
Kapten Maya tampak sangat terkejut dengan pernyataan sepihak Tim 1 Divisi Penanganan Kriminal Berat itu yang seolah tidak menganggap keberadaan tim-tim lain di divisinya. Walaupun jumlah mereka hampir mencapai separuh anggota divisi yang sekaligus merupakan tim dengan jumlah terbesar di divisi itu, sikap tim khusus yang dibentuk atas campur tangan keluarga Isnandar tersebut tetap tak dapat diterima.
Namun, belum sempat Kapten Maya berkomentar lebih lanjut, terdengar suara langkah kaki dari balik gerbang keluarga Isnandar tersebut.
“Oh, Anda Kapten Maya, bukan? Pemimpin Divisi yang khusus dibentuk oleh keluarga Wijayakusuma itu?”
Rupanya suara langkah kaki tersebut berasal dari Dirga yang begitu keluar, langsung menyapa Kapten Maya.
“Oho! Kalian menghalangi tugas polisi. Minggir kalian semua!”
Dengan perkataan Dirga tersebut, para anggota tim 1 divisi penanganan kriminal berat itu pun melangkah menjauh dari gerbang sehingga akhirnya memberikan ruang kepada Kapten Maya dan anak buahnya untuk memasuki gerbang.
“Ayo, Kapten Maya. Silakan masuk!” Sapa Dirga dengan ramah.
“Pelayan! Ayo, bawa semua hidangannya keluar! Layani tamu kita sebaik-baiknya!” Teriak Dirga kepada para pelayan, tetapi dengan tetap mempertahankan kesopanan dan keramahannya.
Kapten Maya beserta seluruh anak buahnya yang hadir di situ lantas disuruh duduk di tempat yang memang sudah disiapkan untuk mereka sambil mereka dijamu dengan berbagai hidangan yang menggiurkan.
“Apa-apaan ini? Ini seperti kamu telah menunggu kedatangan kami.” Ujar Kapten Maya dengan curiga begitu melihat banyak hidangan yang telah siap, padahal kunjungan mereka adalah dadakan.
“Yah, ini wajar saja karena Kapten Maya hadir di kala kami sedang mempersiapkan perayaan paku bumi. Cukup banyak yang hadir di kediaman kami saat ini, jadi tentu saja para pelayan harus senantiasa stand by mempersiapkan segala macam hidangan jika sewaktu-waktu diperlukan.” Namun Dirga hanya menjawabnya dengan santai.
“Terlebih dari itu, Kapten Maya. Coba lihat keempat jenis cemilan yang ada di hadapan Kapten Maya itu. Mana yang Kapten Maya paling suka?”
Tanya Dirga sembari menunjuk ke arah empat jenis cemilan yang ada di hadapan Kapten Maya yang keempat-empatnya begitu indah bak permata yang masing-masingnya pula memiliki warna dasar yang berbeda, yakni merah, kuning, hijau, dan biru.
“Cukup, hentikan itu Dik Dirga! Aku kemari bukan untuk itu. Aku ingin mendengar alibi Adik kemarin setelah mengunjungi almarhum saudara Tirta.”
“Wah, Kapten Maya tidak usah langsung ke topik panas begitu dulu dong. Jawab dulu pertanyaanku. Kalau aku sih ya, memilih warna biru karena warna biru adalah warna yang menurutku paling natural. Warna yang paling menyatu dengan alam. Coba lihat saja, baik langit, laut, semuanya berwarna biru. Termasuk warna mataku juga. Warna biru, indah kan?”
Dirga tampak berceloteh panjang lebar dan di akhir kalimatnya, dia mengatakannya sembari menunjuk ke arah matanya. Sayangnya, Kapten Maya sama sekali tak menggubris celotehan itu dan tetap fokus menatap Dirga tepat pada jidatnya. Dia pun berujar.
“Dik Dirga tampaknya tak bergeming sewaktu aku menyebutkan almarhum saudara Tirta seolah Adik sudah tahu kalau yang bersangkutan memang sudah meninggal. Padahal hal tersebut sama sekali belum dipublikasikan di media dan baru rencana akan dipublikasikan malam ini.” Tanya Kapten Maya curiga.
__ADS_1
“Ya tentu saja aku tahu soalnya para anggota tim 1 divisi penanganan kriminal berat di luar sana sangat heboh membicarakannya.” Jawab Dirga dengan tetap santai.
“Kumpulan orang bodoh itu!” Umpat Kapten Maya.
“Tapi, ekspresi Adik masih terbilang sangat santai setelah kematian semua anggota geng Adik…”
“Gol…Gol…Gol…Masukkan bolamu…”
Belum selesai Kapten Maya berucap, ucapannya itu dihentikan oleh lagu ringtone teleponnya yang aneh.
Rupanya yang menelepon adalah Alena.
“Kapten Maya, apakah Dirga ada di sana?” Tanya Alena lewat panggilan telepon.
“Iya, dia ada di hadapanku sekarang.” Jawab Kapten Maya tegas.
