
“Tuan Muda?”
“Kamu turunlah duluan. Aku masih perlu mengunjunginya.” Agni kemudian membungkuk dan segera bergerak masuk ke lift. Agni menatap Kaiser yang perlahan meninggalkannya sampai pintu lift pun tertutup.
Kaiser melangkah memasuki ruang bertuliskan 808.
“Kreaaak!” Suara pintu terbuka.
Seorang pemuda yang mirip Kaiser, namun tampak lebih tua seraya menengok keluar ke arah pintu yang terbuka tersebut. Tampang pemuda itu cukup unik. Siapapun yang melihatnya dapat segera menebak kalau pemuda itu berkelainan mental.
[Cih, dia masih bangun rupanya.] Gerutu Kaiser dalam hati.
“Sepupuku Kaiser!” Pemuda dengan tingkah kekanak-kanakan yang tidak sesuai dengan usianya itu berlari ke arah Kaiser dan mencoba memeluknya.
Kaiser dengan sigap menangkis pelukan itu dengan tatapan jijik.
“Hentikan Kak.” Ucap Kaiser dengan nada marah.
Melihat Kaiser marah, pemuda itu lalu merajuk sedih.
“Maafkan Kakak, Dek Kaiser. Pasti kamu sangat membenci Kakak ya sampai-sampai kamu tidak mengizinkan lagi Kakak memelukmu. Kamu juga hampir tidak pernah mengunjungiku lagi.” Kata pemuda itu.
Kaiser pun berusaha mengolah ekspresi mukanya. Kaiser yang maklum dengan tingkah Kakak sepupunya itu berusaha menyamakan frekuensi dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan. Senyum yang sedikit dipaksakan pun tampak di wajah Kaiser. Kaiser kemudian mengusap kepala pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu.
“Sudah malam Kak. Ayo tidur!”
“Tidak mau! Jika Kakak tertidur, pasti Adek Kaiser langsung pergi.” Ucap pemuda itu seraya menggembungkan pipinya tanda merajuk.
[Duh, bocah berbadan besar ini.] Kaiser menggerutu dalam hati untuk yang kedua kalinya.
Dialah Danial. Sepupu Kaiser yang setahun lebih tua darinya. Setelah menyaksikan kejadian traumatis sewaktu dia menginjak kelas 3 SMP, dia menjadi mengidap penyakit mental. Kelakuannya mendadak menjadi seperti anak-anak. Dia juga menjadi penakut dan sering mengurung diri di dalam rumah. Dia terkadang tiba-tiba berteriak histeris tanpa sebab sehingga harus ditenangkan dengan obat penenang. Dia terutama sangat takut melihat benda-benda menyerupai tongkat panjang. Diapun juga takut bertemu ayah-ibunya. Tetapi anehnya, dia merasa tenang di dekat adik sepupunya Kaiser.
“Kaiser akan menemani Kakak malam ini. Jadi tenanglah dan tidurlah.”
“Janji ya.”
“Iya, Kaiser janji Kak.”
“Baiklah, kalau Adek yang bilang begitu, Kakak akan segera tidur.”
Danial kemudian menutup matanya untuk tertidur. Kaiser lantas menyanyikan lagu pengantar tidur yang keindahan suaranya bagaikan lantunan Sang Lorerei di Pantai Selatan versi cowok. Tidak lama kemudian, Danial pun tertidur.
Kaiser mengusap dahi kakak sepupunya yang tertidur lelap itu.
“Ini semua karena kebodohan Kakak berteman dengan orang yang salah. Kakak sepupuku yang malang, bertahanlah! Sedikit lagi, pasti kondisinya akan lebih baik lagi.” Kaiser menempelkan dahinya ke dahi kakak sepupunya itu. Air mata yang deras tak dapat dipendamnya di balik mata birunya yang bak berlian itu. Kaiser mengeluarkan air mata dalam sepi. Hanya isak-tangis yang terdengar.
***
“Tuan Muda.”
“Oh Agni.”
“Mata Anda kenapa memerah?”
“Oh.”
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya Tuan Muda lakukan?” Agni segera berjalan mendekati Kaiser untuk lebih memastikan kondisi Kaiser.
“Bukan apa-apa. Yuk.” Ucap Kaiser seraya menangkis tangan Agni yang hendak menyentuh wajahnya dengan tameng siku tangan kirinya melindungi wajahnya.
“Preaaaaak!”
Tiba-tiba sebuah mobil yang tidak asing lagi bagi mereka berhenti tepat di depan mereka. Seorang pria dengan usia akhir 20-an turun dari mobil dan segera menunduk di hadapan Kaiser untuk memberi penghormatan dan sedikit menundukkan kepalanya untuk menyapa Agni yang sedang bersama Kaiser untuk menyambut mereka.
