DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
147. Turut Bergabungnya Kembali Lu Shou dalam Kekacauan Itu


__ADS_3

Sore itu, walaupun tanpa janji sebelumnya, Andika berkunjung ke rumah Kaiser bertepatan dengan waktu juga berkunjungnya Fero ke kediaman Kaiser.  Akhirnya, mereka berdua pun bertemu di pintu gerbang dan masuk bersamaan.


Begitu memasuki pintu gerbang kediaman Dewantara, mereka dengan cepat mendapati suara keributan yang tampak terdengar sebagai suara pertarungan.  Mereka berdua pun langsung bergegas ke sumber suara, takut jika terjadi apa-apa di kediaman itu, apalagi dengan munculnya ancaman pembunuhan Kaiser beberapa waktu lalu.


Begitu kagetnya Andika begitu mendapati bahwa sumber suara keributan itu rupanya berasal dari Jey yang tampak membuli Kaiser dengan mengayunkan pedang kayu berkali-kali ke tubuh Kaiser yang membuat Kaiser luka-luka.


Andika pun marah dan tanpa pikir panjang langsung serta-merta mengarahkan tendangan dengan keras ke arah kepala Jey.  Jey nampak menyadari serangan tiba-tiba itu, tetapi dia hanya tersenyum kecut.  Akibatnya, mendaratlah serangan Andika itu dengan mulus dan membuat Jey terpental.


“Kak Jey.”  Teriak Kaiser panik begitu mendapati Jey terpental.


Andika yang keheranan dengan reaksi Kaiser yang justru tampak peduli dengan Jey itupun seketika diam dan kebingungan.


“Andika, tampaknya kamu sedikit salah paham.  Kami hanya sedang latih tanding.”  Kaiser pun berujar kepada Andika.


“Ya ampun.  Kamu punya teman yang menarik rupanya, Kaiser.”  Ujar Jey sembari berdiri sambil mengibas-ngibaskan pakaian yang dikenakannya untuk membersihkannya dari tanah yang ikut menempel ketika dia terjatuh.


Jey pun tersenyum ramah kepada Andika dan Andika menyambutnya dengan tundukan sebagai isyarat permintamaafan, tetapi anehnya, Andika sendiri pun juga heran pada waktu itu tentang mengapa suaranya untuk mengucapkan maaf sama sekali tidak dapat keluar.


“Wah, wah, tampaknya kamu kedatangan teman-temanmu hari ini, Kaiser.  Kalau begitu, aku harus segera balik agar tidak mengganggu reuni kalian.  Kapan-kapan aku berkunjung lagi untuk latih tanding denganmu.”  Ujar Jey sembari tersenyum ramah kepada Kaiser.


Jadilah Jey pergi setelah mengatakan hal tersebut tanpa menerima permintamaafan Andika.  Namun, tampak Jey juga sama sekali tidak peduli terhadap hal tersebut.


“Kaiser, bukankah dia orang yang kau curigai sebagai pembunuh berantai joker hitam?  Bukankah mencurigakan kalau dia tiba-tiba berkunjung ke rumahmu?  Ataukah apa sebelumnya kalian memang dekat?”  Fero pun bertanya dengan curiga kepada Kaiser.

__ADS_1


“Entahlah, kami juga baru belakangan dekat.  Apapun itu, kita tidak bisa berspekulasi tanpa adanya bukti.  Makanya aku manfaatkan kesempatan ini untuk menyelidikinya lebih dalam.”  Jawab Kaiser.


“Tapi bukankah itu terlalu berbahaya?”  Namun Fero tampak khawatir terhadap keputusan Kaiser tersebut.


***


“Praaaak!”  Suara pecahan gelas pun terdengar.


“Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak suka yang terlalu manis?  Ini jus buah atau jus gula sih?  Cepat buatkan aku yang baru!”  Lu Xinyi pun seketika marah-marah begitu mencicipi jus apel yang dibuatkan oleh Xiaoyu untuknya.


Namun, hanya tampak ekspresi datar dari bocah berusia sekitar 14 tahun itu sembari memunguti pecahan gelas yang dipecahkan oleh Xinyi lalu membersihkan pecahan halus kaca serta basahan minumannya dengan suatu lap basah.


“Tuk tak tak tak.”  Suara langkah sepatu pun terdengar.


“Bisakah kamu hentikan sikap kurang ajarmu itu?  Masih bagus jika ada orang yang bersedia menjagamu.  Asal kau tahu, tidak ada lagi yang bisa melindungi sikap kurang ajarmu itu.  Baik Ayah, Bibi Meilan, maupun Lu Xinting, semuanya sudah mati.  Jadi sadar dirilah sedikit.”  Ujar Lu Shou sembari menampakkan raut wajah yang tampak sangat berusaha menahan amarahnya.


