DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
13. Vet Tcin dari NTV News


__ADS_3

Vet Tcin, imigran asal Thailand.  Pertama kali ke Indonesia bersama dengan suaminya, anak seorang pemilik perusahaan TV nomor 1 kala itu, ZTV.  Dia memulai karirnya sebagai reporter berkat dukungan suaminya.  Tidak lama setelah mereka menikah, mereka dianugerahi seorang anak bernama Rihana.  Mereka hidup dengan cukup bahagia sampai suaminya dinyatakan menderita Leukimia saat Rihana berusia 5 tahun.  Sejak suaminya menderita Leukimia, entah karena alasan apa, Vet Tcin keluar dari ZTV News dan memutuskan untuk bergabung dengan NTV News di bawah naungan N News and Entertainment yang kala itu belum genap berusia 1 tahun.


Walaupun telah memisahkan diri dari perusahaan milik mertuanya, Vet Tcin masih kerap mengurus suami berserta anaknya itu.  Namun, sejak keluarnya Vet Tcin dari ZTV dan berkat manajemen yang buruk, 4 tahun setelah calon pewaris satu-satunya perusahaan yang mengelola ZTV itu mengidap Leukemia, perusahaan menderita pailit.  Vet Tcin yang tidak tahan dengan keadaan suaminya yang sakit-sakitan dan tanpa apa-apa pun, memutuskan untuk menceraikannya dengan membawa anak mereka bersamanya.


Mungkin karena iba atau masih ada sedikit rasa cinta di hatinya, Vet Tcin diam-diam membiayai biaya kemoterapi mantan suaminya selama satu setengah tahun melalui mantan mertuanya.  Sayangnya satu setengah tahun kemudian sejak Vet Tcin mandanai biaya kemoterapinya, suaminya itu mengetahui kenyataan pahit tersebut dan menolak mentah-mentah untuk dikemoterapi lagi.  Dan akhirnya, karena tak lagi menerima pengobatan yang cukup, suami Vet Tcin menghembuskan napas terakhirnya di saat Rihana masih berusia 11 tahun.


Berbeda dengan suaminya yang malang, patut diakui bahwa keahlian Vet Tcin sebagai penyedap rumor mampu membawanya ke puncak karirnya sebagai reporter.  Dia sangat lihai dalam memainkan emosi, menarik, atau mengalihkan perhatian massa.  Benar-benar tipikal reporter yang sangat dibutuhkan oleh penguasa dunia bawah.


Dia pernah sekali membuat pelaku penabrakan justru mendapat simpatik dari publik dan justru almarhum korban penabrakannyalah yang dihujat.


Dia pernah juga membuat calon anggota DPR kala itu yang terkenal sering mabuk-mabukan dan main wanita terpilih menjadi salah satu anggota DPR.


Dia juga pernah dengan lihainya mengalihkan perhatian publik sehingga hukum pelegalan zina berhasil disahkan.  Alhasil, kini zina telah legal di Indonesia.


Benar-benar reporter yang luar biasa.  Berkat prestasinya bagi pemain-pemain dunia bawah, dia memperoleh banyak kekayaan dan kekuasaan.  Kini dia telah menjadi pemegang saham terbesar di Perusahaan N News dan Entertainment dan berhasil menjabat sebagai kepala reporter di salah satu anak perusahaannya yakni NTV News.


Dan orang itu sekarang muncul di berita yang ditonton oleh Andika, Kaiser, Beni, dan Loki.


“Premanisme menjadi umum di Indonesia…  Kekayaan dan kekuasaan Dewantara Group menghalangi penegakan hukum yang tepat…Undang-Undang Perlindungan anak seharusnya tak melindungi remaja yang menjadi calon tersangka kasus pelanggaran HAM…”


“Wah, kalau beritanya seperti ini, Kaiser seperti telah dijadikan tersangka, padahal kepolisian saja belum memperoleh bukti apa-apa selain rekaman suara dan CCTV yang tidak jelas itu.” Sanggah Beni.


