DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
20. Di Balik Harga Diri Seorang Jurnalis


__ADS_3

Amanda yang kebingungan melihat tingkah aneh Danial, mengamati Danial dengan seksama dari ujung kaki ke ujung rambut dengan ekspresi keheranan.  Begitu mata mereka bertemu, Amanda lantas tersenyum kepada Danial.  Danial terkaget dan langsung bersembunyi di belakang Kaiser.  Namun, Danial segera memberanikan diri lagi, mengeluarkan kepalanya dari balik badan Kaiser dengan posisi badan yang tetap tersembunyi.  Danial kemudian secara bolak-balik menatap antara Amanda dan lantai.  Dia sangat pemalu.  Di luar dugaan, berkat keramahan Amanda, mereka berdua jadi cepat akur.


***


Siang itu, hari keempat unjuk rasa mereka.  Mereka datang seperti biasanya di depan Kantor NTV News untuk berunjuk rasa.  Depan kantor itu bertambah ramai dari hari sebelumnya yang sudah sangat ramai.  Terlihat seribu lebih massa bergerombolan untuk menuntut ketidakadilan NTV News dalam meliput berita.  Terihat pula banyak wartawan dari berbagai media di sana.


Yang paling menonjol saat itu adalah ibu-ibu yang diketahui bernama Melani yang menangis terisak-isak menuntut pemulihan nama baik anaknya.


“Anak saya adalah korban penabrakan.  Bukannya bersimpati, tetangga-tetangga malah banyak yang menghujat anak saya.  Bagaimana anak saya bisa tenang di alam sana?  Mengapa bisa korban disalahkan akibat kasus penabrakan?  Seharusnya penabrak yang harus disalahkan.  Ini semua karena cara reporter-reporter itu melaporkan beritanya.  Ini tidak adil bagi keluarga korban.  Nggggg!”


Suara isak tangis ibu itu ikut mewarnai keberisikan di depan kantor NTV News.


Dalam kasus ibu itu, reporter sama sekali tidak salah dalam menyampaikan berita.  Hanya saja, penyampaian berita yang disampaikan setengah-setengah, dibumbui oleh berita-berita yang tidak relevan dengan memotong bagian yang seharusnya disampaikan.  Sungguh, seseorang bisa jadi baik dan buruk di depan televisi tergantung dari bagaimana pers mengedit beritanya.


Tampak juga seorang bapak-bapak bernama Wihadi yang juga memprotes pemulihan nama baik di mana gara-gara beritanya muncul di televisi, nama baik bapak itu tercemar sehingga tidak dizinkan lagi oleh perusahaannya untuk menjadi supir angkot, pekerjaan yang telah dia tekuni sejak masih muda.  Padahal, polisi sudah menetapkan bahwa korban tidak bersalah berdasarkan saksi langsung dari penumpang yang diliput media dinaikkan tarifnya itu.


Tetapi yang namanya media, hanya meliput di saat suasana panas, sehingga ketika berita sudah tidak lagi panas, mereka akan segera memalingkan muka begitu saja.  Alhasil, semua orang hanya tahu bahwa Pak Wihadi adalah tukang korupsi biaya angkot, tanpa tahu dia sudah dibebaskan dari tuduhan itu dan nama baiknya telah secara resmi dibersihkan di penyelidikan kepolisian.  Ironisnya, perusahaan penyewa angkot tidak mau tahu hal itu dan lebih mementingkan keuntungan daripada nasib korban.


Dan sebagai tokoh utama dari itu semua Sang Anak dari Bapak Ahmad Arkam, tukang sampah yang menjadi korban pengeroyokan massa yang mengakibatkan hilangnya nyawa akibat salah tuduh yang akibat pemberitaan media, korban justru mendapat penghinaan pascakematiannya itu.

__ADS_1


Ironisnya kali ini, ketimbang lebih fokus mengawal kasus Bapak Ahmad Arkam agar pelaku yang berpura-pura sebagai korban itu segera ditangkap dan massa yang mengeroyok Pak Ahmad Arkam tersebut mempertanggungjawabkan perbuatannya,  Sang Anak justru lebih fokus dengan permintaan maaf media.


Jujur, karena nama baik Pak Ahmad Arkam kini telah dibersihkan, bukankah sekarang lebih tepat untuk media fokus mengawal penangkapan pelaku yang berpura-pura sebagai korban itu serta pertanggungjawaban massa yang mengeroyok Pak Ahmad Arkam?  Tentu saja dengan tidak melupakan bahwa sebagai pelaku yang membuat ini menjadi rumit, NTV News harus mempertanggungjawabkan kesalahannya dan meminta maaf di depan publik.


