DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
31. Kesaksian Berharga Andika


__ADS_3

Teriakan mendadak Andika lantas membuat mereka mejadi perhatian kerumunan siswa yang lewat.  Namun, Sang Polisi hanya tersenyum.


“Tenang saja, aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya...”


“Kalau begitu, untuk apa Anda datang kemari?  Apa lagi-lagi ini karena masalah pembuli-pembuli itu?  Asal Anda tahu Pak, teman saya tidak terlibat apapun soal kejadian yang menimpa mereka.  Saya sendiri yang menjadi saksi karena pada malam saat pembunuhan Rihana bertepatan dengan saya dan Kaiser terkunci berdua di perpustakaan.  Jadi tidak mungkin Kaiser pelakunya.” 


Andika langsung menyanggah perkataan polisi tersebut sebelum Sang Polisi berhasil menyelesaikan kalimatnya dengan sangat marah.


“Tidak, tidak, bukan itu tujuanku kemari.  Aku hanya berniat memberikan surat panggilan sebagai saksi kepada Kaiser sebab kemungkinan kedua korban meninggal karena kasus pembulian itu.  Tentu saja kami tidak menuduh Kaiser sebagai pelakunya.  Hanya saja, sebagai teman dekat korban pembulian, Dek Kaiser pasti lebih tahu banyak hal mengenai segala yang berkaitan dengan kejadian pembulian itu.  Termasuk siapa-siapa saja yang mungkin memiliki dendam kepada para pembuli akibat kejadian tersebut." 


Mendengar ucapan polisi itu, Andika mengamatinya dengan waspada.


"Oh iya, ini surat pemanggilannya.  Bisa Dek Teman Kaiser baca, kan?  Ha-nya se-ba-gai sak-si.”


Ujar polisi itu dengan muka tersenyum sambil memperlihatkan surat itu kepada Andika sambil menunjuk dengan jelas di bagian ‘sebagai saksi’-nya lalu menyerahkan surat itu kepada Kaiser. 


Tanpa sadar, Kaiser mengambilnya dengan tangan kiri.  Sang Polisi tampak memperhatikan dengan seksama gerakan Kaiser itu.


“Oh, begitu.  Kalau begitu, maafkan saya Pak atas kelancangan saya." Andika menundukkan kepala seraya meminta maaf kepada Sang Polisi. 


“Ngomong-ngomong, perkenalkan nama saya Andika Pak.”  Lanjut Andika.


“Oh, Dek Andika rupanya.  Tidak mengapa.”  Jawab sang polisi santai sambil tersenyum.


“Yang lebih penting dari itu, aku baru saja mendengar sesuatu yang menarik.  Kalian terkunci berdua pada saat hari kejadian?”


“Itu benar Pak.”  Jawab Andika tegas.


“Kok bisa?”


“Itu, karena kecerobohan Bapak Sekuritinya yang mengunci pintu setelah penjaga perpustakaannya pulang tanpa melihat bahwa masih ada orang di dalam…” 


Kaiser pun menepuk pundak Andika.  Andika yang tampak masih ingin berbicara banyak hal, seketika terdiam seakan menyadari isyarat Kaiser untuk tidak perlu mengungkapkan hal yang tidak perlu.  Andika lalu menoleh kepada Kaiser dan Kaiser balas tersenyum kepadanya.


“Oke Pak.  Sebentar, kan?  Karena masih ada waktu dua setengah jam lagi.  Kami permisi dulu.  Aku akan ke sana jika waktunya tiba.”  Ucap Kaiser seraya mengeluarkan jurus senyum ala pangerannya.

__ADS_1


“Hooooh??”  Polisi itu lantas menatap Andika dengan ekspresi ingin tahu.  Pandangannya kemudian dialihkannya kepada Kaiser.  Dia merasa bahwa gerak-gerik Kaiser agak mencurigakan.


“Bagaimana kalau Dek Andika juga ikut ke kantor polisi sebagai saksi?”


“Mengapa?”  Mendengar polisi yang mencoba melibatkan Andika, Kaiser sedikit tak dapat menyembunyikan kemarahannya.


“Bukankah Dek Andika ingin membantu teman Adek?  Dengan keterangan Adek itu, Kaiser pasti tidak akan dicurigai lagi.”  Kata polisi itu seraya pura-pura tersenyum ramah.


“Baiklah aku ikut.”


“Andika.”  Kaiser tampak tak setuju dengan keputusan Andika itu.


“Tidak apa-apa kok, Kaiser.  Kan hanya memberikan keterangan sederhana.”


Kaiser hanya mendesah mendengar jawaban Andika itu lantas menatapnya dengan intens.  Dia kemudian mengarahkan pandangannya ke polisi itu sambil menatapnya sinis.  Polisi hanya membalas dengan tersenyum manis.


***


Sore itu, tepat pada pukul 16.30, Andika datang di saat yang hampir bersamaan dengan Kaiser. 


Andika didampingi oleh ayahnya, Pak Suwirno, sementara Kaiser didampingi oleh ayah dan ibunya, Pak Lucias dan Bu Nana.  Di depan pintu masuk, Petugas Mono menyambut mereka dan mempersilakan masing-masing ke ruangan yang terpisah.