“Begitulah media.  Mereka berdalih bahwa mereka hanya menggunakan kata calon tersangka dan tidak mendahului keputusan investigasi kepolisian.  Tapi di mata masyarakat yang tidak tahu apa-apa, kata calon tersangka sama saja efeknya dengan tersangka.  Mereka tentunya sudah tahu itu dan tetap melakukannya untuk menjatuhkan Kaiser.  Benar-benar orang dewasa yang bejat.”  Kata Loki menambahkan.


Mereka bertiga seraya menatap Kaiser, khawatir terhadap sahabatnya itu.  Kaiser yang merasakan tatapan teman-temannya itu, tetap melanjutkan menyantap makanannya tanpa berkomentar apapun.  Andika yang tidak tahan situasi itu, langsung berdiri.


“Bibi, tolong dong ganti chanelnya!  Beritanya sampah.”


“Baik Dek!”


Sang Bibi seraya mengganti channel televisi, tetapi apa yang didapatkannya, berita yang sama juga ditampilkan oleh Beo TV,


“Calon pewaris ketiga Dewantara Group terlibat skandal pembunuhan…”


Sang Bibi tampak panik kemudian mengganti chanelnya lagi.  Namun sayangnya, Bekicot TV yang kali ini mereka tonton juga tetap memberitakan hal yang sama,


“Ditemukan CCTV di mana salah satu korban sampai kencing di celana setelah dirundung oleh Kaiser Dewantara…”


Sang Bibi menjadi serba-salah dan keringat dingin sempat keluar lewat dahinya.  Dia kemudian mengganti chanel lagi dan kali ini adalah channel TV milik keluarga Dewantara, DTV yang mempertontonkan siaran alam satwa liar.

__ADS_1


“Hehehehe.”  Kaiser berusaha tertawa seraya menatap Sang Bibi dengan ramah seolah mengatakan bahwa Sang Bibi tidak usah khawatir karena dia baik-baik saja.


“Maaf Bi, merepotkan.”  Ujar Kaiser seraya mengeluarkan senjata andalannya yakni senyum ala pangerannya.


Seketika hati Sang Bibi pun luluh karenanya.  Sang Bibi menutupi mukanya yang memerah seraya menjawab terbata-bata dan tersenyum salah tingkah kepada Kaiser sebelum berbalik melanjutkan memasak.


Tampak angkatan kelas 1 jurusan umum yang saat itu memenuhi kantin memandang Kaiser dengan pandangan penuh rasa kasihan dan simpatik.  Loki yang melihat sekitar dan berhasil menangkap pemandangan itu seraya bergumam,


“Sungguh, orang ini begitu menerima banyak cinta.  Tampaknya semuanya akan baik-baik saja.”


“Kamu bilang apa Loki?”  Tanya Beni tiba-tiba yang mendengar suara Loki samar-samar.


“Tidak.  Bukan apa-apa.”  Jawab Loki seraya tersenyum.


“Oh iya teman-teman, bagaimana kalau kita melakukan sesuai dengan ide Beni tadi?  Terus terang aku juga sudah rindu dengan suasana distrik perbelanjaan umum di sana.”  Kata Kaiser tiba-tiba memecah suasana.


Mereka bertiga sontak kaget dengan ucapan Kaiser barusan seolah Kaiser sengaja mengundang bahaya datang ketika bahaya itu memang sedang menunggu-nunggu kesempatan untuk menghampirinya.


“Yah, menurutku apapun yang kulakukan sekarang, tidak akan mengubah keadaan kan?  Jadi aku hendak melakukan apapun yang membuatku bahagia saja.  Lagipula ini bukan sekali atau dua kalinya aku berhadapan dengan wartawan.”  Ucap Kaiser seraya mengeluarkan senyum khas ala pangerannya.


“Tapi sekarang masalahnya beda kan?  Ini bukan sekedar skandal biasa.  Kamu dituduh membunuh.  Kamu diperlakukan layaknya kriminal.”  Ucap Andika dengan setengah marah.


“Lantas apa kalian percaya terhadap berita yang beredar?”  Kaiser berucap dengan bercampur rasa sedih di dalamnya sambil menatap mereka bertiga dengan ekspresi sayu.


