DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
39. Dunia yang Ingin Digapai oleh Seorang Putri Konglomerat Bernama Ratih


__ADS_3

Di suatu ruangan yang dipenuhi gemerlap lampu warna-warni, seorang kakek tampak sedang mengguncang-guncangkan gelas untuk menyeduh minuman.  Adapun kedua pelayan di ruangan itu, tampak sedang melayani dua orang tamu yang sedang berkunjung di ruang VIP itu.  Tidak seperti biasanya, kali ini kedua pelayan itu mengenakan busana lengkap.


Terlihat Jey, Sang Pelayan Pria, mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih polos berbalut blazer tanpa lengan berwarna merah serta dasi kupu-kupu yang juga berwarna merah.  Adapun Linda, Sang Pelayan Wanita, mengenakan rok merah dan kemeja trendi berwarna putih sebagai atasan dengan pita berwarna ungu yang mengikat rambutnya yang selaras dengan warna sepatunya.


Di kedua sisi meja, duduk dua orang tamu yang saling berhadap-hadapan.  Yang satunya merupakan pengunjung tetap yakni Araka.  Yang satunya lagi adalah pengunjung yang tidak biasanya menginjak tempat itu dan mungkin merupakan alasan mengapa kali ini pelayan tidak setengah telanjang seperti biasanya.  Dia adalah Ratih.


“Jadi, ada perlu apa kamu memintaku datang kemari?”  Ucap Ratih dengan sinis kepada Araka.


“Wah, kamu angkuh sekali seperti biasa.  Sungguh julukan sebagai Ratu Es penakluk pria sangat cocok untukmu.”  Ucap Araka berusaha menggoda Ratih.


Ratih lantas memukul meja dengan kencang bertepatan saat Jey menaruh minuman beralkohol di depannya.  Saking tidak terduganya gerakan Ratih, hal itu seraya membuat Araka tersentak kaget.


“Aku pesan tea yang biasa, bukan tea seperti ini!” [3]


“Maaf Mbak.  Akan segera saya ganti.”  Ujar Jey seraya menunduk dan segera pergi.


“Langsung saja pada topiknya, tidak perlu basa-basi.”  Ucap Ratih seraya menatap tajam ke wajah Araka.


Araka terdiam sejenak kemudian menyandarkan badannya yang besar di sandaran kursi dan menghela nafas singkat.  Dia kemudian kembali duduk dengan tegak dan merapatkan kedua tangannya di atas meja.


“Aku mau kamu menyelidiki Kaiser.  Tentang siapa-siapa saja orang yang memiliki dendam karena pembulian Dios atau orang mungkin orang yang fanatik dengan Kaiser sehingga rela berbuat apa saja sampai bisa menghilangkan nyawa orang lain.”


“Tapi bagaimana ini?  Saya juga termasuk tipe kedua yang baru saja disebutkan oleh Senior.”  Balas Ratih dengan senyum jahat.


“Kamu ini.  Aku heran ada apa dengan kalian semua?  Mengapa sejak angkatan kalian mengenal Kaiser, kalian semua berubah?  Entah itu kamu, entah itu Fahrul.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Mengapa kalian sangat memuja-muja anak itu?”  Ucap Araka pelan dengan berupaya mempertahankan ketenangannya.


“Hah, Senior sudah pasti tahu jawabannya.  Mempertontonkan kekuasaan dan menindas yang lemah.  Bukankah itu yang Senior lakukan?  Seperti halnya kalian membuli Dios hingga terbaring koma sampai sekarang?  Apa Senior pikir kami mengharapkan lingkungan seperti itu.  Insecure Senior!  Jika suatu saat salah satu dari kami yang terjatuh, kalian pasti tidak akan segan-segan melakukan hal yang serupa pada kami.  Kami muak dengan lingkungan yang seperti itu. Kami ingin perubahan di lingkungan yang dapat membuat kami merasa aman sekaligus tentram.  Oleh karena itu, ketika kami mengenal Kaiser dan memahami idealismenya, maka kami tidak segan-segan untuk mengikutinya.  Kami semua ingin melihat dunia seperti apa yang ingin dicapainya.”


Mendengar jawaban Ratih, Araka tertunduk.  Dia seraya tersenyum.


[Lihatlah Kaiser.  Kini pengikut-pengikutku pun kau kuasai.  Karismamu benar-benar luar biasa.  Mau tidak mau aku hanya bisa membencimu.]

__ADS_1


“Dan apakah kamu pikir dengan keberadaan pembunuh berantai itu, akan baik untuk Kaiser?”  Araka sekali lagi mencoba untuk membujuk Ratih.


“Hah.”  Ratih mendesah.


“Aku paham apa yang ingin senior sampaikan.  Tanpa Senior suruh pun, aku sudah menyelidikinya.  Tentu saja ini semua kulakukan untuk Tuan Muda Kaiser.”  Jawab Ratih dengan muka yang sedikit memerah.


“Ini minumannya Mbak.”  Jey sekali lagi datang menginterupsi pertemuan mereka.


“Oh iya.  Terima kasih.”  Jawab Ratih singkat tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa kepada Jey.


Araka akhirnya menyadari ada sedikit kejanggalan pada tingkah Ratih di hadapan Jey.  Dia yang penasaran kemudian bertanya.


“Apa kamu mengenal pria itu?  Kamu bertingkah agak sedikit canggung di hadapannya.”


“Oh, Senior menyadarinya?”


“Iya, sangat nampak.”


“Oh, kesalahanku.  Aku tidak mengenalnya sama sekali.  Entah mengapa aku merasa kalau pria itu berbahaya.  Kamu juga sebaiknya berhati-hati padanya.  Aku ini percaya diri lho soal firasatku merasakan aura orang lain.  Dari situ aku juga tahu kalau Tuan Muda Kaiser memang memiliki hati yang suci seperti penampilannya, tidak seperti yang dirumorkan.” [4]


“Tentu saja.”


