
“Jangan-jangan, Mbak adalah Kakak yang waktu kasus penyanderaan di dekat bank itu?” Ujar Kaiser dengan ekspresi kaget di wajahnya.
“Duh, Dek Kaiser, akhirnya baru ingat dengan Mbak ya.” Balas sang polisi wanita.
Kaiser pun tersenyum menunjukkan senyum ala pangerannya kepada Bianca, polisi wanita itu, seraya berkata,
“Selamat ya Kak. Rupanya Kakak telah berhasil menggapai impian Kakak.” Ucap Kaiser dengan tulus kepada Bianca.
Bianca membalas senyum itu dengan senyum tulus pula.
“Terima kasih, Dek Kaiser.” Ujarnya.
Ekspresi Kaiser seketika berubah menjadi ekspresi yang terlihat penasaran. Dia bertanya-tanya tentang keperluan apa gerangan Bianca menemuinya. Tidak mungkin jika Bianca menemuinya hanya untuk mengingatkannya pada kejadian 6 tahun lalu itu.
“Ada perlu apa, Kak, menemuiku?” Kaiser pun berujar.
“Dek Kaiser, aku perlu bantuan Adek sekali lagi untuk mengungkap kasus pembunuhan berantai itu.” Dan Bianca segera mengemukakan keperluannya tersebut.
Ekspresi Kaiser pun berubah rumit. Di belakang Kaiser, tampak sorot mata Agni yang menajam seakan memperjelas ketidaksukaannya akan tujuan kedatangan polisi wanita itu.
Di dalam hati, Agni tampaknya berpikir bahwa tujuan polisi wanita itu datang kemari tidak lain untuk kembali menyelidiki perihal Kaiser sebagai terduga pembunuh berantai joker hitam. Namun, tampaknya dia keliru. Tetapi Agni tetap tidak menurunkan kewaspadaannya tersebut.
“Mugkin hal ini tidak dapat lagi kami sembunyikan dari Dek Kaiser perihal keteledoran kami dalam mengawasi pihak media sehingga list kartu skop itu yang merupakan ciri pembunuh berantai joker hitam, terungkap ke publik.”
Bianca menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya sebelum melanjutkan,
“Aleka delapan skop, Rihana tujuh skop, Araka enam skop, dan terakhir Silva lima skop. Masih ada 4 list kartu skop yang tersisa sementara list calon korban berdasarkan penyelidikan kami cuma tiga, Tirta, Dirga, dan Riandra. Semula kami mengira itu Jingmi, bodyguard Silva itu, tetapi seandainya asumsi kami benar, maka Jingmi telah tewas lebih dulu, bahkan sebelum kasus ini booming di masyarakat dengan kematian Aleka.”
Bianca lantas menatap lembut ke mata Kaiser.
“Karena kami masih belum menemukan mayatnya, ada kemungkinan bahwa Jingmi masih hidup dan dialah calon korban terakhir, tetapi jika seandainya saja asumsi kami benar, maka ada satu calon korban yang tidak kami ketahui. Sebagai teman dekat Dios, apakah Dek Kaiser mengetahui orang lain selain orang-orang yang telah kami identifikasi di atas yang melakukan pembulian kepada Dios?”
Kaiser nampak terdiam mendengar ucapan Bianca tersebut. Namun, sekali lagi Bianca berucap,
“Maaf Dek Kaiser karena telah membebanimu karena ketidakbecusanku sebagai polisi. Padahal belum ada bukti bahwa tindakan pembunuh berantai ini terkait dengan kasus pembulian tersebut. Rupanya, Kakak juga telah termakan provokasi media.” Ujar Bianca dengan ekspresi lembut di wajahnya.
Kaiser sementara waktu masih terdiam. Namun, setelah hening sesaat, diapun berujar,
__ADS_1
“Maaf Kak, untuk saat ini, tidak ada yang dapat aku katakan kepada Kakak. Namun, jika ada informasi yang aku ingat dan perlu untuk disampaikan mengenai kasus pembulian itu, maka aku akan segera menghubungi kepolisian lewat Petugas Mono atau Petugas Dono. Kebetulan aku telah memperoleh nomor mereka.”
