DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
34. Intuisi Dono


__ADS_3

Kala itu menjelang malam hari.  Dono memasuki ruang kantornya sambil tampak memikirkan sesuatu.  Di dalam ruangan itu, nampak Pak Danielo duduk di mejanya.


“Jadi, apa kamu menemukan sesuatu setelah mewawancarai teman Kaiser itu?”


“Hmmm.”  Dono terdiam sejenak seraya mengeluarkan suara nafasnya.


“Ada satu hal yang membuatku curiga.  Di hari kejadian, tampaknya Kaiser terkunci di dalam ruangan bersama dengan Andika.  Ini bisa menjadi alibi yang sempurna untuk Kaiser.”


“Jangan lupakan fakta bahwa bisa saja ada pembunuh bayaran profesional yang terlibat.  Melihat lihainya pelaku, kemungkinan besar seperti itu.”  Kapten Danielo segera membantah jawaban Dono.


“Itu benar Kapten.  Kita tidak boleh terfokus pada gerakan tersangka saja, tetapi juga semu orang yang sempat berinteraksi dengannya.  Bukankah itu sebabnya kita menugaskan Fero?”


“Ya, itu benar.”  Ucap Kapten Danielo seraya menyatukan kedua tangannya dan memajukan badannya sedikit ke depan.  Dia kemudian menatap Dono dengan lebih intens.


“Tapi di luar itu semua, tetap ada hal yang aneh pada kejadian terkuncinya mereka di perpustakaan tersebut.  Andika selama berada di dalam, sepanjang waktunya tertidur.  Juga bukankah aneh kalau mereka kebetulan terkunci di waktu yang tepat itu?  Bisa saja Kaiser memanfaatkannya sebagai alibi agar bisa terbebas dari jeratan tuduhan.  Oleh karena itu, besok aku akan ke sekolah itu langsung untuk menyelidikinya, terutama mengenai kunci perpustakaan, siapa-siapa saja yang memilikinya, apakah sempat hilang, dan sebagainya.”


“Apa perlu sampai seperti itu?”


“Ada kemungkinan kalau Kaiser yang sengaja mengunci pintu dan membuat Andika tertidur lantas meninggalkan tempat itu untuk mengeksekusi korban lalu segera kembali lagi.  Kejadian terjadi sekitar pukul 9 malam.  Kita bisa memperkirakan pelaku mengeksekusi jebakan untuk membunuh korban sekitar pukul 7 sampai 8 malam.  Andika tertidur sekitar pukul 5 sore.  Itu sudah merupakan waktu yang cukup bagi Kaiser setelah Andika tertidur untuk ke TKP.  Menurut kesaksian Andika pula, ketika dia bangun pukul 10 malam itu, Kaiser tampak terangah-engah.  Kata Andika, itu karena Kaiser sibuk memanjat, menggapai lubang di jendela untuk menggunakannya sebagai jalan menggapai saklar lampu di luar ruangan.  Namun, bagaimana seandainya jika hal itu karena Kaiser harus buru-buru berlari meninggalkan TKP dan kembali ke perpustakaan?”

__ADS_1


“Dari ucapanmu, aku memang menangkap sedikit perihal kecurigaanmu.  Tetapi, ada satu hal yang mendasar yang mesti kita lihat.  Tidak ada riwayat bahwa Kaiser pernah berlatih ilmu pedang profesional untuk membunuh.  Berdasarkan informasi intel kita di Jepang, di rumah kakek dari ibunya, dia hanya belajar ilmu pedang untuk novice saja.”  Sang Kapten seraya menekankan kalimatnya.


“Hmmm.  Memang itu perlu diselidiki lagi.  Tapi masih ada peluang kalau dia belajar tanpa kita ketahui.”


“Dalam 2 tahun, tidak cukup untuk berlatih sampai seprofesional itu membunuh 59 orang tanpa jejak yang tertinggal di TKP maupun memasang jebakan dengan begitu sempurna pada kasus Rihana dan ibunya!”  Kapten Danielo tampak mengucapkannya dengan emosi.  Dia bersuara dengan cukup keras sambil marah, namun tetap menjaga attitudenya sebagai seorang pemimpin tim.


“Kapten, bukankah intuisi juga terkadang membantu kita dalam penyelidikan untuk menemukan apa yang tersembunyi di balik yang tampak?  Kita memang tidak boleh mengandalkan intuisi saja karena terkadang intuisi juga menipu.  Tetapi sebagai detektif yang baik, jika kita merasa ada yang janggal, maka kita tidak boleh melewatkannya.”  Ucap Dono berusaha meyakinkan kaptennya.