“Pak Salman? Kenapa Bapak ada di sini?” Tanya Agni keheranan.
“Agni, kamu pulanglah bersama dengan Pak Salman.”
“Tapi Tuan Muda, kenapa?”
“Yah aku hanya sedikit teringat masa kecil. Aku ingin mengunjungi tanah lapang di dekat TK kita di mana kita dulu sering bermain sebelum pulang.”
“Tetapi kenapa tiba-tiba? Dan di tengah malam? Kalau begitu, saya juga akan ikut menemani Tuan Muda.”
Kaiser diam sejenak. Eksresinya berubah sentimental. Diapun lantas berucap, “Maaf, Agni. Aku ingin sendiri dulu saat ini.”
“Tapi ini sudah malam…” Agni menatap dalam-dalam ke mata Kaiser, namun segera mengalah melihat pandangan mata Kaiser yang tampak penuh kebulatan tekad dalam kepahitan.
“Baiklah kalau itu yang Tuan Muda inginkan. Ingat HPnya jangan dimatikan. Aku akan menghubungi Tuan Muda setiap 10 menit untuk memastikan kondisi Anda.”
“Baik, baik, kalau begitu kamu juga segera balik ke rumah bersama dengan Pak Salman.”
Kaiser kemudian mendorong Agni dan Pak Salman untuk segera mamasuki mobil. Mereka berdua pun segera masuk mobil dan meninggalkan rumah sakit. Tampak Agni memandang ke belakang. Dia masih tampak khawatir dengan kondisi tuan mudanya.
***
“Dia akan membunuhku…Dia akan membunuhku…Dia akan membunuhku!” Ucap pemuda itu.
Tidak lama kemudian dua buah mobil meminggirkan mobilnya ke sebelah kiri jalan berlawanan arah di mana pemuda tersebut berada. Tampak 5 orang berpakaian hitam menyeberangi jalan dan menghampiri pemuda itu. Salah satu dari mereka kemudian merogoh ponsel di kantongnya lalu melakukan panggilan.
“Kami sudah menemukan Tuan Aleka, Bos Besar.”
“Bagus, segera bawa dia ke kantor.” Terdengar suara Pak Widarno dari balik telepon.
“Baik Bos Besar.”
“Tuan Aleka, ayo ikut kami.”
“Tidak, tidak, hentikan! Dia akan membunuhku. Dia akan membunuhku! Aku akan segera mati!” Aleka berteriak dan mencoba melepaskan diri dari genggaman orang yang berpakaian serba hitam itu.
Melihat tingkah yang mencurigakan, perhatian orang-orang sekitar jadi tertuju pada mereka sampai-sampai salah seorang sekuriti mall yang berjaga di sekitar minimarket di lokasi itu mendatangi mereka. Orang-orang itu sempat kesulitan menjelaskan keadaan, namun pada akhirnya mereka mampu menjelaskan identitas mereka dan masalah Tuan Muda mereka dengan menunjukkan kartu identitas dan kartu perusahaan mereka.
***
Aleka yang ketakutan dituntun masuk ke dalam suatu ruangan besar. Di situ ada ayah dan ibu Aleka yang duduk di kursi di ujung meja panjang beserta karyawan-karyawan Sungsin Security yang berdiri mengitari luasnya ruangan.
“Dia akan membunuhku. Dia akan membunuhku. Kaiser akan membunuhku!” Ucap Aleka dengan gemetaran. Tangan kanannya yang tidak dijaga oleh pengawal, menggaruk-garuk pipi kanannya dengan kencang sehingga berdarah. Gigi-giginya meletup-letup. Pupil matanya tampak melebar. Dia sangat ketakutan.
Melihat kondisi anaknya yang seperti itu, tampak wajah shok di ekspresi kedua orang tua Aleka.
“Aleka, sadarlah! Sejak kapan Ayah punya anak penakut sepertimu!” Teriak Pak Widarno berusaha menyadarkan Aleka.
__ADS_1
“Kaiser akan membunuhku. Kaiser akan membunuhku. Tolong aku Ayah, sembunyikan aku sehingga aku tidak dapat ditemukannya.” Aleka melepaskan diri dari dekapan pengawal kemudian berjalan ke arah ayahnya dengan compang-camping.
“Paaaak!” Tapi apa yang menyambutnya adalah tamparan keras dari ayahnya.
“Sayang!” Teriak Ibu Aleka.
“Hah, kenapa anak kita bisa jadi seperti ini? Pengawal, apa yang sebenarnya telah terjadi?” Tanya Pak Widarno dengan nada marah kepada pengawalnya.
“Kami juga kurang tahu Bos Besar. Tampaknya orang yang bernama Kaiser ini mengancam Tuan Muda Aleka.”
