak menyadari bahwa posisi sanggul dan kacamatanya telah berantakan.
“Loki, aku pinjam pedang latihanmu!”
Yang pertama kali menyadarinya adalah Beni yang melihat Kaiser hampir melompat dari jendela di lantai dua kelas mereka tersebut. Beni pun segera menahannya.
“Kaiser, tenang dulu. Apa yang hendak kamu perbuat?”
“Tidakkah kamu lihat di bawah? Orang itu mencariku. Dia Tirta, salah satu dari pembuli itu. Dia pasti ke sini untuk menghabisiku, makanya aku harus segera menjauh dari kalian.” Ucap Kaiser dengan mata yang berkaca-kaca serta dipenuhi oleh ekspresi amarah.
“Kamu sudah gila?! Kamu akan terbunuh seperti para polisi yang berada di bawah jika ke sana!” Teriak Andika seraya turut menahan sahabatnya itu.
“Aku tidak akan terbunuh semudah itu. Takkan kubiarkan lagi orang lain terluka apalagi tewas karena-ku. Jadi lepaskan!” Ujar Kaiser seraya seketika melepaskan diri dari jeratan Beni dan Andika. Di luar dugaan, tenaga Kaiser berbadan jauh lebih kecil dari mereka ternyata sangat kuat.
__ADS_1
Tetapi sebelum Kaiser berhasil lompat, dia ditahan lagi. Kali ini oleh lebih banyak orang yakni Beni, Andika, Loki, Fero, Adrian, termasuk Wilda.
“Kalian lepaskan aku atau kalian semua akan mati di tangan Tirta!” Jerit Kaiser.
“Hei, sadarlah, dasar sialan! Apa yang bisa kamu perbuat di bawah? Kamu hanya akan mati sia-sia.” Fero pun turut memarahi bocah naif itu.
“Itu lebih baik ketimbang melihat orang lain mati konyol karena kebodohanku.” Ujar Kaiser dengan mata berkaca-kaca. Diapun mengeluarkan jurus andalannya, senyum ala pangerannya.
Seketika keenam orang yang menjeratnya, kehilangan fokus. Di situlah Kaiser memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melepaskan jeratan mereka dan bergegas melompat dari jendela dengan pedang kayu di tangannya.
Kaiser pun langsung berlari lurus ke arah Tirta.
“Hai, Tuan Kaiser, jangan ke sana! Dia takkan mempan dengan senjata kayu! Baja saja bisa ditebasnya dengan mudah!” Teriak salah seorang polisi gadungan yang paling belakang melihat Kaiser berlari lurus mendekati pembunuh haus darah itu.
Dari lantai dua di kelas Kaiser tersebut, para siswa dilanda kepanikan dan kebingungan tentang apa yang harus mereka perbuat melihat simbol yang mempersatukan kelas mereka itu, simbol idola mereka, sedang menuju ke lubang kematiannya dengan kedua kakinya sendiri.
Kemudian Ratih pun jatuh pingsan yang menambah suasana kelas semakin runyam.
Di tengah suasana kepanikan kelas tersebut, Andika berlari keluar kelas. Loki yang melihatnya dan bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh pengikut setia Kaiser itu, segera menyusulnya. Sementara itu, Beni dan Nayla menatap dalam-dalam ke sumber kekacauan di bawahnya itu.
“Aaaaakh, aku tidak peduli lagi jika identitasku terbongkar!”
Suara teriakan pun terdengar. Tetapi itu bukanlah teriakan Beni ataupun Nayla yang merupakan mata-mata dari Medusa. Melainkan teriakan gadis pendek berkulit putih dengan badan yang agak sedikit subur. Dialah Wilda.
Baik kacamata dan lensa matanya telah dia lepaskan. Mata kuningnya menyala. Dia memegang gagang sapu ijuk di tangan kanannya yang juga dialiri pancaran cahaya kuning. Diapun turut melompat ke sumber pembantaian itu demi menyelamatkan idolanya tersebut, Kaiser.
[Pastinya sekarang, mereka telah dapat mendeteksi keberadaanku ketika aku melepaskan kacamata dan lensa anti radiasiku ini di tempat terbuka melalui satelit canggih mereka. Tetapi itu tidak mengapa. Selama aku bisa menyelamatkan Tuan Muda sekarang. Masalah lain, bisa dipikirkan belakangan.]
__ADS_1
Gumam gadis muda itu seraya berlari dengan kecepatan penuhnya yang lebih cepat dari manusia normal, menghampiri Kaiser yang sekitar 3 meter lagi, bertemu dengan pembunuh sadis itu.