DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
120. Pesona Kaiser, Kekaguman Wilda


__ADS_3

Seorang anak gadis biasa dengan tubuh pendek, badan agak subur, serta dengan kacamata mata khas otaku, sungguh incaran yang ideal bagi para pembuli kala itu.  Hal itu tak luput pula bagi para siswa baru SMA Angkasa Jaya.


Murid baru dengan lingkungan sekolah yang baru.  Mereka perlu dengan segera menyesuaikan diri agar terhindarkan dari kasta budak di sekolah baru mereka tersebut.  Tentu bagi mereka yang dari awalnya sudah terkenal di sekolah lama mereka, mereka hanya perlu melanjutkan untuk membangun image mereka yang telah baik tersebut.


Orang-orang populer dengan gampangnya mampu membangun kekuasaan di tempat baru mereka tanpa butuh effort yang keras.  Mereka hanya perlu menebarkan sedikit dari pesona mereka tersebut.  Lain halnya bagi mereka yang tak memiliki kemampuan apa-apa.


Untuk menyelamatkan diri mereka terjatuh di kasta yang terendah, mereka dengan cepat akan memilih untuk mengincar kasta kelas menengah dengan menjilati kaki para orang-orang populer yang akan menduduki kasta kelas atas tersebut.


Mereka sadar bahwa diri mereka selamanya takkan pernah mampu menempati kasta eksklusif tersebut karena kekurangcakapan mereka.  Bagi mereka, cara yang paling mudah untuk selamat dari sistem kasta konyol itu adalah memilih orang yang terlemah di antara mereka untuk dijadikan tumbal penghinaan.


Mereka menganggap bahwa dengan menghina orang yang nilainya lebih rendah dari mereka, mereka akan mampu meningkatkan nilai diri mereka sendiri.  Ya, pembulian kepada orang-orang yang lebih lemah.  Perbudakan, perkacungan, atau istilah populernya sekarang, penindasan kepada sosok yang berstatus sebagai pembawa barang tersebut.


Di situasi dunia pendidikan yang kian kacau tersebut, Wilda justru menyembunyikan identitasnya melalui penyamaran yang benar-benar tak tepat.  Kala itu, dia bermaksud untuk mendaftarkan ulang dirinya pada pendaftaran ulang siswa baru SMA Angkasa Jaya tersebut.  Dengan polosnya, dia berjalan dengan penampilan seperti itu di antara kerumunan siswa, tidak, kerumunan serigala yang siap menerkam mangsanya.


Dengan cepat, para serigala haus korban itu memperhatikan calon korban ideal mereka.  Mereka tertawa cekikikan kegirangan sambil berharap agar sang siswi bodoh itu akan terdaftar di kelas yang sama dengan mereka untuk menjadi tumbal pembulian di kelas mereka.  Mereka saling berbisik dan dengan cepat saling berbagi informasi satu sama lain tentang identitas calon korban mereka.


Begitu mereka memverivikasi bahwa calon korban bukanlah dari keluarga dengan kelas yang tinggi, mereka pun segera melabeli siswi bodoh itu dengan cap ‘calon budak’.


Tentu saja itu semua sebelum Kaiser akhirnya mampu mengubah 180 derajat suasana kelam sekolah itu menjadi suasana yang ideal untuk menikmati masa muda dengan membangun persahabatan bersama seperti sekarang hanya dalam waktu tiga bulan dia bersekolah di sana.  Tetapi mari kita jadikan itu sebagai cerita lain di masa mendatang.


Wilda pun berjalan menerobos kerumunan untuk turut menyetorkan formulir pendaftaran ulangnya di bagian registrasi siswa baru.  Tetapi apa yang terjadi, satu persatu para siswa baru di dekatnya menabraknya sehingga diapun terjatuh.


Tidak hanya sampai di situ.  Formulir pendaftaran Wilda yang tercecer di lantai tersebut diinjak-injak hingga penuh dengan jejak sepatu.  Naasnya, setelah terjatuh pun, masih ada seorang siswi lainnya yang sengaja menabraknya dan menjatuhkan kacamatanya hingga retak.

__ADS_1


Bayangkanlah, jika kalian ada di posisi Wilda, apa yang akan kalian lakukan?  Tentu kalian akan menangis, bukan?  Atau setidaknya marah atau mengutuk perbuatan tersebut.


Tetapi sedari kecil, Wilda telah dididik untuk tidak pernah mengeluarkan air matanya di depan orang-orang sesedih apapun perasaan hatinya.  Diapun dengan tanpa ekspresi menerima perlakuan tersebut.


Tetapi justru itulah yang membuat para pembuli itu bertambah kesal.  Mereka kesal karena sentimen mereka tidak berdampak pada korbannya.  Namun, ketika mereka hendak memberikan sentimen yang lebih kejam lagi, di situlah Kaiser datang ke hadapan Wilda.


“Hai Mbak.”  Ujar Kaiser seraya mengeluarkan senyum ala pangerannya sambil mengulurkan tangannya kepada Wilda.


Wilda tampak tersipu malu.  Baginya yang baru mengenal dunia luar, melihat wajah pemuda yang sangat tampan yang ketampanannya melampaui batas zamannya di hadapannya itu bagaikan suatu anugerah seumur hidupnya.  Diapun hendak menggapai tangan pemuda itu.


