
Pemuda itu pun membuka matanya. Awalnya, pemandangan di hadapannya tampak kabur, tetapi seiring dia semakin lama terjaga, pandangannya pun perlahan mulai kembali normal.
Sebuah atap yang tak asing baginya-lah yang pertama kali dilihatnya begitu pemuda tersebut membuka mata. Dia akhirnya tersadar bahwa dirinya tengah terbaring di ruang UKS sekolahnya untuk yang ke sekian kalinya.
Suara kresek dari arah sebelah, lantas membuat pemuda itu menoleh ke sebelah kanan untuk melihat ke arah sumber suara tersebut.
“Andika?” Lirih pemuda itu sambil menatap wajah pemuda jangkung berbadan besar nan berotot yang ikut terbaring di ranjang sebelah bersamanya itu. Rupanya sumber suara itu adalah Andika, sahabatnya yang juga ikut tak sadarkan diri beberapa saat setelah dia pingsan.
“Kaiser? Kamu sudah sadar?” Tanya seorang wanita ikal bermuka bulat bermata hijau yang mengenakan seragam palang merah yang sedang duduk di samping kirinya tersebut.
“Sabrina! Kaiser sudah sadar. Tolong cepat panggil Senior Agni kemari!” Teriak wanita ikal itu kepada temannya yang sedang berdiri di depan pintu.
“Baiklah, Sela. Tolong kamu jaga Kaiser sebentar bersama Kirana di sini. Aku akan segera ke sana.” Jawab wanita yang dipanggilnya Sabrina itu.
“Ukh.” Dengan keadaan yang masih setengah sadar, Kaiser bangkit dari posisi baringnya.
“Kaiser! Apa yang kamu lakukan? Kamu masih harus berbaring. Kondisimu masih belum pulih betul.” Namun Sela segera menahannya agar Kaiser dapat berbaring lagi di tempat tidurnya.
“Sela, apa yang terjadi dengan Andika?” Tanya Kaiser pada Sela, teman kelas SMPnya selama satu setengah tahun di awal tersebut.
“Kamu tenang saja Kaiser. Kondisi Andika jauh lebih baik darimu. Dia hanya pingsan karena terlalu shok beberapa saat setelah kejadian.” Jawab Sela dengan senyum di wajahnya.
“Ukh.” Kaiser pun merintih seraya menekan-nekan kepalanya.
“Ada apa Kaiser? Apa kepalamu sakit? Atau ada bagian lain yang masih sakit? Uwa uwa, bagaimana ini?” Sela pun dengan tampak gerawutan panik, mengamati sambil meraba-raba sekeliling tubuh Kaiser, jangan sampai ada bagian di tubuhnya yang masih terluka yang luput dari perawatannya.
Kaiser pun menggoyangkan tangan kirinya sebagai isyarat tidak ada yang serius dengan kondisinya. Sela yang akhirnya tersadar telah meraba-raba bagian tubuh Kaiser yang bisa saja dianggap tindakan tidak sopan itu, segera menegakkan kembali posisi badannya seraya menjauh setengah meter dari ranjang Kaiser tersebut.
“Maaf Tuan Muda, aku tidak bermaksud…Ah bukan, maksudku Kaiser. Aku, Kaiser, aku minta maaf karena telah berbuat tidak sopan.” Ucap Sela dengan panik seraya membungkukkan badannya 100 derajat.
Kaiser pun tersenyum menanggapi ucapan maaf dari Sela tersebut.
“Oh iya, berapa lama aku terbaring? Bodyguarku Airi ke mana?” Kaiser kemudian lanjut bertanya.
“Kaiser, kamu terbaring baru sekitar 30 menit-an.”
“Oh, syukurlah karena tidak terlalu lama. Trus Airi?”
“Itu…”
__ADS_1
Seketika melihat Sela kesulitan menjawab pertanyaan itu, ditambah dengan ekspresinya yang demikian, Kaiser yang cepat tanggap segera menyadari bahwa ada yang tidak beres. Dia pun memutuskan untuk segera keluar mencari Airi.
“Kaiser, kamu masih harus beristirahat.”
“Kaiser! Sela, Kaiser mau ke mana?”
Sela dan Kirana pun turut panik begitu mendapati Kaiser berdiri dan hendak meninggalkan ruang UKS tersebut.
Tetapi Kaiser menampik uluran tangan kedua wanita itu.
Sambil memaksakan tersenyum, Kaiser pun berucap, “Aku baik-baik saja. Ada sedikit urusan di luar. Kalian tolong jaga Andika di dalam.”
Mendengar ucapan Kaiser, kedua wanita itu kemudian saling tatap dan akhirnya memutuskan untuk membiarkan Kirana yang menjaga Andika, sementara Sela menemani Kaiser ke luar.
[Airi-san, kuharap kamu baik-baik saja.] Gumam Kaiser dalam hati. Nampak betul kekalutan akibat khawatirnya yang tergambar dengan jelas di wajah pemuda naif itu.
***
“Wah, sulit dipercaya ya, Senior! Aku sama sekali tidak menduga kalau ada hal yang luar biasa gila bisa terjadi di dunia ini.” Ucap Loki seraya melihat ke arah ambulans dan para petugasnya yang tampak bercampur dengan petugas polisi yang terlihat sibuk mengangkut korban luka-luka termasuk yang meninggal dunia.