Bianca tampak menatap dalam-dalam ke wajah Kaiser. Dengan lirih, Bianca kembali berujar,
“Tidak ada kemungkinan pembunuh berantai itu mengincar Adek kan?” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Melihat kekhawatiran Bianca padanya itu, Kaiser terdiam sejenak. Dia kemudian tersenyum seraya berkata,
“Entahlah Kak. Walaupun itu benar, ada Airi dan Agni sebagai bodyguardku yang akan selalu melindungiku. Kakak tidak usah cemas.”
“Bagaimana aku tidak bisa cemas Dek? Mereka yang tewas saja memiliki bodyguard-bodyguard yang andal. Sedangkan Adek hanya memiliki dua orang wanita sebagai bodyguard Adek? Sebaiknya Adek perketat lagi penjagaan Adek.” Namun, mendengar hal itu, Bianca tak tahan untuk melampiaskan kekalutannya tersebut.
Kaiser pun menghela nafas.
“Mereka berdua jauh lebih kuat dari apa yang Kakak bayangkan.” Ujar Kaiser seraya tersenyum ramah.
“Kak Bianca?” Namun, setelah beberapa saat Bianca tak kunjung pula menggubrisnya, Kaiser pun menegur namanya.
“Oh, maaf Dek Kaiser, Kakak sedikit melamun. Apapun itu, Dek Kaiser tidak boleh lengah. Ini nomor Kakak.” Ujar Bianca seraya merogoh tas kecilnya seraya menyerahkan sebuah kartu nama kepada Kaiser.
“Untuk jaga-jaga, pastikan segera telepon Kakak jika Adek merasakan hal yang ganjil di sekitar Adek, walaupun itu tampak sekecil apapun. Karena Kakak pasti akan segera ke sana untuk memastikan keselamatan Adek.”
Di tengah sosok Bianca yang semakin redup dengan semakin jauhnya langkahnya, Kaiser terlihat pucat. Tampak sesuatu mengganjal di pikirannya.
[Pembunuh berantai itu tidak sedang mengincar Kak Danial kan? Hanya Araka dan aku saja seharusnya yang mengetahui keterlibatannya dalam kasus pembulian itu. Dan untuk menjaga imagenya, Araka tampaknya tak pernah menyinggung masalah itu. Ataukah kekhawatiran Kak Bianca benar bahwa pembunuh berantai itu juga mengincarku?] Gumam Kaiser dalam hati.
“Bagaimana perasaanmu Tuan Muda? Puas dengan kematian Silva dan Pak Sudarmin?”
Suara yang tiba-tiba datang dari jauh, lantas membuyarkan lamunan Kaiser. Rupanya sumber suara itu berasal dari Dono yang tiba-tiba saja muncul setelah melihat Bianca pergi menjauh.
“Yah, aku hanya penasaran saja ke mana Bianca akan pergi dengan wajah gelisah seperti itu. Tidak kusangka dia pergi menemuimu karena mengkhawatirkanmu. Dan aku juga tidak menyangka rupanya kalian telah saling-mengenal sejak lama.” Ujar Dono seraya tersenyum kepada Kaiser dengan ekspresi yang seakan minta untuk ditonjok.
“Pak Polisi?” Ujar Kaiser singkat mendapati kehadiran orang itu, sementara Agni di belakangnya menunjukkan sikap yang lebih waspada. Adapun Airi tampak tidak menunjukkan gerakan tertentu. Dia hanya mengamati dengan ekspresi hati-hati.
Agni serta-merta berlari ke depan Kaiser begitu polisi itu semakin mendekatinya.
“Anda masih saja menuduh Tuan Muda sebagai pelaku keji itu rupanya.” Ujar Agni seraya melotot tajam ke polisi itu. Sementara itu, Kaiser hanya terdiam dengan ekspresi sendu di wajahnya.
__ADS_1
Dono pun menyengir seraya menampakkan ekspresi layaknya meledek.
“Aku sama sekali tidak menuduhnya. Aku hanya menanyakan bagaimana perasaannya. Bukan begitu, Tuan Muda?” Ujarnya sambil menatap Kaiser.
Namun, Kaiser hanya terdiam seraya memalingkan wajahnya.
“Aku sudah membaca novel-novel favoritmu itu. Yang satu ceritanya tentang pembunuh berantai yang membalaskan dendam sahabatnya yang dibunuh dengan cara disiksa dengan kejam oleh para pembuli. Yang satu lagi menceritakan tentang sosok pemuda yang ingin membangun kerajaan ideal dengan memberantas siapa saja yang tidak sesuai dengan idealismenya. Wah, sungguh mengerikan! Apa jangan-jangan Tuan Muda merasa terilhami dari novel-novel itu?”