Tetapi bisikan mengejek dan merendahkan dirinya dari orang-orang di sekelilingnya membuat Wilda merasa terpuruk.  Dia jadi merasa bahwa dirinya terlalu udik untuk memegang tangan pemuda berkarisma luar biasa itu.  Wilda pun memalingkan wajahnya dengan perasaan bersalah.


Kaiser seketika mampu menangkap perasaan inferior wanita lugu di hadapannya itu berkat pengalaman yang telah dia tempuh selama ini.  Kaiser pun tersenyum lembut.  Dia lebih menundukkan badannya lalu balik menggapai tangan wanita lugu yang tak jadi diulurkannya tersebut.


Namun, tatapan tajam merendahkan masih mengalir sana-sini berupaya untuk mematahkan mental Wilda.  Melihat situasi itu,  Kaiser sekali lagi mengeluarkan senjata andalannya, senyum ala pangerannya, yang membuat kaum hawa seketika salah tingkah dan kaum adam seketika merasa inferior.


Dan dengan pembawaan yang alami, Kaiser memungut dan membersihkan kacamata serta lembar pendaftaran ulang Wilda yang penuh dengan jejak sepatu itu.  Diapun kembali menyerahkan barang tersebut kepada Wilda sambil tersenyum ramah kemudian mengajaknya bersama untuk mengumpulkan lembar pendaftaran.


Entah hipnotis apa yang dimiliki oleh Kaiser, dia membawa suasana begitu alami di tengah kerumunan serigala liar itu lalu keluar dari kerumunan dengan mengalihkan rasa superioritas mereka kepada Wilda kepada rasa inferioritas terhadap suatu sosok yang takkan pernah mereka kalahkan yang tidak lain adalah diri Kaiser sendiri.


Begitulah orang-orang yang sangat mengagung-agungkan kekuasaan, cara terefektif untuk menekan mereka adalah dengan menunjukkan kekuasaan pula.


Namun, Kaiser sadar bahwa perbedaan jenis kelamin, membuatnya tak mampu melindungi gadis lugu itu seutuhnya.  Jika dia terus melindungi Wilda dengan membiarkannya berdiri di belakangnya, suatu hari ketika Kaiser tiada, Wilda akan terjerembab lagi, bahkan ke tempat yang lebih dalam.

__ADS_1


Di situlah dia memperkenalkannya kepada Ratih dan Mirna.  Teman baik lawan jenis Kaiser yang paling setia.  Berkat Ratih dan Mirna-lah, gadis lugu itu mampu bertransformasi menyesuaikan sikapnya menjadi wanita kuat yang membuat orang-orang tidak akan mudah meremehkannya lagi.


Berkat Ratih dan Mirna-lah, Wilda mampu memperoleh kehidupan yang indah di sekolah itu.  Tidak hanya sekadar mentransformasinya, Ratih dan Mirna pun juga tulus menjadikan gadis lugu itu sebagai bagian dari mereka, seorang sahabat sejati.


Namun, Wilda mampu mengenal Ratih dan Mirna, semua adalah karena Kaiser.  Itulah sebabnya bagi Wilda, Kaiser adalah suatu sosok agung, penyejuk hatinya, idolanya yang berharga.  Senyuman menawan pemuda naif itu telah menyelamatkan hidup seorang gadis lugu tersebut.  Betapa dia bersyukur telah mengenal sosok yang begitu istimewa itu.


Tetapi kini, orang yang berharga baginya tersebut, akan segera meregang nyawa di hadapan pembunuh sadis itu jika dia tak berbuat apa-apa.  Bagaimana mungkin dia dapat tinggal diam.  Diapun memutuskan untuk melakukan apapun demi menyelamatkan orang yang paling berharga di hidupnya itu, apapun akibatnya.


“Kau datang juga, sialan!  Matilah kau!”  Ujar Tirta dengan ekspresi yang sangat menakutkan di wajahnya.  Di tangan kanannya, sebuah pedang mainan telah siap dia posisikan untuk menebas sosok yang paling dibencinya yang sedang berlari menuju ke arahnya itu.


Tetapi, suara seorang gadis tiba-tiba terdengar dari kejauhan.


“Tuan Muda!”  Teriak Wilda.


Pandangan Tirta pun teralihkan ke sosok gadis pendek yang sedang berlari dengan kecepatan yang di luar batas manusia normal ke arahnya tersebut.


“Truuuuush!”


Suara benturan yang keras pun terdengar.  Pedang mainan Tirta dan gagang sapu ijuk Wilda seketika berbenturan.  Jika dilihat sekilas, bagaikan anak remaja yang kehilangan kebahagiaan masa kecilnya sehingga bersikap kanak-kanak dengan main pedang-pedangan.


Namun, itu pertarungan sungguhan.  Baik pedang mainan itu, maupun gagang sapu ijuk itu, mengalir cakra kuning milik mereka berdua yang saling berbenturan menghasilkan percikan cakra yang dahsyat.


Dalam sekejap, Wilda mampu melampaui Kaiser yang sesaat lagi berhadapan dengan Tirta.  Kini, Wilda-lah yang ada di hadapan Tirta, siap bertarung dengan pembunuh sadis itu.

__ADS_1


__ADS_2