“Jadi kamu ingin berkata kalau bocah lemah yang tampak seperti kangkung layu itulah yang bahkan belum genap 20 tahun yang membuat Aleka menjadi dalam keadaan menyedihkan seperti ini! Kalian tahu kan bagaimana aku sendiri melatih dia berbagai jenis ilmu beladiri. Apa masuk akal kalau dia bisa ditindas oleh anak lemah seperti Kaiser?!” Bentak Pak Widarno marah kepada pengawalnya.
“Sayang kamu tenang dulu.” Ibu Aleka berusaha menenangkan suaminya.
“Bagaimana aku bisa tenang melihat anak kita menjadi seperti ini?” Tetapi tampaknya tak berhasil menenangkannya.
Suasana di dalam ruangan mencekam. Tiga puluh menit kemudian, asisten Pak Widarno tampak memberikan sebuah tablet kepada Pak Widarno. Sebuah rekaman CCTV yang dikirimkan oleh ayah Silva, Pemimpin salah satu Grup Terbesar di Indonesia, Monjaya Group, Pak Sudarmin.
Rekaman itu berisi tentang bagaimana Kaiser menekan Aleka sehingga terjatuh kemudian menginjak pahanya dan memukul dinding di sebelah kepala Aleka.
“Anak itu, bagaimana dia bisa menjadi lemah seperti ini.” Ucap Pak Widarno berusaha tenang dengan mengusap dagunya.
“Sayang, pokoknya kita harus balas dendam kepada anak itu. Aku akan menggunakan kekuasaan keluargaku untuk menyewa ninja-ninja pembunuh bayaran dari Jepang untuk menghabisi anak itu.” Ucap Istri Pak Widarno dengan penuh tekad.
Pak Widarno menunduk, mencoba mempertimbangkan untung dan rugi jika melakukannya.
“Yah, itu tak semudah itu Sayang. Bagaimana pun, dia cucu kesayangan Ducias Dewantara.”
Pak Widarno menunduk termenung sejenak.
“Aaaah!” Tiba-tiba, suara teriakan istri Pak Widarno terdengar.
Pak Widarno mengangkat kepalanya dan betapa kagetnya dia melihat sebuah pedang berukuran tidak terlalu panjang telah menembus kepala istrinya dari arah belakang.
Pengawal-pengawal segera mengitari Pak Widarno dan Aleka. Pembunuh yang mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah hitam yang menutupi seluruh kepalanya serta topeng putih yang tersenyum bengis yang hanya memperlihatkan kedua matanya saja berjalan dengan kecepatan sedang ke arah mereka. Kemudian dalam selang beberapa waktu, dengan sigap Sang Pembunuh menebas satu-persatu leher para pengawal.
Tersisalah dua orang yang masih hidup di ruangan itu yakni Pak Widarno dan anaknya Aleka.
“Tolong, tolong, paling tidak, ambil nyawaku saja. Biarkan anak ini tetap hidup. Kumohon” Pak Widarno bersujud di kaki Sang Pembunuh untuk meminta pengampunan.
“Di luar dugaan, kamu ternyata sangat menyayangi anakmu melebihi nyawamu sendiri.”
[Suara pemuda?”] Ucap Pak Widarno dalam hati yang kaget mengetahui bahwa sang pembunuh masih dalam usia sekitar 20 tahun dari suaranya.
“Kalau kamu memang sangat menyayangi anakmu, seharusnya kamu mendidiknya dengan baik.” Pembunuh itu menendang Pak Widarno sampai berguling-guling, kemudian dia mengangkat Pak Widarno yang dalam posisi telentang dengan tangan kanannya dan menggunakan pedang di tangan kirinya untuk menembus jantung Pak Widarno. Pak Widarno pun tewas bersimbah darah.
Pembunuh menatap Aleka dengan sorot mata yang tajam di balik topeng putih pierrot yang dikenakannya. Aleka meringis ketakutan, tetapi dia hanya terdiam tanpa mencoba untuk lari. Pembunuh perlahan mendekati Aleka.
***
Keesokan harinya, media diributkan oleh kematian Pak Widarno, istri, dan seorang anak mereka, beserta para pengawal yang ada di tempat kejadian. Dan yang lebih mencengangkan lagi, mayat disusun sedemikian rupa di halaman gedung kantor Sungsin Security membentuk suatu tulisan yang bertuliskan,
PEMBALASAN DIMULAI!
Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa yang ditempatkan sebagai titik di tanda seru adalah kepala Aleka yang terpenggal di mana badannya di letakkan di dalam ruangan dalam posisi tersalib di dinding. Di bawah mayat Aleka tersebut, terdapat kartu Delapan Spade yang memiliki tanda silang di salah satu lambang spadenya.
__ADS_1