“Kamu?” Teriak Agni marah pada provokasi Dono.
Kaiser pun akhirnya berujar.
“Novel ‘Pembunuh Berantai’. Menceritakan tentang mantan pembunuh berantai yang mendapati kehampaan di hidupnya setelah berhasil membalaskan dendam sahabatnya. Suatu hari, dia kemudian tanpa sengaja terperangkap dengan bom di suatu ruangan bersama dengan seorang polisi yang mencoba untuk menangkapnya.
Alhasil, wajah mereka tak mampu lagi dapat dikenali karena terbakar di mana satunya selamat dan satunya lagi meninggal dunia. Yang selamat tidak lain adalah pembunuh berantai itu. Di luar dugaan, dia menjadi lupa ingatan sementara orang lain mengira dia adalah polisi itu sehingga dia dioperasi plastik dengan wajah milik polisi itu.
Jadilah dia beridentitas sebagai polisi itu dan menggantikan perannya menangkap para penjahat, termasuk para pembunuh berantai yang berkeliaran bebas di kota-kota. Begitu ingatannya pulih, dia justru merasa menyesal telah menjadi seorang pembunuh berantai di masa lalunya karena begitu seseorang meninggal, mereka tak dapat lagi mempertanggungjawabkan perbuatan mereka itu dengan setimpal.
Justru dirinya sendiri-lah yang dirusaknya dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Setidaknya, begitulah alur novel tersebut sampai volume 14.
Kemudian novel ‘Aku Terdampar di Dunia Paralel dan Tidak Bisa Pulang, Lalu Aku Membangun Kerajaanku Sendiri di Sini dari Nol’ malah jauh dari apa yang Bapak bayangkan. Itu adalah novel genre fantasi yang mengisahkan idealisme seorang pemuda yang banyak terpengaruh Machiavelli tentang bagaimana seorang pemimpin yang baik.
Walaupun ada adegan di mana dia mengeksekusi pejabat-pejabat korupnya, tetapi itu bukanlah inti pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Tampaknya Bapak belum menyelesaikan membaca keseluruhan isi novel. Itulah kelemahan Bapak yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hingga sampai saat ini belum mampu menangkap pembunuh berantai itu.”
Sang polisi pun segera membalas perkataan Kaiser tersebut dengan nada marah, “Jadi kamu ingin berkata bahwa aku bodoh karena dengan sembrono menuduhmu sebagai tersangka?”
Kaiser hanya menanggapi sentimen Dono tersebut dengan tersenyum lembut. Kemudian, Kaiser kembali berujar,
“Aku sendiri juga ragu akan diriku ini tentang apakah aku pembunuh berantai itu. Bisa saja aku seseorang yang memiliki kepribadian ganda dan melakukan perbuatan keji itu tanpa aku sendiri menyadarinya.”
Kaiser pun menatap dalam-dalam kepada Petugas Dono dengan mata biru cerahnya yang menyala.
“Maka Pak Polisi, berpikirlah jernih. Temukan bukti yang akurat. Dan jika memang aku pelakunya, maka Bapak harus menghukumku dengan hukuman yang setimpal. Jangan asal menuduhku karena itu hanya akan menurunkan kredibilitas kepolisian.” Ujar Kaiser dengan ekspresi penuh kesenduan dan kesedihan di wajahnya.
Berkat ucapan polos dari Kaiser itu, akhirnya untuk pertama kalinya, Dono merasa simpatik kepada bocah itu. Dia bisa menangkap ketulusan dari bocah itu dan bagaimana Kaiser sendiri punya permasalahan akan krisis identitas di hatinya itu. Dia sejenak merasa iba kepada bocah itu. Namun, dari situlah awal kesalahan terjadi.
__ADS_1
Ironisnya, apa yang tersembunyi di dalam diri Kaiser pun akhirnya mampu mengaktifkan pengaruhnya kepada Dono. Warna mata Dono seketika memancarkan cahaya biru cerah. Dan Dono pun akhirnya menjadi bidak setia apapun yang tersembunyi di dalam diri Kaiser tersebut.