“Duh, bagaimana ini? Seharusnya sudah kutahu kalau wajah bagian bawah hanya memiliki tingkat pengenalan individu tidak lebih dari 20 persen, apalagi itu bukan foto yang sebenarnya, tetapi foto yang didapat dari deskripsi kekuatan Adik Loki. Tetapi bisa sampai kebetulan begini…”
“Katakan dengan jelas, apa yang sebenarnya terjadi?” Belum sempat Alena menyelesaikan kalimatnya, Kapten Maya segera memintanya untuk to the point.
Tampak Alena menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.
“Jadi saran saya, sebaiknya Kapten Maya segera mundur saja sebelum menimbulkan masalah yang tidak perlu dengan keluarga Isnandar karena seperti yang Kapten Maya ketahui bahwa para tetua di keluarga kita sangat berhubungan baik dengan mereka.”
“Baiklah, aku paham.” Jawab Kapten Maya singkat seraya menutup panggilan telepon tersebut.
“Ada apa, Kapten Maya?” Seusai Kapten Maya menutup telepon, Dirga langsung bertanya padanya.
“Tidak, bukan apa-apa. Kami bermaksud segera akan pergi setelah kamu menjawab pertanyaanku yang barusan. Jadi tolong, jawablah dengan segera!” Ujar Kapten Maya tegas.
“Eh, sudah mau pergi? Padahal hidangan sudah disiapkan di atas meja begini.”
Dirga terdiam sejenak sambil menatap Kapten Maya yang terlihat ketus sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Baiklah, baiklah, aku jawab. Habis dari rumah tahanan khusus, aku pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan tradisional di Tanah Adik. Di situ ada warung yang sangat enak sekali. Namanya warung Bibi Sumi. Walaupun ketiga pelayannya mengalami cacat fisik, tetapi pelayanan mereka bagus sekali.
Trus habis dari situ, aku jalan-jalan di mall sampai supir yang diperintahkan ayahku meneleponku untuk menjemputku. Habis itu, aku pulang ke rumah dan beristirahat di kamar semalaman.” Dirga pun menjawab.
“Baiklah, Dik Dirga. Terima kasih atas kerjasamanya.” Ujar Kapten Maya dengan penuh penghormatannya atas kesediaan Dirga bekerjasama dengan pihak kepolisian.
***
“Kaiser, kamu tidak apa-apa?”
“Kaiser-kun?”
“Duh, anakku! Kenapa kamu harus bernasib malang begini? Tenang saja, Ibu pasti akan melindungimu sekuat tenaga.”
Andika, Airi, dan Bu Nana seraya membekap Kaiser begitu pembunuh berantai joker hitam itu tak ada lagi di ruangan, sementara Bianca dan Fero hanya memperhatikan dari jauh.
“Hahahahahaha.” Secara tiba-tiba, masih dengan kondisi yang penuh keringat, Kaiser tertawa terbahak-bahak.
“Kaiser?” Ujar Andika keheranan. Wajah keheranan juga nampak sama bagi semua orang yang berada di situ.
“Nak, kenapa kamu tertawa begitu? Semuanya baik-baik saja kan?” Tampak Bu Nana sangat khawatir bahwa jangan sampai Kaiser mengikuti jejak sepupunya.
Kaiser pun tersenyum ke arah ibunya seraya mengatakan, “Tenang saja, Bu. Kaiser 100 persen berada dalam kondisi sehat fisik dan mental.”
Kaiser tampak terdiam sejenak. Ekspresinya seketika mendadak sendu, kemudian berubah menjadi kelegaan.
“Tidak ada hasil yang terbaik dari hari ini. Jika korban pembunuh berantai joker hitam itu telah ditentukan adalah Kaiser dan Dirga. Itu berarti tidak akan ada lagi calon korban lainnya. Yah, tentu saja bukannya Kaiser mengatakan bahwa Dirga pantas dihukum mati. Tapi paling tidak, dia menanggung masalah yang diperbuatnya sendiri. Jadi dia pantas menyelesaikannya sendiri. Adapun untuk Kaiser…”
Di tengah ucapannya, Kaiser tampak berhenti sejenak dengan ekspresi sendu di wajahnya.
“Ah tidak. Kaiser akan bertahan.” Ujar pemuda polos itu dengan senyum cerah di wajahnya sembari menatap ibunya.
Melihat senyum tulus putranya itu, Bu Nana pun serta-merta kembali memeluk putranya dengan erat.
__ADS_1
[Dengan demikian, dugaanku bahwa pembunuh berantai itu mengetahui keterlibatan Kak Danial adalah salah dan Kak Danial aman dari incaran sang joker hitam. Juga, ada secercah harapan bagi kesembuhan Dios.] Gumam Kaiser seraya berada dalam pelukan ibunya.
Namun, satu hal yang tidak diketahui oleh Kaiser bahwa semenjak eksekusi Araka, Danial telah menerima surat ancaman tiap malam dari seseorang yang mengaku sebagai Kakak Dios.