
Malam itu, Aliska sedang menatap layar komputernya dengan ditemani oleh segelas kopi susu. Dia terlihat sangat serius. Beberapa saat kemudian, Panji, seniornya di tempat kerja, menghampirinya.
“Ada apa, Sayang? Kamu terlihat serius sekali.” Lirih Panji tepat di samping telinga Aliska dengan seksi.
“Oh, Sayang?” Ujar Aliska kaget. Mukanya memerah bagaikan tomat masak.
“Oh, rupanya artikel tentang adik itu ya? Kamu tampak sangat memperhatikannya sampai-sampai membuatku iri saja.” Ujar Panji dengan merajuk setengah bercanda.
Aliska pun mengusap pipi seniornya itu dengan lembut.
“Apa yang kamu ucapkan, Sayang? Tentu saja tidak ada orang yang lebih kucintai dari suamiku ini.” Ujar Aliska lembut.
Ternyata, sebulan tidak ada kabar, mereka berdua telah menikah.
“Tapi ya, aku heran dengan kasus-kasus yang terjadi di sekitar Dek Kaiser. Belum genap sehari setelah munculnya berita kematian pengusaha terkenal, Sudarmin, dan putrinya, Silva, sudah muncul banyak artikel di internet yang memperlihatkan pertemuan antara Kaiser dan Silva di RS Dewantara Group tepat sebelum Silva mengalami peristiwa naas itu.”
Aliska kemudian meneguk kopi susunya kemudian lanjut menscroll berita di internet tersebut.
“Banyak rumor-rumor aneh yang beredaran di internet yang mengait-ngaitkan informasi ini dengan bukti foto-foto pertemuan Kaiser pula sehari sebelum kematian Aleka dan Araka. Termasuk, foto-foto yang memperlihatkan beberapa hari sebelum kematian Rihana, dia juga sempat menstalker Kaiser.”
Aliska terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Padahal dalam konteksnya, pertemuan antara Kaiser dengan Silva, Aleka, Araka, dan Rihana sesaat sebelum kematian mereka hanyalah kebetulan belaka. Termasuk dalam kasus Silva baru-baru ini. Bukankah Silva dibawa ke RS Dewantara Group dan bukan ke rumah sakit lain bukan karena keinginan Silva maupun Kaiser, tetapi karena inisiatif orang-orang sekitar yang menyaksikan kecelakaan Silva? Mereka membawanya ke sana lantaran itu adalah rumah sakit terdekat di lokasi kecelakaan.”
Aliska kemudian menggenggam mouse keyboardnya erat-erat. Matanya menyipit.
“Tetapi jika disebut kebetulan, akan aneh jika sampai terjadi empat kali. Wajar saja jika banyak rumor yang curiga dan menuding Dek Kaiser ada keterkaitannya dengan kematian mereka. Bahkan, sampai ada rumor unik yang menuding bahwa pembunuh berantai itu tidak lain adalah Kaiser yang merupakan iblis yang menyamar menjadi manusia.”
“Kamu sendiri bagaimana, Sayang? Apa kamu curiga dengan Dek Kaiser?” Tanya Panji penasaran.
“Jangan bercanda! Mana mungkin aku mencurigai anak baik sepertinya?”
Aliska diam sejenak sebelum melanjutkan,
“Aku jadi curiga bahwa ada seseorang tertentu yang mengatur semua ini dari balik layar untuk membuat kita mencurigai Dek Kaiser.”
__ADS_1
Mendengar pernyataan istrinya itu, Panji tersentak. Dia kemudian kembali me-reka ulang semua kejadian yang terangkum di internet. Diapun akhirnya menyadari dan membenarkan pernyataan istrinya itu dalam hati.
“Ngomong-ngomong, aku jadi teringat dengan Amanda, adik Kak Syarif yang saat ini dirawat oleh Dek Kaiser.” Ujar Aliska kembali, tetapi kali ini dengan ekspresi sendu di wajahnya.
Aliska kemudian menatap suaminya dengan ekspresi serius di wajahnya. Melihat hal itu, Panji balas pula menatap istrinya.
“Sayang, bisakah kamu mengabulkan permohonanku yang egois ini?” Ujar Aliska lembut.
“Apapun itu, Sayang. Katakanlah.” Ujar Panji dengan senyum hangat di wajahnya seraya membelai kepala istrinya dengan lembut.
***
Masih di malam yang sama, Kaiser secara tidak sengaja berpapasan dengan ibu dan kakeknya di ruang keluarga sewaktu hendak menuju ke dapur.
“Cucuku Sayang.” Sapa Sang Kakek pada cucunya itu.
“Oh, Kakek, Ibu, apa yang kalian lakukan di sini malam-malam begini?”
Daripada menjawab pertanyaan putranya itu, Bu Nana langsung menuju ke Kaiser dan membelai rambut putranya dengan lembut. Tampak ekspresi khawatir di balik wajah Bu Nana tersebut.
“Ada apa Bu?” Tanya Kaiser heran.
“Tidak ada apa-apa kok, Sayang. Ibu hanya ingin memeluk putra Ibu yang imut ini.” Ujar Bu Nana seraya memeluk Kaiser dengan hangat.