Tentu saja, tidak lupa dengan kasus NTV News yang lain yakni pelecehan nama baik putra pewaris Dewantara Group, Kaiser Dewantara.  Pihak kepolisian melalui wawancaranya dengan Queen TV dan DTV telah menegaskan bahwa pihak kepolisian sama sekali belum menetapkan satu tersangkapun dalam kasus pembunuhan massal di Sungsin Security.  Jelas-jelas kesalahan NTV News telah terlihat di publik, mengapa mereka masih berdiam diri dan enggan untuk meminta maaf?


***


Malam itu sekitar pukul 22.00.  Kaiser menyesap minuman kaleng soda yang dipegangnya di teras bawah rumahnya berlatarkan pepohonan dan langit malam berbintang.  Agni yang kebetulan keluar dari rumah bagian pembantu yang terpisah dari rumah utama dan lewat, melihat Kaiser yang murung dan menyapanya.


“Tuan Muda?”


“Oh Agni.  Apa yang kamu lakukan masih di luar malam-malam begini?”  Kaiser membalas teguran Agni dengan pertanyaan seraya menyesap minumannya.


“Tidak, aku hanya sedang memikirkan strategi apa yang nantinya akan kubuat?”


“Masalah NTV News?  Bukankah sebentar lagi mereka akan jatuh?”  Ujar Agni yang keheranan dengan kebingungan Tuan Mudanya di tempat yang tak perlu menurutnya.


“NTV sebagai pendatang baru berhasil menyingkirkan 3 pesaingnya hanya dalam waktu  5 tahun sejak berdirinya termasuk ZTV yang berada di posisi top saat itu dan berhasil menduduki peringkat teratas sekarang.  Mereka sukses jelas bukan karena keberuntungan.  Itu karena mereka memiliki kemampuan untuk bertahan dan bersaing di pasar yang sulit itu.  Mereka pastinya belum menyerah dan jatuh.  Sebentar lagi mereka pasti akan mengeluarkan senjata andalan mereka.”

__ADS_1


Kaiser menjelaskan pendapatnya kepada Agni seraya berjalan mondar-mandir dengan perlahan di depan kursi teras yang tadi didudukinya dan tepat di kata ‘senjata andalan mereka’, Kaiser melempar kaleng sodanya dan gol di tempat sampah


“Apa itu Tuan Muda?”  Tanya Agni penasaran.


“Yah apalagi, pengalihan berita?”  Jawab Kaiser sambil berbalik ke arah Agni yang ada di belakangnya sambil tersenyum nakal.


***


Malam itu, di waktu yang hampir bersamaan dengan pembicaraan antara Kaiser dan Agni, Vet Tcin, Sang Tokoh Utama yang menyebabkan keributan itu sedang duduk di depan meja kerjanya seraya sibuk dengan laptopnya.  Sesekali dia membenarkan kembali posisi kacamata yang tidak biasanya dipakainya di tempat umum sambil memijat-mijat daerah di sekeliling matanya pertanda lelah.


Di saat itulah seorang gadis remaja dengan pakaian nyentrik ala sosialita dengan topinya yang kali ini berwarna ungu dengan model yang khas seperti biasanya mirip baret pramuka kecuali adanya permata yang bergantung secara aneh di salah satu sisi topinya.


Dialah Rihana yang datang untuk merengek kepada ibunya.  Dia berlari ke arah ibunya kemudian memeluknya dengan manja.


“Bu, apakah ini tidak apa-apa?  Bukankah posisi kita terjepit Bu?”


Sang Ibu lantas membelai belakang kepala putrinya yang tidak dilindungi topi dan tersenyum lembut.


“Tenang saja Sayang.  Serahkan semuanya kepada orang dewasa.  Semuanya sudah ada solusinya.  Anak-anak hanya harus bersikap seperti biasa agar musuh-musuh kita itu tidak dapat menemukan sedikitpun kelemahan kita.”

__ADS_1


“Baik Bu.  Ibu memang yang terbaik.”  Jawab Rihana seraya menenggelamkan kepalanya ke dalam pelukan ibunya.


Vet Tcin mendekap putrinya itu dengan penuh kasih sayang.  Tampak wajah penuh kasih sayang khas ibu di wajahnya yang seketika berubah menjadi menakutkan.  Sudut-sudut bibirnya melengkung.  Dia tersenyum jahat.  Tampak seakan bersiap-siap untuk melakukan sesuatu yang sangat jahat.


__ADS_2