
“Nak, kamu baik-baik saja?”
Bu Nana yang mendapati anaknya Kaiser pulang dalam keadaan sakit segera menggapainya.
“Biarkan Kaiser beristirahat di kamarnya untuk saat ini Dek.”
Pak Arkias segera menenangkan Bu Nana, sementara Agni menggopoh Kaiser menuju kamarnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi Kak?” Lucias yang tampak sangat khawatir segera bertanya kepada kakaknya itu.
“Entahlah, mungkin kejadian beberapa hari ini membuatnya terlalu banyak pikiran. Walaupun Kaiser tampak kuat di luar, bagaimanapun dia masih terlalu muda.” Jawab Pak Arkias terhadap pertanyaan adiknya itu.
***
Di tempat lain, Araka dan Riandra mengadakan pertemuan berdua di tempat biasa mereka di bar VIP milik keluarga Dirga Isnandar.
“Hei, Araka. Bagaimana kamu akan mengatasi masalahku? Kamu tahu, aku tidak bisa keluar rumah gara-gara judge orang-orang padaku karena berita itu. Dan juga keluargaku sedang sibuk mengurusi bisnis kami yang sedang kritis karena musibah yang kebakaran pabrik yang baru saja menimpa kami.”
“Kalau kamu merasa malu, mengapa kamu melakukannya di tempat pertama? Bisa-bisanya kamu menonton itu di tempat umum.” Araka yang tidak tahan dengan sikap Riandra hanya dapat menekan jidatnya dan mengeletupkan gigi-giginya.
“Soalnya aku penasaran sekali dengan videonya. Aku tidak tahan menunggu sampai di rumah untuk menontonnya. Aku tidak menyangka kalau ada CCTV tersembunyi di ruangan itu. Padahal, aku sudah bayar mahal kafe itu, tetapi aku tidak menyangka privasinya b*llshit.” Ucap Riandra dengan agak menonjolkan amarahnya pada kafe itu.
“Karena sekarang Rihana sudah tidak ada, agak sulit untuk berkomunikasi dengan media, tetapi aku sudah meminta orang-orangku untuk membayar beberapa stasiun TV untuk mengontrol berita itu. Sayangnya, kita tidak bisa berbuat apa-apa soal DTV dan Queen TV.” Jawab Araka sambil menghembuskan nafas dengan ekspresi lelah yang mengungkapkan betapan mental dan fisiknya begitu terkuras belakangan ini.
“Aku bisa paham dengan DTV karena dia adalah musuh kita, tetapi mengapa dengan Queen TV? Mengapa media yang selama ini netral mendadak memusuhi kita?”
__ADS_1
Araka tidak menanggapi komentar balik Riandra itu.
“Linda, tambah minumannya.” Araka justru berteriak memanggil Sang Pelayan Wanita yang hanya mengenakan BH dan underwear itu untuk membawakannya minuman keras tambahan.
Araka langsung meneguk dalam satu kali tegukan minuman yang baru saja ditambahkan itu . seraya menatap Riandra dengan tajam.
“Jika kamu tahu posisi kita lagi sulit, maka jangan banyak tingkah! Aku juga sibuk dengan urusanku sendiri saat ini agar dapat secara resmi diangkat sebagai bagian anggota keluarga Lu. Jika kamu mengerti, tolong jaga sikap dan jangan jadikan dirimu menjadi alasan ayahku menilaiku tidak becus!” Araka tidak dapat lagi menahan amarahnya.
***
Di kamar itu, Kaiser nampak telah bangun dari tidur singkatnya di mana jam masih menunjukkan pukul 9.30 malam. Di sampingnya, Bu Nana dan Pak Lucias yang telah menemani Kaiser sepanjang tidurnya menatap putranya itu dengan penuh kehangatan bercampur kekhawatiran.
“Kamu baik-baik saja Nak?” Ucap Bu Nana khawatir.
“Hahaha. Kaiser baik-baik saja Bu. Kepala Kaiser hanya sedikit pusing karena AC di kelas Kaiser rusak tadi pagi.” Ucap Kaiser sambil tertawa kecil dengan ceria untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Pak Lucias lah yang pertama kali memecah keheningan itu.
“Wah, aku tiba-tiba jadi rindu dengan Bu Nafisah. Sudah lama ya Sayang kita tidak mengunjungi Beliau.”
“Iya, Ibu pasti senang dengan kedatangan kita apalagi kalau kita membawa cucu kesayangannya ini.” Ucap Bu Nana seraya melirik ke arah putranya itu.
