
“Tuan Muda? Sejak kapan Anda siuman?” Dalam kepanikannya yang tertangkap basah melakukan hal yang tak sepatutnya itu, keringat dingin Dios bercucuran melalui tubuh Loki.
Dilihatnya-lah raut wajah seseorang yang dipanggilnya Tuan Muda itu. Bukan pandangan menghina, merendahkan, ataupun amarah yang ditunjukkannya, melainkan suatu ekspresi iba.
“Mungkin benar kalau Andika dalam pandangan prekognitifmu adalah orang yang jahat. Namun, Andika di sisi kita saat ini adalah orang yang pemberani, jujur, suka menolong, dan terlebih lagi, dia adalah sosok orang yang sangat menghargai persahabatan kita. Jadi jangan samakan dia dengan sosok Andika itu!”
“Kaiser.” Mendengar ucapan dari Kaiser itu, air mata Andika jatuh mengalir. Dia bersyukur bahwa sahabatnya itu tidak ikut menghardiknya begitu mengetahui kenyataan tersebut.
Namun, rasa bersalah itu tetap tak lepas dari hatinya. Walaupun tak ada ingatannya pernah melakukan hal sampah tersebut, dia tak dapat memungkiri bahwa hal itulah yang akan terjadi jika Dios tak berbuat sesuatu untuk merubah masa depan.
Pandangan Andika pun tertuju pada Kaiser dan Dios dalam tubuh Loki tersebut.
Dios tampak tertunduk. Dia telah kehilangan tekadnya untuk melanjutkan rencana yang telah dia susun matang-matang selama dua tahun lebih tersebut. Satu ucapan dari Kaiser ternyata telah mampu meruntuhkan tekadnya itu.
Hal itu karena bagi Dios, Kaiser yang tersenyum padanya jauh lebih penting daripada perdamaian dunia itu sendiri. Tidak ada gunanya lagi melanjutkan rencananya ketika tuan mudanya itu telah mengetahui semuanya. Bagi Dios, perdamaian dunia tak ada gunanya jika tuan mudanya itu membencinya.
Dios terduduk dalam kekecewaannya. Dia tampak tak punya tenaga lagi sehingga pedang di tangannya itupun terlepas darinya. Di tengah kekalutan Dios tersebut, Kaiser pun memeluknya dengan hangat dibarengi air mata kesedihannya akibat rasa bersalahnya membiarkan sahabatnya itu menderita karena kekurangpekaannya. Tanpa sadar, Dios pun turut mengeluarkan air matanya.
Dari jauh, Andika yang menyaksikan persahabatan tersebut pun menundukkan kepalanya. Timbul rasa iri di hatinya. Walaupun setelah apa yang dikatakan Dios bahwa Chain of Command melindungi Andika tapi tidak melindungi dirinya yang berarti bahwa bagi Kaiser, Andika jauh lebih penting daripada Dios menurut alam bawah sadarnya, Andika tetap merasa tak layak berada di antara mereka.
“Dios jauh lebih cocok sebagai sahabat Kaiser daripada-ku rupanya. Mengapa aku mengatakan hal yang sudah pasti itu?” Lirih Andika dalam kesedihannya.
Namun tiba-tiba, serangan pedang air meluncur bertubi-tubi mengincar tubuh Kaiser. Andika-lah yang menangkis tiap serangan tersebut dengan aura hitamnya.
Andika, Dios, dan Kaiser pun segera mengamati arah dari sumber serangan tersebut. Dari arah tersebut, tiba-tiba muncul entah dari mana dari pojok dinding seseorang berkulit putih dengan style pakaian celana jeans hitam, bersepatu putih-hitam, dengan pakaian kemeja tebal bernuansakan warna hitam yang sedikit dibalut warna merah.
Di tangannya, terdapat suatu kubus berwarna kebiruan yang tampak tersusun dari kumpulan air.
__ADS_1
“Kak Lu Shou?” Ujar Kaiser dengan heran.
Rupanya, sosok yang menyerang Kaiser itu, justru sosok yang dikenalnya dengan baik. Dialah Lu Shou, kakak tiri dari Araka.
“Yo, Kaiser, lama tidak bertemu.” Berbeda dengan ucapannya yang tampak ramah, raut matanya menunjukkan seseorang dengan tekad yang siap untuk membunuh.
Dia lantas melirik kepada Andika. Sesaat kemudian, Lu Shou pun tersenyum kecut.
“Heh. Benar-benar lucu. Kau berniat membasmi makhluk itu sampai-sampai kau membunuh adikku Araka, tetapi kau tidak sadar bahwa dirimu telah dipermainkan.” Lu Shou pun berucap.
“Apa maksudmu?” Mendengar ucapan Lu Shou itu, Dios pun bertanya.
“Makhluk itu sejak dari awal sudah berpisah raga dengan bocah itu.” Jawab Lu Shou.
“Apa?” Seketika Dios pun terperanjat akannya. Ekspresi yang sama kurang lebih ditunjukkan oleh Kaiser dan Andika.
“Kalian jelas-jelas telah dipermainkan oleh makhluk iblis itu.” Ujar Lu Shou dengan pandangan memandang rendah terhadap mereka bertiga.
Tak ada satupun baik dari Kaiser, Andika, maupun Dios yang membantah hal tersebut.