“Syukurlah, kalau begitu tidak ada yang perlu dipermasalahkan.”  Ucap Kaiser seraya tersenyum nakal.


“Yah, aku juga tadi bercanda kok.  Bukan hal yang bagus untuk bertemu dengan wartawan saat ini.  Oleh karena itu, kita akan keluar lewat pintu samping di gedung senior kelas IPA.”  Ucap Kaiser kali ini dengan tersenyum manis.


“Ya ampun.  Jadi ujung-ujungnya kamu tetap mau jalan-jalan ya.  Baiklah jika itu maumu.  Aku ikut.”  Ucap Andika yang berusaha tenang, tetapi tidak dapat menyembunyikan tawa kecilnya yang mengisyaratkan betapa dia bahagia bisa jalan bareng teman-temannya.


“Jadi sudah diputuskan, habis pulang sekolah kita ke distrik perbelanjaan umum dekat rumah Senior Zion.”


“Ok.”


“Sip.”


Jawab Beni dan Andika dengan cepat terhadap pernyataan Kaiser.


“Maaf teman-teman, sepertinya aku tidak bisa ikut.  Aku ada latihan beladiri sepulang sekolah.”  Ucap Loki menginterupsi.

__ADS_1


“Seperti yang diharapkan dari ketua kelas.”


“Wah sibuk sekali.”


“Seperti yang diharapkan dari siswa teladan.”


Ujar Beni, Kaiser, dan Andika bergiliran berusaha menggoda Loki.  Merekapun seraya tertawa bersama melanjutkan makan siang mereka.


***


“Eh, Kaiser mana?  Tadi bareng kita kan?”  Tanya Andika seraya melihat sekeliling.


“Tuh di belakang.”  Jawab Beni dengan sedikit tersenyum karena mendapati tingkah Andika yang lucu seakan melihat anak TK yang akan dibawa jalan-jalan oleh ayah-ibunya.


“Kamu sebegitu senangnya ya.”  Tanya Beni balik.


“Ya, tentu saja aku senang.  Jarang-jarang Ayah memberikanku izin untuk keluar.”


“Wah, ayahmu begitu ketat ya.  Tapi pergi sekarang tidak apa-apa?”  Tanya Beni lagi yang semakin penasaran.


“Iya, soalnya ada Kaiser.  Ayah selalu mengizinkanku keluar jika ada Kaiser.”


Beni yang sedari tadi asyik mengamati ekspresi ceria Andika lantas tersenyum tenang seraya mengucapkan, “Kalian benar-benar sahabat yang baik ya.”


Andika yang mendengar ucapan itu menatap Beni dengan keheranan dan menunjukkan ekspresi yang seakan mengatakan, bukankah itu sudah jelas.


“Maaf teman-teman karena menelepon agak lama.”  Kaiser yang datang dengan napas yang sedikit terengah-engah karena berlari kemudian menghampiri mereka berdua seraya menepuk bahu Andika dan Beni.


“Biar kutebak, kamu pasti menghubungi Senior Agni lagi kan?  Kamu sulit juga ya, setiap kali keluar harus melapor.”  Ucap Andika seraya melirik Kaiser.


“Aku paling tidak ingin mendengar itu dari orang yang harus minta izin ayahnya setiap kali ingin keluar.”  Ucap Kaiser seraya menjitak dengan halus kepala Andika.


Andika dan Kaiser seraya tertawa bersama.


“Tapi selain Agni, aku juga menghubungi seorang lagi.”  Ujar Kaiser menginterupsi suasana bahagia itu.


“Siapa?”  Tanya Andika dan Beni secara bersamaan  yang penasaran setelah mendengar hal itu.


“Hmm.  Aku mengajaknya juga jalan-jalan agar lebih menyenangkan.  Ujar Kaiser seraya tersenyum manis.

__ADS_1


“Hei! Di sini.”


Dari depan pos security pintu samping tampak seorang pria yang mengenakan seragam yang sama dengan mereka, tetapi agak sedikit kumal.  Dialah Zion, senior Kaiser dulu di SMP dan juga sekarang di kelas 2 IPA 2 di sekolah mereka.  Dialah orang yang dimaksud Kaiser.


__ADS_2