Akan tetapi, Dono dengan sigap memegang tangannya dan mencegatnya pergi. 


“Tidak, aku yang akan mewawancarai temannya.  Kamu temuilah Kaiser.”  Dono mengatakan hal itu seraya tersenyum sinis.


Dono pun masuk ke ruangan yang dijanjikan.  Di ruangan itu, Andika dan ayahnya sedang duduk di kursi dengan meja persegi panjang yang berukuran sedang.  Tampak di hadapan mereka minuman dan cemilan.  Mereka tampak dilayani dengan baik. 


Sayangnya, pasangan ayah-anak itu tampaknya sama sekali tak tertarik menyentuh hidangan di meja.  Justru tampak raut kecurigaan dan perasaan tidak senang dari mereka berdua.


Dono membuka perkataannya dengan memberi salam kepada mereka berdua.  Keduanya menjawab salam Dono dengan ekspresi yang tak dapat menyembunyikan ketidaksenangannya.


“Mohon maaf telah mengambil waktu berharga kalian.  Tampaknya, walaupun sibuk, Pak Suwirno yang sering muncul di majalah pengusaha ini mampu meluangkan waktunya saat ini.”  Ucap Dono seraya tersenyum ramah.


“Tidak usah basa-basi.  Cepat langsung saja ke intinya.  Informasi apa yang ingin Anda ketahui dari anak saya.”  Pak Suwirno dengan cepat menjawab sambil marah.

__ADS_1


Tanpa terlihat terpengaruh oleh amarah Pak Suwirno, Dono melanjutkan perkataannya dengan tenang. 


“Ada informasi menarik yang sempat saya peroleh dari Andika mengenai dia yang terjebak di perpustakaan sekolahnya bersama Kaiser bersamaan dengan waktu pembunuhan Rihana…”


“Jadi ada apa dengan itu?  Jangan bilang Anda masih mencurigai Kaiser sebegai pelakunya.”  Dengan sigap Pak Suwirno memotong perkataan Dono dengan nada marah.


Dono masih tetap terlihat tenang seraya mengatakan, “Kalau boleh, bisa Dek Andika jelaskan secara detail kejadiannya?”


Andika pun mulai menceritakan kejadian yang terjadi saat itu mulai di mana mereka ke perpustakaan karena Kaiser tiba-tiba ingin menyewa novel yang baru masuk ke perpustakaan hari itu, penjaga perpustakaan yang harus pulang cepat karena adiknya kecelakaan, petugas sekuriti yang ceroboh mengunci pintu setelah melihat penjaga perpustakaannya pulang tanpa mengecek apakah masih ada orang di dalam, sampai kejadian di mana mereka terkunci, hingga akhirnya ditemukan oleh Loki dan Beni sehingga mereka dapat keluar.


“Jadi kalian terkunci di perpustakaan selama 5 jam lebih?  Apa yang kalian perbuat selama itu?”  Dono segera melayangkan pertanyaan selanjutnya.


“Itu, setelah terkunci, aku tertidur karena kecapaian.  Jadi, hampir selama waktu di perpustakaan, aku hanya tertidur.”


“Terus Kaiser bagaimana?”


“Sewaktu aku bangun, Kaiser nampak terengah-engah.  Katanya, akibat berusaha sekuat tenaga untuk menyalakan lampu perpustakaan yang saklarnya di luar pintu.”


“Selama hampir 5 jam berusaha menyalakan saklar lampu?”


“Empat jam, Pak.  Tampaknya, sebelum gelap, Kaiser bilang sibuk membaca novel favoritnya.  Karena gelap dan tak bisa membaca, diapun baru kepikiran untuk menyalakan lampunya.  Habis menyalakan lampu, saya lihat Kaiser lanjut membaca lagi sampai pintu berhasil terbuka.”


“Oh, memangnya novel seperti apa yang sampai membuat Kaiser sampai rela berlari sejauh 300 meter dari gedung olahraga ke perpustakaan?”


“Sejenis novel fantasi, Pak, yang banyak populer di kalangan remaja belakangan ini.”


“Hoh, menarik juga.” 


Dono menjeda sebentar kalimatnya sebelum melanjutkan,


“Ngomong-ngomong, siapa saja yang punya akses kunci perpustakaan itu?”


“Penjaga perpustakaan, sekuriti gerbang depan, ruang guru, dan ruang OSIS, Pak.”  Andika mengatakan itu sambil menghitung dengan tangannya.


“Oke.  Terima kasih atas infonya yang berharga, Dek Andika.  Ini pasti akan membantu dalam penyelidikan.”

__ADS_1


Andika keheranan dengan pernyataan polisi.  Dia keheranan di bagian mana dari statement-nya yang bisa melepaskan Kaiser dari kecurigaan, sementara Pak Suwirno menatap tajam ke arah polisi seraya mengatakan,


“Imajinasi Anda tampaknya terlalu tinggi Pak Polisi.”


__ADS_2