“Walau itu semua demi perdamaian dunia, lantas bagaimana aku menyalurkan rasa amarahku ini sebagai sosok kakak yang kehilangan adiknya?!” Lu Shou pun berteriak marah.
“Kaiser, bocah itu bilang, kamu punya kemampuan mengerikan yang bahkan kamu sendiri tidak sadari. Apalagi namanya? Chain of Command? Kemampuan yang dapat membawa musibah secara alami bagi musuh-musuhmu sekaligus membalikkan bencana yang akan menimpa teman-temanmu?”
Lu Shou kemudian tiba-tiba terdiam. Namun diamnya Lu Shou itu justru semakin menimbulkan nuansa horor seolah dia akan segera berbuat sesuatu yang sangat berbahaya yang malah semakin membuat baik Dios maupun Andika bertambah was-was dan tak menurunkan kewaspadaan mereka untuk melindungi Kaiser.
Lu Shou pun melanjutkan ucapannya, “Bisa aku anggap kan, bahwa kematian ayahku adalah semua karena kemampuanmu itu? Juga kematian Araka, meski itu semua direncanakan oleh bocah astral itu, tetapi kalau dipikir-pikir, semuanya jadi berjalan seperti ini, adalah karena keberadaanmu. Jadi juga bisa kuanggap pula kan bahwa kematian Araka semua adalah salahmu? Jadi, tidak apa-apa kan jika aku membalas dendam dengan membunuhmu, Kaiser?”
__ADS_1
Seraya mengatakan itu, ekspresi Lu Shou tiba-tiba berubah menjadi bengis. Tampak dari udara, uap air berkumpul akibat aura dari kubus berbentuk air di tangan Lu Shou itu, kemudian dengan cepat mengembun menjadi air lantas membentuk bilah-bilah pedang tajam.
Namun, sebelum Lu Shou meluncurkan serangan itu, sebuah peluru pistol tepat diarahkan ke kubus air tersebut yang membuat pedang-pedang air itu kehilangan bentuknya dan jatuh kembali ke dalam bentuk normal air yang membasahi lantai tersebut.
Rupanya serangan itu datang dari pojok tempat Lu Shou tadi tiba-tiba muncul entah dari mana. Dari pojok itu pun, tiba-tiba terlihatlah sesosok wanita dengan pistol di tangannya. Dialah Bianca.
“Padahal aku berharap kamu hanya akan berdiri gemetaran di pojok sana karena ketakutan dengan semua ketidakmasukakalan ini agar kamu bisa bertindak sebagai saksi sebagai warga biasa nantinya agar undang-undang antispiritualis segera dapat dibuat demi menegakkan keadilan buat adikku Araka.” Ujar Lu Shou sambil melirik ke arah Bianca.
Namun, di luar dugaan Lu Shou, Bianca tidak lagi gemetar dan tampak memegang senjatanya dengan mantap seraya berujar, “Takkan kubiarkan kamu menyentuh Kaiser.”
“Oh, apa ini? Apa ini juga merupakan salah satu kemampuan Chain of Command-mu, Kaiser?” Kali ini Lu Shou berujar sembari melirik Kaiser.
Dios pun tidak menyia-nyiakan waktu. Begitu melihat Lu Shou lengah, dia pun segera melayangkan pedangnya ke arah Lu Shou. Akan tetapi, Lu Shou mampu menghindari setiap serangan Dios tersebut dengan elegan.
“Apa yang kamu lakukan, Andika?! Cepat tarik aura hitammu itu agar aku dapat segera mengaktifkan kekuatanku.” Teriak Dios kepada Andika.
Andika pun segera menurut dan melakukan sesuai apa yang diperintahkan Dios padanya itu. Namun, mereka lengah. Tanpa mereka sadari, Lu Shou telah mengaktifkan kembali artifak segel air miliknya yang tak terpengaruh oleh aura hitam Andika tersebut.
Dalam sekejap, seluruh ruangan lantai teratas menara tersebut telah tersegel oleh segel air milik Lu Shou. Karena hal itu pun, kontak Dios pada tubuh Loki pun menghilang dan kehilangan kendali akannya.
Setelah bebas dari kendali Dios, tubuh Loki pun terjatuh, namun segera ditangkap oleh Kaiser.
“Kemampuan merasuki apanya? Dia pada dasarnya hanya menggunakan tali cakra yang sangat tipis saja untuk terhubung dengan syaraf orang itu dan mengendalikannya dari luar layaknya boneka. Dengan tidak adanya celah di mana tali cakra miliknya itu dapat masuk berkat segel airku ini, dengan mudahnya jurusnya dapat dihentikan.” Ujar Lu Shou sembari menatap tubuh Loki yang pingsan.
Diapun mengalihkan tatapannya kepada Kaiser.
“Nah, sekarang, Kaiser, tidak ada lagi sosok kuat yang mampu melindungimu. Kini giliranku untuk membalaskan dendam ayahku dan juga adikku Araka padamu. Aku pun juga sudah tidak sabar untuk mencoba kekuatan baruku setelah terbangkitkan menjadi level D dan diperkuat oleh artifak segel air ini. Sekarang, siksaan seperti apa yang sebaiknya pertama kali kulakukan padamu?”
__ADS_1
Ujar Lu Shou sembari menatap Kaiser dengan tatapan yang sangat jahat.