Tidak jauh dari mereka, sekumpulan wartawan, penduduk sekitar, serta beberapa warga sekolah termasuk para guru yang penasaran terhadap peristiwa tragis yang baru saja terjadi di sekolah mereka, turut membanjiri daerah di sekitar pintu gerbang SMA Angkasa jaya bagaikan kawanan semut di sarang semut, untuk menonton kejadian tersebut.
“Sulit dipercaya kamu mengatakannya ketika kamu juga adalah salah satunya.” Agni pun menjawab dengan sinis atas perkataan Loki tersebut.
Agni menghela nafas. Dia pun kembali berucap,
“Bagaimana aku tidak bisa tahu ketika kamu sendiri yang mengungkapkan identitasmu sejelas itu di hadapan Tuan Muda.”
“Jadi Kaiser juga tahu ya.” Ujar Loki dengan lemah seraya memukul pelan jidatnya.
“Asal kamu tahu, Tuan Muda itu memiliki insting yang tajam. Jadi jika kamu memiliki rahasia yang tak ingin diketahuinya, jangan asal bicara di hadapannya.”
“Begitukah? Aku akan mengingat saran dari Senior Agni.”
“Jadi, kekuatan apa yang kamu miliki? Apa ini ada kaitannya dengan sikap anehmu beberapa waktu lalu kepada Tuan Muda?”
“Oh, waktu itu, aku diminta oleh keluargaku menyelidiki Kaiser tentang apakah dia benar-benar pembunuh berantai joker hitam atau minimal sebagai kaki tangan atau penyewanya. Dan untuk mengaktivasi kekuatan interogasiku, aku harus melakukan hal demikian. Jujur, aku jadi tak enak dengan Kaiser.”
Mendengar jawaban Loki barusan, Agni lantas memandang Loki dengan ekspresi menjijikkan.
__ADS_1
“Jadi, kamu bisa membaca pikiran orang lain ya? Jangan-jangan, kamu sedang membaca pikiranku ya?” Agni pun menjadi was-was di dekat Loki.
“Hahahaha. Tenang saja Senior Agni. Kekuatanku tidak akan aktif jika kondisi mental target sedang baik.” Jawab Loki seraya tertawa.
[Yah, walaupun itu sedikit salah sih. Lagipula Senior-lah yang salah menebak jenis kekuatanku dan bukannya aku berbohong. Aku tidak punya kewajiban untuk mengungkapkan kartuku. Terlebih, Senior, dibandingkan aku, kamu lebih mencurigakan.] Gumam Loki dalam hati.
“…Sela, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bisa sendiri.”
“Tidak bisa Kaiser. Senior Agni sudah mempercayakan penjagaanmu sementara kepadaku…”
Mendengar samar suara dari kejauhan itu, Agni dan Loki pun secara serentak menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing lagi bagi mereka tersebut.
“Tuan Muda!”
“Agni!” Ujar Kaiser seraya setengah berlari ke arah Agni begitu mendengar suaranya dan mendapati sosoknya tersebut. Melihat itu, Agni juga turut berlari kecil mendekati tuan mudanya itu.
“Apa kamu mendengar kabar dari Airi? Dia sebelumnya pergi mengecek tempat yang memiliki aura sang joker hitam, tetapi setelah itu, dia tak balik lagi. Kita harus menemukannya. Jangan sampai terjadi apa-apa pada Airi.” Kaiser pun segera melepaskan segala kegelisahannya di hadapan asisten kepercayaannya itu begitu berada di dekatnya.
“Tuan Muda, itu… Paman Anda, Pak Arkias, sudah menemukan Airi. Tetapi, dia terluka tampak cukup parah dan sementara ini dirawat di ruang VIP RS Dewantara Group.
“Apa? Airi?” Ujar Kaiser dengan sedih bercampur amarah yang tak tertahankan.
“Apa ini semua ulah joker hitam?”
“Kemungkinan seperti itu, Tuan Muda.”
“Aku harus segera menuju rumah sakit.” Kaiser dengan amarah yang tak tertahankan dengan cepat berjalan ke arah dinding pagar sekolahnya dengan telepon yang tersambung di tangannya.
“Tunggu, Tuan Muda!” Teriak Agni, tetapi Kaiser sama sekali tak menoleh ke belakang lagi.
“Tenang saja, Senior. Serahkan urusan sekolah padaku. Gini-gini, aku adalah waketos dua di sekolah kita.” Ujar Loki dengan penuh percaya diri disertai senyum meyakinkan di wajahnya.
“Baiklah, aku serahkan padamu, Lokriatul Wijayakusuma.” Seraya mengatakan itu, Agni pun segera menyusul Kaiser.
“Pak Salman, tolong secepat mungkin, jemput aku di sekolah.” Ujar Kaiser dalam panggilan telepon seraya lompat naik pagar setinggi 4 meter dengan santainya.
“Mengenai hal itu, saya sudah ada di luar sekolah Tuan Muda.”
“Baguslah kalau begitu. Posisi spesifik Bapak ada di mana?” Kaiser kembali bertanya seraya menuruni pagar tersebut ke sisi lain.
__ADS_1
“Mengenai itu, Tuan Muda, Pak Lucias dan Bu Nana juga ada di sini.”
Bersamaan mendengar hal itu, tanpa diduga, Kaiser tepat mendarat di samping mobil yang tak asing lagi baginya tersebut. Dari dalam mobil, terlihat Pak Lucias dan Bu Nana menganga keheranan akibat tindakan yang menurut mereka berbahaya tersebut yang baru saja diperbuat oleh putra mereka dengan santainya yang selama ini mereka nilai sebagai anak yang takkan pernah berbuat hal yang se-berbahaya demikian.