“Aaaarkkkh!  Kamu, pergi sana!  Pergi!  Jangan dekat-dekat aku!  Arrrrkh!  Ayah, Ibu, kenapa kalian pergi meninggalkan aku sendiri!  Kak Xinting, mengapa kamu tega membiarkanku hampir terbunuh demi menyelamatkan diri sendiri!”  Teriak Xinyi dengan histeris sembari melempar-lemparkan bantal dan gulingnya.


Namun, Lu Shou tidak bergeming.  Dia lantas semakin mendekat ke arah Xinyi yang masih terlihat histeris sembari memapah Xiaoyu untuk berdiri dan menepuk-nepuk kepala bocah perempuan itu.


“Kamu!  Kenapa kamu malah lebih peduli pada bocah panti asuhan itu daripada aku yang merupakan adikmu sendiri?!”  Teriak Xinyi marah.


“Heh, adik ya.”  Mulut Lu Shou pun berkedut.

__ADS_1


“Apakah selama ini, kamu pernah menganggap aku sebagai seorang Kakak?  Yang ada di ingatanku hanyalah berbagai tindakanmu beserta ibumu dan kakakmu yang senantiasa mencoba meracuni makananku atau membuatku hampir mengalami kecelakaan lalu lintas.”


Lu Xinyi pun terdiam begitu mendengar ucapan Lu Shou itu.  Lu Shou pun mendekatkan bibirnya ke kuping Xinyi lantas melanjutkan ucapannya itu.


“Jika kamu bukan anak dari ayahku, maka sudah dari lama aku pasti akan membiarkanmu mati begitu saja.  Bersyukurlah karena aku masih menganggapmu sebagai seorang adik.  Jadi bersikaplah layaknya seorang adik yang baik.”


Tampak Xinyi gemetaran tanpa berujar sepatah kata pun begitu mendengarkan ucapan Lu Shou tersebut.


“Oh ya, mengapa kamu selalu mengatakan bahwa kecelakaan malam itu adalah perbuatan hantu?  Bisa kamu jelaskan dengan detail kejadian malam itu?  Jangan bilang kalau kamu akan ketakutan lagi untuk mengingatnya dan malah berteriak histeris.”  Ujar Lu Shou seraya menatap Xinyi dengan sinis.


“Baiklah.  Aku akan mencoba mengingatnya.  Malam itu,…”


Xinyi pun mulai menceritakan segala kejadian aneh yang terjadi malam itu yang menewaskan dengan sekejap puluhan anak buah ayahnya termasuk Fei Sangchen, asisten setia ayahnya.  Bahkan ibunya pun yang telah berhasil keluar dari gedung itu, tiba-tiba diterkam hingga tewas lalu ditarik masuk kembali oleh sesuatu yang mirip manusia, tetapi serasa bukan manusia.


Tidak hanya sampai di situ, rombongan mereka pun yang berhasil mengungsikan diri di gedung sebelahnya, tewas satu-persatu oleh pecahan logam yang tidak tahu dari mana arah datangnya.  Pecahan logam itu pulalah yang berhasil melukai Lu Xinyi hingga sekarat.


Apa yang paling membuatnya tidak bisa terima adalah perbuatan Xinting waktu itu yang bukannya menariknya untuk sama-sama menghindar, tetapi malah menjadikannya tameng daging untuk melindungi tubuhnya agar bisa selamat sendiri.


Satu hal aneh pun diutarakan oleh Xinyi.  Pada saat kesadarannya mulai hilang, dia melihat Kakek Ye Mo yang terbaring tidak bergerak dengan mata terbuka di sebelahnya tiba-tiba menghilang begitu saja bak asap.


“Kamu kira ini di dunia novel apa?  Mana mungkin ada orang yang bisa menghilang begitu saja bagai asap?!”  Tetapi mendengar cerita terakhir Xinyi itu, Lu Shou sama sekali tidak mampu percaya.


“Tampaknya aku harus kembali ke Jakarta.  Bagaimana pun aku menilainya, anak itulah yang paling mencurigakan.  Sebencinya aku pada Ayah, dia tetaplah ayahku, keluarga yang terikat darah denganku.  Dan jika benar kematiannya disebabkan oleh Kaiser, maka aku pasti akan balik membunuhnya.”  Ujar Lu Shou dengan marah.  Tampak bahwa tekad balas dendamnya telah benar-benar bulat.

__ADS_1


Dengan demikian, Lu Shou pun turut menuju ke Jakarta, bergabung dalam keadaan mencekam yang sedang terjadi di sana.


__ADS_2