“Nak, ayo ikut bareng ayah-ibu mengunjungi nenek di kampung.” Pinta Bu Nana kepada putranya itu seraya membelai rambut putranya yang masih terbaring di tempat tidur.
Kaiser bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk ayah-ibunya. Mereka saling berpelukan dalam kehangatan. Tanpa berkata apa-apa, mereka dapat saling memahami perasaan satu sama lain.
__ADS_1
“Ayo, Ayah, Ibu.” Ucap Kaiser dengan hangat seraya tersenyum cerah.
***
Esoknya, hari sabtu. Kaiser memutuskan untuk meminta izin tidak hadir ke sekolah. Pagi itu, Kaiser beserta ayah dan ibunya memutuskan untuk pergi berlibur ke kampung halaman Bu Nana di daerah Jawa Barat. Mereka pun akhirnya tiba di rumah Nenek Kaiser itu, walaupun agak sedikit terlambat dari waktu yang diprediksikan karena kemacetan lalu-lintas. Di depan mereka, berdiri seorang nenek yang mengenakan jilbab pink panjang dengan gaun krem berenda bunga yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian telapak tangan. Nenek itu menyapa mereka.
“Anakku, menantuku, dan cucuku sayang, sudah sholat dhuhur belum? Kalau belum, ayo gih cepat masuk ke rumah dilaksanain. Waktunya sudah hampir habis.” Ucap Sang Nenek sambil tersenyum.
Siang itu dihabiskan Kaiser bersama ayah, ibu, dan neneknya dengan makan besar sambil bersenda-gurau lalu duduk-duduk sejenak untuk beristirahat.
[Memang tidak ada yang bisa mengalahkan suasana asri nan sejuk di kampung Nenek.] Gumam Kaiser dalam hati.
Sore harinya, rombongan keluarga itu memutuskan untuk melihat-lihat aktivitas Sang Nenek dalam membuat barang kerajinan ayaman dari daun kelapa.
Kaiser dan Sang Nenek duduk berdampingan berdua di teras lantai pertama rumah. Sang Neneklah yang duluan membuka pembicaraan.
“Melihat keluarga Nenek bisa berkumpul seperti ini, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa senangnya Nenek saat ini. Ayah dan Ibu Nenek meninggal ketika usia Nenek masih belum menginjak 15 tahun. Nenek sudah terbiasa hidup sendiri, mencari nafkah untuk menghidupi diri Nenek sendiri. Tapi setelah bertemu Jun-san, rupanya Nenek sudah tidak terbiasa lagi dengan kehidupan sendiri. Hari-hari Nenek rupanya lebih bahagia ketika didampingi oleh orang-orang yang dicintai. Dan ketika hari itu berlalu, Nenek mau tidak mau merasakan kehampaan.” Ucap Sang Nenek secara melankolis.
Kaiser tampak memperhatikan dengan seksama ekspresi neneknya itu. Diapun berucap, “Ayo Nek, tinggal bareng Kaiser saja di kota!”
“Sayangnya, Nenek tidak cocok dengan kehidupan kota Cu. Suasana pedesaan yang asri seperti inilah yang paling membuat Nenek merasa betah. Di desa inilah kenangan Nenek yang paling berharga bersama Jun-san berada. Lagipula, mengetahui kalian baik-baik saja di sana dan sesekali mengunjungi Nenek, Nenek tidak bisa meminta lebih dari itu. Itu sudah cukup membuat Nenek merasakan kebahagiaan.” Ucap Sang Nenek sambil tersenyum tetap dengan ekspresi melankolisnya.
“Nenek pasti sangat mencintai Kakek ya. Tapi mengapa Nenek bisa bercerai dengan Kakek?” Kaiser yang penasaran pun bertanya.
“Ada hal-hal di dunia ini yang tak dapat digapai hanya dengan cinta saja Cu. Ada beberapa hal yang terkadang menjadi penghalang untuk kita berpisah walaupun saing mencintai. Entah itu perbedaan kegemaran, perbedaan hobi, perbedaan keluarga, perbedaan budaya, ataupun perbedaan keyakinan.” Ucap Sang Nenek dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
Kaiser menyadari ucapan neneknya yang menekankan di bagian paling akhir kalimatnya. Kaiser kurang lebih bisa menebak mengapa kakek dan neneknya yang begitu saling mencintai akhirnya berpisah. Ada cinta yang lebih kuat dari sekedar cinta dunia saja.