Sang Kakek Ducias pun ikut menghampiri mereka dan membelai hangat punggung mereka berdua. Terdengar sekilas isak tangis dari Bu Nana.
“Sampai kapanpun, kamu adalah putra Ibu. Ibu sangat mencintaimu, Nak. Takkan kubiarkan siapapun menyakitimu.” Ujar Bu Nana seraya tampak menahan tangisnya.
Hal itu seraya membuat Kaiser sedih. Dia sekali lagi membuat keluarganya khawatir. Kaiser bisa menduga bahwa semua ini ada kaitannya dengan kematian Silva dan ayahnya, pak Sudarmin, serta segala rumor yang beredar di internet. Namun, tidak ada sesuatu yang bisa dia perbuat saat ini untuk menghilangkan kekhawatiran keluarganya tersebut.
Kaiser tanpa berkata panjang lebar lagi, hanya berusaha tersenyum tegar di hadapan kakek dan ibunya seraya mengatakan,
“Aku baik-baik saja kok, Bu. Apapun rumor yang beredar mengenai diriku, aku tahu bahwa akan selalu ada keluargaku yang menyayangiku. Jadi aku akan tetap kuat.”
Setelah mengatakan itu, Kaiser segera kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Setelah kembali ke kamarnya, Kaiser yang diketahui trauma jika berada di tempat yang sempit dan gelap, justru mengurung dirinya di toilet di dalam kamar mandi di dalam kamarnya. Entah karena apa, tiba-tiba lampu di toilet tersebut padam sehingga ruangan menjadi gelap gulita.
Di dalam ruangan sempit nan gelap gulita itu, Kaiser terlihat gemetaran. Dia duduk tertelungkup.
“Sungguh, bukan ini yang kuharapkan. Jika kalian meninggal, bagaimana kalian bisa meminta maaf kepada Dios setelah siuman? Bagaimana kalian akan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian akan tewasnya Kak Syarif kepada Amanda yang jadi seorang diri di dunia ini? Sungguh, bukan ini yang kuharapkan!”
Kaiser pun kembali menengadahkan kepalanya. Tetapi, ketimbang ekspresi sedih dan suram sesuai yang diharapakan muncul, justru ekspresi bengis dan euforia tampak sangat menikmati yang terlihat dari balik wajahnya. Dia terlihat sangat ingin tertawa dengan bengisnya, namun nampak sangat ditahannya.
“Tetapi mengapa justru jantungku berdetak suka cita, seolah merayakan kematian kalian?! Apa karena aku memang orang yang jahat?” Ujar Kaiser dengan ekspresi rumit dan bertolak belakang tersebut. Tetapi anehnya, air mata justru keluar dari kedua bola matanya yang biru itu.
Beberapa saat kemudian, Agni secara tiba-tiba berlari dari luar menghampiri Kaiser yang mengurung diri di toilet yang sempit nan gelap itu.
Setelah menemukan Kaiser, Agni serta-merta memeluk erat tuan mudanya tersebut.
“Tidak apa-apa Tuan Muda. Semuanya baik-baik saja. Perasaan yang Anda rasakan itu, bukan milik Anda. Karena Anda adalah orang yang baik hati.” Lirih Agni lembut.
“Agni?” Ujar Kaiser seraya menangis dalam-dalam pada pelukan hangat Agni.
***
“Bagaimana perkembangan perawatan Dios saat ini?” Tanya Sang Tuan Besar Shinomiya Aizen kepada ninja wanita setianya.
“Semuanya berjalan lancar, Tuan. Fasilitas dan keamanan rumah sakit telah ditingkatkan secara maksimal.” Jawab sang ninja wanita itu.
“Bagus. Kamu boleh kembali.”
“Terima kasih, Tuan.”
Seraya mengatakan itu, sang ninja wanita pun pamit mundur.
[Siapa juga yang peduli dengan anak itu! Lagipula anak kalian yang sebenarnya, selama ini telah berada dalam perawatan keluarga Dewantara tanpa mereka ketahui. Yang lebih penting dari itu, Kazuki, Nak, di mana sebenarnya kamu berada?] Gumam ninja wanita itu yang tidak lain adalah Shiratori Kaori.
Beberapa saat kemudian, Kaori tanpa sengaja mendapati kakaknya yang menderita kelainan jiwa akibat tekanan mental sejak 3 tahun lalu, sedang berada di tepi danau di halaman rumah keluarga Shinomiya tersebut. Kaori pun segera berlari menghampiri kakaknya, takut jika kakaknya tanpa sengaja tercebur ke danau.
“Kakak! Apa yang Kakak lakukan di tepi danau?!”
__ADS_1
“Oh, Kaori-chan! Lihat warna danaunya. Cantik, kan? Mirip seperti warna mata putraku, Dios. Hehehehe.” Ujar Shinomiya Kana dengan tawa khas penghuni RSJ.
“Kakak! Apa Kakak bicara seperti itu karena Kakak benar-benar lupa siapa anak Kakak yang sebenarnya?” Ujar Shiratori Kaori dengan keheranan.