“Ah, aku sampai ikut-ikutan kamu memanggilnya Tuan Muda.  Ah, sudahlah.  Yang lebih penting dari itu, kamu bilang tadi sudah menyelidikinya, jadi bagaimana hasilnya?”


“Tirta.  Aku menaruh curiga pada mainan Silva itu.  Dia menjalin koneksi dengan pihak Jepang beberapa saat sebelum kasus pembunuhan Aleka dan keluarganya terjadi.”  Ucap Ratih dengan nada serius kepada Araka sambil memajukan sedikit kepalanya lebih dekat ke Araka.


“Tirta?  Dia menjalin koneksi dengan pihak Jepang?  Apakah dia mengkhianati kami?”  Araka yang kaget mendengar hal itu, tidak dapat menahan teriakannya.


“Intelku mengatakan bahwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis kita.  Oleh karena itu, aku belum melaporkannya kepada siapa-siapa.”  Ucap Ratih seraya berdesah pelan sambil menyandarkan dirinya di sandaran kursi dan menutup matanya yang kelelahan sejenak.


“Lantas persoalan apa?”

__ADS_1


Mendengar lagi suara Araka, Ratih kembali membuka kedua matanya.  Dia lantas berkata, “Hanya legalitas masuknya produk.  Keluarga Tirta kan sangat mahir kalau persoalan seperti itu.”


“Begitukah?”


Ratih kembali memperbaiki posisi duduknya lalu meneguk minuman teh di depannya.


Dia kemudian menaruh gelas setengah kosong kembali ke atas meja dengan sedikit kasar seraya mengatakan, “Kembali ke topik.  Dari interaksi itu, bisa saja Tirta memperoleh sumber daya berupa pembunuh profesional untuk menjalankan aksinya.  Apalagi mengingat bahwa pihak Jepang itu adalah dari Klan Kanzaki, hal itu menjadi mungkin.”


“Terlepas dari itu, apa itu mungkin?  Dia juga benci Dios dan dia sama sekali tidak fanatik pada Kaiser.  Malah sebaliknya, dia sangat membencinya.  Dan bukankah dia itu juga salah satu target pelaku?”  Araka nampaknya tidak percaya atas perkataan Ratih.


“Aku juga belum tahu pasti, maka dari itu kuminta Senior untuk menyelidikinya lebih lanjut dengan sumber daya yang Senior miliki.  Dan justru karena orang itu membenci Tuan Muda lah, dia ingin menjebaknya seperti ini.”


“Lantas mengapa dia tidak langsung saja meluapkan rasa bencinya padanya dengan membunuh anak itu langsung, tetapi malah mengorbankan kami yang merupakan teman-temannya?”


“Apa Senior yakin dia tidak menaruh dendam pada kalian berenam?”


Mendengar ucapan Ratih itu, Araka tersentak kaget.


“Dari sudut pandangku, dia sudah cukup untuk memiliki dendam.  Kalian selalu memanfaatkannya sebagai errand boy di setiap kesempatan.  Kalian bukan menganggapnya sebagai teman, tetapi pesuruh kalian karena statusnya kalian pandang lebih rendah dari kalian.  Kalian membiarkannya bergabung di grup kalian, bukankah hanya karena kalian memandang Silva saja?  Pernahkah kalian kumpul bareng dengannya jika Silva tidak ada?”


Mendengar hal itu, Araka hanya diam.  Dia berusaha mencerna dengan baik setiap perkataan Ratih.


Ratih seketika memiliki ekspresi cemas di wajahnya.  Diapun berkata, “Lalu apa yang aku cemaskan adalah bahwa pembunuh itu memiliki delapan target pembunuhan.  Kalian berenam ditambah wanita mantan bodyguard Silva itu dulu, bukankah jumlahnya hanya tujuh orang?  Bagaimana jika orang terakhir yang akan ditargetkan oleh pembunuh bayaran yang disewa oleh Tirta adalah Tuan Muda?”


Ratih akhirnya tidak dapat menahan air matanya mengalir.  Diapun menangis.


“Kita belum tahu kalau Tirta adalah pelakunya.  Tapi baiklah!  Aku akan menyuruh orang-orangku untuk menyelidikinya lebih lanjut.”  Ucap Araka seraya menepuk bahu Ratih untuk menenangkannya.


“Kamu benar, Senior.”  Ratih berusaha tegar.


[Yang aku takutkan adalah pihak Jepang yang diajak komunikasi oleh keluarga Tirta adalah saingan bisnis dari keluarga dari Kakek Tuan Muda.  Semoga kekhawatiranku ini salah karena keluarga Tuan Muda juga hampir tidak pernah berinteraksi dengan pihak keluarga dari kakek dari jalur keturunan ibunya itu.  Tuan Muda juga hanya sekedar menjalin hubungan kakek-cucu dengan kakeknya itu tanpa pernah terlibat dengan urusan internal keluarga mereka.  Jadi mustahil kalau saingan bisnis mereka menaruh perhatian pada Tuan Muda.]  Gumam Ratih dalam hati.

__ADS_1


NB: [3] Ratih hendak memesan teh hitam biasa, tetapi malah diberikan minuman beralkohol yang namanya ada tehnya


[4] Rumor yang merebak belakangan di internet karena kasus percekcokan antara Alicia dan Ratih, di mana banyak orang yang berargumen orang yang tampak suci dari luar tanpa cacat sedikitpun, biasanya memiliki hati yang sangat busuk di dalam.  Rumor itu mengambil Kaiser sebagai salah satu contoh hal tersebut


__ADS_2