“Ya, itu benar.  Baiklah, aku mengerti maksud kamu.  Kamu kuizinkan untuk melakukan penyelidikan itu.  Tapi pastikan bahwa tidak ada dampak apa-apa pada Kaiser.  Dia belum berstatus sebagai tersangka.”  Sekali lagi Kapten Danielo menekankan kalimatnya.


“Aku sudah mengatur itu semua melalui Bu Indri, guru BK sekolah, dengan bantuan Pak Sudarmono Putrawardhani.  Aku beserta beberapa polisi pemula akan menyamarkan infiltrasi kami ke sekolah sebagai kegiatan penyuluhan remaja biasa.”  Ucap Dono seraya menatap langsung di kedua mata kaptennya tanpa berpaling.


“Siap laksanakan Kapten!”  Ujar Dono seraya memberi hormat kepada kaptennya.  Sang kapten balas memberi hormat, lalu Dono pun meninggalkan ruangan.


***


Araka pulang ke rumah disambut oleh ibunya yang cacat.  Ibunya menyambut Araka dengan senyuman tulus.  Senyuman itupun dibalas Araka dengan senyuman tulus pula.


Ibunya tidak bisa lagi menggunakan kedua kakinya sejak Araka berusia 10 tahun.  Pada saat itu, ibu Araka yang sendirian di rumah, tiba-tiba didatangi oleh preman-preman dan memukul-mukul kaki ibu Araka dengan sangat parah.  Araka yang waktu itu baru pulang setelah jalan-jalan bersama Dirga di luar kota, langsung histeris mendapati kondisi kaki ibunya yang parah.  Dia segera membawa ibunya ke rumah sakit, tetapi hal itu sudah terlambat untuk menyelamatkan kaki ibunya itu sehingga ibunya pun harus menerima nasib hidup dengan kaki yang cacat sejak saat itu.

__ADS_1


Pelaku pada akhirnya bisa ditangkap oleh polisi berkat bantuan keluarga Dirga, tetapi preman-preman itu hanya beralasan bahwa hal itu adalah ketidaksengajaan karena pelaku salah mendatangi rumah dalam menagih hutang.  Pelaku sebenarnya ingin menghajar orang lain dan bukan ibunya.  Preman-preman itu pun masuk penjara tanpa menggaet pelaku sebenarnya.


Namun, Araka kurang lebih dapat menangkap apa yang terjadi.  Dia kurang lebih dapat menebak siapa pelaku di balik penyerangan itu, tetapi Araka memilih untuk diam saja karena selain tidak punya bukti, dia juga tidak punya kuasa untuk melawan.  Dia bisa menebak kalau pelakunya adalah salah satu di antara 2 selir lain ayahnya selain ibunya.


Ayah Araka adalah mafia cina terkenal yang juga melebarkan sayapnya sampai ke tanah air Indonesia.  Istri sahnya yang merupakan sumber kekayaan utamanya tidak bisa memperoleh anak karena mandul.  Dia kemudian mengangkat 3 selir untuk menutupi kekurangan istri pertamanya itu.


Selir pertamanya melahirkan seorang putra yang benar-benar tidak berguna, sedangkan selir keduanya hanya melahirkan dua orang putri yang lemah.  Araka bisa dibilang adalah anak yang paling berkualitas milik Sang Mafia Cina itu.  Selain Araka mampu dengan cepat mempelajari martial art, dia juga cerdas dalam berbagai bidang keilmuan.


Melihat ibunya diperlakukan seperti itu, muncul kemarahan di hati Araka.  Di saat itulah dia mulai bertekad untuk membalaskan dendamnya kepada ibu-ibu tiri dan saudara-saudari tirinya itu.  Dia mulai aktif dalam menarik perhatian ayahnya.  Dia pun mulai membantu urusan bisnis ayahnya di Indonesia. Kini,  Araka ditugaskan sepenuhnya untuk mengelola bisnis gelap ayahnya di Indonesia.


“Triiiiing.”


Telepon Araka berdering.  Araka pun segera mengangkatnya.


“Baik…Baik…Iya saya paham…Aku akan segera mengurusnya.” [Dalam bahasa China.]


“Sial.  Orang-orang itu selalu saja sok berkuasa.”  Bentak Araka marah seraya membanting ponselnya ke atas kasur.


Rupanya yang meneleponnya adalah salah seorang manejer ayahnya yang memintanya untuk segera menyelesaikan kasus yang menimpa teman-temannya itu karena menimbulkan imbas rumor yang buruk bagi citra bisnis mafia ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2